Connect with us

Ekonomi Global

Dampak Corona Pada Perkonomian Dunia

Published

on


Jakarta, FINROLL — Awal 2020 ini terlihat suram bagi Tiongkok. Suasana pulang kampung untuk merayakan Tahun Baru Imlek tak terasa. Lebih dari 50 juta warganya dikarantina akibat wabah virus corona. Kegiatan konsumsi melemah. Tak ada yang membeli hadiah untuk sanak saudara atau makan bersama, apalagi berlibur.

Laporan LA Times menyebutkan kedai kopi Starbucks di negara itu banyak yang tutup. Jumlahnya lebih 4 ribu toko. Ikea juga tak beroperasi di 30 outlet-nya di Cina. Gerai makanan cepat saji McDonald menutup ratusan restorannya di provinsi tempat virus itu pertama kali ditemukan, Hubei.

Wabah corona akan sangat berpengaruh yang signifikan setidaknya seperempat atau dua poin pada pertumbuhan China. Karena melihat China yang memainkan posisi pentig dalam perekonomian dunia.

Presiden Bank Dunia David Malpass ikut angkat bicara terkait wabah virus corona. Malpass melihat penyebaran virus corona membuat banyak maskapai penerbangan memutuskan untuk menghentikan penerbangan ke China.

Artinya tidak hanya menghentikan orang untuk berpergian, tetapi juga memblokir barang agar tidak diangkut ke China.

Dampak lain, jumlah pengunjung tempat berjudi di Macau pada Januari lalu turun 80% dibandingkan tahun sebelumnya. Sektor pariwisata Tiongkok langsung melambat pada awal tahun tikus logam ini.

Sejak Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menetapkan status gawat darurat global untuk wabah virus corona pada pekan lalu, dunia mulai siaga. Bukan hanya soal penyebaran penyakitnya tapi juga dampaknya terhadap perekonomian dunia.

Badan Moneter Internasional (IMF) memperkirakan dalam jangka pendek akan terjadi perlambatan ekonomi global. “Dalam jangka panjang, kami belum tahu,” kata Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva, seperti dikutip dari Nikkei, Minggu (2/2).

Beberapa negara, termasuk Amerika Serikat, Australia dan Singapura, menerapkan larangan bagi warganya memasuki Cina. Di sisi lain, Beijing juga memerintahkan puluhan juta warganya untuk tidak keluar rumah.

Lembaga pemeringkat Moody’s menyebut munculnya virus bernama 2019-nCoV itu sebagai angsa hitam alias peristiwa langka yang berdampak besar dan di luar prediksi. Sebutan ini mengacu pada Teori Angsa Hitam yang ditulis oleh Nassim Nicholas Taleb dalam bukunya The Black Swan pada 2007.

Dalam laporan yang berjudul Coronavirus May Be a Black Swan Like No Other, kondisi sekarang tak seperti krisis ekonomi 2008-2009 yang terprediksi sebelumnya. “Harapan pertumbuhan ekonomi dunia berada di level 3,3% pada 2020, sekarang dihadang oleh virus corona,” tulis laporan itu.

Pada Senin lalu, lantai bursa saham Shanghai dibuka anjlok 9%. Penurunannya merupakan yang terparah sejak Agustus 2015. Banyak analis memprediksi pertumbuhan negara dengan perekonomian kedua terbesar di dunia itu akan mendekati 5%, turun dari prediksi sebelumnya di 6%. Sektor manufaktur dan pariwisatanya diperkirakan akan melambat.

Wuhan, kota tempat awal mula wabah terjadi, merupakan pusat sektor manufaktur otomotif negara itu. Produsen mobil, seperti General Motors dan Honda, memiliki pabrik di sana. Kontribusi kota ini mencapai 1,6% dari perekonomian Tiongkok.

Disrupsi ini terjadi di saat Beijing berusaha keluar dari perlambatan ekonomi 2019 akibat perang dagang dengan Amerika Serikat. Wakil Perdana Menteri Liu He pada 15 Januari lalu menandatangani kesepakatan dagang tahap pertama dengan Presiden AS Donald Trump.
Langkah tersebut menjadi sinyal awal penyelesaian perang dagang di antara kedua negara.

Namun, tekanan ekonomi negara itu tampaknya memburuk karena virus corona Wuhan. Per 4 Februari 2020, jumlah yang terinfeksi telah lebih dari 20 ribu orang di 27 negara. Sebanyak 730 kasus dinyatakan sembuh. Korban tewas mencapai 427 orang. Sebagian besar pasien yang tewas berasal dari Tiongkok. Ada 2 orang yang wafat di luar negara itu, yaitu Hong Kong dan Filipina.

Sekitar 17 tahun lalu, Tiongkok juga pernah mengalami kondisi serupa. Ketika itu virus pernapasan akut parah atau SARS mewabah. Perekonomiannya, terutama di Hong Kong, tertekan. Tapi bedanya, Cina masih bergantung pada sektor industri, bukan konsumsi seperti sekarang.

