Connect with us

Cover Story

Dr. dr. Mardjono Tjahjadi, SpBS, PhD: It’s All About Humanity

Published

on


Finroll.com – Sesungguhnya, menjadi seorang dokter adalah impian saya sejak kecil. Mungkin bukan saya saja, tapi sebagian manusia lain yang hidup di muka bumi ini. Entah apa pemicunya, tapi dulu ketika guru SD saya bertanya apa cita-cita kamu, dokter menjadi sosok yang paling pertama hadir.

Perawakannya yang profesional, jas putih yang tidak pernah lepas, stetoskop melingkar di leher, sikapnya yang ramah, dan bisa memberikan “obat manjur” dari kesengsaraan manusia atas penyakit membuat saya terbius.

Seiring berjalannya waktu, takdir berkata lain, dan impian menjadi seorang dokter terbang sebagai angan belaka. Hingga suatu hari, saya bisa “mengkonsultasikan” kegundahan hati saya akan profesi tersebut kepada seseorang yang tepat di bidangnya, ya dokter sungguhan.

Kebetulan, ada seorang dokter yang bisa saya temui. Ia merupakan dokter spesialis bedah saraf, beliau adalah Dr. dr. Mardjono “Joy” Tjahjadi, SpBS, PhD. Berbincang sedikit melalui pesan singkat, saya pun berkesempatan bertemu dr Joy panggilan akrabnya di sela-sela kesibukannya di salah satu rumah sakit swasta ternama di Jakarta.

Selepas makan siang sekitar pukul 14.00 WIB, saya pun bertemu dr Joy. “Halo dokter Joy, apa kabar?” sapa saya, yang dibalas senyum ramah sang dokter dan mempersilahkan saya duduk. Jujur, saya sebelumnya belum pernah bertemu dengan dr Joy, dan kesan pertama saya bertemu dengannya ternyata seru. Usianya saya taksir mungkin sekitar 30an, raut wajahnya berseri, dan gaya bicaranya serius tapi santai. Tipikal dokter jaman now.

Beberapa menit berbicang, dr Joy memang sesuai nama panggilannya yang berarti “seru”. Ia tidak canggung sedikitpun saat ditanya macam-macam soal kesehatan. Ya, memang saya masih awam soal dunia bedah saraf. Terlebih spesialisasi beliau, yaitu mengenai penyakit aneurisma otak. Oh ya, dr Joy juga telah menerbitkan sebuah buku bacaan medis berjudul “Memahami Aneurisma Otak”.

Dr. dr. Mardjono Tjahjadi, SpBS, PhD: It’s All About Humanity

dr Joy pada saat melakukan operasi Aneurisma, Foto: Dokumentasi pribadi

Aneurisma sendiri berasal dari bahasa Yunani yang berarti pelebaran. Aneurisma bisa didefinisikan sebagai pelebaran dinding pembuluh darah karena lemahnya struktur dinding pembuluh darah tersebut.

Sementara, Aneurisma otak adalah membesarnya pembuluh darah pada otak, akibat dinding pembuluh darah yang lemah. Ketika aliran darah menekannya, maka pembuluh darah yang lemah itu akan menggelembung layaknya balon.

Hal ini bisa berakibat serius apabila membesarnya pembuluh darah seperti sebuah gelembung sudah tidak tertahankan, hingga akhirnya rembes bahkan pecah. Jika sudah pecah, maka tahapan selanjutnya bisa berakibat pada penyakit stroke.

Kasus ini bisa menimpa siapa pun, namun lebih banyak terjadi pada wanita berusia di atas 40 tahun. Fatalnya, kebanyakan kasus Aneurisma otak baru memberikan gejala ketika pembuluh darahnya sudah pecah. Tercatat hanya 1 dari 10 penderita yang memberikan gejala klinis.

Ditengah keasyikan obrolan seputar dunia kesehatan, saya pun ingat tujuan saya menemui dr Joy. “Berkonsultasi” pertanyaan hati soal alasan utama seorang dokter menjadi dokter.

“Dok, kenapa sih dulu bisa terpikir mau jadi dokter, apa memang impian sejak kecil atau bagaimana?” sela saya singkat.

Dokter: to be man for others

Dr. Joy terdiam, tersenyum lebar, dan tertawa. Suatu gestur tubuh yang jarang saya lihat pada seorang dokter yang kesannya begitu kaku dan menjunjung profesionalitas kerja. Ia memejamkan matanya, seakan mencari memori lama akan sebuah anak yang berkeinginan menjadi seorang dokter spesialis, dan akhirnya mampu menyelamatkan banyak nyawa manusia.

“Jadi sebenarnya di bidang ilmu kedokteran, salah satu bidang ilmu yang paling sistematis adalah saraf, terutama otak ya. Nah kenapa saya pilih spesialis bedah saraf, ya karena tadi kita bekerja pada satu bidang yang sistematis dan kompleks,” bukanya.

