Connect with us

Ekonomi Global

Didorong Kekhawatiran Perundingan Amerika-China, Harga Minyak Dunia Melemah

Published

on


Finroll.com — Karena daftar hitam Washington terhadap sejumlah perusahaan China, harga minyak melemah, Selasa, dan semakinmeredupkan harapan untuk kesepakatan perdagangan antara kedua negara, meski gejolak di Irak dan Ekuador memberikan dukungan pada harga minyak mentah.

Minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate (WTI) melonjak lebih dari 1% di awal sesi. Tetapi pada penutupan, Brent–patokan internasional–turun 11 sen, atau 0,2% menjadi USD58,24 per barel, sedangkan WTI, patokan Amerika Serikat, menyusut 12 sen, atau 0,2%, menjadi USD52,63 per barel, demikian laporan Reuters, di New York, Selasa (8/10) atau Rabu (9/10/2019) pagi WIB.

Harga memperpanjang pelemahan dalam perdagangan pasca- settlement setelah data American Petroleum Institute menunjukkan persediaan minyak mentah AS naik 4,1 juta barel dalam pekan yang berakhir hingga 4 Oktober, jauh melampaui 1,4 juta barel yang diperkirakan analis.

Sementara investor lebih berhati-hati menjelang perundingan perdagangan AS-China di Washington, Kamis. Presiden Donald Trump mengatakan kesepakatan perdagangan yang cepat sepertinya tidak mungkin.

Washington bergerak maju dengan diskusi mengenai kemungkinan pembatasan aliran modal ke China, dengan fokus pada investasi oleh dana pensiun pemerintah AS,  Bloomberg  melaporkan.

Badan Informasi Energi (EIA)AS memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak dunia untuk 2020 sebesar 100.000 barel per hari (bph) menjadi 1,30 juta.

Harga minyak juga tertekan oleh penurunan harga produsen AS pada September, yang dapat memberikan ruang bagi Federal Reserve untuk memangkas suku bunga kembali pada bulan ini.

Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF), Kristalina Georgieva, memperingatkan bahwa perlambatan ekonomi global dapat berubah menjadi “pelambatan yang lebih masif” tanpa tindakan untuk menyelesaikan konflik perdagangan dan mendukung pertumbuhan.

“Fokus pasar tetap pada ketegangan perdagangan dan kekhawatiran permintaan minyak, mengabaikan ketegangan geopolitik yang meningkat di Timur Tengah dan produksi OPEC yang lebih rendah pada September,” kata analis minyak UBS Giovanni Staunovo.

“Meningkanya risiko resesi membatasi kenaikan harga minyak.”
Data mingguan resmi dari EIA akan dirilis Rabu.

Analis memperkirakan persediaan minyak mentah di Amerika Serikat akan menunjukkan pertumbuhan untuk pekan keempat, sementara stok bensin turun, menurut jajak pendapat Reuters , Senin.

EIA mengatakan produksi minyak mentah AS diperkirakan naik 1,27 juta barel per hari pada 2019 ke rekor 12,26 juta barel per hari, sedikit di atas proyeksi sebelumnya untuk peningkatan 1,25 juta.

Harga minyak mendapat dukungan dari aksi unjuk rasa di anggota OPEC Irak dan Ekuador, yang bisa mengganggu produksi minyak mereka.
Di Irak, demonstrasi dimulai lagi di distrik Sadr City, Baghdad.

“Kerusuhan di Irak mendapat sorotan pada awal Oktober sebagai akibat dari protes besar-besaran di Baghdad,” kata analis RBC, Al Stanton.

Dia mengatakan potensi serangan Turki pada pasukan Kurdi di timur laut Suriah dapat berdekatan dengan perbatasan Irak, bisa mengarah ke “krisis pengungsi yang memberikan tekanan pada ekonomi Kurdistan” dan produksi minyaknya.

Turki mengatakan telah menyelesaikan persiapan untuk operasi militer di timur laut Suriah setelah Amerika Serikat mulai menarik mundur pasukan.
Kementerian Energi Ekuador mengatakan protes terhadap kebijakan penghematan dapat mengurangi produksi minyaknya hingga 59.450 barel per hari.

Arab Saudi menegaskan bahwa mereka siap memenuhi kebutuhan minyak global. Instalasi milik Saudi Aramco diserang pada 14 September, memukul  output  dan memicu lonjakan harga minyak.(red)

Advertisement Valbury

Ekonomi Global

Harga Emas Hari Ini 2 Juli, Turun Rp915 Ribu per Gram

Published

on

By

Harga emas Antam berada di posisi Rp915 ribu per gram pada Kamis (2/7). Posisi itu turun Rp4.000 dari Rp919 ribu per gram pada Rabu (1/7).(ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto).

