Connect with us
[adrotate group="1"]

Makro Ekonomi

Data Perdagangan Menunjukkan ‘Tanda Membaik’ Pemulihan Ekonomi

Published

on


FINROLL.COM — Indonesia membukukan ekspor tertinggi dalam enam bulan, didorong oleh peningkatan pengiriman barang pertanian dan manufaktur pada bulan September, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan Kamis. Sebagai tanda membaiknya permintaan global, Indonesia mencatat surplus perdagangan selama lima bulan berturut-turut.

Ekspor melonjak 6,97 persen bulan ke bulan (mtm) di bulan September menjadi US $ 14,01 miliar, tertinggi yang tercatat sejak Maret, sebelum pandemi berdampak besar pada perekonomian negara.

Angka tersebut, bagaimanapun, tetap 0,5 persen lebih rendah dari pada bulan September tahun lalu. Impor, sementara itu, naik 7,7 persen mtm menjadi $ 11,57 miliar di bulan September karena meningkatnya pengiriman masuk bahan mentah dan barang modal, tetapi mereka masih hampir 19 persen lebih rendah setiap tahun, karena pengeluaran rumah tangga tetap jauh di bawah tingkat pra-pandemi.

Akibatnya, negara itu membukukan surplus perdagangan $ 2,44 miliar pada bulan September, sehingga total surplus sepanjang tahun ini menjadi $ 13,51 miliar.

“Data perdagangan September merupakan tanda pemulihan ekonomi yang menggembirakan, karena ekspor barang pertanian dan manufaktur meningkat, sementara impor bahan baku untuk [manufaktur] juga meningkat,” kata kepala BPS Suhariyanto dalam jumpa pers, Kamis.

Produk domestik bruto (PDB) Indonesia menyusut 5,32 persen tahun ke tahun (yoy) pada kuartal kedua karena semua komponen PDB, kecuali ekspor neto, mengalami kontraksi. Pengeluaran rumah tangga serta investasi turun lebih dalam karena pandemi COVID-19 menghantam daya beli dan permintaan.

Ekspor barang jadi, yang memberikan kontribusi sekitar 80 persen terhadap total ekspor, naik 6,61 persen yoy menjadi $ 11,56 miliar pada September, didorong oleh peningkatan pengiriman baja, minyak sawit, dan peralatan listrik, antara lain.

Ekspor produk pertanian melonjak 16,22 persen per tahun menjadi $ 410 juta karena peningkatan ekspor sarang burung, udang dan sayuran, di antara komoditas lainnya. Sementara itu, ekspor produk minyak dan gas turun 12,44 persen menjadi $ 700 juta di tengah harga minyak yang lebih rendah, sementara ekspor produk pertambangan turun 35 persen menjadi $ 1,33 miliar karena jatuhnya harga batu bara dan permintaan yang lebih rendah untuk komoditas tersebut.

Di sisi lain, impor bahan mentah dan barang modal masing-masing meningkat pada bulan September menjadi $ 8,32 miliar dan $ 2,13 miliar, tetapi masih turun hampir 20 persen setiap tahun. Impor barang konsumsi turun 20,38 persen yoy menjadi $ 1,12 miliar.

“Permintaan dari negara tujuan ekspor utama Indonesia telah menunjukkan peningkatan yang signifikan setelah pelonggaran lockdown global, sementara harga komoditas global menunjukkan tren peningkatan,” tulis Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro dalam catatan penelitiannya, Kamis.

“[Faktor] ini dapat mendukung ekspor ke depan.” Namun, potensi risiko gelombang kedua pandemi virus korona dapat menghambat pemulihan ekspor dan aktivitas ekonomi global, kata dia, menambah prospek impor yang suram karena permintaan domestik yang masih lemah akan memaksa pelaku usaha untuk menunda kegiatan investasi dan produksi.

Atas dasar itu, “Impor Indonesia akan terus mengalami kontraksi lebih cepat dibandingkan ekspor pada kuartal terakhir tahun 2020,” prediksi dia. Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual mengatakan data perdagangan mencerminkan “tanda terbaru pemulihan” di sektor manufaktur negara, tetapi prospek pemulihan ekonomi tetap tidak menentu tahun ini.

“Prospek pemulihan ekonomi pada kuartal keempat akan sangat bergantung pada lintasan virus, karena pengeluaran rumah tangga akan tetap lemah sampai vaksin tersedia,” katanya kepada Post.

Aktivitas manufaktur Indonesia telah meningkat secara signifikan pada kuartal ketiga dibandingkan dengan kuartal kedua, menurut survei yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI), yang memperkirakan aktivitas tersebut akan terus meningkat pada kuartal keempat.

Kenaikan impor nonmigas Indonesia mengisyaratkan peningkatan permintaan domestik, JP Morgan Emerging Markets Asia, analis Riset Ekonomi dan Kebijakan Nur Raisah Rasid menulis dalam sebuah catatan pada hari Kamis. Kinerja bisnis pada kuartal ketiga telah meningkat secara signifikan dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, kata Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Shinta Kamdani.