“Nah semua ini mulainya waktu SMA. Menjadi seorang dokter memang salah satu cita-cita saya, selain pengen juga jadi bankir, pengen jadi lawyer, dan lainnya. Cuma yang saya lihat, kalau kita jadi dokter itu kita bisa langsung menolong orang ya, dan orangnya bisa merasakan manfaat dari kita,” tuturnya sambil tersenyum lebar.

Sejak saat itulah, ia akhirnya bertekad dan meneguhkan hatinya untuk menjadi seorang dokter. Tujuannya cuma satu, menolong sesama yang mencari kesembuhan atas penyakitnya.

Perjalanan Dimulai..

Kisahnya sebagai “penyelamat manusia” pun diawali pada tahun 1998, saat itu ia berkuliah jurusan kedokteran di Universitas Atma Jaya. Singkat cerita setelah lulus di tahun 2004, anak kedua dari empat bersaudara ini menyadari jika bidang saraf, sangat menyita perhatiannya.

Hingga pada tahun 2005, ia bekerja sebagai dokter umum PTT di RSUD Provinsi NTT, Kupang. Kebetulan, ia ditempatkan di poli bedah saraf dan membantu dokter spesialis bedah saraf disana.

Sambil menyelam minum air, dr Joy muda mulai mempelajari sedikit demi sedikit spesialisasi saraf. Ia pun mengaku, salah satu momen terbaiknya menjadi seorang dokter terjadi pada masa ini.

“Kasus pertama saya waktu membantu dokter bedah saraf itu operasi, adalah membantu menangani kasus pendarahan otak seorang pasien akibat kecelakaan. Waktu itu pasien saya datang dengan tingkat kesadaran yang hampir koma, nah begitu selesai di operasi secara bertahap, tingkat kesadarannya kembali normal. Nah disitu saya lihat, wah bahagia banget,” jelasnya sambil berkaca-kaca dan tersenyum.

Saya bisa melihat jelas disini, apa arti seorang dokter dalam bekerja. Tanpa banyak basa-basi, prioritas utama adalah menyelamatkan nyawa manusia. It’s all about humanity. Luar biasa.

“Kebahagiaan seorang dokter adalah bisa melakukan sesuatu bagi kesehatan pasien. Apalagi bisa melihat pasiennya sembuh lagi, dari yang tadinya hampir koma sampai bisa sehat. Itu dasar yang akhirnya membuat saya ingin jadi dokter bedah saraf,” tukasnya.

Dua tahun ia habiskan menjadi dokter PTT di Kupang, sampai akhirnya ada info pendaftaran spesialisasi bedah saraf di Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung, Jawa Barat.

Dari Jawa Barat Menuju Daratan Eropa

Setelah mendapatkan gelar dokter spesialisasi bedah saraf dari Universitas Padjajaran Bandung di tahun 2012, dr Joy tidak puas. Ia langsung melamar kuliah lagi untuk lebih mendalami sub spesialis Aneurisma otak di Helsinki University Central Hospital, Finlandia dan mulai kuliah pada 2014.

“Jadi dulu (2012) sub spesialis Aneurisma otak di Indonesia masih jarang. Dalam pemikiran saya, bidang ini masih sangat perlu memerlukan pengembangan. Menurut saya secara umum dokter bedah saraf di Indonesia pun sampai saat ini masih relatif jarang, sekitar 350 orang di seluruh Indonesia. Jumlah ini masih sangat kurang,” tegasnya.

Belajar di negeri orang, jauh dari keluarga dan tanah air membuat mata dr Joy terbuka luas. Cakrawala dunia medis bedah saraf seakan mengalir tanpa terbendung dari pengalaman dokter di seluruh dunia. Ia seperti menemukan pelepas dahaga akan rasa keingintahuannya pada sub spesialis Aneurisma Otak.

Dr. dr. Mardjono Tjahjadi, SpBS, PhD: It’s All About Humanity

Foto: Dokumentasi pribadi

“Enggak cuma dokter-dokter negara Asia Tenggara yang datang belajar, bahkan dokter dari Jepang, Amerika, Prancis belajar disini. Setiap bulan ada profesor bedah saraf dari seluruh dunia datang. Disini saya mengetahui, ternyata pendidikan dan keilmuan kedokteran Indonesia enggak kalah dari mereka. Kita bisa nyambung, gak ada gap ilmu pengetahuan. Ini yang paling menarik,” jelasnya seru.

Dokter Juga Manusia

Ya, dokter juga manusia biasa. dr Joy ternyata punya hobi naik gunung, meski saat ini hal tersebut sudah jarang ia lakukan karena kewajibannya mengobati pasien yang butuh pertolongannya.

“Sebenarnya saya punya hobi naik gunung. Dulu sih sempet ya, tahun lalu naik Gunung Gede. Tapi sekarang gimana ya, hahahaha,” ungkapnya sambil tertawa lepas.

Ia memahami, dengan berprofesi sebagai seorang dokter membuatnya harus rela jika panggilan tugas memotong waktunya menjalankan hobi, bahkan waktu bersama keluarga.

