Connect with us

International

Dipicu Ketegangan Antara Iran dan Amerika, Harga Minya Terus Menguat

Published

on


Keterangan foto : Ilustrasi minyak mentah dunia

 

Finroll.com – Untuk memperpanjang penguatan harga minyak yang cenderung naik dari pekan lalu, yang juga dipicu dari ketegangan antara Iran dan Amerika, setelah Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengungkap sanksi “signifikan” akan diumumkan terhadap Teheran.

 

Dari laporan Reuters, di Tokyo, Senin (24/6/2019). Harga minyak mentah berjangka Brent, harga patokan internasional, naik 50 sen, atau 0,8 persen, menjadi USD65,70 per barel.

 

Sementara itu, harga patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate, bertambah 70 sen, atau sekitar 1,2 persen, menjadi USD58,13 per barel.

 

Presiden Donald Trump pada pekan lalu mengatakan dia membatalkan serangan militer untuk membalas serangan Iran atas pesawat tak berawak AS. Dan Trump menegaskan pula, Minggu, dia tidak berperang dengan Iran.

 

Tetapi Pompeo juga mengatakan sanksi “signifikan” terhadap Iran akan diumumkan, Senin, yang bertujuan menekan lebih lanjut sumber daya yang digunakan Teheran untuk mendanai kegiatannya di kawasan tersebut.

 

Sementara Michael McCarthy, Kepala Strategi Pasar CMC Markets, Sydney, “Ada nada yang sangat tegas untuk bertransaksi pada volume di atas rata-rata,” katanya.

 

“Kami khawatir tentang sanksi terhadap Iran, (tetapi) kami melihat gambaran permintaan yang lebih baik karena langkah sejumlah bank sentral, yang menguntungkan semua komoditas…dan kami mendapati dolar AS yang lebih lemah.”

 

Harga minyak biasanya dihargai dalam dolar, sehingga depresiasi  greenback  membuatnya lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya.

 

Federal Reserve diperkirakan segera menurunkan suku bunga untuk meningkatkan ekonomi AS, sementara Presiden Bank Sentral Eropa Mario Draghi, pekan lalu, menyerukan stimulus tambahan guna mendorong pertumbuhan.

 

Harga minyak melonjak pekan lalu setelah Iran menembak jatuh pesawat tak berawak ( drone ) yang diklaim Amerika Serikat berada di wilayah udara internasional dan Teheran mengatakan berada di atas areanya.

 

Di tengah meningkatnya ketegangan tersebut, Brent mencatat kenaikan sekitar lima persen pekan lalu, kenaikan mingguan pertamanya dalam lima pekan, dan WTI melonjak sekitar sepuluh persen, persentase kenaikan mingguan terbesar sejak Desember 2016.

 

Trump mengatakan dia telah membatalkan serangan militer terhadap Iran karena respons seperti itu terhadap Teheran yang menjatuhkan  drone  AS akan menyebabkan hilangnya nyawa secara tidak proporsional.

 

Pejabat Iran mengatakan kepada  Reuters  bahwa Teheran telah menerima pesan dari Trump melalui Oman, tadi malam, bahwa serangan AS terhadap Iran sudah dekat.

 

Sementara itu, perusahaan energi AS pekan lalu meningkatkan jumlah  rig  minyak yang beroperasi untuk pertama kalinya dalam tiga minggu.

 

Perusahaan menambahkan satu  rig  minyak dalam pekan hingga 21 Juni, sehingga jumlah totalnya menjadi 789 unit, kata Baker Hughes dalam laporan yang dirilis Jumat.(red)

Advertisement Valbury

International

China Setujui UU Keamanan Hong Kong, Ini Reaksi Trump

Published

on

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan dirinya akan menggelar konferensi pers soal China pada Jumat (29/5/2020). Langkah tersebut diumumkannya di tengah meningkatnya ketegangan antara AS-China akibat perseteruan soal Hong Kong dan wabah virus corona (COVID-19).

FINROLL.COM — Hal itu juga disampaikan setelah sebelumnya Trump mengancam bakal menerapkan sejumlah hukuman pada China terkait masalah-masalah tersebut.

