Connect with us

Investasi

Demo Rusuh dan Ancaman Investasi RI

Published

on


Kepastian hukum kerap disebut sebagai faktor yang mempengaruhi keputusan investor dalam berinvestasi. Karenanya, aksi demo mahasiswa yang memprotes pengesahan sejumlah rancangan undang-undang (RUU) oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) boleh jadi lampu kuning bagi investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Apalagi, demo berakhir rusuh dan merusak sejumlah fasilitas umum.

Kepala Departemen Ekonomi dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal Damhuri mengatakan penyampaian pendapatan dalam bentuk unjuk rasa sejatinya merupakan suatu hal yang wajar di era demokrasi. Namun, menjadi perhatian apabila aksi demo dilakukan untuk memberikan tekanan demi mengubah suatu arah kebijakan.

“Itu artinya dalam proses demokrasi kita kebijakan bisa ditentukan dengan turun ke jalan dan ini bukan hanya untuk kejadian hal-hal yang sifatnya fundamental, tetapi juga yang mempengaruhi iklim bisnis,” ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Rabu (25/5).

Dalam jangka pendek, aksi unjuk rasa jelas akan mempengaruhi keputusan investasi dalam bentuk portofolio di pasar modal dan menekan rupiah di pasar keuangan. Tengok saja, sejak awal pekan, IHSG terkoreksi dan rupiah melemah.

Kendati demikian, aksi demo terhadap perundang-undangan bisa memiliki dampak yang lebih besar karena dapat mempengaruhi pada keputusan investasi langsung di sektor riil. Yose mengingatkan investasi langsung merupakan investasi jangka panjang yang membutuhkan kepastian hukum.

“Kalau kita bicara investasi langsung, kita bicara aktivitas yang dilakukan selama 30 tahun ke depan dan di situ perlu kepastian yang lebih tinggi terhadap kebijakan,” jelasnya.

Menurut Yose, apabila melalui unjuk rasa yang diwarnai anarkisme suatu perundang-undangan dapat dibatalkan, bukan tak mungkin cara serupa bisa digunakan untuk peraturan lain.

Hal ini akan membuat investor mempertanyakan kepastian hukum di Indonesia ke depan. Padahal, Indonesia membutuhkan dukungan investasi untuk mempercepat laju perekonomian dan menyerap tenaga kerja.

“Misalnya, pemerintah mengeluarkan kebijakan terkait ketenagakerjaan yang sifatnya mendorong sistem ketenagakerjaan yang lebih fleksibel. Kemudian, ada demo yang menentang itu lalu akan ada perubahan. Hal itu kan meningkatkan ketidakpastian di dalam kebijakan itu sendiri,” terang dia.

Dalam beberapa kali kesempatan, pemerintah kerap mengumbar target pertumbuhan investasi hingga dua digit per tahun. Suatu target yang berat untuk dicapai jika melihat pertumbuhan investasi selama satu dekade terakhir.

Untuk itu, sambung dia, pemerintah jangan hanya membereskan persoalan perizinan yang berbelit. Namun, pemerintah semestinya juga mengawal proses penyusunan aturan yang dilakukan bersama anggota legislatif dengan mengedepankan prinsip transparansi.

Dengan demikian, aksi penolakan terhadap suatu undang-undang tidak perlu diselesaikan dengan turun ke jalan.

Pun, jika penyusunan suatu perundangan-undangan transparan serta mengedepankan konsultasi publik, masyarakat akan mendapatkan informasi yang benar atas latar belakang penyusunan undang-undang terkait.

“Tiba-tiba publik dikagetkan dengan berbagai RUU sudah menumpuk dan akan disahkan segera,” katanya.

Untuk RUU KPK, misalnya, Yose menyayangkan pernyataan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko sempat menyebut KPK menghambat investasi sebagai alasan pemerintah menyetujui revisi UU KPK pada Senin (23/9). Padahal, dalam proses penyusunan UU tersebut, pemerintah tidak pernah menyampaikannya ke publik.

Selain itu, keberadaan KPK juga seharusnya tidak menjadi penghambat investasi mengingat angka korupsi yang menurun seharusnya menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif.

Pernyataan Moeldoko tersebut kemudian diralat dengan meyakinkan bahwa persetujuan revisi dilatarbelakangi untuk keinginan pemerintah untuk memperkuat lembaga anti rasuah itu dan memberikan kepastian hukum bagi investor.

Sayangnya, nasi sudah menjadi bubur, pernyataan yang terlontar malah memantik berbagai opini di publik yang seharusnya dilakukan pada waktu penyusunan revisi undang-undang, bukan setelah undang-undang disahkan.

