Connect with us

Pasar Modal

Daftar 5 Saham Paling Cuan dan Bikin Bocuan di Tengah Perang Dagang

Published

on


Finroll.com – Musim pencatatan laporan keuangan akan segera berakhir. Namun, sudah terlihat beberapa perusahaan saham yang melantai di Wall Street saat perang dagang seperti saat ini.

Laporan keuangan kuartal II-2019 menjadi perhatian bagi semua investor. Hal ini dikarenakan beban kuartal tersebut sangatlah berat terutama ekonomi yang melambat.

Banyak analis dan investor mencoba menilai dampak perang perdagangan AS-China. Perusahaan lintas industri termasuk semikonduktor, industri, dan teknologi mengalami kebuntuan perdagangan di tengah ketidakpastian di lingkungan makro.

Musim pencatatan laporan keuangan akan segera berakhir. Namun, sudah terlihat beberapa perusahaan saham yang melantai di Wall Street saat perang dagang seperti saat ini.

Laporan keuangan kuartal II-2019 menjadi perhatian bagi semua investor. Hal ini dikarenakan beban kuartal tersebut sangatlah berat terutama ekonomi yang melambat.

Banyak analis dan investor mencoba menilai dampak perang perdagangan AS-China. Perusahaan lintas industri termasuk semikonduktor, industri, dan teknologi mengalami kebuntuan perdagangan di tengah ketidakpastian di lingkungan makro.

Top Gainer

5. Lyft

Pergerakan saham dalam sehari: 8%

Laporan pendapatan kuartal kedua Lyft:

Pendapatan: USD867 juta di atas ekspektasi analis USD809 juta,

Laba per saham: turun 0,68% di atas ekspektasi analis di USD1,74.

Target: Pendapatan USD3,47 miliar untuk 2019.

4. Lowe’s

Pergerakan saham dalam sehari: 13%

Laporan pendapatan kuartal kedua Lowe:

Pendapatan: USD20,99 miliar di atas ekspektasi analis di USD20,96 miliar.

Laba per saham: USD2,15 di atas ekspektasi analis USD2,013.

Laba bersih: USD1,70 miliar di atas ekspektasi analis USD1,58 miliar.

Penjualan: Meningkat 2,3% dari periode yang sama tahun lalu.

3. Target

Pergerakan saham dalam sehari 18%.

Laporan pendapatan kuartal kedua Target:

Pendapatan: USD18,42 miliar di atas ekspektasi analis USD18,25 miliar.

Laba per saham: USD1,82 di atas ekspektasi analis USD1,62.

Laba: USD1,32 miliar naik 17% dari periode yang sama tahun lalu.

Penjualan: naik 3,4% dari tahun lalu.

2. Match Group

Pergerakan saham dalam sehari 20%.

Laporan penghasilan kuartal kedua Match Group:

Pendapatan: USD498,0 juta di atas ekspektasi analis USD489,2 juta.

Laba per saham: USD0,430 di atas ekspektasi analis USD0,405.

Pelanggan Tinder rata-rata: 5,2 juta naik 37% dari tahun ke tahun.

Pendapatan rata-rata per pengguna: USD0,58 naik 1,8% tahun-ke-tahun.

1. Roku

Pergerakan saham dalam sehari: 22%.

Laporan pendapatan kuartal kedua Roku:

Pendapatan: USD250,1 juta di atas ekspektasi analis USD224,46 juta.

Laba per saham: USD0,08 di atas ekspektasi analis minus USD0,21.

Pendapatan rata-rata per pengguna: USD21,06 naik USD2,00 dari kuartal pertama.

Rugi bersih: USD9,33 juta di atas ekspektasi analis USD23,6 juta.

Pasar Modal

Corona, Dana Investor Asing Kabur Rp104,39 T Sejak Awal Maret

Published

on

By

 Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat investor non residen (asing) melarikan modal mereka dari pasar Indonesia akibat penyebaran virus corona (covid-19). Total dana asing yang mengalir keluar (capital outflow) mencapai Rp104,39 triliun pada periode awal Maret hingga 24 Maret 2020.

