Connect with us

Business

Di Balik Negara Berkembang Jadi Negara Maju

Published

on


Impor 7 Produk Garmen Mingkat Saat Corona
Ekonom menilai naik kelas RI dari negara berkembang ke negara maju demi kepentingan AS mengurangi defisit. Ilustrasi. (TopBusiness).

Jakarta, CNN Indonesia — Amerika Serikat (AS) menghapus Indonesia dari daftar negara berkembang di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Bersama China dan India, Presiden AS Donald Trump dalam dokumen United States Trade Representative (USTR) atau perwakilan dagang AS, Indonesia melenggang ke kelompok negara maju.

Alasan AS, Indonesia memiliki pangsa pasar 0,5 persen atau lebih dari total perdagangan di dunia. Alasan lain, Indonesia masuk dalam anggota G20. USTR menyebut keanggotaan dalam G20 menunjukkan negara-negara anggotanya masuk kelompok negara maju.

Dalam Countervailing Duty Laws atau Undang-undang Bea Masuk Tambahan, USTR diberi kewenangan untuk mendefinisikan, memasukkan, dan mengeluarkan negara dalam kelompok berkembang.

Sementara, dalam perjanjian tentang Subsidi dan Tindakan Imbalan (Agreement on Subsidies and Countervailing Measures/SCM) disebutkan, negara yang belum mencapai status negara maju berhak atas perlakuan khusus, yakni de minimis ambang batas (threshold) pemberian subsidi impor.

Negara berkembang diberikan toleransi thresholds de minimis subsidi atas barang impornya ke AS sebesar 2 persen. Sedangkan negara maju toleransinya akan lebih rendah yaitu 1 persen.

“Artinya, negara berkembang boleh mensubsidi harga barang yang mereka jual ke AS sebesar 2 persen dan negara maju hanya boleh mensubsidi maksimal 1 persen,” jelas Wakil Ketua Kadin Bidang Hubungan Internasional Shinta Kamdani, Senin (24/2) kemarin.

Ia berpendapat perubahan status Indonesia hanya berlaku di WTO. Pengaruhnya, hanya pada thresholds de minimis subsidi impor, bukan pada fasilitas sistem tarif preferensial umum (Generalized System of Preference/GSP) dalam bentuk keringanan bea masuk dari AS.

Untuk diketahui, data Kementerian Perdagangan menyebutkan AS memberikan fasilitas GSP kepada 121 negara dengan total 5.062 pos tarif 8 digit. Dari jumlah tersebut, Indonesia mendapatkan fasilitas GSP untuk 3.572 pos tarif.

Lebih lanjut, fasilitas ini diberikan hanya kepada negara berkembang serta dievaluasi secara berkala. Saat ini, AS tengah mengevaluasi pemberian fasilitas GSP tersebut. “Kami baru mendapatkan klarifikasi dari USTR bahwa ini hanya berlaku untuk status Indonesia di WTO. Jadi tidak ada pengaruh ke GSP,” katanya.

Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga membenarkan. Ia bilang perubahan status Indonesia tidak mempengaruhi fasilitas GSP. Proses evaluasi fasilitas GSP oleh AS hampir final, yakni 90 persen. “Tidak ada hubungannya (dengan GSP). Jadi, suatu hal yang berbeda. USTR sudah komunikasi dengan kami dan tidak ada pencabutan,” ujarnya.

Justru, ia menilai kenaikan kelas ini menjadi hal yang patut disyukuri oleh masyarakat Indonesia. Sebab, ini menunjukkan kemampuan ekonomi Indonesia dinilai secara positif oleh AS. “Saya pikir malah semakin meningkat karena dari negara berkembang ke negara maju. Intinya, kami sambut baik dan tidak ada hubungannya dengan GSP,” imbuhnya.

Indonesia naik kelas bersama belasan negara lainnya, antara lain Brasil, India, Argentina, Afrika Selatan, Hong Kong, Korea Selatan,Bulgaria, Romania, Kolombia, Kosta Rika, Albania, Armenia, Georgia, Kazakhstan, Republik Kyrgyzstan, Moldova, Montenegro, Makedonia Utara, dan Ukraina. AS juga memberikan predikat negara maju bagi negara tetangga, yakni Malaysia, Thailand, dan Vietnam.

Namun, Ekonom Indef Bhima Yudhistira tak melihatnya dengan ‘kacamata’ serupa. Ia menilai naik kelas versi AS itu, lambat laun akan menghapus fasilitas GSP yang diterima RI. Ia bahkan meragukan penjelasan AS kalau pengaruhnya hanya kepada de minimis threshold pemberian subsidi impor.