Konsumsi menopang hampir sepertiga ekonomi Cina saat ini. Dengan wabah virus corona, banyak analis memprediksi akan sulit konsumen dapat segera pulih. Prosesnya tak akan secepat ketika SARS terjadi pada 2002-2003. Perekonomian Tiongkok pada saat wabah SARS terjadi juga tidak sebesar sekarang. Posisinya sekarang sebagai salah satu raksasa ekonomi dunia membuat perlambatan sekecil apa pun akan berdampak terhadap negara-negara lainnya.

Iwan Hidayat Bergabung Dengan Finroll Media Group Tahun 2012

Business

Harga Minyak Dunia Menguat Pada Perdagangan Rabu

Published

on

By

Finroll – Jakarta, Harga minyak mentah dunia bangkit pada perdagangan Rabu (8/4). Pasar berharap bahwa OPEC dan sekutunya, atau OPEC+ akan mencapai kesepakatan pengurangan produksi pada Kamis (9/4) waktu setempat.

Mengutip Antara, Kamis(9/4), minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Mei naik 97 sen atau 3 persen ke posisi US$32,84 per barel. Sementara, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei naik US$1,46 atau 6,2 persen menjadi US$25,09 per barel.

Pasar memprediksi pertemuan OPEC+ melalui konferensi video lebih sukses daripada pertemuan mereka pada Maret. Sebelumnya, OPEC+ gagal menyepakati pengurangan pasokan bahkan menimbulkan perang harga antara Arab Saudi dan Rusia.

“Tekanan sangat besar pada negara-negara ini untuk memangkas (produksi),” kata Phil Flynn, seorang analis di kelompok Harga Futures.

Sebuah media melaporkan Rusia akan memangkas produksinya sehingga memberikan sentimen positif kepada pasar. Disebutkan, bahwa Rusia siap untuk mengurangi produksi minyaknya sebesar 1,6 juta barel per hari.

“Pertemuan itu pasti akan menyeimbangkan kembali pasar melalui langkah-langkah yang akan kami ambil besok,” ujar Menteri Energi Aljazair Mohamed Arkab yang merupakan Presiden OPEC.

Sementara itu AS pun tak tinggal diam. Sejumlah anggota DPR AS mengatakan kepada Pangeran Mahkota Saudi Mohammed bin Salman bahwa kerja sama ekonomi dan militer antara kedua negara dalam bahaya, kecuali jika Arab Saudi membantu menstabilkan harga dengan memangkas produksi minyak mentah.

Akan tetapi, sumber-sumber OPEC+ mengatakan pemangkasan produksi tergantung pada partisipasi AS. Di sisi lain, mereka masih merahukan partisipasi AS dalam pemotongan produksi.

Alasannya, OPEC+ telah membatasi produksi dalam beberapa tahun terakhir ketika produsen AS justru meningkatkan produksinya.

Sementara itu, Badan Informasi Energi AS (EIA) mengumumkan pusat pengiriman minyak WTI di Cushing, Oklahoma membukukan rekor kenaikan mingguan 6,4 juta barel. EIA meramalkan jika pandemi virus corona dan peningkatan pasokan minyak terus menekan harga minyak mentah global hingga paruh pertama 2020.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

Ekonomi Global

Boeing Mulai Tawarkan PHK Plus Tunjangan ke 161 Ribu Karyawan

Published

on

By

Boeing, produsen pesawat Amerika Serikat (AS), mulai menawarkan program pemutusan hubungan kerja (PHK) secara sukarela kepada 161 ribu karyawan mereka. Program PHK diterapkan seiring dengan anjloknya bisnis penerbangan karena pandemi virus corona.

FINROLL.COM — CEO Boeing Dave Calhoun dalam memonya seperti dilansir CNN.com, Jumat (3/4), bilang paket PHK sukarela itu disertai gaji dan tunjangan. Paket ditawarkan sejalan dengan kemungkinan pulih industri penerbangan sangat lambat akibat penyebaran penyakit covid-19.

Pendapatan Boeing tergerus setelah virus corona menyebar. Banyak maskapai penerbangan mulai mengurangi pembelian pesawat baru.

“Satu hal sudah jelas, ini akan membutuhkan waktu bertahun-tahun bagi industri penerbangan untuk pulih dari krisis,” kata Calhoun dalam memo itu.

Ia melanjutkan dampak pandemi virus corona masih akan mempengaruhi jenis permintaan pasar komersial baik dari sisi produk maupun layanan. Karenanya, ia menyebut Boeing akan menyesuaikan bisnisnya jika terjadi perubahan tersebut.

“Kami perlu menyeimbangkan penawaran dan permintaan sesuai dengan perkembangan industri, sejalan dengan proses pemulihan industri dalam beberapa tahun mendatang,” jelasnya.

Di sisi lain, pemerintah AS telah menggelontorkan stimulus jumbo sebesar US$2 triliun, termasuk di dalamnya US$50 miliar untuk perusahaan maskapai AS. Namun, sebagian besar pangsa pasar Boeing justru berasal dari luar AS.

