Connect with us

Ekonomi Global

Corona Bikin Ekonomi China Lebih Parah dari Resesi 1990

Published

on


Ekonomi China mulai menunjukkan geliat usai diguncang pandemi virus corona. Namun, langkah Negeri Tirai Bambu itu masih panjang di tengah ketidakpastian saat ini.

FINROLL.COM — Pertumbuhan PDB China berpotensi menyusut menjadi satu hingga dua persen, terperosok dari pertumbuhan 2019 yang berada di 6,1 persen. Melansir CNN, Rabu (1/4), para analis termasuk Bank Dunia meramalkan, perekonomian China tahun ini bisa tak tumbuh sama sekali dalam skenario terburuk.

Skenario tersebut merupakan yang terparah selama 44 tahun terakhir atau lebih parah dari krisis 2008-2009 dan bahkan resesi pada 1990 ketika dunia memberlakukan sanksi kepada China akibat pembantaian Tiananmen.

Analis dari UBS dan Golden Sachs baru-baru ini memangkas perkiraan pertumbuhan China masing-masing menjadi 1,5 persen dan 3 persen.

Bahkan, pemerintah China yang telah menentukan target PDB tiap tahun sejak 1985, ragu dalam memasang target. Seorang pembuat kebijakan di Bank Sentral China (PBOC) menyarankan pemerintahan Xi Jin Ping untuk tak menetapkan target pada 2020.

“Ini keadaan yang sangat sulit untuk merealisasikan pertumbuhan di angka 4 hingga 5 persen. Banyak pengamat memprediksikan pertumbuhan akan terjun ke 1 hingga 2 persen. Segala kemungkinan bisa saja terjadi,” kata anggota komite kebijakan moneter Bank Sentral China Ma Jun.

Dengan tengah ketidakpastian ini, Ma menyebut target pertumbuhan yang tidak realistis dapat berujung pada pemerintah daerah yang menanam investasi di bidang infrastruktur demi mencapai target. Ini dapat menjadi bumerang sebab tak meringankan beban pengangguran atau pun membantu mereka yang mata pencahariannya terganggu.

Diperlukan Bantuan Lebih

Namun, sebuah survei resmi minggu ini menunjukkan tanda-tanda pemulihan di industri manufaktur China yang remuk pada Februari lalu. Geliat terjadi di tengah berbagai stimulus yang digelontorkan pemerintah.

Pemerintahan RRC pada Selasa (31/3) mengumumkan lebih dari 3 triliun Yuan atau setara dengan US$423 miliar disuntikkan untuk mendukung UMKM.

PBOC pun menyediakan tambahan i juta triliun (US$141 juta) untuk Bank kecil hingga sedang dan memotong jumlah tunai yang harus dicadangkan. Keduanya dilakukan untuk meningkatkan pinjaman kepada para pekerja UMKM.

Sebelumnya, Bank Sentral telah menyuntikkan likuiditas atau mengalokasikan pinjaman tambahan sebesar 1,65 triliun yuan (US$232 miliar). Selain itu, stimulus sebesar 116,9 miliar yuan (US$16,4 miliar) juga dianggarkan untuk memerangi wabah virus corona.

Sementara itu, Capital Economics, kantor konsultasi dan riset makro di Inggris meramalkan PDB kuartal I China dapat menyusut sebanyak 16 persen dan merosot sebesar 3 persen sepanjang 2020.

Nomura memprediksikan ekonomi China hanya akan tumbuh di angka 1 persen pada 2020. Kondisi ini berpotensi mematikan jutaan pekerjaan.

“Kami perkirakan faktor penurunan ekspor sendiri dapat menyebabkan hilangnya 18 juta pekerjaan (pada kuarter kedua 2020),” sebut Kepala Ekonom Nomura Ting Lu.

Iwan Hidayat Bergabung Dengan Finroll Media Group Tahun 2012

Ekonomi Global

Akibat Konflik AS-China Soal Hong Kong Minyak Dunia Anjlok

Published

on

Finroll – Jakarta, Minyak berjangka jatuh pada akhir perdagangan Rabu (27/5) waktu AS atau Kamis pagi waktu Indonesia. Kejatuhan terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan sedang memikirkan respons kuat terhadap undang-undang keamanan yang diusulkan China di Hong Kong.

Kejatuhan juga dipicu keraguan pasar atas komitmen Rusia memangkas produksi minyak. Dikutip dari Antara, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli turun US$1,54 atau 4,5 persen jadi US$32,81 per barel.

Sementara itu minyak mentah Brent untuk pengiriman Juli turun US$1,43 atau 4,6 persen ke level US$34,74 dolar AS per barel.

Kelompok yang dikenal sebagai OPEC+ ini memangkas produksi hampir 10 juta barel per hari (bph) pada Mei dan Juni. Presiden Rusia Vladimir Putin dan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman setuju melanjutkan koordinasi lebih erat dan lanjut dalam membatasi produksi minyak.

Namun banyak yang merasa Rusia mengirimkan sinyal beragam menjelang pertemuan antara Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya dalam waktu kurang dari dua minggu mendatang.

