Connect with us

Hukum & Kriminal

Dalam Lanjutan Kasus Jiwasraya Kejagung Tetapkan 14 Tersangka

Published

on


Finroll – Jakarta, Kejaksaan Agung menetapkan 13 korporasi dan satu orang pejabat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai tersangka untuk kasus dugaan korupsi dalam pengelolaan keuangan dan dana investasi PT Asuransi Jiwasraya.

Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung Hari Setiyono mengatakan, ke-13 korporasi tersebut diketahui berkontribusi merugikan negara dengan nominal mencapai Rp12,157 triliun dari total kerugian Rp16,81 triliun pada kasus korupsi PT Asuransi Jiwasraya.

“Menetapkan tersangka baru yakni 13 korporasi dalam dugaan tindak pidana korupsi penyalahgunaan keuangan di PT Asuransi Jiwasraya,” kata Hari dalam keterangan tertulis, Kamis (25/6).

Hari menjelaskan, kerugian dari 13 korporasi itu merupakan bagian dari perhitungan kerugian keuangan negara sesuai perhitungan BPK, yakni sebesar Rp16,81 triliun. Selain dijerat dengan dugaan tindak pidana korupsi, ke-13 korporasi juga terjerat pasal tindak pidana pencucian uang (TPPU).

Lebih lanjut, Hari memaparkan bahwa saat ini penyidik menetapkan korporasi terlebih dahulu, untuk kemudian mengurai dan mengembangkan jika ada peran aktif dari pengelola korporasi terkait.

“Sehingga perbuatan itu melekat pada orang yang berperan aktif, nanti itu di pengembangan penyidikan,” ujarnya.

Adapun ke-13 korporasi yang ditetapkan tersangka oleh Kejaksaan Agung yakni PT Dana Wibawa Management Investasi, PT Oso Management Investasi, PT Pinekel Persada Investasi, PT Millenium Danatama, PT Prospera Aset Management, PT MNC Asset Management, serta PT Maybank Aset Management.

Kemudian juga PT GAP Capital, PT Jasa Capital Asset Management, PT Corvina Capital, PT Iserfan Investama, PT Sinar Mas Asset Management, dan PT Pool Advista Management.

Sementara, pejabat OJK yang ditetapkan sebagai tersangka adalah Fakhri Hilmi (FH) selaku Kepala Departemen Pengawasan Pasar Modal 2A periode Februari 2014 sampai Februari 2017, yang kemudian diangkat sebagai Deputi Komisioner Pengawasan Pasar Modal II OJK periode Februari 2017 sampai sekarang.

FH dijerat dengan Pasal 2 ayat (1) subsider Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 56 KUHP. Jika lalu ditemukan bukti yang cukup, FH dapat dikenai sangkaan pasal tindak pidana pencucian uang (TPPU).

Hari menyatakan, penyidik juga melakukan pemeriksaan terhadap dua orang saksi, yakni Helda Gunawan dan Iwan Ho. Seluruh proses pemeriksaan saksi dilaksanakan dengan menerapkan protokol kesehatan mencegah penularan Covid-19, antara lain dengan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD), masker, hand sanitizer, serta menjaga jarak antara saksi dan penyidik.

Sumber : CNN Indonesia

Advertisement Valbury

Hukum & Kriminal

PTPN VII Polisikan Rizieq Soal Lahan Pesantren Megamendung

Published

on

Jakarta – Pentolan Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab dilaporkan Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII ke Bareskrim Polri terkait penggunaan lahan tanpa izin Pondok Pesantren Alam Agrokultural Markaz Syariah di Kecamatan Megamendung, Bogor, Jawa Barat.

Kuasa hukum PTPN VII Ikbar Firdaus Nurahman menjelaskan Rizieq adalah salah satu dari 250 orang yang menguasai lahan di lokasi pesantren. Ratusan orang itu dikatakan juga masuk dalam laporan ke kepolisian.

‘Melaporkan terkait penguasaan lahan yang dikuasai oleh pihak-pihak yang kami sudah berikan peringatan terlebih dahulu terhadap pihak-pihak tersebut,” kata Ikbar di Kantor Bareskrim Polri, Jakarta, Jumat (22/1), disitat dari Antara.

Baca Juga :

Ikbar berharap 250 orang itu bersedia menyerahkan lahan yang sudah digunakan dan mengatakan bakal membawa semua pihak yang menyalahgunakan lahan ke ranah hukum.

“Di kawasan Megamendung, semua yang mendirikan bangunan tanpa izin dan berada di atas lahan milik PTPN akan kami laporkan secara hukum,” ujar Ikbar.

Ikbar juga mengungkap sudah melakukan somasi ke berbagai pihak yang menempati lahan PTPN VII sebelum membuat laporan polisi. Dia bilang ada pihak yang merespons baik, tetapi ada juga yang mengacuhkannya.

Laporan itu terdaftar dengan nomor LP/B/0041/I/2021/Bareskrim tertanggal 22 Januari 2021, dengan terlapor Muhammad Rizieq Shihab selaku ulama dan Gabriele Luigi Antoneli selaku pastor.

Baca Juga :

Rizieq dan Gabriele disangkakan pelanggaran Pasal 107 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2014 tentang Tindak Pidana Kejahatan Perkebunan, Pasal 69 Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Kejahatan Penataan Ruang, Pasal 167 KUHP tentang Memasuki Pekarangan Tanpa Izin, Pasal 385 KUHP tentang Penyerobotan Tanah dan Pasal 480 KUHP tentang Penadahan.