Sementara itu, bantuan dari masing-masing pemerintah negara kepada industri penerbangan berbeda-beda. Beberapa perusahaan kemungkinan akan gulung tikar dan sebagian lainnya diperkirakan menunda atau membatalkan pengiriman pesawat pesanan dari Boeing.

Tahun ini, Boeing menerima pesanan 5.350 jet komersial. Dari jumlah tersebut, lebih dari 4.000 pesawat dipesan oleh perusahaan maskapai di luar AS.

Boeing sendiri tak serta merta menyelesaikan seluruh pesanan dalam satu tahun karena maskapai penerbangan biasanya menggunakan pesawat tersebut untuk tahun mendatang. Boeing biasanya hanya bisa menyelesaikan produksi 800 pesawat komersial per tahun.

Akibat virus corona, Boeing menangguhkan pembayaran dividen untuk pertama kalinya sejak 1942. Tahun lalu, perusahaan menyetor dividen sebesar US$4,6 miliar. Selain itu, perusahaan berencana meminjam US$13,8 miliar lewat kredit sindikasi perbankan.

Guncangan virus corona menambah beban Boeing setelah beberapa waktu lalu mereka terpaksa melakukan grounded terhadap armadanya jenis 737 Max 8.

Sebagaimana diketahui, Boeing 737 Max 8 milik Lion Air dan Ethiopian Airlines jatuh tidak lama usai lepas landas sehingga menewaskan ratusan penumpang dan kru. (CNN/GPH)

Continue Reading

Ekonomi Global

Utilitas Manufaktur Anjlok, Imbas Corona

Published

on

By

Finroll – Jakarta, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat wabah virus corona menekan utilitas industri manufaktur hampir 50 persen. Hal itu tercermin dari penurunan indeks manajer pembelian (Purchasing Managers’ Index/PMI) manufaktur dari 51,9 pada Februari ke 45,3 pada Maret 2020.

“Beberapa industri mengalami penurunan kapasitas (produksi) hampir 50 persen, kecuali industri-industri alat-alat kesehatan dan obat-obatan. Kami tetap mendorong industri bisa beroperasi seperti biasanya, namun dengan protokol kesehatan yang ketat sehingga terhindar dari wabah Covid-19,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangan resmi, dikutip Kamis (2/4).

Tidak hanya di Indonesia, aktivitas manufaktur di Asia juga mengalami kontraksi pada Maret 2020 ini karena dampak penyebaran virus korona (Covid-19) terhadap rantai pasokan. Berdasarkan data IHS Markit yang dirilis Rabu (1/4), hampir seluruh PMI manufaktrur regional turun di bawah 50.

Indeks PMI Jepang anjlok ke level 44,8, sedangkan PMI Korea Selatan turun ke 44,2, level terburuk sejak krisis keuangan global lebih dari satu dekade lalu. Di Asia Tenggara, angka PMI Filipina turun menjadi 39,7, terendah sepanjang sejarah, sedangkan Vietnam merosot ke 41,9.

Guna menggairahkan sektor industri di dalam negeri, Agus akan mengusulkan pemberian berbagai stimulus fiskal dan nonfiskal. Upaya tersebut merupakan antisipasi dari banyaknya negara yang melakukan protokol penguncian (lockdown) yang memberikan dampak negatif bagi pasar lokal maupun global.

Stimulus yang bakal dikeluarkan, misalnya terkait upaya memperlancar arus bahan baku. Dalam hal ini, Kemenperin akan melakukan koordinasi dengan kementerian terkait. Sedangkan, dari sisi fiskal, akan ada pengurangan pajak perusahaan dan peniadaan pajak penghasilan karyawan.

“Hal tersebut untuk meringankan beban dunia usaha maupun karyawan dalam jangka waktu tertentu,” imbuhnya.

Pemerintah juga telah menerbitkan aturan yang juga terkait sektor perindustrian, antara lain Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) Nomor 1 Tahun 2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem untuk penanangan pandemi Covid-19 dalam rangka menghadapi ancaman perekonomian nasional.

Selanjutnya, Keputusan Presiden (Kepres) Nomor 11 Tahun 2020 tentang Penetapan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat Corona Virus DISEASE 2019 (COVID- 19), Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2020 Pembatasan Sosial Berskala Besar Dalam Rangka Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (COVID-19), dan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 23 Tahun 2020 tentang Insentif Pajak untuk Wajib pajak terdampak wabah virus corona.

Selanjutnya, Kemenperin akan terus memantau perkembangan aktivitas industri berbagai sektor di dalam negeri, terutama terkait dengan dampak pandemi yang disebabkan oleh virus corona baru.

“Pemerintah sangat serius dalam menangani covid-19 ini, termasuk agar industri kita tidak terpuruk. Jadi, penciptaan iklim usaha yang kondusif juga diprioritaskan. Namun, hal itu perlu dukungan semua stakeholder,” ujarnya.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading
Advertisement

Advertisement

Trending