“Kami akan mengumumkan besok apa yang kami lakukan sehubungan dengan China,” katanya kepada wartawan pada pertemuan di Oval Office, Kamis. “Kami tidak senang dengan China.”

Hong Kong Episentrum Konflik AS-China, Wall Street Merana

Namun demikian, presiden ke-45 AS itu tidak memberikan rincian spesifik tentang rencananya, sebagaimana dilaporkan AFP.

Pasca pengumuman Trump, Wall Street ditutup melemah, melanjutkan penurunan untuk hari ketiga berturut-turut.

Panasnya hubungan AS-China baru-baru ini awalnya dipicu oleh masalah COVID-19. Trump telah dengan tegas menyatakan bahwa AS akan meminta China bertanggung jawab karena gagal menekan penyebaran wabah mematikan asal Wuhan, China itu hingga menyebar ke ratusan negara termasuk AS.

Trump juga mencurigai asal sebenarnya dari virus yang telah menginfeksi hampir enam juta orang di seluruh dunia itu dari sebuah laboratorium virologi di Wuhan. Menurut Worldometers, saat ini ada 5.904.658 kasus corona yang sudah dikonfirmasi di seluruh dunia. Di mana 362.010 orang telah meninggal dunia dan 2.579.629 sembuh.

Sekitar sepertiga kasus global atau 1.768.461 kasus ada di Amerika Serikat. Dari total itu 103.330 orang telah meninggal dan 498.725 sembuh.

Terkait Hong Kong, perselisihan kedua ekonomi terbesar di dunia itu dipicu oleh kekhawatiran bahwa China akan menggunakan undang-undang baru untuk mengakhiri kebebasan Hong Kong sebagai wilayah semi-otonom.

Sebagaimana diketahui, baru-baru ini pemerintah Hong Kong mengeluarkan Undang-undang yang dianggap banyak pihak mencerminkan keinginan China untuk memperkuat cengkeramannya atas Hong Kong. UU itu adalah undang-undang keamanan nasional Hong Kong.

UU yang berisi tujuh pasal tersebut dipandang bakal memberi jalan bagi China untuk memperkuat kendalinya atas kota administrasinya itu. Aturan itu dianggap salah oleh banyak pihak lantaran saat ini kebebasan Hong Kong dari China telah dijamin.

Jaminan bagi Hong Kong memperoleh kebebasan telah disepakati oleh China dan Inggris dalam aturan “satu negara, dua sistem” setelah Hong Kong diserahkan oleh Inggris kembali ke China pada tahun 1997.

Menurut beberapa sumber diplomatik, konferensi pers Trump akan digelar pada hari yang sama ketika Inggris dan Amerika Serikat mengajak Dewan Keamanan PBB bertemu secara tidak resmi untuk membahas situasi di Hong Kong.

Menurut The New York Times, salah satu langkah yang dipertimbangkan AS sebagai hukuman untuk China atas kesalahan-kesalahannya adalah pembatalan visa bagi ribuan mahasiswa pascasarjana China di universitas AS yang memiliki ikatan dengan lembaga pendidikan di negara asal dan yang memiliki hubungan dengan militer China.

Continue Reading

International

Klaster Baru Terdeteksi, Kasus Corona di Korsel Melonjak Lagi

Published

on

Finroll – Jakarta, Korea Selatan melaporkan kembali terjadi lonjakan kasus baru virus corona, Kamis (28/5). Penambahan kasus harian itu merupakan yang terbesar hampir dua bulan terakhir.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korsel mengumumkan 79 kasus baru pada Kamis menjadikan totalnya 11.344, dan 269 kematian.

Sebagian besar infeksi baru berasal dari kawasan metropolitan Seoul yang padat penduduk. Itu adalah peningkatan terbesar sejak 81 kasus diumumkan pada 5 April.

Dikutip dari AFP, dari 79 kasus baru, 69 di antaranya terjadi di gudang perusahaan e-commerce Coupang di Bucheon, sebelah barat Seoul.

Wakil menteri kesehatan Kim Gang-lip mengatakan sekitar 4.100 pekerja dan orang yang pernah masuk ke gedung itu kini diisolasi. Lebih dari 80 persen dari mereka telah diuji virus corona.