“Seringkali saat nonton bioskop atau saat aktivitas bermain sama anak-anak, eh tiba-tiba ada panggilan ke RS. Jujur saja, dalam hati kecil sempat terbersit bisa ditunda enggak ya (panggilan ini), aduh ternyata pasiennya pendarahan otak. Sesuatu yang harus segera ditolong, terpaksa harus saya tinggalkan aktivitas saya bersama keluarga. Sudah sangat sering saya meninggalkan acara keluarga karena komitmen saya,” tandasnya.

“Tampaknya anak-anak sudah maklum dengan kerjaan papanya. Saya cukup bangga mereka tidak kecewa dengan kondisi ini,” lanjut bapak dari tiga orang anak ini.

Tak jarang, panggilan tugas juga datang di kala dirinya baru sampai rumah tengah malam setelah selesai beraktivitas seharian di rumah sakit. Harus mau, dr Joy mesti menuju rumah sakit yang dimana ada seseorang pasien yang sangat menunggu bantuannya.

“Ya itu sering, karena untuk bedah saraf dan umumnya penyakit yang berhubungan dengan bedah gak bisa ditunda. Karena time is brain buat saya,” pungkasnya.

Tips Sehat Seorang Dokter Bagi Dirinya Sendiri

Terlepas dari itu semua, saya makin penasaran tentang rahasia seorang dokter untuk menjaga kesehatannya. Tentu, selama ini kan memang lumrah seorang dokter menasehati pasiennya agar hidup sehat. Tapi bagaimana tips sehat dr Joy bagi dirinya sendiri?

“Saya pribadi meski pun berat, tetap berkomitmen olahraga seminggu minimal tiga kali, jogging aja,” ungkapnya serius.

“Eh dulu saya juga pernah daftar gym sih, tapi ya daftar aja enggak pernah sempet kesana, hahahaha,” tambahnya.

Harapan dan Impian Seorang Dokter

Dua jam saya berbincang panjang lebar dengan dr Joy, pengalaman yang sangat seru sekali. Bisa menemukan sisi lain dari dokter dibalik profesi dan tuntutan kerjanya yang begitu banyak membutuhkan pengorbanan dan keteguhan hati.

Sebelum berpamitan, dr Joy mengungkapkan isi hati kecilnya untuk masa depan. Sama seperti dahulu, ketika dirinya memulai semua ini dari awal. Dimulai dari impian dan harapan.

“Saya ingin terus mengembangkan pelayanan bedah saraf bagi masyarakat, khususnya dalam Aneurisma otak. Masih banyak pekerjaan yang harus kita kerjakan, saya dan beberapa tim dokter lainnya juga terus meningkatkan pelayanan sembari terus belajar. Mungkin suatu saat nanti penyakit Aneurisma otak bisa sembuh dengan minum obat tanpa operasi. Itu harapannya,” tutup pria 39 tahun ini.

Advertisement

Cover Story

Adinda Bakrie: Saya Ibu, Pengusaha, dan Sosialita

Published

on

By

Di sebelah meja kerja Adinda Bakrie, terdapat treadmill yang siap digunakan kapan saja. Ada juga selimut tebal di sofa, dan beberapa buku yang tergeletak di dekatnya.

“Saya selalu punya prinsip 50: 10, jadi 50 menit bekerja harus diselingi dengan 10 menit break. Ini bagus supaya kita tetap fresh dan optimal waktu bekerja,” ujar Adinda Andarina Bakrie, atau lebih dikenal sebagai Dinda Bakrie, saat disambangi CNBC Indonesia, Rabu pekan lalu.

Memiliki hampir 300 ribu pengikut di akun sosial media instagram, Dinda lebih dikenal publik sebagai sosialita. Apalagi ia sering tampak memajang fotonya bersama Ramadhania Bakrie, dan mejeng dalam berbagai acara kelas menengah atas.

Tak banyak yang tahu, bahwa Adinda kini sudah kembali ke Jakarta dan dipercaya mengelola bisnis strategis keluarganya di sektor sumber daya alam. Tampilan Adinda saat di kantornya jauh berbeda dengan gaya santainya di instagram, meski begitu ia tetap bisa terlihat modis dan jauh dari kata kaku.

Kami berbincang cukup lama dengan Adinda, mengupas lapis demi lapis sisi lain dirinya yang jarang diketahui publik. Misalnya, ia sangat memberikan perhatian soal peran wanita dan emansipasi.

Tak akan ada yang bisa menduga bahwa thesis yang ia ajukan untuk meraih gelar master psikologinya di Amerika Serikat bertema tentang perjuangan kaum wanita muslim di negeri paman sam. “Mereka menceritakan tekanannya, dan kuncinya memang satu untuk bisa kuat. Selama masih ada dukungan dari orang terdekat, itu sudah cukup untuk mereka tetap bergerak maju,” cerita Adinda, bersemangat.