FINROLL.COM — Deputi Komisioner Humas dan Logistik Anto Prabowo mengungkapkan sebagian besar dana asing yang keluar berasal dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) yaitu 98,28 triliun. Sementara, Rp6,11 triliun sisanya dari pasar saham.

Imbasnya, pasar saham melemah signifikan 27,79 persen sejak awal Maret atau 37,49 sejak awal tahun (year to date/ytd). Serupa, imbal hasil (yield) rata-rata naik sebesar 118,8 basis poin (bps) sejak awal bulan atau 95 bps secara ytd.

“Pelemahan ini disebabkan pada kekhawatiran investor terhadap virus corona yang akan berdampak pada kinerja emiten di Indonesia,” ujarnya dalam keterangan resmi, dikutip Jumat (27/3).

Guna meredam volatilitas di pasar modal, wasit industri jasa keuangan ini telah mengeluarkan sejumlah kebijakan. Pertama, pelarangan short selling.

Kedua, assymmetric auto rejection. Ketiga, trading halt 30 menit untuk penurunan indek 5 persen. Keempat, pembelian saham kembali (buyback) tanpa melalui RUPS. Terakhir, perpanjangan penggunaan laporan keuangan untuk IPO dari 6 bulan menjadi 9 bulan.

Selain itu, mempertimbangkan kondisi terkini, OJK juga telah mengeluarkan kebijakan sebagai berikut: relaksasi batas waktu penyampaian laporan keuangan dan penyelenggaraan RUPS, memperkenankan emiten untuk dapat melakukan RUPS melalui sistem elektronik (e-RUPS), relaksasi berlakunya Laporan Keuangan dan Laporan Penilaian di Pasar Modal; dan relaksasi terkait masa penawaran awal dan penawaran umum.

Otoritas juga mengeluarkan kebijakan relaksasi nilai haircut untuk perhitungan collateral dan Modal Kerja Bersih Disesuaikan (MKBD) kepada industri pengelolaan investasi, penyingkatan jam perdagangan di bursa efek, di penyelenggara pasar alternatif, dan waktu operasional penerima laporan transaksi efek, serta penyesuaian waktu penyelesaian transaksi perdagangan efek. (CNN/GPH)

Continue Reading

Pasar Modal

Saham & Rupiah Bergejolak, Sri Mulyani: Bukan Kondisi Biasa

Published

on

By

Kementerian Keuangan bersama otoritas terkait yang terhimpun dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) terus memonitor pergerakan pasar saham dan nilai tukar rupiah yang kemarin sempat bergejolak.

FINROLL.COM — Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, di Jakarta, mengakui, kondisi pasar saham dan nilai tukar pada perdagangan awal pekan ini, Senin (9/3/2020) terkoreksi tajam dan bergerak di luar kewajaran atau extraordinary terimbas sentimen negatif meluasnya virus Corona di berbagai negara dan kejatuhan harga minyak dunia.

“Kita betul-betul mengamati perkembangan yang terjadi sekarang ini. Perkembangan di pasar saham dan pasar nilai tukar, forex dan surat berharga negara itu semua menjadi perhatian kita perlu untuk yang terus kita ikuti dan waspadai, karena memang pergerakannya ini diakui seluruh dunia extra-ordinary, di luar kebiasaan,” terang Bendahara Negara, Selasa (10/3/2020).

Sri mengakui, jatuhnya pasar saham domestik sebesar 6,6% ke posisi 5.136,81 kemarin, Senin (9/3/2020), senada dengan penurunan bursa saham Wall Street, London, Jerman, Australia dan bursa saham regional. “Semua memberikan warning kepada kita bahwa ini bukan kondisi biasa,” tegasnya.

Kementerian, kata Sri Mulyani bersama-sama dengan Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), terus melakukan pemantauan pengaruh pergerakan di pasar keuangan ini terhadap stabilitas sistem keuangan Indonesia.

Mantan Direktur Eksekutif Bank Dunia ini menyebutkan, OJK telah menempuh kebijakan pengamanan meredam pelemahan IHSG lebih dalam melalaui kebijakan auto rejection asimetris. Artinya, saham yang volatilitasnya di atas 10% langsung terkena auto reject.