“Kami perkirakan jumlah kasus baru yang terkait dengan gudang terus bertambah hingga kami menyelesaikan tes har ini,” ujarnya.

Lonjakan ini terjadi ketika para pejabat berusaha menangani klaster baru di kelab malam dan mengantisipasi ancama gelombang kedua infeksi Covid-19.

Korsel yang dianggap menjadi salah satu contoh sukses mengatasi pandemi saat ini telah melakukan berbagai pelonggaran pembatasan dan memasuki kehidupan normal baru atau new normal. Bahkan para pelajar telah kembali ke sekolah.

Fasilitas umum seperti museum dan gereja telah dibuka kembali. Beberapa pertandingan olahraga, termasuk bisbol dan sepak bola memulai musim baru awal bulan ini, meski tanpa penonton.

Korsel sempat menjadi salah satu negara yang terdampak parah di masa awal penyebaran pandemi itu. Korsel pernah menjadi negara dengan kasus corona tertinggi di luar China, tempat virus Covid-19 pertama kali terdeteksi dan menyebar.

Namun, pemerintahan Presiden Moon dianggap cepat dan tepat menanggulangi penyebaran virus serupa SARS tersebut bahkan tanpa menerapkan penguncian wilayah atau lockdown.

Kebijakan penanganan Korea Selatan pun banyak dipuji dan dicontoh negara lain.

Sumber : CNN Indonesia
Continue Reading

International

Xi Jinping Titahkan Militer Siap Tempur, Siaga World War III?

Published

on

Di tengah memanasnya hubungan China dengan sejumlah negara, Presiden Xi Jinping muncul ke publik dan berbicara di depan pertemuan pleno delegasi Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) dan Kepolisian Rakyat.

FINROLL.COM — Dalam rapat yang dilakukan Selasa (26/5/2020) itu, ia meminta militer memperkuat pelatihan dan pertahanan nasional di tengah pandemi corona (COVID-19). Apalagi dalam situasi yang kompleks seperti sekarang.

Dikutip dari Global Times dan South China Morning Post, ia bahkan memerintahkan militer mengeksploitasi cara-cara pelatihan dan persiapan perang. “Penting juga untuk meningkatkan persiapan pertempuran bersenjata dan kemampuan militer untuk melakukan misi,” ujarnya.

Pernyataan Xi ini cukup menarik perhatian. Selain karena dirinya memang Komisi Militer Pusat China, langkah ini dilakukan saat hubungan China dan sejumlah negara, terutama AS, sedang panas.

China pun menaikkan anggaran militer hingga 6,6%. Anggaran akan ditetapkan sebesar 1.268 triliun (US$ 178 miliar atau sekitar Rp 2632 triliun) atau terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat (AS), yakni US$ 738 miliar.

Dari catatan AFP, dalam beberapa tahun terakhir, China memang menggenjot anggaran militer untuk memodernisasi PLA. Tujuannya menjadi kekuatan kelas dunia, yang menyaingi AS dan barat.

Sebelumnya di 2019, China meluncurkan dua kapal induk buatan sendiri. Selain itu China juga membuat rudal balistik antarbenua pertama, yang mampu mencapai AS.

China membuat pangkalan militer pertama di Djibouti, Afrika di 2017. Beijing juga membuat rudal penghancur untuk memperkuat militernya.

Sementara itu, seorang pejabat tinggi badan legislatif China mengatakan negaranya akan dengan tegas membela kepentingannya dari AS yang berupaya untuk menghalanginya.

“Jika AS bersikeras soal pemikiran Perang Dingin, dan melakukan strategi untuk mengendalikan China, merusak kepentingan inti China, hasilnya hanya dapat melukai dirinya sendiri dan negara lain,” kata Zhang Yesui, Juru Bicara Komite Urusan Luar Negeri Kongres Rakyat Nasional (NPC).

“China tidak pernah memulai masalah dan tidak pernah takut ketika masalah datang. China akan dengan tegas mempertahankan kepentingan kedaulatan, keamanan dan pembangunannya.”

 

Continue Reading
Advertisement

Advertisement

Trending