Tiga gelar sarjana kini ia sandang sekaligus, yakni di bidang ekonomi, marketing, dan psikologi. Kembali ke Jakarta, ia dipercaya sebagai Direktur EMP Mining Overseas Pte Ltd yang merupakan anak usaha dari Energi Mega Persada. Bisnisnya akan fokus dengan memburu mineral yang memiliki nilai tambah dan bisa mendukung industri kendaraan listrik.

“Berbulan-bulan ini saya terus belajar, dan ini sangat menantang. Menurut saya tidak ada kata terlambat, prinsipnya selama ada keinginan untuk menyerap dan belajar pasti bisa,” jelasnya.

Siapa sebenarnya Adinda Bakrie, status apa yang lebih cocok ia sandang dengan namanya?

Kepada Gustidha Budiartie, Thea Fathanah Arbar, dan fotografer Tri Susilo dari CNBC Indonesia, Adinda Bakrie buka-bukaan tentang minatnya, keluarganya, bisnis, dan gaya hidupnya. Berikut petikan wawancaranya:

Bagaimana ceritanya bisa masuk sektor migas dan energi, apa tantangannya dalam bidang ini?

Tantangannya saat pertama kali masuk dalam bidang ini, saya tahu dunia ini sangat lain. Apalagi ini disebut man’s world yang isinya kebanyakan laki-laki. Justru karena saya berbeda (wanita), ini jadi keuntungan saya.

Menurut saya, kalau kita masuk dengan percaya diri dan positif, yang lain juga akan melihatnya sebagai hal yang segar dan baru. Memberikan ide lebih bervariasi, jadi saya yakin mereka juga akan tertarik dengan sudut pandang baru. Kalau orang yang sama semua kan mirip, mungkin pengalamannya yang mirip. Jadi mereka belajarnya di situ-situ aja.

Tetapi kalau ada sesuatu yang baru, seperti ibaratnya saya juga diajarkam dalam sekolah psikolog: lebih baik aktif mendengarkan daripada bercerita terus. Kalau kita lebih condong mendengar akan lebih maju.

Jadi di minyak dan gas ini, saya masuk dengan pemikiran seperti itu. Saya mencoba seperti spons yang menyerap ilmu sebanyak-banyaknya. Baik itu dari karyawan, direksi, stakeholder, semua informasi saya serap. Takes time, tapi tidak perlu merasa insecure atau takut karena kan baru mulai.

Tantangan-nya sampai saat ini sih pasti ada, tapi saya melihat itu semua layaknya pertualangan, journey. Terus belajar technical dari oil dan gas. Itu semua sangat menarik dan tidak perlu menghafal, karena ini kan logika berbisnis saja jadi bisa dijelaskan. Semuanya juga membimbing, tak ada yang arogan. Justru saya masih sangat penasaran dengan sektor ini.

Kami sempat lihat postingan Mbak Dinda ngobrol dengan Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto, apa aja yang dibahas?

Kemarin itu kunjungan kerja ke Pagerungan. Jadi EMP itu memiliki 50% working interest di bloknya. Pak kepala SKK Migas datang, juga datang mitra kita dari JAPEX bapak Tanaka yaitu presiden direktur di Kangean Energy Indonesia yang merupakan operator blok.

Jadi mereka datang dan kita mendengar cerita kepala SKK Migas, kita jadi lebih semangat untuk terus menaikkan cadangan , kunjungannya itu juga berhubungan dengan kelarnya pahse kedua dari lapangan terang sirasun.

Karena sudah masuk phase 2, alhamdulillah produksi kita mencapai average per hari 200 MMSCFD. Di sana kita juga mencicip kuliner khas yang lezat sekali. Kami juga bertemu dengan TNI AL, semuanya indah sekali. Saya juga dapat jaket dari situ.

Jadi kalau dibilang tantangan, naik kapal lihat gas plant saya pikir saya beruntung bisa mempunyai pengalaman seperti itu. Enggak semua orang bisa dapat pengalaman itu sambil belajar.

Tanggung jawabnya sendiri di EMP seperti apa?

Kalau mau bercerita tentang EMP, jadi saya itu tanggung jawab saya di bagian komersil, lalu juga acceleration dan korporat communication serta business development.

Karena itu kita ada acara demo di Afrika. Kita punya 7 blok minyak bumi dan gas di Indonesia, 1 blok di Afrika di Mozambique. Itu gas sudah sampai di sana. Tapi fokus saya, karena saya menjabat di EMP mining overseas dibuat untuk menjalani kegiatan pertambangan, mineral. Jadi kita fokus sekarang di mineral graphite.

Sebenarnya graphite di Indonesia ada tapi kualitasnya beda. Graphite itu ada di benua-benua tua. Jadi ada di benua Afrika dan China yang besar-besarnya. Graphite itu untuk semi conductor sebagai gantinya litium yang daya tahannya lebih lama. Untuk mobil listrik nanti akan bisa sangat bagus. Apalagi ke depannya mobil listik akan meningkat permintaanya. Dan kenapa Mozambique karena dia paling banyak punya cadangan di dunia.

