Connect with us

Property

Ciputra Bikin Township 1.000 Ha di Selatan Jakarta

Published

on


Finroll.com  – Pembangunan infrastruktur menjadi salah satu agenda terpenting pemerintah. Tidak hanya di tingkat pusat, tetapi juga hingga ke daerah-daerah termasuk di area Selatan Jakarta. Sebagai salah satu area penyangga Ibu Kota Jakarta, percepatan pembangunan infrastruktur pun terus dilakukan, mulai dari rencana Tol Bogor Outer Ring Road (BORR), Bogor Inner Ring Road (BIRR), Jalan Poros Tengah Timur (Jalur Puncak Dua), tol Bogor-Ciawi-Sukabumi (Bocimi), dan tol Bogor-Bandung, serta pembangunan infrastruktur kereta ringan (Light Rail Transit/LRT) dengan rute Cawang-Cibubur-Sirkuit Sentul-Bogor yang akan terkoneksi dengan jaringan transportasi KRL Commuterline dan MRT.

Pesatnya perkembangan pembangunan infrastruktur di suatu kawasan umumnya akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan permintaan akan properti khususnya.

Melihat peluang pertumbuhan properti dari pesatnya pembangunan infrastruktur dan peluang tingginya permintaan akan properti, khususnya rumah tapak (landed houses) yang berkualitas di area Selatan Jakarta, semester 2 tahun 2019 ini Ciputra Group akan mulai mengembangkan proyek terbaru dengan konsep Township (skala kota) yaitu Citra Sentul Raya, New Integrated Township dengan rencana total pengembangan mencapai 1.000 hektare.

Salah satu keunikan proyek Township terbaru dari Ciputra Group ini adalah konsep transit oriented development (TOD) yang diusungnya. Setelah pembangunan LRT rute Cawang-Cibubur selesai, ke depan pemerintah merencanakan melanjutkan pembangunan rute LRT Cibubur-Sirkuit Sentul-Bogor, di mana rencana lokasi Stasiun LRT Sirkuit Sentul tepat di depan Citra Sentul Raya. Pengembangan dengan konsep TOD merupakan pengembangan kawasan berbasis sistem transportasi massal. Di mana akan didukung dengan berbagai fasilitas transportasi, mulai dari LRT line, sarana stasiun yang nyaman dan modern.

Citra Sentul Raya memiliki aksesibilitas yang sangat baik karena memiliki akses langsung ke tol Jagorawi exit sirkuit sentul (km 33) dan ke depan direncanakan akan dilengkapi dengan sederet fasilitas seperti pendidikan, kesehatan, komersial, hiburan keluarga, hingga sosial dan ruang terbuka hijau. Semua itu akan membuat para penghuni merasa aman dan nyaman untuk tinggal dan berbisnis di Citra Sentul Raya.

“Saat ini di dalam kawasan Citra Sentul Raya sudah dilengkapi dengan fasilitas seperti Hotel Lorin, Sentul International Circuit, dan Palm Hill Golf Club. Bahkan lokasi Citra Sentul Raya juga dekat dengan fasilitas yang sudah ada seperti SICC (Sentul International Convention Center), Universitas Trisakti, BPK Penabur, Rumah Sakit EMC Sentul, Shopping Center, Permata Sentul Golf Club, dll,” ujar Yance Onggo Marketing Director PT. Ciputra Residence.

“Citra Sentul Raya berada di ketinggian rata-rata 200 dpl dengan kontur berbukit, sehingga kualitas udara terasa lebih sejuk dan segar dengan pemandangan alam perbukitan yang alami, sangat cocok untuk menjadi pilihan tempat tinggal untuk keluarga. Citra Sentul Raya akan di bagi menjadi beberapa tahap pengembangan, untuk tahap pertama akan dikembangkan seluas +/- 100 hektare yang terdiri dari pengembangan Fasilitas yang sudah ada (Hotel Lorin, Sentul International Circuit, Palm Hill Golf), Citra Sentul Raya Business District (CBD), dan kawasan hunian RiverPark seluas +/- 38 hekatre, di dalamnya akan dikembangkan landed houses (rumah), apartment, komersial area, dan fasilitas penunjangnya seperti open plaza, sport club, jogging track, dan ruang terbuka hijau. Kami mengusung konsep Urban Resort Development di kawasan RiverPark, karena lokasinya secara alami berada di dekat sungai dan di atas lahan berbukit,” kata Yance.