Finroll.com, Jakarta – Harga emas PT Aneka Tambang (Persero) Tbk atau Antam berada di posisi Rp915 ribu per gram pada Kamis (2/7). Posisi itu turun Rp4.000 dari Rp919 ribu per gram dibandingkan kemarin.

Sementara harga pembelian kembali emas (buyback) turun Rp3.000 per gram dari Rp815 ribu menjadi Rp812 ribu per gram pada hari ini.

Berdasarkan data Antam, harga jual emas berukuran 0,5 gram senilai Rp487,5 ribu, 2 gram Rp1,77 juta, 3 gram Rp2,63 juta, 5 gram Rp4,35 juta, 10 gram Rp8,64 juta, 25 gram Rp21,48 juta, dan 50 gram Rp42,89 juta. Kemudian, harga emas berukuran 100 gram senilai Rp85,71 juta, 250 gram Rp214,01 juta, 500 gram Rp427,82 juta, dan 1 kilogram Rp855,6 juta.

Harga jual emas tersebut sudah termasuk Pajak Penghasilan (PPh) 22 atas emas batangan sebesar 0,45 persen bagi pemegang Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Bagi pembeli yang tidak menyertakan NPWP memperoleh potongan pajak lebih tinggi sebesar 0,9 persen.

Sementara harga emas di perdagangan internasional berdasarkan acuan pasar Commodity Exchange COMEX berada di posisi US$1.777,8 per troy ons atau melemah 0,12 persen. Sedangkan harga emas di perdagangan spot turun 0,06 persen ke US$1.769,01 per troy ons pada pagi ini.

Analis sekaligus Kepala Riset Monex Investindo Ariston Tjendra melihat harga emas di pasar internasional kemungkinan akan bergerak di kisaran US$1.750 sampai US$1.800 per troy ons pada hari ini. Harga emas masih bergerak di kisaran yang tinggi, meski sedikit tertekan.

“Secara teknikal, harga emas juga masih berpotensi naik harga mungkin masih akan mencoba lagi ke level US$1.789 per troy ons, level tertinggi kemarin,” ungkap Ariston kepada CNNIndonesia.com.

Menurut Ariston, hal ini karena sentimen positif bagi aset berisiko muncul dan bisa memberi tekanan kepada harga emas. Sentimen tersebut adalah sinyal pemulihan ekonomi dari data tenaga kerja dan indeks aktivitas manufaktur AS.

“Pasar juga mendapat kabar baik dari kemajuan penemuan vaksin oleh perusahaan farmasi Pfizer. Ini sempat memberikan tekanan ke emas semalam,” katanya.

Hanya saja, Ariston melihat peluang penguatan harga emas sebenarnya masih ada. Sebab, sentimen kekhawatiran pasar terhadap tingginya kasus virus corona atau covid-19 masih ada.

Begitu pula dengan disetujuinya UU pemberian sanksi bagi perbankan AS yang berbisnis dengan pejabat China yang menerapkan UU Keamanan Hongkong. Ini artinya UU sanksi ini sudah disetujui oleh dua partai yang saling beroposisi di AS.

“UU sanksi ini dikhawatirkan merembet ke urusan dagang kedua negara, AS dan China,” imbuhnya.

Selain itu, bank sentral AS, The Federal Reserve juga memberikan indikasi bahwa kondisi ekonomi masih dalam tekanan untuk jangka waktu yang lama karena covid-19.(cnnindonesia.com)

Continue Reading

Business

Data Ekonomi Asia dan Eropa Cungkil Harga Minyak Dunia

Published

on

By

Finroll – Jakarta, Harga minyak mentah dunia naik hingga 3,1 persen pada penutupan perdagangan Senin (30/6). Penguatan harga minyak ini ditopang oleh data ekonomi di Asia dan Eropa.
Mengutip Antara, Selasa (30/6), harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Agustus naik 69 sen atau 1,7 persen menjadi US$41,71 per barel di London ICE Futures Exchange.

Sementara, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus menguat US$1,21 atau 3,1 persen menjadi US$39,7 per barel di New York Mercantile Exchange.

Data Komisi Eropa menunjukkan ada perbaikan di seluruh sektor pada Juni 2020. Dari segi sentimen, posisinya naik dari 67,5 pada Mei 2020 menjadi 75,7 pada Juni 2020.

Sementara, keuntungan industri di China meningkat untuk pertama kalinya setelah enam bulan terus menurun. Realisasi ini menunjukkan pemulihan ekonomi sedang terjadi di China.