“Karena tidak mungkin AS akan memakai standar ganda soal definisi developed (negara maju) dan least developed country (negara berkembang) untuk WTO maupun GSP,” tutur dia.

Ia menduga tujuan kebijakan itu untuk memperbaiki defisit neraca perdagangan AS. Mengutip CNN, neraca perdagangan AS defisit sebesar US$616,8 miliar pada 2019. Namun, angka defisit itu menyusut pertama kalinya dalam 6 tahun terakhir.

Pada 2018, defisit dagang AS melonjak dan mencatatkan rekor tertingginya dalam 10 tahun terakhir sebesar US$621 miliar. Berkurangnya angka defisit ditengarai karena kebijakan perang dagang AS dengan China. Itu membuktikan proteksi dagang AS membuahkan hasil.

Indonesia, sambung Bhima, menjadi salah satu negara yang menyumbang defisit pada perdagangan AS. Maklumlah, AS tercatat tekor US$9,58 miliar dalam perdagangan dengan RI di tahun lalu. “Jadi ini satu paket, bahwa tujuan akhirnya mengurangi defisit perdagangan dengan Indonesia, arahnya ke sana,” imbuhnya.

Apabila kekhawatiran Bhima benar terjadi, yaitu pencabutan fasilitas GSP, maka pukulan kepada ekspor tak terelakkan. AS adalah pasar tujuan ekspor terbesar kedua setelah China. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor non migas ke AS mencapai US$17,68 miliar di 2019 atau 11,41 dari total ekspor non migas.

Besarnya ekspor tersebut tak lepas dari kemurahan hati AS. Kementerian Perdagangan memaparkan nilai ekspor barang yang memanfaatkan fasilitas GSP naik 20 persen dari US$2 miliar menjadi US$2,5 miliar pada periode Januari-November 2019. Pada 2018, nilai ekspor Indonesia dari pos tarif yang mendapatkan fasilitas GSP tumbuh 10 persen dari US$1,9 miliar menjadi US$2,2 miliar.

Sementara itu, produk-produk yang menggunakan skema GSP, antara lain karet, ban mobil, perlengkapan perkabelan kendaraan, emas, asam lemak, perhiasan logam, aluminium, sarung tangan, alat musik, pengeras suara, keyboard, dan baterai. Jika GSP dicabut, maka ekspor produk terkait akan ikut terguncang.

Karenanya, menurut Bhima, Indonesia masih membutuhkan fasilitas tersebut. “GSP sudah jelas fasilitas untuk least developed country. Kalau status Indonesia naik jadi negara maju, ya pasti ada konsekuensi ke GSP. Fasilitas perdagangan akan dicabut,” terang dia.

Pernyataan Bhima juga dikonfirmasi oleh Menteri Perdagangan Agus Suparmanto melalui keterangan tertulis menyebut Indonesia masih memerlukan GSP untuk meningkatkan daya saing produk di pasar AS.

Sementara itu, Ekonom Universitas Indonesia (UI) Fithra Faisal menambahkan penilaian sebagai negara maju yang berdasarkan keikutsertaan Indonesia dalam G20 kurang relevan. Sebab, G20 merupakan kelompok 20 ekonomi utama yang terdiri dari 19 negara dengan perekonomian besar di dunia ditambah dengan Uni Eropa.

Sebagai negara dengan penduduk terbesar keempat di dunia kurang lebih 269 juta jiwa, wajar jika Produk Domestik Bruto Indonesia (PDB) Indonesia masuk dalam kategori G20. “Kalau kami lihat indikator negara bekembang ke negara maju hampir tidak ada yang Indonesia penuhi, kecuali satu hal kita masuk ke G20. Tetapi G20 hanya perkumpulan didasarkan besarnya GDP,” paparnya.

Jika ditengok dari pendapatan per kapita, Indonesia masih jauh dari syarat tersebut. Bank Dunia menyebutkan indikator negara maju adalah pendapatan nasional bruto (GNI) per kapita sebesar US$12.375. Sedangkan Indonesia baru mencapai US$4.174,9 per kapita pada 2019.

Karenanya, ia sependapat dengan Bhima jika kebijakan itu bermaksud menekan defisit dagang AS. Disamping itu, ia menilai ada muatan politis dalam kebijakan tersebut. Sebagaimana diketahui, AS akan menggelar Pemilihan Presiden (Pilpres) pada tahun ini.

“Jadi kalau dilihat dari muatannya lebih politis ketimbang teknis. AS akan menghadapi pemilu, sehingga ini menjadi salah satu jualannya Trump,” ucapnya.