Sumber  Berita : CNN Indonesia

Continue Reading

Hukum & Kriminal

KPK: Tak Ada Info Valid Harun Masiku Meninggal Dunia

Published

on

JAKARTA . Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menanggapi kabar yang menyampaikan bahwa Harun Masiku meninggal dunia. Kabar meninggalnya Harun Masiku disampaikan oleh Ketua Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI), Boyamin Saiman.
Plt. Jubir Penindakan KPK Ali Fikri mengatakan komisi antirasuah tidak menerima informasi valid tentang meninggalnya mantan politikus PDI Perjuangan (PDIP) itu.

“Sejauh ini tidak ada informasi valid yang KPK terima terkait meninggalnya buronan tersebut,” ujarnya kepada media melalui pesan WhatsApp, (Senin 11/1) malam.

Ali menuturkan sebagai lembaga penegak hukum, KPK membutuhkan dasar atau bukti yang kuat untuk menentukan seseorang secara hukum dinyatakan meninggal dunia. Misalnya, dokumen kematian atau setidaknya jejak kematian yang bersangkutan.

“Untuk itu KPK tetap melakukan pencarian para DPO (Daftar Pencarian Orang) KPK baik yang ditetapkan sejak tahun 2017 maupun 2020,” jelasnya.

Tercatat, KPK memiliki 7 DPO yang menjadi kewajiban KPK untuk segera dituntaskan. Dari jumlah tersebut, 2 di antaranya adalah DPO yang ditetapkan pada 2020, yaitu Harun Masiku dan Samin Tan.

Sebelumnya, Boyamin Saiman meyakini jika Harun Masiku sudah meninggal dunia. Keyakinan itu berdasarkan informasi dari jaringan Boyamin yang merupakan mantan intelijen negara.

“Jaringan saya mengatakan bahwa itu (Harun Masiku) sudah meninggal, tanda kutipnya tidak tahu seperti apa. Jaringan terbaik saya, saya jujur misalnya dulu ada beberapa pensiunan di lembaga intelijen, jaringan saya. Beberapa itu mengatakan ke saya itu (Harun Masiku) sudah meninggal,” ucapnya dalam wawancara dengan Karni Ilyas yang ditayangkan melalui kanal Youtube Karni Ilyas Club.

Menariknya, Boyamin juga meyakini jika Harun Masiku meninggal karena dibunuh. Pasalnya, DPO KPK tersebut tidak memiliki riwayat sakit. Namun, pernyataan yang disampaikannya itu hanya berdasarkan keyakinan Boyamin pribadi.

“Kalau pengertian itu kan pilihannya persentasenya, supaya saya juga aman ini ngomong gini, persentasenya lebih banyak yang kedua (meninggal karena dibunuh). Karena umurnya saya tahu di bawah saya sedikit dan dari track record teman-temannya saya tahu tidak pernah sakit. Tidak punya sakit yang komorbid, jadi rasanya kalau keadaan normal belum meninggal,” imbuhnya.

Seperti diketahui, Harun Masiku terjerat kasus dugaan korupsi penetapan pergantian antar waktu (PAW) anggota DPR RI periode 2019-2024. Namun, hingga satu tahun lamanya Harun Masiku belum juga tertangkap.

Harun diduga menyuap mantan Komisioner KPU Wahyu Setiawan agar bisa ditetapkan sebagai pengganti Nazarudin Kiemas yang lolos ke DPR, namun meninggal dunia. Ia diduga menyiapkan uang sekitar Rp850 juta untuk pelicin agar bisa melenggang ke Senayan.

Sumber Berita : CNN Indonesia

Continue Reading

Hukum & Kriminal

Kapolda Metro Sebut Ada Ormas yang Merobek Kebinekaan

Published

on

Jakarta – Kapolda Metro Jaya Irjen Fadil Imran menyebut ada organisasi kemasyarakatan (ormas) di wilayah Jakarta yang menempatkan dirinya di atas negara. Ormas tersebut menurutnya dapat merobek-robek kebinekaan dalam aksinya selama ini.

Namun, Fadil tak menegaskan apa ormas apa yang dia maksud. Fadil hanya menyebut bahwa ormas ini juga melakukan tindak pidana.

“Melakukan hate speech, melakukan penghasutan, menimbulkan ujaran kebencian, berita bohong. Itu berlangsung berulang-ulang dan bertahun-tahun,” kata Fadil kepada wartawan di Polda Metro Jaya, Jumat (11/12).

Tak hanya melakukan tindak pidana, kata Fadil, ormas ini juga dapat merusak kenyamanan masyarakat.

“Dapat merobek-robek kebinekaan kita, karena menggunakan identitas sosial, apakah suku atau agama enggak boleh. Negara ini dibangun dari kebinekaan,” tutur Fadil.

Karenanya, Fadil menegaskan kepolisian, dalam hal ini Polda Metro Jaya mesti melakukan penegakan hukum terhadap ormas-ormas ini. “Enggak ada gigi mundur, ini harus kita selesaikan,” ujarnya.

Mantan Kapolda Jawa Timur ini menjelaskan proses hukum terhadap ormas ini perlu dilakukan karena negara butuh keteraturan da ketertiban sosial.

Hal itu, lanjut Fadil, menjadi salah satu tugasnya selaku Kapolda Metro Jaya. Tujuannya, agar masyarakat merasa aman dan nyaman.

Selain itu, Fadil menuturkan dengan keamanan dan kenyamanan masyarakat itu juga akan berdampak positif pada iklim investasi.

“Jadi pembangunan ekonomi ini butuh kepastian hukum dan butuh keteraturan, butuh ketertiban supaya investasi bisa datang. Jadi hukum harus ditegakkan,” ucap Fadil.

Sumber Berita : CNN Indonesia

Continue Reading

Trending