Advertisement

Property

Waskita Karya Tbk Bukukan Nilai Kontrak Baru Rp 15 Triliun Pada September 2019

Published

on

Finroll.com — PT Waskita Karya Tbk (WSKT) membukukan nilai kontrak baru per September 2019 sebesar Rp 15 triliun. Dari perolehan tersebut, nilai kontrak terbesar berasal dari Tol Trans Sumatra sebesar Rp 5 triliun.

Shastia Hadiarti selaku Sekretaris Perusahaan PT Waskita Karya Tbk menjelaskan hingga akhir tahun perusahaan berharap bisa mencapai target nilai kontrak baru sekitar Rp 40 triliun hingga Rp 44 triliun.

Oleh karenanya, apabila target kontrak baru tercapai, maka Waskita mencatatkan pertumbuhan kontrak baru 62,96% dari tahun 2018 yang tercatat Rp 27 triliun.

Sebagai informasi saja, target kontrak baru Waskita sudah melalui penyesuaian dari target awal Rp 55 triliun menjadi Rp 44 triliun.

“Saat ini Waskita sedang mengikuti beberapa tender proyek di Kalimantan dan di luar negeri,” jelas Shastia yang dilansir dari Kontan.co.id, Selasa (15/10/2019).

Sementara Waskita menyebutkan beberapa proyek bisa mendorong perusahaan untuk mencapai target kontrak baru.

Antara lain pembangunan jalan tol 20%, pekerjaan sipil lain 21%, precast 17%, gedung 15%, LRT dan jalur kereta api 13%, energi dan transmisi 4%, bendungan 4% dan irigasi 1%.

Selain itu di lain sisi, per September 2019 Waskita telah menerima pembayaran proyek sebesar Rp 15 triliun.

Dana tersebut berasal dari pembayaran turnkey sekitar Rp 3 triliun dan proyek konvensional sekitar Rp 10 triliun.

“Salah satunya dari pembayaran proyek LRT Palembang sebesar Rp 2,3 triliun,” jelas dia.

Sepanjang 2019, Waskita menargetkan penerimaan pembayaran proyek sebesar Rp 40 triliun. Di mana sebesar Rp 26 triliun berasal dari proyek turnkey dan sebesar Rp 14 triliun berasal dari proyek konvensional. Dus, Waskita masih menunggu pencairan proyek Rp 35 triliun lagi.

“Perolehan dana tersebut akan digunakan untuk mendanai belanja modal tahun ini yang sebagian besar dialokasikan untuk pengembangan jalan tol,” jelas Shastia.

Selain itu, dana tersebut juga akan digunakan untuk meningkatkan posisi rasio keuangan Waskita.

Sampai Juni 2019 serapan belanja modal Waskita tercatat sebesar Rp 8 triliun dari anggaran tahun ini sebesar Rp 22 triliun.(red)

Continue Reading

Property

Begini Awal Mula Terbongkarnya Mafia Tanah Triliunan Rupiah

Published

on

By

Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) bersama Polri mengungkap keberadaan mafia tanah triliunan rupiah.

Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria Pemanfaatan Ruang dan Tanah Raden Bagus Agus Widjayanto mengatakan, awal mula kasus mafia tanah terungkap pada tahun 2018. Pengungkapan ini berawal dari pengaduan seorang pemilik tanah.

Ia bercerita, bahwa ada seorang pemilik tanah tidak merasa menjadikan tanah tersebut sebagai jaminan utang.

“Berawal dari pengaduan pemilik tanah. Dia tidak pernah menjadikan tanahnya itu sebagai jaminan hutang, tiba-tiba kok itu menjadi jaminan utang. Itu ditagih ke pemilik tanah,” tutur Raden saat dihubungi detikcom, Sabtu (12/10/2019).

Raden bilang, bahwa oknum mafia tanah ini bekerja secara berkelompok dan sangat sistematis. Ada yang pura-pura menjadi calon pembeli tanah, hingga seorang notaris beserta kantornya yang diatur sedemikian rupa.

Awal kronologinya, ada pembeli palsu dari oknum mafia tersebut yang pura-pura membeli tanah dari pemiliknya. Kemudian, pembeli palsu tersebut memberikan uang muka agar si pemilik tanah tidak curiga.