Ditambah, bursa saham Amerika Serikat (AS) juga menguat pada Senin (29/6). Hal itu menambah sentimen positif bagi harga minyak mentah dunia.

Namun demikian, kenaikan harga minyak mentah dunia terbilang tipis karena pasar masih khawatir dengan gelombang kedua pandemi virus corona. Pasalnya, pasien yang meninggal akibat pandemi itu telah melampaui setengah juta orang di dunia.

Oleh karena itu, beberapa negara bagian di AS memutuskan untuk kembali menerapkan pembatasan di ruang publik setelah ada lonjakan kasus. Salah satunya adalah Pemerintah California yang menutup operasional bar mulai Minggu (28/6).

Hal yang sama juga dilakukan Texas dan Florida usai pemerintah Texas mengeluarkan kebijakan penutupan bar pada akhir pekan lalu. Lalu, Washington dan San Fransisco telah menghentikan rencana pelonggaran pembatasan di ruang publik.

 

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

Ekonomi Global

Pangkas Biaya Operasional, Qantas PHK 6.000 Pegawai

Published

on

By

Maskapai Qantas memangkas 6.000 ribu pegawai dan mengandangkan 100 pesawat untuk menghemat biaya operasional di tengah pandemi. Ilustrasi. (AFP Photo/Peter Parks).

Finroll.com, Jakarta – Maskapai terbesar Australia Qantas melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) 6.000 pegawai dan mengandangkan 100 pesawat hingga setahun untuk menghemat biaya operasional US$10 miliar. Langkah itu diambil untuk menyelamatkan bisnis dari pandemi virus corona yang membuat industri penerbangan babak belur.

Dilansir dari AFP, Kamis (25/6), CEO Alan Joyce mengungkapkan dalam upaya penyelamatan maskapai, perusahaan telah menyusun rencana untuk tiga tahun ke depan. Selain melakukan PHK, perusahaan juga merumahkan selama berbulan-bulan lebih dari sebagian karyawannya yang tersisa.

“Tahun ini seharusnya menjadi salah satu tahun perayaan bagi Qantas. Ini ulang tahun seabad kami. Jelas, yang terjadi tidak sesuai rencana,” ujar Joyce.

Pemangkasan pegawai dilakukan pada maskapai Qantas dan lini penerbangan berbiaya murah, Jetstar. Di saat yang sama, perusahaan berharap dapat memanggil kembali separuh dari 15 ribu pekerja yang dirumahkan sejak Maret lalu pada akhir tahun.

Ia memahami rencana pemulihan perusahaan akan berdampak besar pada ribuan orang pegawai. Namun, ia mengaku tidak punya banyak pilihan mengingat pendapatan perusahaan anjlok karena pandemi.

Wabah virus corona membuat perusahaan membatalkan hampir seluruh rute penerbangan internasional, setidaknya hingga Oktober. Rute penerbangan domestik juga dipangkas.

Penerbangan domestik memang mulai bangkit seiring pelonggaran pembatasan antarwilayah. Namun, Australia diperkirakan akan tetap membatasi akses pendatang dari luar negeri hingga tahun depan.

“Kami harus memposisikan di mana pendapatan perusahaan akan berkurang jauh selama beberapa tahun ke depan. Itu artinya, kami menjadi maskapai dengan skala yang lebih kecil dalam jangka pendek,” jelas Joyce.

Selain melakukan penghematan operasional, perusahaan juga berencana menambah permodalan hingga 1,9 miliar dolar Australia.

Perusahaan juga akan memperpanjang kontrak Joyce, CEO dengan bayaran termahal di Australia, hingga seluruh rencana perusahaan dieksekusi.

Perdana Menteri Australia Scott Morrison menyebut pemangkasan jumlah pegawai Qantas sebagai sesuatu yang menyedihkan. Pemerintah Australia sendiri sudah menggelontorkan miliaran dolar untuk memitigasi dampak pandemi terhadap perekonomian.

“Hari-hari yang berat, Australia. Hari-hari yang sangat berat,” kata Morrison.

Dewan Serikat Pekerja Australia (ACTU) mengecam kebijakan Qantas dan meminta Morrison memperpanjang program subsidi gaji untuk mencegah PHK karyawan (JobKeeper Program).

“Jika program itu cukup untuk mengamankan pekerjaan Alan Joyce, mengapa tidak cukup baik untuk membatalkan keputusan (PHK) itu, duduk dengan serikat pekerja, yakinkan pemerintah federal memperpanjang program JobKeeper dan selamatkan lapangan kerja,” ujar Ketua ACTU Michele O’Neil.(cnnidonesia.com)

Continue Reading
Advertisement

Advertisement
Advertisement

Trending