Selain dari sisi perdagangan, perubahan status menjadi negara maju membuat Indonesia kehilangan fasilitas Official Development Assistance (ODA). Melalui fasilitas ini, Indonesia sebagai negara berkembang bisa mendapatkan suku bunga rendah sebesar 0,25 persen ketika menarik pinjaman.

Namun, sebagai negara maju Indonesia harus mengikuti ketetapan suku bunga yang berlaku di pasar keuangan global. “Dengan perubahan status ini mereka bisa saja semakin ageresif karena treatment-nya bukan lagi negara berkembang tapi negara maju,” imbuh dia.

Oleh sebab itu, Fithra menilai pemerintah harus mencari solusi jangka pendek maupun panjang. Dalam jangka pendek ia menyarankan pemerintah melego USTR terkait kebijakan tersebut.

Dalam jangka panjang, ia menilai Indonesia butuh peta jalan pengembangan pasar non tradisional sehingga mengurangi konsentrasi ekspor kepada AS dan China. Konsentrasi ekspor hanya pada dua negara, kata dia, sangat rentan dengan gejolak.

Senada, Ekonom dari Center of Reform on Economic (CORE) Pieter Abdullah menyatakan Indonesia tak selamanya dapat bergantung pada kemurahan hati AS dalam bentuk fasilitas GSP. Toh, AS sendiri sudah mensinyalkan pencabutan GSP tiap tahunnya.

“Tapi kita selalu usaha supaya AS tidak cabut fasilitas itu, jadi kita perlu mempersiapkan diri karena tidak mungkin seterusnya dibantu,” tandasnya.

Pelaksana Tugas Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kemenkeu Nufransa Wira Sakti Sakti mengklaim Indonesia sudah tidak lagi mendapatkan fasilitas ODA sejak 2004. Hal ini karena Indonesia sudah berhasil naik kelas menjadi negara berpenghasilan menengah (middle income country).

Ia menyatakan hilangnya fasilitas itu membuat Indonesia tidak lagi mendapatkan pembiayaan alias kredit dari eksternal untuk pembangunan sosial, dan ekonomi di dalam negeri.

“Keberhasilan pembangunan di Indonesia sudah membuat Indonesia naik kelas sejak 2004 lalu menjadi middle income country, sehingga tidak lagi mendapatkan fasilitas pinjaman ODA,” ungkap Nufransa.

Sumber : CNN Indonesia

Investasi

Investasi Emas Kebanggaan Indonesia Lewat “Emas Merah Putih”

Published

on

Menjawab kebutuhan modern, produk emas Lotus Archi kini tersedia melalui kanal e-commerce untuki investasi emas yang aman, canggih, dan terpercaya”

Finroll.com — PT Elang Mulia Abadi Sempurna (PT EMAS) atau Lotus Archi, joint venture dari Lotus Lingga Pratama dan Archi Indonesia, pada hari ini resmi meluncurkan produk emas investasi mereka yang disebut dengan Lotus Archi Gold (LA Gold).

Mengangkat tema “Emas Merah Putih”, produk LA Gold ini merupakan pilihan investasi emas yang didesain khusus untuk mengutamakan keamanan, keaslian, dan kemudahan dalam investasi emas dengan fitur canggih dan harga bersaing.

Seiring dengan berjalannya teknologi dan perkembangan zaman, produk investasi terus berkembang menjadi kian beragam dari segi jenis dan bentuk, tetapi emas merupakan jenis investasi yang paling lama dan sudah dikenal sejak jaman dulu.

“Kalau kita lihat kembali, sebenarnya investasi emas sudah dari lama dilakukan antar generasi, dan emas sendiri merupakan benda yang tahan lama dan long lasting.

Kami ingin mendorong lagi kebiasaan investasi emas, tapi dikemas dengan cara yang canggih dan mudah untuk mengikuti kebutuhan pasar modern, maka kami hadirkan LA Gold ini,” ujar Rudy Suhendra, Chief Executive Officer Lotus Archi.

Dilengkapi dengan berbagai fitur unik, LA Gold kini menjadi produk investasi emas yang modern, aman, dan terpercaya.

Lotus Archi menggunakan sistem keamanan tiga lapis mulai dari barcode yang dapat di-scan menggunakan aplikasi CertiEye untuk memastikan produk emas tercatat secara resmi, protective seal yang akan mengindikasikan apabila emas sudah pernah dibuka atau ditukar, dan tanda hologram yang akan muncul ketika disinari dengan sinar UV. Fitur keamanan canggih ini memastikan keaslian produk LA Gold yang beredar, bahkan ketika produk diperoleh bukan dari official store.