“Kami yakin kinerja bisnis akan semakin pulih menyusul peningkatan konsumsi sebelum akhir tahun, dan kami berharap kepercayaan masyarakat ke depannya akan meningkat sejalan dengan ketersediaan vaksin,” ujarnya melalui pesan singkat, Kamis, seraya menambahkan bahwa permintaan akan barang-barang Indonesia mengalami penurunan.

juga meningkat di negara-negara yang berhasil mengendalikan pandemi. “Atas dasar itu, kami optimis produktivitas industri nasional akan mendapat dorongan dari kepercayaan masyarakat yang meningkat dan permintaan pasar yang meningkat,” tandasnya. “Tapi kami masih perlu bekerja keras untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap perekonomian melalui reformasi kebijakan dan stimulus.” (Hdyt/Thejakartapost.com)

Iwan Hidayat Bergabung Dengan Finroll Media Group Tahun 2012

Makro Ekonomi

Matahari Tutup Enam Gerai karena Tak Menguntungkan

Published

on

PT Matahari Department Store Tbk menyatakan akan menutup enam gerai hingga akhir 2020. Dengan demikian, total gerai ritel itu berkurang dari 153 menjadi 147.

Informasi tersebut diketahui dari laporan perseroan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui keterbukaan informasi.

“Ada enam toko besar yang tidak menguntungkan akan ditutup,” ujar perseroan dalam presentasinya kepada BEI, dikutip Senin (30/11).

Dari enam gerai tersebut sebanyak empat gerai berada di Jawa. Sedangkan sisanya berlokasi di Bali satu gerai dan Sulawesi satu gerai.

Perusahaan dengan kode saham LPPF itu juga memastikan tidak ada pembukaan gerai baru hingga Maret 2021.

“Tidak ada pembukaan toko baru pada kuartal IV 2020 dan kuartal I 2021,” imbuh perseroan.

Sementara itu, untuk 143 gerai yang masih beroperasi, pihak manajemen menuturkan jika 23 gerai berada dalam daftar pantauan terkait peningkatan kinerja. Mereka juga melakukan negosiasi dengan pemilik gedung untuk mendapatkan harga sewa yang tetap atau bahkan lebih rendah.

“Toko-toko ini sedang dipantau, ditinjau, dan didiskusikan,” katanya.

Perseroan menuturkan kondisi tersebut dipengaruhi oleh pandemi covid-19 yang menyebabkan sejumlah kota melakukan PSBB. Tercatat, ada 42 gerai Matahari pada enam kota yang melakukan PSBB.

“Perdagangan pada Desember dapat dipengaruhi oleh perpanjangan PSBB lebih lanjut dan pembatasan mudik akhir tahun,” ujarnya.

Sebelumnya, Matahari telah menutup tujuh gerai sepanjang tahun ini karena merugi. Sekretaris Perusahaan Matahari Department Store Miranti Hadisusilo menyatakan manajemen telah merencanakan penutupan ini dengan matang.

Ketujuh gerai itu tersebar di seluruh Indonesia. Pertama, 1 gerai di Palembang, Sumatera Selatan. Kedua, 1 gerai di Bogor, Jawa Barat. Ketiga, 1 gerai di DKi Jakarta.

Sebanyak 7 gerai itu meliputi gerai di Palembang, Bogor, DKI Jakarta, Balikpapan, Bali, Padang, dan Cirebon.

“Iya benar (tidak menguntungkan), jadi memang sudah direncanakan untuk ditutup karena tidak menguntungkan,” ucap Miranti kepada CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.

Selain menutup gerai, Matahari Department Store juga telah memotong gaji karyawan sejak April 2020. Hal ini seiring dengan maraknya kasus penularan virus corona dan pembatasan aktivitas di ruang publik.

Sumber Berita : CNN INDONESIA

Continue Reading

Makro Ekonomi

Pameran Dagang RI Tarik Transaksi Rp1,02 T dari Mesir

Published

on

FINROLL.COM – Pameran perdagangan Indonesia secara virtual, Trade Expo Indonesia Virtual Exhibition (TEI-VE) 2020 berhasil menggaet transaksi bisnis sebesar US$73 juta atau sekitar Rp1,02 triliun dari para pengusaha Mesir.

“Meski pandemi, tidak mengecilkan semangat pembeli Mesir melakukan pembelian produk Indonesia,” kata Kepala Perwakilan RI/Kuasa Usaha Ad Interim Kedutaan Besar RI di Kairo M Aji Surya dikutip dari Antara, Rabu (11/11).

Kesepakatan bisnis itu dilakukan melalui penandatanganan kontrak pembelian yang diadakan pada Selasa (10/11). Menurut dia, transaksi perdagangan tersebut mencakup beberapa produk unggulan Indonesia di antaranya manufaktur ban kendaraan senilai US$30 juta, sabun toilet US$3 juta dan produk biji kopi US$40 juta.

