Connect with us

Pasar Modal

Dibuka Menguat, IHSG Naik Tipis 0,02% Pada Perdagangan Sesi 1

Published

on


Jeda Siang Sesi I, IHSG Menghijau Sentuh Level 6.024,492

Finroll.com – Dibuka menguat 0,4%, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hanya naik tipis 0,02% pada akhir perdagangan sesi 1 ke level 5.832,76.

Penguatan IHSG senada dengan bursa saham utama kawasan Asia yang juga ditransaksikan menguat untuk mengawali bulan November: indeks Shanghai naik 1,13%, indeks Hang Seng naik 1,84%, indeks Strait Times naik 1,16%, dan indeks Kospi naik 0,4%.

Nilai transaksi tercatat sebesar Rp 3,97 triliun dengan volume sebanyak 5,45 miliar unit saham. Frekuensi perdagangan adalah 232.870 kali.

Saham-saham yang berkontribusi signifikan bagi penguatan IHSG adalah: PT Bank Mandiri Tbk/BMRI (+3,28%), PT Astra International Tbk/ASII (+0,95%), PT Bank Central Asia Tbk/BBCA (+0,32%), PT Semen Indonesia Tbk/SMGR (+2,22%), dan PT Bank Tabungan Negara Tbk/BBTN (+4,25%).

Depresiasi rupiah sudah mulai memberikan dampak negatif ke kantong masyarakat Indonesia. Jika masyarakat mengurangi konsumsinya, maka pertumbuhan ekonomi tentu akan tertekan, mengingat konsumsi masyarakat membentuk lebih dari 50% Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

Merespon hal tersebut, saham-saham sektor barang konsumsi pun kian dilepas oleh investor. Sebelum angka inflasi dirilis, indeks sektor barang konsumsi melemah sebesar 0,19% ke level 2.400,01. Per akhir sesi 1, pelemahannya melebar menjadi 0,7% ke level 2.387,8.

Saham-saham barang konsumsi yang dilepas investor diantaranya: PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk/ULTJ (-5,65%), PT Kalbe Farma Tbk/KLBF (-2,55%), PT Indofood Sukses Makmur Tbk PT/INDF (-1,67%), PT HM Sampoerna Tbk/HMSP (-1,07%), dan PT Unilever Indonesia Tbk/UNVR (-1,04%).

Di sisi lain, optimisme investor untuk berbelanja di bursa saham Benua Kuning datang dari Wall Street yang ditutup menguat signifikan pada dini hari tadi: indeks Dow Jones naik 0,97%, S&P 500 melesat 1,08%, dan Nasdaq Composite meroket 2,31%.

Dengan berakhirnya bulan Oktober, maka periode yang sulit bagi Wall Street sudah berlalu. Sepanjang bulan lalu, indeks Dow Jones rontok 5,1%, sedangkan S&P 500 dan Nasdaq anjlok masing-masing sebesar 6,9% dan 9,2%.

Selain itu, pelaku pasar juga optimis pasca pertemuan Politburo pada hari Rabu (31/10/2018) yang dipimpin oleh Presiden China Xi Jinping mengindikasikan adanya stimulus tambahan yang sedang disiapkan bagi perekonomian Negeri Panda.

Sebagai informasi, Politburo merupakan sebuah grup yang berisi 25 orang anggota Communist Party of China.

Menurut pernyataan yang dirilis pasca pertemuan selesai digelar, kondisi perekonomian domestik dinyatakan sedang mengalami perubahan, tekanan ke bawah sedang meningkat, dan pemerintah perlu mengambil langkah-langkah untuk mengatasi hal tersebut, seperti dikutip dari Bloomberg. (CNN)

Pasar Modal

Corona, Dana Investor Asing Kabur Rp104,39 T Sejak Awal Maret

Published

on

By

 Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat investor non residen (asing) melarikan modal mereka dari pasar Indonesia akibat penyebaran virus corona (covid-19). Total dana asing yang mengalir keluar (capital outflow) mencapai Rp104,39 triliun pada periode awal Maret hingga 24 Maret 2020.

