Connect with us
[adrotate group="1"]

International

Diaspora Uighur Tantang Bukti dari Cina

Published

on


Uighur

Finroll.com – Diaspora Uighur meragukan klaim Pemerintah Cina yang menyatakan sebagian besar penghuni kamp reedukasi dan vokasi di Xinjiang telah dibebaskan. Melalui media sosial, mereka menantang Beijing membuktikan klaim tersebut.

“Ini sama sekali tidak benar. Salah seorang sepupu saya, salah seorang teman pemandu wisata saya, serta suami teman saya masih di kamp,” kata Guly Mahsut, seorang Uighur yang kini tinggal di Kanada, dikutip the Guardian, Kamis (1/8).

Mahsut dan diaspora Uighur lainnya telah menggelorakan tagar #Provethe90% di media sosial. Hal itu merupakan bentuk tuntutan mereka agar Cina membuktikan bahwa 90 persen penghuni kamp telah bebas.

Arfat Erkin, seorang mahasiswa Uig hur yang tinggal di Amerika Serikat (AS), mengatakan, Cina tak perlu mengatakan bahwa mereka telah membebaskan 90 persen penghuni kamp di Xinjiang. “Yang dibutuhkan adalah memberi wartawan akses normal ke kamp-kamp itu, bukan kamp yang dipentaskan, dan memberikan izin resmi bagi warga Uighur untuk menghubungi kerabat mereka di luar negeri,” kata dia.

Erkin menyangsikan sebagian besar penghuni kamp di Xinjiang telah dibebaskan. “Ini seperti lelucon. Banyak orang masih di tahan, termasuk ayah saya dan kera at lain ya,” ujarnya.

Diaspora Uighur lainnya, Arslan Hidayat, mengaku masih tak bisa menghubungi kerabatnya di Xinjiang. Meskipun dia mengetahui ada informasi bahwa Cina telah membebaskan sebagian besar penghuni kamp, Hidayat meragukan hal itu bersifat permanen. “Mereka masih di Xinjiang dan mereka dapat ditahan kembali secara sewenang-wenang,” kata Hidayat.

Organisasi hak asasi manusia (HAM) Amnesty International (AI) turut meragukan klaim Cina. Menurut Amnesty International, sulit memveri fikasi kebenaran fakta bahwa sebagian besar penghuni kamp di Xinjiang telah dibebaskan.

“Cina membuat pernyataan yang menipu dan tidak dapat diverifikasi dalam upaya sia-sia untuk menghilangkan kekhawatiran di seluruh dunia atas penahanan massal warga Uighur dan anggota etnis minoritas lainnya di Xinjiang,” kata Direktur Amnesty International untuk Asia Timur Nicholas Bequelin.

Hingga saat ini Amnesty International belum menerima laporan tentang adanya pembebasan penghuni kamp berskala besar di Xinjiang.

Tak sebut angka

Pemerintah Provinsi Xinjiang telah mengatakan bahwa sebagian besar penghuni kamp reedukasi dan vokasi di wilayahnya telah keluar dan menandatangani kontrak kerja dengan perusahaan lokal. Namun, jumlah mereka tak disebutkan secara spesifik.

Wakil Gubernur Xinjiang Alken Tuniaz mengatakan, jumlah warga Xinjiang yang sudah keluar dari kamp bervariasi. Ia tidak menjawab jumlah pasti dan hanya mengatakan bahwa sebagian besar berhasil mendapatkan pekerjaan.

“Saat ini sebagian besar orang yang mendapatkan pelatihan telah kembali ke tengah masyarakat, pulang ke rumah,” kata Tuniaz dalam sebuah penjelasan di hadapan media, di Beijing.

Reuters menyebutkan, transkrip percakapan dari acara Tuniaz yang dikirimkan melalui pos-el diubah dan menjadi “sebagian besar telah lulus”. Transkrip itu menggunakan kata lulus seperti halnya untuk siswa yang telah menyelesaikan kursus atau sekolah.

“Sejumlah negara dan media punya motif tertentu. Mereka sudah menentukan mana yang benar dan salah serta memfitnah dan menuduh (Cina),” kata Tuniaz, mengacu pada kamp-kamp yang diklaim Cina sebagai tempat pelatihan keterampilan.

Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat (AS) mengatakan, tidak ada bukti yang mendukung pernyataan Tuniaz. Menurut dia, Beijing seharusnya meng izinkan Komisioner Tinggi PBB un tuk Hak Asasi Manusia (HAM) diberi jalan untuk membuktikan pernyataan Pemerintah Cina.

Sementara itu, para peneliti telah membuat analisis dengan menggunakan beragam metode. Metode itu antara lain dengan menganalisis program pengadaan barang yang dilakukan Pemerintah Cina dan pecitraan satelit di lokasi fasilitas kamp.

Gubernur Xinjiang Shohrat Zakir juga menjelaskan hal serupa dalam konferensi pers di Beijing pada Selasa (30/7). Sebagian besar lulusan dari pusat pelatihan kejuruan telah diintegrasikan kembali ke masyarakat. “Lebih dari 90 persen lulusan telah menemukan pekerjaan yang memuaskan dengan pendapatan yang baik,” katanya.

Pada kesempatan itu, Zakir enggan menyebutkan berapa banyak peserta yang mengikuti pendidikan di pusat-pusat vokasi di Xinjiang. Dia hanya menyatakan bahwa program itu merupakan pendekatan yang efektif dan perintis untuk melawan terorisme.

Juru bicara the World Uyghur Congress, Dilxat Raxit, meragukan keterangan Zakir. Menurut dia, Zakir merupakan mikrofon politik yang biasa dimanfaatkan Beijing untuk menyebarkan muslihat. “Pernyataan Shohrat Zakir sepenuhnya mendistorsi realitas penganiayaan sistematis yang dialami warga Uighur di Cina,” ujarnya.

Pemerintah Cina telah menghadapi tekanan internasional karena dituding menahan lebih dari 1 juta Muslim Uighur di kamp-kamp konsentrasi di Xinjiang. Tak hanya menahan, Beijing disebut melakukan indoktrinasi terhadap mereka agar mengultuskan Presiden Cina Xi Jinping dan Partai Komunis Cina. (kamran dikarna/ reuters/ap, ed:yeyen rostiyani)

International

FinCEN Files! Skandal Uang Kotor Dunia Rp 28 Ribu T

Published

on

FinCEN Files yang berisi sekumpulan dokumen penting nan rahasia di dunia perbankan dan keuangan bocor ke publik. Dokumen itu berisi 2.500 lembar halaman, sebagian besar adalah file yang dikirim bank-bank ke otoritas Amerika Serikat (AS) antara tahun 2000 sampai 2017.

FINROLL.COM – Di dalamnya terdapat skandal”penggelapan dana hingga pengemplangan pajak dari lembaga keuangan besar dunia. Terdapat penjelasan soal bagaimana beberapa bank terbesar di dunia mengizinkan kriminal mentransaksikan “uang kotor” ke seluruh dunia dan nilainya mencapai sekitar US$ 2 triliun atau sekitar RP 28.000 triliun.

“File yang bocor adalah wawasan tentang apa yang bank ketahui tentang arus besar uang kotor di seluruh dunia,” kata Fergus Shiel dari Konsorsium Jurnalis Investigasi Internasional (ICIJ) dikutip dari BBC International, Senin (21/9/2020).

Shiel menambahkan bahwa transaksi US$ 2 triliun yang dijelaskan dalam beberapa file hanyalah sebagian kecil dari laporan aktivitas mencurigakan (suspicious activity reports/SAR) yang diajukan selama periode tersebut.

Selain transaksi itu, ada juga data yang membahas soal bagaimana oligarki Rusia telah menggunakan bank untuk menghindari sanksi yang seharusnya menghentikan mereka memasukkan uang mereka ke Barat.

“Dokumen-dokumen ini adalah beberapa rahasia sistem perbankan internasional yang paling dijaga ketat … Bank menggunakannya untuk melaporkan perilaku yang mencurigakan, tetapi itu bukan bukti perbuatan salah atau kejahatan,” tulis BBC.

Secara rinci, dokumen-dokumen tersebut di dapat melalui foto oleh Buzzfeed News. Ini kemudian dibagikan dengan grup yang berisi jurnalis investigasi dari seluruh dunia. Para jurnalis itu mendistribusikannya ke 108 organisasi berita di 88 negara.