“Kedengarannya hebat di atas kertas, tetapi pasar menahan kegembiraan sampai kami mendapatkan rincian lebih lanjut tentang apakah akan ada pemotongan, berapa banyak barel akan dipotong dan lamanya pemotongan,” kata Analis Senior Price Futures Group, Phil Flynn.

Sementara itu ketegangan antara Amerika Serikat dan China terus meningkat. Peningkatan terjadi setelah China mengumumkan rencana untuk memberlakukan undang-undang keamanan nasional baru di Hong Kong.

Pengumuman itu memicu protes di jalan-jalan. Tak hanya itu, dari AS, Menteri Luar Negeri Negeri Paman Sam Mike Pompeo mengatakan Hong Kong tidak lagi memerlukan perlakuan khusus berdasarkan hukum AS.

Pernyataan itu memberikan pukulan terhadap Hong Kong terkait status mereka sebagai pusat keuangan utama. Selain dua faktor tersebut, penurunan harga minyak juga terjadi akibat dampak ekonomi pandemi virus corona.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

Ekonomi Global

Corona, China Akan Terbitkan Surat Utang 3,75 Triliun Yuan

Published

on

Pemerintah China akan menerbitkan surat utang (obligasi) senilai 3,75 triliun yuan atau US$526 miliar demi mendongkrak belanja atau pengeluaran sebagai pemulihan dampak virus corona.

Perdana Menteri China Li Keqiang menuturkan dana segar dari surat utang khusus itu akan digunakan untuk mengongkosi pengeluaran infrastruktur dalam pembangunan ekonomi setelah dilanda pandemi covid-19.

“China akan menerbitkan 3,75 triliun yuan dalam bentuk obligasi pemerintah khusus tahun ini,” ujarnya mengutip AFP, Jumat (22/5).

Jumlah tersebut meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun lalu sebesar 1,6 triliun yuan.

Menurut Li, dana yang dihimpun akan digunakan sebagai modal proyek, dengan prioritas, belanja barang untuk infrastruktur baru.

Sebelumnya diberitakan, fokus Pemerintah China dalam rangka pemulihan ekonomi usai covid-19 adalah pengeluaran fiskal. Selain itu, untuk meningkatkan lapangan pekerjaan. Ditargetkan, 9 juta lapangan kerja tercipta melalui program pemulihan.

China sendiri berencana mengerek defisit fiskalnya menjadi 3,6 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tahun ini. Defisit itu lebih lebar ketimbang tahun lalu yang sebesar 2,8 persen. (CNN/ADAM)

Continue Reading

Ekonomi Global

Makin Panas! Trump Bakal Beri Sanksi ke China

Published

on

Hubungan Amerika Serikat dan China sepertinya bakal makin panas ke depan.

Para senator AS, dari partai Republik, mengusulkan undang-undang yang akan memberi wewenang kepada

Sanksi akan diberikan jika negeri Panda gagal memberikan laporan lengkap soal asal mula mewabahnya corona jenis baru (COVID-19).

Sanksi bisa berupa pembekuan aset, larangan perjalanan, pencabutan visa, pembatasan pinjaman untuk bisnis asal China oleh lembaga AS dan larangan listing di bursa.

Senator bernama Lindsey Graham itu mengatakan dirinya amat yakin ada manipulasi yang dilakukan Partai Komunis China yang menyebabkan virus masuk ke AS dan menewaskan 80 ribu orang.

“Saya yakin China tidak akan pernah bekerja sama secara serius dengan penyelidikan, kecuali dipaksa melakukannya,” tegasnya dikutip dari Reuters, Rabu (13/5/2020).

Apalagi, klaimnya, China selalu menolak peneliti asing masuk dn mempelajari wabah tersebut. Graham mengatan UU tersebut akan disebut sebagai “UU Pertanggungjawaban COVID-19”.

Jika disahkan, aturan ini akan meminta presiden untuk membuat ‘sertifikasi’ selama 60 hari, yang ditujukan kepada parlemen AS.

Sertifikasi itu berisi jawaban soal apakah benar China telah memberikan data yang lengkap terkait COVID-19 dalam penyelidikan yang dilakukan AS dan negara sekutu atau organisasi PBB yang terkait misalnya WHO.

Rancangan UU (RUU) ini juga akan menekan China untuk menutup semua pasar tradisional basah yang bisa membuat manusia terpapar penyakit.

China juga diminta membebaskan semua pendukung pro-demokrasi Hong Kong yang ditahan. Ini dilakukan sebagai upaya menekan laju penyebaran pandemi.

Sebagaimana diketahui, COVID-19 disebut berasal dari pasar ikan dan hewan langka di Wuhan, Provinsi Hubei, China bagian timur.

Saat ini berdasarkan data Worldometers, COVID-19 sudah menginfeksi 212 negara dan teritori. Jumlah pasien positif secara akumulatif mencapai 4 juta orang lebih.

Continue Reading
Advertisement

Advertisement

Trending