Ini sudah sampai fase apa?
Kita sekarang sudah sampai fase pertama. InsyaAllah bulan Oktober sudah mulai eksplorasi. Kalau yang gas sudah sampai di sana.

Berapa target produksi?
Rencananya kita punya 3 tempat di Mozambik yang sudah kita mau eksplor. Jadi 3 tempat itu setelah elsplorasi, baru kita bisa membagi targetnya berapa. Tapi sudah terbukti di sekitar situ sudah banyak.

Kemarin di Afrika juga sempat ngomong kalau kita ke arah situ juga. Soalnya untuk seluler bagus ya. Tapi sekarang kita fokus ke graphite dulu sih. Cuma memang pengen ke situ juga nanti.

Kenapa masih mau terjun ke bisnis pertambangan, ini kan bisnis old school?
Saya setuju. Benar memang bisnis ini tuh bisnis old school. Tapi ada dua hal yang selalu bikin saya semangat dan passionate, pertama adalah belajar terus tanpa berhenti. Lalu, kedua adalah keluarga saya.

Papa saya (Indra Bakrie) sudah bangun bisnis ini dari 2001, dan pesan papa serta almarhum Atuk yakni kakek saya (Achmad Bakrie), semua yang dihasilkan keluarga Bakrie harus bermanfaat buat banyak orang. Makanya dari kecil saya terus diceritakan dan diingatkan seperti itu, walaupun saya sudah merantau ke Amerika. Akhirnya keinginan saya memang bersama keluarga, ikut membantu bisnis Papa dengan cita-cita bisa menciptakan lapangan kerja dan keluarga komunitas yang lebih besar. Dan ini baru 2 bulan saja saya sudah berasa di sini.

Walaupun old school tetapi harus sadar tak boleh stuck di sini, apalagi sekarang sudah ada energi baru seperti solar panel, yang ini mulai kami pikirkan. Semuanya dinamis, tidak ada yang stagnan. Terus membangun apa yang kita punya, tetapi juga harus mindful dan alert apa yang bisa dipanjangkan ke depan.

Jadi dengan adanya ini bukan berarti kita tenang. Terus membangun tetapi juga maklum dengan kedinamisan. Makanya kita ada pertambangan dan energi terbarukan itu masih kita bahas dengan orang-orang di sini apa yang bisa dikerjakan.

Regenerasi tak bisa dihindari, jadi kita lebih alert, tapi bukan alert ketakutan. Tapi lebih kayak mindful. Saya kini generasi ketiga, anak saya generasi keempat.

cnbcindonesia.com

Continue Reading

Cover Story

Jack Ma dan Dua Dekade Jatuh Bangun Alibaba

Published

on

By

Finroll.com – Dua dekade lalu, Jack Ma tak berpikir akan memiliki raksasa e-commerce seperti sekarang. Pendiri Alibaba Group Jack ma mengungkap tantangan pembangunan bisnis Alibaba pada 1999. Dia mengisahkah jatuh bangunnya tahun lalu ketika bertandang ke Bali, Indonesia.

Bermula sebagai perusahaan kecil, Ma bekerja siang dan malam mengembangkan Alibaba Grup. Menurutnya, semua orang perlu percaya dengan masa depan yang lebih baik.

“Seorang pengusaha harus memiliki kepercayaan sehingga tidak memiliki ketakutan kalau Anda memiliki masalah,” ucap Jack Ma di Bali, Jumat (12/10/2018).

Tak hanya cukup dengan kepercayaan, seorang pengusaha juga perlu memiliki prinsip hidup yang kuat. Sebagai pemilik e-commerce, Ma sadar dirinya perlu menomorsatukan konsumen namun tak melupakan karyawannya.

“Jadi konsumen nomor satu, karyawan nomor dua, dan kepercayaan dari kedua-duanya adalah nomor tiga,” jelas Ma.

Pemilik nama asli Ma Yun ini yakin saat memiliki 30 karyawan pertamanya bisa bekerja bersama-sama mengembangkan perusahaan. Namun, ia tak menyebut jika 30 orang tersebut sebagai yang terbaik.

“Memang tidak ada yang terbaik, tapi mereka berlatih untuk menjadi yang terbaik,” imbuhnya.

Pria berusia 55 tahun ini mengaku optimis dalam menjalani hidup. Menurutnya, tidak ada orang yang ahli masa depan karena semua orang adalah ahli masa lalu. Dengan kata lain, ia menyebut tak ada satu pihak pun yang bisa meramalkan nasib seseorang.

“Saya tidak menjanjikan bahwa bergabung dengan kami akan kaya, ini bukan Jack Ma, Anda sendiri yang membuat peluang itu ada,” ujarnya.

Hari ini, Jack Ma akan mundur dari perusahaan yang telah dia besarkan selama dua puluh tahun. Namun, Ma akan berada dalam jajaran dewan direksi Alibaba hingga 2020.