FinCEN sendiri merupakan akronim dari Jaringan Investigasi Kejahatan Keuangan AS. Mereka berisi orang-orang di Departemen Keuangan AS yang bertugas untuk memerangi kejahatan keuangan. Biasanya, setiap ada masalah transaksi ditemukan, yang dilakukan dalam dolar AS, akan dikirim ke FinCEN, mencakup transaksi dengan dolar yang terjadi di luar AS.

Menurut laporan, salah satu yang terlibat skandal adalah HSBC. Bank tersebut telah mengizinkan penipu untuk memindahkan jutaan dolar uang curian di seluruh dunia, bahkan setelah mengetahui dari penyelidik AS bahwa skema tersebut adalah penipuan.

JP Morgan mengizinkan sebuah perusahaan untuk memindahkan lebih dari US$ 1 miliar melalui rekening London tanpa mengetahui siapa yang memilikinya. Bank kemudian menemukan bahwa perusahaan itu mungkin dimiliki oleh mafia dalam daftar 10 Orang Paling Dicari FBI.

Ada juga laporan soal salah satu rekan terdekat Presiden Rusia Vladimir Putin yang menggunakan Barclays Bank di London untuk menghindari sanksi yang ditujukan untuk menghentikannya menggunakan layanan keuangan di Barat. Sebagian uang tunai digunakan untuk membeli karya seni.

Selain itu, Bank sentral Uni Emirat Arab juga dilaporkan gagal menindaklanjuti peringatan tentang perusahaan lokal yang membantu Iran menghindari sanksi. Bank-bank AS juga dikatakan terlibat pencucian uang Korea Utara (Korut).

Dalam laporan itu, Deutsche Bank juga disebut memindahkan uang kotor pencucian uang untuk kejahatan terorganisir, teroris dan pengedar narkoba. Sementara Standard Chartered memindahkan uang tunai untuk Arab Bank selama lebih dari satu dekade setelah rekening klien di bank Yordania digunakan untuk mendanai terorisme.

Continue Reading

International

Langit Laut China Selatan ‘Dipenuhi’ Jet Tempur AS

Published

on

FINROLL.COM — Kapal induk Amerika Serikat (AS) USS Ronald Reagan mengerahkan pesawat udara untuk melindungi wilayah maritim sekutu negeri itu di perairan Laut China Selatan. Ini merupakan serangkaian operasi pertahanan udara maritim yang dilakukan sejak Agustus lalu.

“Satu-satunya kapal induk US Navy, USS Ronald Reagan, dikerahkan untuk melakukan operasi penerbangan saat beroperasi di Laut Filipina dan menyediakan pasukan siap tempur yang melindungi dan membela AS, dan kepentingan maritim sekutu serta mitra di wilayah tersebut,” cuit akun @USNavy pada Senin (7/9/2020), menambahkan tagar #FreeAndOpenIndoPacific.

Sejumlah gambar juga ditunjukan Twitter resmi angkatan laut AS itu. Beberapa pesawat terlihat bersiap terbang di langit Laut China Selatan.

Sebelumnya, masuknya Reagan ke Laut China Selatan terjadi pada saat ketegangan antara Washington dan Beijing meningkat. Presiden AS Donald Trump telah mengumumkan menolak hampir semua klaim maritim China di laut.

Penolakan tersebut bertujuan untuk melindungi sekutu dan mitra, serta melakukan pendekatan kooperatif untuk stabilitas regional dan kebebasan laut di sana.

China sendiri mengklaim secara sepihak hampir seluruh wilayah Laut China Selatan. Dengan konsep sembilan garis putus-putus (nine-dash line), China memang dilaporkan mengklaim 80% wilayah perairan ini.

Akibatnya, China bersitegang dengan sejumlah negara seperti Vietnam, Malaysia, Filipina dan Brunei. Wilayah ini sendiri merupakan jalur perdagangan dengan nilai mencapai US$ 3 triliun per tahun.

Ini yang menjadi alasan AS masuk ke kawasan sengketa tersebut. AS mengajak sejumlah sekutu seperti Australia dengan klaim menjaga kebebasan navigasi Indo Pasifik.

