Kamis, 16 Juli 2020

Planet Sembilan, Seukuran Jeruk Bali Diduga Lubang Hitam


Finroll – Jakarta, Para ilmuwan dari Universitas Harvard kini sedang menyelidiki benda langit yang dianggap sebagai planet sembilan. Namun, tak sedikit dari mereka yang menganggap benda langit itu bukan planet tetapi lubang hitam.

Selama beberapa tahun terakhir, para peneliti telah mengelompokkan benda-benda langit di orbit trans-Neptunus (TNO) yang tinggal di kedalaman tata surya.

Mereka berhipotesis bahwa jalur TNO telah dibentuk oleh tarikan gravitasi dari sebuah objek besar, yang ukurannya 10 kali lebih besar dibanding Bumi.

Dilansir Space, benda-benda langit tersebut dinamai Pertuber atau Planet Sembilan atau juga disebut Planet X dan Next. Namun hipotesis mereka pun mengarah ke lubang hitam yang menggerakkan massa menjadi bola seukuran jeruk Bali.

Menurut ilmuwan Harvard, Amir Siraj, ia dan tim kemudian menguraikan metode untuk mencari lubang hitam kecil di luar tata surya.

Kuncinya adalah mereka mesti mewaspadai kemungkinan lubang-lubang hitam itu menyala yang disebabkan oleh komet yang berkeliaran terlalu dekat dan terkoyak-koyak oleh tarikan gravitasi.

“Di sekitar lubang hitam, benda-benda kecil yang mendekatinya akan meleleh akibat pemanasan dari tambahan gas antarbintang ke lubang hitam,” kata Siraj dikutip New Atlas.

Siraj dan tim akan menggunakan teleskop besar yang dibangun di Andes Chili dan dikembangkan oleh Observatorium Vera C. Rubin. Ada pula proyek benda langit yang akan diluncurkan pada akhir 2022 yang disebut Legacy Survey of Space and Time (LSST).

Data LSST sendiri akan memungkinkan para astronom untuk menyelidiki sifat energi gelap misterius, menemukan, dan melacak sebagian bear asteroid yang berpotensi berbahaya serta mempelajari pembentukan evolusi galaksi Bima Sakti.

Selain itu, program pengamatan LSST juga dapat menemukan tanda-tanda lubang hitam supermasif.

infimas Mulia

Teleskop yang digunakan pun mesti sensitif dan memiliki bidang pandang yang cukup luas. LSST diharapkan dapat menangkap 40 ribu benda kecil baru.

Teleskop itu membutuhkan 1,500 layar dengan resolusi Full HD untuk bisa menampilkan sebuah gambar. LSST akan mendapatkan gambar lengkap dari seluruh hemisfer bagian selatan setiap tiga hari berkat pandangan wide angle yang belum pernah ada di sebelumnya.

Setiap frame kamera memiliki lengkung 3,5 derajat, yang tujuh kali lebih dari diameter bulan atau matahari yang dapat kita lihat. Berkat sensor besar yang dimiliki, teleskop tersebut setiap tahun juga akan menerima lebih dari 6 terabyte informasi yang akan disimpan di database khusus.

Sumber : CNN Indonesia

BACAAN TERKAIT