FINROLL.COM — Deputi Komisioner Humas dan Logistik Anto Prabowo mengungkapkan sebagian besar dana asing yang keluar berasal dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) yaitu 98,28 triliun. Sementara, Rp6,11 triliun sisanya dari pasar saham.

Imbasnya, pasar saham melemah signifikan 27,79 persen sejak awal Maret atau 37,49 sejak awal tahun (year to date/ytd). Serupa, imbal hasil (yield) rata-rata naik sebesar 118,8 basis poin (bps) sejak awal bulan atau 95 bps secara ytd.

“Pelemahan ini disebabkan pada kekhawatiran investor terhadap virus corona yang akan berdampak pada kinerja emiten di Indonesia,” ujarnya dalam keterangan resmi, dikutip Jumat (27/3).

Guna meredam volatilitas di pasar modal, wasit industri jasa keuangan ini telah mengeluarkan sejumlah kebijakan. Pertama, pelarangan short selling.

Kedua, assymmetric auto rejection. Ketiga, trading halt 30 menit untuk penurunan indek 5 persen. Keempat, pembelian saham kembali (buyback) tanpa melalui RUPS. Terakhir, perpanjangan penggunaan laporan keuangan untuk IPO dari 6 bulan menjadi 9 bulan.

Selain itu, mempertimbangkan kondisi terkini, OJK juga telah mengeluarkan kebijakan sebagai berikut: relaksasi batas waktu penyampaian laporan keuangan dan penyelenggaraan RUPS, memperkenankan emiten untuk dapat melakukan RUPS melalui sistem elektronik (e-RUPS), relaksasi berlakunya Laporan Keuangan dan Laporan Penilaian di Pasar Modal; dan relaksasi terkait masa penawaran awal dan penawaran umum.

Otoritas juga mengeluarkan kebijakan relaksasi nilai haircut untuk perhitungan collateral dan Modal Kerja Bersih Disesuaikan (MKBD) kepada industri pengelolaan investasi, penyingkatan jam perdagangan di bursa efek, di penyelenggara pasar alternatif, dan waktu operasional penerima laporan transaksi efek, serta penyesuaian waktu penyelesaian transaksi perdagangan efek. (CNN/GPH)

Continue Reading

Pasar Modal

Saham & Rupiah Bergejolak, Sri Mulyani: Bukan Kondisi Biasa

Published

on

By

Kementerian Keuangan bersama otoritas terkait yang terhimpun dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) terus memonitor pergerakan pasar saham dan nilai tukar rupiah yang kemarin sempat bergejolak.

FINROLL.COM — Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, di Jakarta, mengakui, kondisi pasar saham dan nilai tukar pada perdagangan awal pekan ini, Senin (9/3/2020) terkoreksi tajam dan bergerak di luar kewajaran atau extraordinary terimbas sentimen negatif meluasnya virus Corona di berbagai negara dan kejatuhan harga minyak dunia.

“Kita betul-betul mengamati perkembangan yang terjadi sekarang ini. Perkembangan di pasar saham dan pasar nilai tukar, forex dan surat berharga negara itu semua menjadi perhatian kita perlu untuk yang terus kita ikuti dan waspadai, karena memang pergerakannya ini diakui seluruh dunia extra-ordinary, di luar kebiasaan,” terang Bendahara Negara, Selasa (10/3/2020).

Sri mengakui, jatuhnya pasar saham domestik sebesar 6,6% ke posisi 5.136,81 kemarin, Senin (9/3/2020), senada dengan penurunan bursa saham Wall Street, London, Jerman, Australia dan bursa saham regional. “Semua memberikan warning kepada kita bahwa ini bukan kondisi biasa,” tegasnya.

Kementerian, kata Sri Mulyani bersama-sama dengan Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), terus melakukan pemantauan pengaruh pergerakan di pasar keuangan ini terhadap stabilitas sistem keuangan Indonesia.

Mantan Direktur Eksekutif Bank Dunia ini menyebutkan, OJK telah menempuh kebijakan pengamanan meredam pelemahan IHSG lebih dalam melalaui kebijakan auto rejection asimetris. Artinya, saham yang volatilitasnya di atas 10% langsung terkena auto reject.