Posisi puncak Alibaba akan diisi oleh Daniel Zhang. Zhang bukan wajah baru dalam grup Alibaba. Saat ini dia menjabat sebagai CEO Alibaba Group.

Sepak terjang Zhang di Alibaba Group dimulai pada 2007, saat ia bergabung di Taobao sebagai Chief Financial Officer (CFO).

Taobao merupakan salah satu anak usaha Alibaba yang menyerupai situs lelang eBay dengan fokus kepada barang elektronik. Pada 2008, Zhang digeser menjadi Chief Operating Office Taobao.

Karier Daniel melesat pada 2011, ia didapuk sebagai Presiden Tmall, platform business-to-consumer (B2C) milik Alibaba.

Saat menjabat sebagai Presiden, ia mempelopori sebuah terobosan yang membuat ia semakin dikenal. Ia menciptakan 11 November Shopping Festival (Single’s Day). Acara sangat populer di China khususnya untuk yang masih single.

Tanggal event ini didominasi angka 1, angka 1 ini merepresentasikan kesendirian. Pada 2017, pembeli menghabiskan sekitar US$25 miliar atau Rp372 triliun dalam event belanjan ini. Event tahunan ini menjadi hari belanja offline dan online terbesar di dunia.

Continue Reading

Cover Story

Belajar dari Garasi, Noni Purnomo Warisi Kendali Blue Bird

Published

on

By

Finroll.com –  Terlahir sebagai putri seorang pengusaha taksi ternama, PT Blue Bird Tbk tak membuat Noni Sri Aryati Purnomo tumbuh menjadi remaja yang manja. Putri pertama dari pasangan purnomo Prawiro dan Endang Basuki ini justru menempa diri untuk terus banyak belajar tentang pengelolaan bisnis, hingga akhirnya dipercaya meneruskan tongkat estafet perusahaan keluarga.

Noni bercerita, pelajaran pertama berbisnis justru datang dari garasi rumahnya. Saat itu, Blue Bird mulai didirikan pada 1 Mei 1972.

“Karena mulai dari garasi dan saya juga tinggal di situ, sehingga involvement (keterlibatan) saya terhadap bisnis itu juga sudah terjadi dari waktu saya masih kecil. Banyak sekali hal-hal yang saya pelajari justru pada saat saya waktu kecil,” tuturnya kepada CNNIndonesia.com.

Perempuan yang lahir pada 20 Juni 1969 silam ini banyak belajar tentang kejujuran, integritas, disiplin, kerja keras, hingga kekeluargaan dari orang-orang terdekatnya. Ia mengaku justru mendapatkan pelajaran tentang hidup dari sang nenek, almarhumah Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono yang merupakan pendiri Blue Bird. Tentu pula kedua orang tua turut mendukungnya.

Kakak dari Sri Adriyani Lestari Purnomo dan Adrianto Djokosoetono ini bahkan tak malu-malu untuk mulai bekerja di perusahaan sebagai pekerja paruh waktu sejak duduk di bangku SMA. Hal itu dilakukan untuk melakukan input data.

Noni tak lantas puas dengan kemampuan yang ia miliki. Ia memutuskan untuk meninggalkan tanah air guna mengenyam pendidikan di University of Newcastle, Australia. Tak tanggung-tanggung, ia mengambil Jurusan Teknik Industri sehingga ia banyak belajar mengenai bisnis transportasi.

Hidup di luar negeri memberikan tantangan tersendiri bagi Noni. Ia tak hanya menghadapi tantangan berpisah jauh dari keluarga, tetapi juga dituntut beradaptasi dengan jurusan yang mayoritas diisi para lelaki.

“Di teknik industri saya banyak belajar bagaimana mengefisienkan proses bisnis, tesis saya yang terakhir adalah proyek efisiensi di bengkel,” katanya.

Setelah kembali ke Tanah Air, Noni belajar tentang pemasaran di Jakarta Convention and Exhibition Bureau. Jiwa pekerjanya makin terasah.

Pagi hari, ia bekerja di Jakarta Convention and Exhibition Bureau, sedangkan malam harinya ia bekerja di Blue Bird.

Setelah 1,5 tahun menjalani kehidupan dengan pekerjaan ganda, Noni kembali terbang ke luar negeri untuk belajar University of San Francisco, Amerika Serikat. Demi mendukung kelancaran bisnis Blue Bird, ia mengambil Master of Business Administration (MBA), dengan dua konsentrasi yakni finance (keuangan) dan marketing (pemasaran).

Babak baru kehidupan dimulai ketika ia menamatkan S2. Noni mengaku ingin bekerja di luar negeri, bahkan ia sudah diterima di salah satu perusahaan multinasional di New York, AS. Namun, panggilan hatinya menuntunnya untuk pulang ke tanah air dan meneruskan usaha keluarga.