“Emas kami dibuat menggunakan standar internasional, dengan tingkat kemurnian four nine atau 99.99%, standar tertinggi di industri emas dunia. Kami juga mengutamakan kenyamanan dan ketenangan hati pembeli, karena keasliannya dijamin, dan dapat diperiksa kapan saja,” tambah Rudy.

Mengusung tema “Emas Merah Putih” dengan kemasan bernuansa bendera Indonesia, Lotus Archi ingin mendorong kembali kebiasaan berinvestasi emas terutama di kalangan generasi muda. Produk emas sendiri merupakan salah satu bentuk investasi yang paling stabil dan sudah dilakukan dari zaman dulu, dan emas merupakan bahan yang tahan lama dalam berbagai keadaan suhu dan cuaca sehingga mengurangi kemungkinannya untuk menjadi rusak atau lekang oleh waktu dalam jangka panjang.

Emas LA Gold merupakan produk yang dibuat di Indonesia dan mengutamakan kualitas, terutama sebagai hasil dari Lotus Lingga Pratama yang merupakan perusahaan perhiasan terkemuka di Indonesia dan Archi Indonesia, salah satu major player di industri pertambangan emas di Indonesia.

Lotus Archi sendiri mulai berdiri di awal tahun 2020 dan dalam waktu enam bulan sudah berhasil bekerja sama dengan lebih dari 70 offline store, termasuk jaringan Pegadaian dan galeri24 yang tersedia diseluruh Indonesia.

“Dulu mungkin lebih sulit untuk mendapatkan produk emas investasi, karena khawatir keaslian dan keamanannya. Zaman sudah semakin modern, sehingga kami juga berusaha untuk menjawab kebutuhan pasar lewat inovasi ini.

Selain sistem keamanan berbasis aplikasi, hari ini kami juga resmi bekerjasama dengan Tokopedia sebagai official e-commerce partner kami, sehingga masyarakat semakin mudah dalam memperoleh produk LA Gold,” jelas Stefan Ko, VP of Business Development Lotus Arch mu

Saat ini tersedia 6 jenis produk LA Gold yaitu 1 gram, 5 gram, 10 gram, 25 gram, 50 gram, dan 100 gram, dengan harga yang bersaing dibandingkan produk emas investasi setara.

“Harapannya dengan meluncurkan produk LA Gold, kami ingin menggiatkan kembali kebiasaan investasi. Dari segi desain kemasan pun sangat kami perhatikan, karena kami ingin LA Gold ini menjadi emas yang bukan hanya sekedar investasi, melainkan lambang jati diri pembelinya dan jati diri Indonesia.

Maka dari itu kami menggunakan tema ‘Emas Merah Putih’, karena memang produk emas kami dari Indonesia, oleh Indonesia, dan untuk Indonesia,” tutup Rudy.

Produk LA Gold dapat diperoleh di lebih dari 70 offline store di seluruh Indonesia, jaringan Pegadaian
dan galeri24, serta official store Lotus Archi di Tokopedia.

Untuk informasi lebih lanjut dapat diperoleh melalui website Lotus Archi di www.lotusarchi.com dan akun Instagram official Lotus Archi
@lotusarchigold.

Continue Reading

Ekonomi Global

Harga Emas Hari Ini 4 Agustus, Naik ke Rp1,029 Juta per Gram

Published

on

By

Finroll.com, Jakarta – Harga emas PT Aneka Tambang (Persero) atau Antam berada di level Rp1,029 juta per gram pada Selasa (4/8). Posisi itu naik Rp1.000 dari Rp1,028 juta per gram pada Senin (3/8).

Sementara harga pembelian kembali (buyback) naik Rp2.000 per gram dari Rp927 ribu menjadi Rp929 ribu per gram pada hari ini.

Berdasarkan data Antam, harga jual emas berukuran 0,5 gram senilai Rp544,5 ribu, 2 gram Rp1,99 juta, 3 gram Rp2,97 juta, 5 gram Rp4,92 juta, 10 gram Rp9,78 juta, 25 gram Rp24,33 juta, dan 50 gram Rp48,59 juta. Kemudian, harga emas berukuran 100 gram senilai Rp97,11 juta, 250 gram Rp242,51 juta, 500 gram Rp484,82 juta, dan 1 kilogram Rp968,6 juta.

Harga jual emas tersebut sudah termasuk Pajak Penghasilan (PPh) 22 atas emas batangan sebesar 0,45 persen bagi pemegang Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Bagi pembeli yang tidak menyertakan NPWP memperoleh potongan pajak lebih tinggi sebesar 0,9 persen.

