Kamis, 9 Juli 2020

BMKG Sebut Musim Kemarau Buat Es Muncul di Puncak Gunung Lawu


Finroll.com, Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan munculnya es di puncak Gunung Lawu, Jawa Tengah terjadi karena kondisi di sekitar gunung sedang masuk musim kemarau.

Hal ini terkait dengan temuan salah satu pemandu di Gunung Lawu, Jawa Tengah pada awal Juli 2020. Ia sempat mengabadikan semak dan rumput yang dilapisi es di puncak gunung sekitar pukul 05.30 WIB.

Akibat kemarau

Kepala Subbidang Prediksi Cuaca BMKG, Agie Wandala Putra menjelaskan, pada musim kemarau laju penurunan suhu menjadi minus satu derajat celsius pada tiap kenaikan 100 meter. Kenaikan suhu yang lebih tinggi ini terkait dengan sulitnya awan sulit terbentuk.

Lebih lanjut, Agie menyebut secara alamiah memang terjadi penurunan suhu tiap ketinggian naik per 100 meter. Penurunan suhu sekitar 0,65 derajat sampai minus satu derajat celsius per 100 meter.

“Saat ini kondisi di sekitar Lawu sedang dalam periode kemarau, artinya secara umum awan sulit terbentuk sehingga laju penurunan suhunya bisa menjadi minus satu derajat celsius per 100 meter. Kondisi ini biasanya akan membuat suhu terasa lebih dingin pada dini hari menjelang pagi,” kata Agie, saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (9/7).

Berdasarkan pantauan suhu di lewat satelit di weather.com, suhu di Gunung Lawu bisa turun hingga 3 derajat Celcius pada dini hari hingga pagi. Suhu baru bergerak naik sekitar pukul 07:00 WIB.

Sebelumnya, dilaporkan pengelola pendakian setempat, suhu di sekitar puncak Lawu bisa mencapai minus 3 hingga 7 derajat.

Pengaruh hawa dingin dari selatan

Penyebab lain menurut Agie lantaran hembusan angin dingin dari arah selatan Indonesia yang sedang mengalami musim dingin. Sepanjang Juni hingga Agustus, Australia tengah mengalami musim dingin.

“(Sehingga) jika ada dorongan udara dingin dari selatan ke utara, seringkali hal ini (intrusi udara kering) dapat menjangkau wilayah Indonesia,” jelas Agie.

Oleh karena itu, BMKG mengatakan penting untuk masyarakat mengetahui mengapa pada saat pagi hari udara terasa lebih dingin saat musim kemarau.

FHI indonesia 2021

Tidak berbahaya

BMKG menegaskan fenomena embun beku tak masuk kategori berbahaya namun masyarakat yang hendak melaksanakan kegiatan pendakian ke gunung pada periode kemarau agar melengkapi standar keamanan pendakian.

“Fenomena embun beku tidak berbahaya, namun tetap dihimbau untuk masyarakat yang naik gunung pada periode kemarau agar mengantisipasi udara dingin ini dengan perlengkapan pendakian yang memenuhi standar keamanan agar tidak mengalami hipotermia,” imbuh Agie.

Hipotermia adalah kondisi ketika suhu tubuh menurun drastis hingga di bawah 35 derajat Celcius. Hal ini bisa mengganggu sistem saraf dan organ tubuh lain. Jika tidak segera ditangani, hipotermia dapat menyebabkan gagal jantung, gangguan sistem pernapasan, dan bahkan kematian.

Lebih lanjut BMKG menjelaskan bahwa es atau embun beku bisa terbentuk ketika suhu mencapai batas di bawah nol derajat celsius.

Kondisi tersebut kata Agie muncul di wilayah Gunung Lawu yang mengalami embun beku atau muncul es di permukaan tanah, rumput atau daun.

Sumber : CNN Indonesia

BACAAN TERKAIT