“Waktu saya mau berangkat satu minggu sebelum pindah dari San Fransisco ke New York, nenek saya telpon. Nenek saya bilang kamu mendingan balik saja, karena kamu bisa kontribusi lebih banyak kalau kamu kembali ke perusahaan pada saat ini. Saya pikir oke, itu namanya juga panggilan. Jadi saya kembali ke Jakarta dan mulai bekerja full time di Blue Bird sampai sekarang,” tuturnya.

Setelah itu, ia mengabdikan dirinya untuk membesarkan Blue Bird. Tahun 2013, Noni dipercaya sebagai Direktur Utama Blue Bird Grup. Tepat pada 22 Mei 2019, Noni diberikan amanah untuk menggantikan ayahnya Purnomo Prawiro sebagai Direktur Utama PT Blue Bird Tbk.

Bagaimana tantangan yang dihadapi Bos Taksi Blue Bires dalam menjalankan bisnisnya. Berikut cuplikan wawancara khusus CNNIndonesia.com dengan Noni Purnomo.

Belajar dari Garasi, Noni Purnomo Warisi Kendali Blue Bird
Apa tantangan memimpin bisnis keluarga, industri transportasi yang mayoritas di kelilingi praktisi laki-laki?

Saya pikir mau perusahaan keluarga ataupun bukan, pasti mempunyai tantangan sendiri-sendiri. Tahun 2015, PT Blue Bird Tbk sudah menjadi perusahaan publik sehingga tata kelola itu sudah lebih terbuka dan transparan. Di dalam keluarga sendiri kami sudah bersatu menjaga kelestarian dari perusahaan itu sendiri.

Waktu almarhumah (Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono, nenek dari Noni Purnomo) meninggal, pesan beliau kepada generasi saya adalah, kamu harus ingat bahwa tanggung jawab kamu adalah bukan hanya kepada keluarga kami, tetapi justru lebih kepada keluarga semua pengemudi dan karyawan.

Positifnya, karena perusahaan keluarga, kami mempunyai pandangan yang lebih panjang, jadi lebih mudah mengambil decision-nya. Kuncinya adalah bagaimana kami bisa saling hormat terhadap sesama yang lain.

Intinya, kami harus menghargai orang itu, dari keseluruhan orang itu, as a person, sebagai manusia seutuhnya bukan dilihat dari bentuk luarnya, apakah orang itu perempuan atau laki-laki.

Tentu saja setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Nah kami diajarkan untuk melihat hal itu, karena setiap orang memiliki sisi feminim dan sisi maskulin. Nah tinggal kita menentukan kapan kita menggunakan sisi feminim kapan kita menggunakan sisi maskulin. Laki-laki pasti harus pernah menggunakan sisi feminimnya, jadi tidak harus selalu sisi maskulin.

Kalau kami pergi ke suatu tempat dengan banyak laki-laki, kadang-kadang memang terintimidasi. Tapi seiring berjalannya waktu, lama-lama terbiasa. Apalagi industri taksi bukan industri yang tinggal di belakang meja. Jadi kami harus turun ke lapangan, bertemu dengan banyak orang, kadang harus bertemu orang lain di jalan.

Jadi saya pikir, justru itu merupakan pembelajaran. Bagaimana kami bisa belajar dari setiap kejadian yang ada. Saya melihat itu sebagai kelebihan, bahwa kadang-kadang berbeda itu malah baik.

Apa kuncinya agar bisa bertahan ketika merasa terintimidasi?
Kalau buat saya, saya justru tidak pernah merasa jadi number one (nomor satu). Jadi semua itu about team work. Mungkin saya justru merasa, ini kembali lagi kepada ayah dan nenek saya. Mereka selalu mengajarkan bahwa pada saat kami di atas, justru kami harus berpikir bagaimana kami bisa membantu bawahan kami untuk bisa bekerja lebih baik.

Saya pikir yang paling utama sebagai CEO atau pemegang puncak pimpinan adalah soal tanggung jawab. Tanggung jawabnya besar sekali, tetapi sebagai manusia biasa, tidak selalu benar. Menurut saya pemimpin yang sukses justru orang yang bisa melihat kekurangan dan kelebihan diri sendiri serta timnya, sehingga kami semua bisa bersatu untuk memajukan perusahaan secara sustainable.

Apa ada cita-cita lain yang ingin ibu capai?
Saya sebenarnya ingin bekerja di perusahaan multinasional di New York, tetapi pada akhirnya harus kembali ke Tanah Air. Memang pada saat itu ada perasaan ‘wah kok gini sih’. Tapi nenek saya selalu bilang, segala sesuatu itu terjadi untuk sesuatu yang lebih baik. Kenyataannya kami tidak pernah tahu, kalau saya ambil jalur itu, terus akhirnya jadi seperti apa. Hal yang penting adalah kami fokus kepada jalur yang ada sekarang.

Soal keinginan, saya pikir yang paling penting long time purpose (tujuan jangka panjang) dahulu. Saya waktu itu pernah membuat visi hidup yang sebetulnya sering saya baca lagi supaya mengingatkan diri saya lagi. Karena apapun yang kami lakukan sekarang itu jangan hanya dilakukan hanya untuk saat ini saja. Karena nanti kami gampang frustasi dan gampang bosan.