Setelah itu, pemilik tanah diajak ke kantor notaris dengan membawa sertifikat tanah. Di sanalah sertifikat tanah tersebut dipalsukan oleh oknum mafia.

“Jadi ada orang yang menanyakan dia mau menjual tanah atau tidak, kemudian ada calon pembeli gitu kan, kemudian beri uang muka dibawa ke kantor notaris ya dia percaya kalau itu notaris. Ditinggal sertifikatnya, ternyata sertifikatnya dipalsu,” kata dia.

Diserahkan sertifikat aslinya ke pembeli tanah kemudian ini dijadikan jaminan dengan nilai yang lumayan besar,” kata Raden saat menjelaskan kronologinya.

Setelah di cek sertifikatnya di kantor pertanahan, barulah si pemilik tanah menyadari bahwa pembeli tanah miliknya adalah penipu. Hal itu dilihat dari kantor notaris yang tidak terdaftar.

“Notarisnya itu pura-pura, tidak terdaftar,” ungkap Raden.

Untuk diketahui, akibat kasus ini baik perusahaan maupun masyarakat umum yang menjadi korban mengalami kerugian hingga Rp 200 miliar

Continue Reading

Property

Senilai Rp2 Triliun, 4 Korporasi Pelat Merah Garap Proyek BUMN Center

Published

on

Finroll.com — 4 korporasi pelat merah yaitu PT PP (Persero) Tbk (PTPP) bersama dengan PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (TLKM PT Danareksa (Persero), dan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) menjalin sinergi dalam pembangunan dan pengembangan BUMN Center.

Adapun BUMN Center adalah suatu kawasan perkantoran yang terintegrasi, agile dan modern yang didesain oleh Kementerian BUMN untuk meningkatkan efisiensi dan sinergi antara perusahaan milik negara.

Sementara luas lahan yang akan dibangun dan dikembangkan sekitar 24.694 m2 dengan rincian seluas 9.300 m2 dimiliki Danareksa, seluas 11.439 m2 dimiliki oleh Telkom, dan seluas 3.955 m2 dimiliki oleh Garuda Indonesia.

Direktur Utama PT PP Lukman Hidayat di Kementerian BUMN mengatakan, “BUMN Center terletak di lokasi yang strategis, berada di kawasan pemerintahan pusat di tengah kota Jakarta dan akan didukung dengan berbagai fasilitas yang memadai,” ujarnya, Kamis (3/10/2019).

Nilai investasi untuk pembangunan ini disebutkan Lukman lebih dari Rp2 triliun dan diproyeksikan rampung pada 2024.

Saat ini, perseroan sedang memproses izin kawasan secara keseluruhan dan masing-masing bangunan yang dimiliki oleh Danareksa, Telkom, dan Garuda Indonesia agar sesuai dengan konsepnya.

Fasilitas yang akan dibangun antara lain  modern agile office, communal outdoor space, indoor communal space, green open space, healthcare facilities, leisure area, main lobby, food court, meeting room, ballroom, dan lainnya.
Kawasan ini juga dibangun dengan konsep green building yang ditargetkan akan mendapat predikat Gold setelah disertifikasi oleh lembaga Green Building Council Indonesia.

BUMN Center mengusung konsep desain Burung Garuda di mana kepak kedua sayapnya merupakan gedung kembar yang menyerupai sayap burung Garuda yang berada di sebelah kanan dan kiri Gedung Kementerian BUMN,sedangkan kepala dari burung Garuda diwakili oleh Gedung Kementerian BUMN.(red)

Pembangunan BUMN Center dilakukan dengan pendayagunaan aset antara Kementerian BUMN, Telkom, Danareksa dan Garuda Indonesia untuk menghadapi persaingan global.

Kementerian BUMN bersama perusahaan-perusahaan BUMN membutuhkan suatu sarana untuk berkomunikasi dengan cepat yang diwujudkan dalam bentuk fisik berupa  working space yang nyaman.

Penyelarasan Gedung Kementerian BUMN dan gedung milik BUMN di sekitarnya diharapkan dapat menjadi simbol keterikatan dan keterpaduan seluruh komponen BUMN sebagai sebuah keluarga besar.(red)

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

Asco Global

Trending