“Tidak bisa lagi seperti itu. Zaman Pak Harto (mantan Presiden Soeharto) mungkin bisa seperti itu, zaman sekarang tidak bisa lagi seperti itu harus ada partisipasi publik yang lebih tinggi, jelas dan transparan,” tuturnya.

Secara terpisah, Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk David Sumual menilai pasar memang memberikan sentimen negatif terhadap aksi demo mahasiswa selama beberapa waktu terakhir, terlebih aksi tersebut diwarnai dengan kekerasan, termasuk di Jakarta.

“Karena Jakarta adalah barometer (investor), maka perlu hati-hati,” ujarnya.

David melihat aksi demo adalah konsekuensi logis dari suatu pemerintahan yang demokratis. Selama unjuk rasa dilakukan dengan tertib dan perubahan suatu peraturan dilakukan sesuai prosedur, maka investor tidak akan ragu untuk menanamkan modalnya di Indonesia.

“Sejauh ini, belum ada dampak signifikan (aksi demo) ke sektor riil, tetapi baru ke pasar finansial,” katanya.

Di saat yang sama, pemerintah perlu mempercepat reformasi struktural di dalam negeri untuk mengundang lebih banyak investor. Tanpa reformasi struktural yang berkelanjutan, David menilai pertumbuhan investasi Indonesia tahun ini masih akan terjebak di kisaran 5 persen.

Data Pertumbuhan Pembentukan Modal Tetap Bruto (Investasi) 2009-2019*

2009: 3,3 persen
2010: 8,5 persen
2011: 8,8 persen
2012: 9,81 persen
2013: 4,71 persen
2014: 4,12 persen
2015: 5,07 persen
2016: 4,48 persen
2017: 6,15 persen
2018: 6,67 persen
2019*: 5,02 persen

*Semester I 2019
Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS)

Business

Abu Dhabi Lirik Tiga Proyek Infrastruktur di Aceh

Published

on

By

Finroll – Aceh, Abu Dhabi Investment Authority (ADIA), lembaga pengelola dana investasi, melirik tiga proyek infrastruktur di Aceh. Yakni, pembangunan bandara baru di Sabang, moda transportasi massal monorail di Banda Aceh, termasuk pembangunan pipa gas Lhokseumawe.

Deputi Direktur Bidang Investasi Properti dan Infrastruktur ADIA Salem Al Darmaki bilang dalam waktu dekat pihaknya segera mengirimkan tim ke lapangan untuk menindaklanjuti rencana investasi tersebut.

“Pihak ADIA saat ini sedang giat berkomunikasi dengan counterpart dan kementerian terkait di Indonesia untuk membentuk satu lembaga dana tabungan pembangunan infrastruktur Indonesia-Abu Dhabi,” ujar Salem usai pertemuan bersama delegasi Pemerintah Daerah Aceh, Selasa (10/3).

Lembaga tersebut, nantinya akan membuat satu departmen khusus untuk pembangunan infrastruktur di Aceh. Ia melanjutkan investasi di bidang infrastruktur di Aceh sangat menjanjikan, mengingat perkembangan perekonomian Indonesia yang semakin baik secara umum, serta potensi ekonomi Aceh di sektor pariwisata dan energi.

Salem mengatakan pihaknya juga akan mengajak para investor lain untuk turut serta bergabung dalam proyek pembangunan di Indonesia dan Aceh pada khususnya.

“Bagi kami Aceh adalah layaknya saudara yang saling bahu-membahu dan saling membantu pada saat membutuhkan. Kami merasa membantu saudara kami bersama-sama membangun,” imbuh dia.

Aceh, sambung dia, juga sangat berpotensi untuk menjadi salah satu tujuan wisata masyarakat dari Timur Tengah, mengingat faktor lokasi yang dekat dan kesamaan budaya Islam.

Sementara itu, Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah mengaku memberi dukungan dan kebebasan kepada pihak ADIA yang telah memilih Aceh sebagai pintu masuk untuk beberapa proyek investasi lainnya di Indonesia.

“Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang stabil, keperluan Aceh terhadap infrastruktur merupakan salah satu syarat mutlak yang harus segera dilakukan,” terangnya.