“Kemudian relaskasasi buyback saham tanpa ada RUPS, ini untuk mengembalikan rasionalitas pasar,” ujarnya.

“Sekarang ada ketidakamanan dan ketidaknyamanan karena virus atau kemudian perang minyak antara Saudi dan Rusia, mereka memunculkan ketidakamanan dan kenyamananan itu dengan mengalihkan investasi ke instrumen yang dianggap paling aman,” tandasnya.

Sumber Berita : CNBC INDONESIA

Continue Reading

Business

Pasar Saham Diramal Bangkit Juli 2020 Usai Terjangkit Corona

Published

on

By

Finroll – Jakarta, Pasar saham diramal pulih kembali usai lunglai akibat ‘infeksi’ virus corona pada semester kedua 2020. Bangkitnya pasar saham akan ditopang stimulus, baik dari sisi fiskal dan moneter yang digenjot pemerintah dan Bank Indonesia (BI).

Deputy Chief Investment Officer (CIO) Mandiri Manajemen Investasi Aldo Perkasa memprediksi dampak negatif penyebaran virus corona hanya berlangsung secara temporer.

“Dampak virus corona ini paling parah kuartal pertama dan masih ada potensi carry over (berlanjut) di kuartal kedua. Tapi kalau belajar dari pattern (pola) SARS, makin summer (musim panas) itu makin mereda. Jadi aktivitas bisnis semua akan mulai berjalan lagi, jadi low base (lesu) di kuartal kedua, dan mungkin kuartal ketiga akan mulai naik,” ucapnya, Kamis (5/3).

Untuk diketahui, Menteri Keuangan Sri Mulyani telah menyiapkan berbagai kebijakan untuk menghalau dampak virus corona kepada ekonomi Indonesia. Stimulus itu meliputi tambahan anggaran Kartu Sembako sebesar Rp50.000 dan diskon tarif tiket pesawat. Bahkan, bendahara negara tengah mengkaji opsi penundaan pungutan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 demi menekan dampak meluasnya wabah virus corona di Indonesia.

Sejalan dengan itu, bank sentral menurunkan tingkat suku bunga acuan sebesar 2 basis poin (bps) menjadi 4,75 persen. BI juga menurunkan rasio giro wajib minimum (GWM) valuta asing (valas) bank umum konvensional, dari 8 persen dari Dana Pihak Ketiga (DPK) menjadi menjadi hanya 4 persen. Lalu, GWM rupiah turun sebesar 50 bps dari 5,5 persen menjadi 5 persen bagi perbankan yang menyalurkan pembiayaan ekspor dan impor.

Aldo menilai stimulus tersebut mampu menahan kejatuhan ekonomi akibat virus corona. Namun, pada periode kuartal I dan II ini, ia meramal pasar saham masih bergerak fluktuatif.

“Harapannya ekonomi mulai hike-up (membaik) lagi paling tidak di semester kedua 2020,” ujarnya.

Lihat juga: Pemerintah Akan Bebaskan Pajak Industri di Indonesia Timur
Selain dorongan stimulus, ia meyakini virus corona mulai mereda. Kondisi ini ditandai dengan tingkat penyembuhan (recovery) pasien positif corona cukup tinggi yakni lebih dari 50 persen. Hingga Kamis (5/3) pasien yang dinyatakan sembuh di seluruh dunia mencapai 51.171 orang. Sementara korban meninggal akibat virus corona mencapai 3.254 orang. Fakta ini diharapkan dapat mengurangi kekhawatiran investor di pasar.

“Dalam tiga hari terakhir sudah mulai ada tanda-tanda kekhawatiran pasar mereda, dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai hike-up,” ujarnya.

Saat ini, Mandiri Manajemen Investasi sendiri belum merevisi target IHSG yakni di rentang 6.900-7.000. Namun demikian, mereka akan merevisi indeks saham setelah melihat perkembangan di kuartal I 2020.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading
Advertisement

Advertisement

Trending