USS Ronald Reagan sendiri berbasis di Jepang. Kapal ini berada di Laut China Selatan pada pertengahan Juli, ketika melakukan operasi dengan kapal induk AS lain USS Nimitz.

Sementara itu, di saat bersamaan China kembali mengintensifkan latihan militer di Pulau Bohai. Bahkan China mengeluarkan senjata baru yakni pesawat tempur KJ-500.

Menurut laporan media pemerintah, Global Times, KJ-500 yang pertama kali terlihat di latar belakang sebuah foto yang baru-baru ini diterbitkan oleh China Military Online, dilengkapi dengan probe yang memungkinkan pesawat menerima pengisian bahan bakar di udara. Selain itu, pesawat juga diklaim mampu terbang lebih lama dan lebih kuat.

Sumber Berita : CNBC INDONESIA

Continue Reading

china

Xi Jinping: China Telah Lewati Cobaan Virus Corona yang Luar Biasa

Published

on

Presiden China Xi Jinping mengklaim, negaranya berhasil melewati “cobaan virus corona yang luar biasa dan bersejarah”.

BEIJING, FINROLL.com – Xi mengatakannya dalam upacara penganugerahan pengharagaan kepada tim medis yang diiringi dengan seruan terompet dan tepuk tangan meriah.

Dalam propagandanya, Beijing mengklaim sudah berhasil menangani Covid-19, di mana krisis kesehatan itu jadi bukti ketangkasan dan kepemimpinan partai Komunis.

Klaim itu dibuktikan dengan pemberian medali kepada “empat pahlawan” dari tenaga medis, di depan ratusan delegasi yang mengenakan masker dan pin bunga besar.

“Kita telah melewati cobaan yang luar biasa dan bersejarah,” kata Xi Jinping seraya memuji “perjuangan heroik” China melawan virus corona.

Presiden China berusia 67 tahun itu mengklaim, mereka adalah yang pertama menang melawan Covid-19 maupun dalam pemulihan ekonomi.

“Negeri Panda” sempat menjadi sorotan dunia pada awal 2020 atas penanganan mereka terhadap virus yang kini menginfeksi 27 juta orang di muka Bumi ini. Dua negara Barat, Amerika Serikat (AS) dan Australia, menuding Beijing sengaja menyembunyikan asal dan seberapa parah virus itu.

Dilansir AFP Selasa (8/9/2020), pengharagaan di Aula Agung Rakyat itu dibuka dengan mengheningkan cipta bagi korban meninggal virus.

Kemudian acara dilanjutkan dengan pemnberian medali kepada empat orang tenaga kesehatan, salah satunya adalah Zhong Nangshan.

Dokter berusia 83 tahun itu dipandang sebagai wajah China dalam upaya mereka menangani virus bernama resmi SARS-Cov-2 tersebut.

“Kami akan segera bergandengan tangan dengan pekerja medis di seluruh dunia untuk melacak dari mana asal virus ini,” papar Zhong.

Selain Zhong, mereka yang menerima anugerah tertinggi itu adalah pakar biokimia Chen Wei, kepala rumah sakit di Wuhan, dan pakar pengobatan tradisional berusia 72 tahun.

Namun, acara tersebut sama sekali tak mengomentari Li Wenliang, dokter yang pertama kali mengungkapkan wabah itu ke hadapan publik.

Aksinya sempat berbuah ancaman dari polisi karena dia dianggap meresahkan publik. Pada akhirnya, dia meninggal karena wabah itu pada 7 Februari.

Berdasarkan jumlah resmi yang dipaparkan, terdapat 4.634 kematian karena virus corona, sejak wabah itu terdeteksi di Wuhan pada Desember 2019.

Pemerintah “Negeri Panda” selalu mengklaim bahwa mereka bisa menekan angka penyebarannya melalui lockdown dan larangan bepergian yang ketat.

Adapun mereka selalu bersikukuh bahwa SARS-Cov-2 yang saat ini telah membunuh hampir 900.000 orang di seluruh dunia itu masih belum diketahui asal usulnya.

Sumber Berita : Kompas.com

Continue Reading
Advertisement

Advertisement
Advertisement

Trending