Nova menambahkan Aceh terbuka kepada semua investor dari negara manapun, dalam usaha peningkatan penciptaan lapangan kerja uang baru. “Insyaallah, kami akan terus melakukan tindak lanjut supaya rencana investasi ini dapat segera terwujud,” kata Nova.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

Business

Harga Emas Antam ke Rp822 Ribu per Gram

Published

on

By

Finroll – Jakarta, Harga jual emas PT Aneka Tambang (Persero) Tbk atau Antam berada di posisi Rp822 ribu per gram pada Kamis (5/3) atau turun Rp5.000 dari Rp827 ribu per gram pada Rabu (4/3). Begitu pula dengan harga pembelian kembali (buyback) turun Rp5.000 dari Rp749 ribu menjadi Rp744 ribu per gram pada hari ini.

Berdasarkan data Antam, harga jual emas berukuran 0,5 gram senilai Rp435,5 ribu, 2 gram Rp1,59 juta, 3 gram Rp2,36 juta, 5 gram Rp3,93 juta, 10 gram Rp7,79 juta, 25 gram Rp19,38 juta, dan 50 gram Rp38,68 juta. Kemudian, harga emas berukuran 100 gram senilai Rp77,3 juta, 250 gram Rp193 juta, 500 gram Rp385,8 juta, dan 1 kilogram Rp771,6 juta.

Harga jual emas tersebut sudah termasuk Pajak Penghasilan (PPh) 22 atas emas batangan sebesar 0,45 persen bagi pemegang Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Bagi pembeli yang tidak menyertakan NPWP memperoleh potongan pajak lebih tinggi sebesar 0,9 persen.

Sementara harga emas di perdagangan internasional berdasarkan acuan pasar Commodity Exchange COMEX berada di posisi US$1.638,7 per troy ons atau melemah 0,26 persen. Begitu pula harga emas di perdagangan spot terkoreksi 0,12 persen ke US$1.638,97 per troy ons pada pagi ini.

Analis sekaligus Kepala Riset Monex Investindo Ariston Tjendra mengatakan harga emas di pasar internasional melemah seiring berkurangnya sentimen pendukung bagi aset safe haven. Sentimen positif justru menjadi stimulus bagi aset berisiko.

“Penguatan harga emas menjadi tertahan karena ada peralihan investasi ke aset berisiko, seperti indeks saham karena isu stimulus,” ungkap Ariston kepada CNNIndonesia.com.

Kemarin, bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve memangkas suku bunga acuan sebesar 50 basis poin ke kisaran 1,0 persen sampai 1,25 persen. Gubernur The Fed Jerome Powell mengatakan pemangkasan tersebut merupakan langkah darurat yang dilakukan lembaganya untuk mendorong ekonomi AS.

Khususnya, di tengah tekanan wabah virus corona yang mulai menekan perekonomian dunia, termasuk Negeri Paman Sam. Proyeksinya, harga emas ada di kisaran US$1.610 sampai US$1.660 per troy ons pada hari ini.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

Business

IHSG diproyeksi meradang pada perdagangan

Published

on

By

IHSG diproyeksi meradang pada perdagangan Jumat (28/2) karena aksi risk off investor. Ilustrasi. (SindoNews).

Finroll – Jakarta, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksi meradang pada perdagangan Jumat (28/2). Investor asing beramai-ramai melakukan aksi risk-off ataw menghindari risiko pada pergerakan IHSG.

Analis Reliance Sekuritas Indonesia Lanjar Nafi mengatakan aksi risk-off menjadi faktor utama pelemahan di tengah kekhawatiran penyebaran virus corona di luar China.

“Keresahan tersebut mengalahkan optimisme investor pada stimulus pemerintah pada sektor pariwisata dan properti yang seakan tak memberi efek berarti,,” ungkap Lanjar dikutip dari risetnya hari ini.

Ia memprediksi IHSG bergerak dalam rentang support 5.643-5.666 dan resistance 5.487-5.620.

Sementara itu, Analis Indosurya Sekuritas William Surya Wijaya mengatakan IHSG masih berada dalam rentang konsolidasi wajar. Bahkan, ia memprediksi ada potensi penguatan pada perdagangan akhir pekan.

“Momentum koreksi wajar masih dapat terus dimanfaatkan untuk melakukan akumulasi pembelian, hari ini IHSG berpotensi menguat,” tutur William.

Ia memprediksi IHSG bergerak dalam rentang support 5.490 dan resistance 5.721.

Sementara itu, saham-saham utama Wall Street kompak lesu. Indeks Dow Jones terjun 4,42 persen ke level 25.766, S&P 500 memerah 4,42 persen ke level 2.978, dan Nasdaq Composite turun 4,61 persen menjadi 8.566.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading
Advertisement

Advertisement

Trending