“Mesin diplomasi ekonomi kita tidak boleh kendor,” imbuh Aji.

Atase Perdagangan KBRI Kairo Irman Adi Purwanto Moefthi yang mendampingi pembeli Mesir melakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) misi pembelian menjelaskan kehadiran pengusaha itu menegaskan loyalitas untuk mengimpor produk unggulan Indonesia.

“Tema TEI yang diusung tahun ini mengangkat upaya sustainable trade in digital era untuk mendorong keberlanjutan produk Indonesia dan promosi produk dalam negeri ke pasar Mesir dan sekitarnya,” ucapnya.

Sedangkan, Pelaksana Fungsi Ekonomi KBRI Kairo John Admiral menambahkan pameran dagang skala internasional secara virtual ini dapat dioptimalkan sebagai bentuk inovasi promosi di tengah pandemi.

Kementerian Perdagangan menggelar TEI-VE mulai 10-16 November 2020. Pameran dagang terbesar Indonesia itu merupakan agenda rutin tahunan untuk mendongkrak ekspor Indonesia ke pasar internasional.

Pada TEI Ke-35 ini, Menteri Perdagangan Agus Suparmanto memasang target transaksi sebesar US$1 miliar dolar AS atau sekitar Rp14 triliun. (CNN INDONESIA)

Continue Reading

Makro Ekonomi

Indonesia Resmi Masuk ke Jurang Resesi Ekonomi

Indonesia resmi terperosok ke jurang resesi ekonomi. Kepastian tersebut terjadi setelah Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia minus 3,49 persen pada kuartal III 2020 kemarin.

Published

on

FINROLL.COM – Indonesia resmi terperosok ke jurang resesi ekonomi. Kepastian tersebut terjadi setelah Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia minus 3,49 persen pada kuartal III 2020 kemarin.

Dengan pertumbuhan itu berarti ekonomi Indonesia minus dalam dua kuartal terakhir. Pasalnya, pada kuartal II 2020 kemarin ekonomi Indonesia minus 5,32 persen.

Sebagai informasi, resesi merupakan suatu keadaan di mana ekonomi negara negatif dalam dua kuartal atau lebih secara berturut-turut.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan capaian pertumbuhan ekonomi berbanding terbalik dibandingkan kuartal III 2019 sebesar 5,02 persen.

“Dengan posisi ini kalau kita bandingkan posisi kuartal III 2019 maka posisi pertumbuhan Indonesia secara tahunan masih mengalami kontraksi sebesar 3,49 persen,” ujar Suhariyanto dalam paparan Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III 2020, Kamis (5/11).

Suhariyanto mengatakan ekonomi di sejumlah negara membaik pada kuartal III 2020 dibandingkan kuartal II 2020. Namun, perbaikan tersebut mengalami kendala kenaikan kasus pandemi covid-19 di sejumlah negara.

Di beberapa negara di Eropa sedang melakukan lockdown kembali, Jerman, Prancis, Inggris, dan Austria karena kasus covid yang terus meningkat,” ucapnya.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi pada sejumlah negara mitra dagang masih mengalami kontraksi, kecuali China yang sudah berhasil tumbuh positif sebesar 4,9 persen pada kuartal III 2020. Namun, kontraksi tersbet tidak sedalam pada kuartal II 2020.

Pertumbuhan ekonomi pada Juli-September ini ditopang realisasi belanja pemerintah. Tercatat, realisasi belanja pemerintah mencapai Rp771,37 triliun, setara 28,16 persen dari pagu anggaran 2020 sebesar Rp2.739,17 triliun.

“Kenaikan realisasi belanja negara kuartal III 2020 disebabkan naiknya realisasi belanja pemerintah pusat dan transfer ke daerah dan dan desa,” katanya.

Selain itu, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi investasi mencapai Rp209 triliun pada kuartal III 2020, atau naik 1,6 persen dari periode yang sama tahun lalu.

Realisasi investasi tersebut terdiri dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp102,9 triliun naik 2,1 persen. Sedangkan, realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp106,1 triliun, naik 1,1 persen.

Sepanjang kuartal III 2020, Produk Domestik Bruto (PDB) Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) sebesar Rp2.720,5 triliun dan PDB Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) sebesar Rp3.894,7 triliun.

Masuknya Indonesia pada jurang resesi ekonomi sudah dipastikan oleh pemerintah. Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memperkirakan pertumbuhan ekonomi minus sekitar 3 persen pada kuartal III 2020.

“Pada kuartal III ini, kita juga mungkin sehari, dua hari, tiga hari akan diumumkan oleh BPS, juga masih berada di angka minus. Perkiraan kami minus 3 persen, naik sedikit,” ujar Jokowi saat membuka Sidang Kabinet Paripurna. (CNN INDONESIA)

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

Trending