Sementara harga emas di perdagangan internasional berdasarkan acuan pasar Commodity Exchange COMEX berada di posisi US$1.994,1 per troy ons atau naik 0,39 persen. Sedangkan harga emas di perdagangan spot justru terkoreksi 0,03 persen ke US$1.976,44 per troy ons pada pagi ini.

Analis sekaligus Kepala Riset Monex Investindo Ariston Tjendra memperkirakan harga emas di pasar internasional bergerak di kisaran US$1.960 sampai US$1.990 per troy ons pada hari ini. Harga emas masih berpotensi meningkat, meski tren pemulihan ekonomi global mulai muncul.

Tren pemulihan berasal dari membaiknya indeks manufaktur di beberapa negara menurut survei Markit. Mulai dari AS, Jepang, China, Jerman, Prancis, Italia, Spanyol, Inggris, dan negara-negara kawasan Uni Eropa lainnya, serta Indonesia.

“Data indeks manufaktur beberapa negara mengalami perbaikan yang mengindikasikan pemulihan ekonomi. Tapi harga emas masih dalam tren penguatan karena kondisi pandemi covid-19 belum membaik,” ujar Ariston kepada CNNIndonesia.com, Selasa (4/8).

Hal ini, sambungnya, masih memberi sentimen kekhawatiran bagi pelaku pasar keuangan. Selain itu, prospek stimulus fiskal senilai US$1 triliun dari pemerintah AS juga menambah dukungan bagi penguatan harga emas.

Pasalnya, investor masih gencar menempatkan dana ke instrumen investasi aman alias safe haven, seperti emas. Dengan begitu, harga emas masih bisa meningkat.

Sumber : CNN INdonesia

Continue Reading

Cryptocurrency

Melonjak, Harga Satu Bitcoin Rp164 Juta Kala Pandemi Covid-19

Published

on

By

Bitcoin (iStockphoto/Jirapong Manustrong)

Finroll.com, Jakarta –  Mata uang kripto Bitcoin melonjak ke angka US$11,2 ribu atau sekitar Rp163,9 juta atau nyaris menyentuh Rp164 juta per satu bitcoin.

Bitcoin melonjak US$1,2 ribu Selasa, (28/7) lalu di tengah pandemi Covid-19 atau naik 12,73 persen dalam sehari.

Peningkatan merupakan angka tertinggi Bitcoin dalam enam bulan terakhir. Hal ini juga mengindikasikan kebangkitan minat investor terhadap Bitcoin dan kepercayaan baru dalam prospek jangka panjang kepada Bitcoin.

Kepercayaan ini muncul setelah Bitcoin mengalami pengawasan disertai peraturan ketat yang menyebabkan penurunan nilai mata uang kripto itu.

Investor mata uang kripto dari Mantis VC, Alyse Killeen mengatakan, kenaikan harga Bitcoin mencerminkan peningkatan stabilitas infrastruktur yang mendukung Bitcoin secara khusus.

“Bitcoin memiliki nilai intrinsik yang jauh lebih banyak hari ini daripada tahun lalu hanya dari sudut pandang infrastruktur. Jaringan Lightning bekerja dan dengan demikian Anda dapat melakukan lebih banyak dengan Bitcoin hari ini daripada tahun lalu,” ujar Killeen.

Jaringan Lightning adalah teknologi lapisan kedua untuk Bitcoin yang meningkatkan kemampuan blockchain untuk melakukan transaksi.

Jaringan lebih dari sekadar peningkatan kapasitas yang mendorong lonjakan minat dan harga investor. Killeen mengatakan ada juga penurunan pasokan bitcoin yang tersedia.

“Selain itu, lembaga keuangan sekarang memegang cryptocurrency sehingga memberikan investor lebih percaya diri dalam keamanan aset,” ujar Killeen.

Dilansir dari TechCrunch, Killeen juga memperkirakan pasar akan meningkat pada kuartal ketiga atau awal kuartal keempat berkat meningkatnya infrastruktur untuk mendukung transaksi dan aktivitas di blockchain.

Sementara itu, dilansir dari The Next Web, pada 27 Juli, Bitcoin menutup pasar dengan harga US$10,9 ribu. Angka tersebut meningkat 10,96 persen atau US$1 ribu dalam kurun waktu 24 jam.

Angka tersebut masih 45 persen di bawah harga Bitcoin tertinggi dengan angka US$20 ribu pada 17 Desember 2017 lalu.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading
Advertisement

Advertisement
Advertisement

Trending