“Kemudian relaskasasi buyback saham tanpa ada RUPS, ini untuk mengembalikan rasionalitas pasar,” ujarnya.

“Sekarang ada ketidakamanan dan ketidaknyamanan karena virus atau kemudian perang minyak antara Saudi dan Rusia, mereka memunculkan ketidakamanan dan kenyamananan itu dengan mengalihkan investasi ke instrumen yang dianggap paling aman,” tandasnya.

Sumber Berita : CNBC INDONESIA

Continue Reading

Business

Pasar Saham Diramal Bangkit Juli 2020 Usai Terjangkit Corona

Published

on

By

Finroll – Jakarta, Pasar saham diramal pulih kembali usai lunglai akibat ‘infeksi’ virus corona pada semester kedua 2020. Bangkitnya pasar saham akan ditopang stimulus, baik dari sisi fiskal dan moneter yang digenjot pemerintah dan Bank Indonesia (BI).

Deputy Chief Investment Officer (CIO) Mandiri Manajemen Investasi Aldo Perkasa memprediksi dampak negatif penyebaran virus corona hanya berlangsung secara temporer.

“Dampak virus corona ini paling parah kuartal pertama dan masih ada potensi carry over (berlanjut) di kuartal kedua. Tapi kalau belajar dari pattern (pola) SARS, makin summer (musim panas) itu makin mereda. Jadi aktivitas bisnis semua akan mulai berjalan lagi, jadi low base (lesu) di kuartal kedua, dan mungkin kuartal ketiga akan mulai naik,” ucapnya, Kamis (5/3).

Untuk diketahui, Menteri Keuangan Sri Mulyani telah menyiapkan berbagai kebijakan untuk menghalau dampak virus corona kepada ekonomi Indonesia. Stimulus itu meliputi tambahan anggaran Kartu Sembako sebesar Rp50.000 dan diskon tarif tiket pesawat. Bahkan, bendahara negara tengah mengkaji opsi penundaan pungutan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 demi menekan dampak meluasnya wabah virus corona di Indonesia.

Sejalan dengan itu, bank sentral menurunkan tingkat suku bunga acuan sebesar 2 basis poin (bps) menjadi 4,75 persen. BI juga menurunkan rasio giro wajib minimum (GWM) valuta asing (valas) bank umum konvensional, dari 8 persen dari Dana Pihak Ketiga (DPK) menjadi menjadi hanya 4 persen. Lalu, GWM rupiah turun sebesar 50 bps dari 5,5 persen menjadi 5 persen bagi perbankan yang menyalurkan pembiayaan ekspor dan impor.

Aldo menilai stimulus tersebut mampu menahan kejatuhan ekonomi akibat virus corona. Namun, pada periode kuartal I dan II ini, ia meramal pasar saham masih bergerak fluktuatif.

“Harapannya ekonomi mulai hike-up (membaik) lagi paling tidak di semester kedua 2020,” ujarnya.

Lihat juga: Pemerintah Akan Bebaskan Pajak Industri di Indonesia Timur
Selain dorongan stimulus, ia meyakini virus corona mulai mereda. Kondisi ini ditandai dengan tingkat penyembuhan (recovery) pasien positif corona cukup tinggi yakni lebih dari 50 persen. Hingga Kamis (5/3) pasien yang dinyatakan sembuh di seluruh dunia mencapai 51.171 orang. Sementara korban meninggal akibat virus corona mencapai 3.254 orang. Fakta ini diharapkan dapat mengurangi kekhawatiran investor di pasar.

“Dalam tiga hari terakhir sudah mulai ada tanda-tanda kekhawatiran pasar mereda, dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai hike-up,” ujarnya.

Saat ini, Mandiri Manajemen Investasi sendiri belum merevisi target IHSG yakni di rentang 6.900-7.000. Namun demikian, mereka akan merevisi indeks saham setelah melihat perkembangan di kuartal I 2020.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading
Advertisement

Advertisement

Trending