Tujuan hidup saya itu adalah satu saya ingin dianggap sebagai ibu yang baik, karena itu buat saya adalah penting. Kemudian saya juga ingin dianggap sebagai anak yang baik, karena itu penting juga. Ketiga sebagai partner yang baik.

Karakteristik yang ada sebagai ibu yang baik itu kan nurturing (mengasuh), tidak hanya untuk anak sendiri, bisa untuk tim di perusahaan juga.

Untuk sebagai anak, it’s about respect (menghormati). Saya pikir itu kuncinya, kalau kami ingin dihargai kami harus pertama menghargai dulu. Saya pernah ditanya juga, dulu bagaimana waktu masuk bengkel pertama kali, kembali lagi karena ini perusahaan keluarga, jadi waktu saya kecil banyak sekali mekanik kami yang saya panggil om. Nah begitu saya secara formal, masuk ke perusahaan dan bekerja di bengkel itu agak bingung juga, kalau dulu saya suka dipangku-pangku kan, sekarang saya harus punya formal relationship. Tetapi kembali lagi, hal-hal seperti itulah yang membuat kami bisa berkembang dengan menghargai.

Jadi waktu saya masuk pertama kali, meskipun saya lulusan S1 teknik saya tidak jadi sok tahu, saya tidak berusaha untuk mengajarkan ilmu yang saya dapat di luar negeri. Tetapi saya belajar dulu, apa yang mereka lakukan, karena yang mereka lakukan selama ini adalah pengalaman yang luar biasa. Jadi saya belajar dulu sehingga kami bisa bertukar pikir. Nah dengan kami mulai bertukar pikiran itulah respect mulai terbentuk

Ketiga adalah to be a good partner, ini dasarnya adalah simbiosis mutualisme. Jadi bagaimana kami bisa saling memberi kepada sesama saling belajar. Jadi kalau kami partnering dengan orang, saya tidak melihat harus win lose ataupun istilahnya lose-lose atau win-win tetapi adalah sinergi.

Dengan sinergi kami tidak selalu win-win tidak selalu lose-lose tidak selalu win lose tetapi tergantung dari apa yang kami bisa sinergikan, Jadi itu yang saya pikir menjadi tujuan akhir saya. Nanti bentuknya apa, jabatannya apa, itu hanya bagian dari perjalanan.

Bagaimana membagi waktu sebagai istri, ibu rumah tangga, dan direktur utama?
Orang kadang-kadang berbicara mengenai work life balance kenapa itu menjadi stresfull karena itu dipisahkan antara work dan life. Seakan akan work itu bukan part of life padahal realitanya work itu part of life. Nah jadi mungkin defisini pertama itu dulu yang harus diubah.

Dulu saya sangat perfeksionis, jadi saya beranggapan saya harus pegang minumum tiga bola begitu seperti pemain sirkus. Tetapi kadang-kadang atau menjadi seringkali bola itu berjatuhan. Setiap kali bolah jatuh saya menjadi kesal.

Akhirnya setelah saya pikir-pikir kenapa juga saya kesal begitu. Akhirnya dengan kami mengerti bahwa life is not perfect and its not mean to be perfect jadi kita harus secara sadar, kita tahu bola mana yang perlu kami taruh pada saat tertentu dan bola mana yang harus kami mainkan di udara.

Nah salah satu yang saya lakukan contohnya saya senang kumpul kelaurga bersama anak-anak, sedangkan waktunya terbatas. Jadi saya mencari hobi yang saya bisa lakukan di rumah. Jadi akhirnya saya belajar masak. Jadi akhirnya kami kalau Sabtu-Minggu bisa masak bersama di rumah dan itu menjadi suatu kegiatan yang bounding.

Jadi kami harus pintar-pintar memilih saja hobi apa yang cocok. Nah di luar itu saya pikir yang paling penting adalah menjaga kesehatan dengan makan.

Soal olah raga, saya senang olahraga bela diri, karena dulu saya kecilnya tidak percaya diri. Ibu saya membantu saya meningkatkan rasa percaya diri saya dengan mengenalkan saya dengan dunia drama. Dengan saya naik panggung belajar drama, meskipun awalnya di ujung tidak berani maju tetapi dengan begitu kepercayaan diri saya terbangun.

Siapa tokoh yang menjadi inspirasi?
Role model saya banyak, jadi tidak satu role model, jadi banyak sekali. Jadi saya punya banyak sekali role model mulai dari almarhumah nenek saya, ayah dan ibu saya. Kemudian saya juga tertarik terhadap Margareth Thatcer, kemudian saya belajar memberi dari Ibu Theresa, jadi banyak sekali. Jadi banyak sekali perempuan yang sangat kuat termasuk juga CEO Bank Dunia Christian Lagarde itu kan sangat cerdas.

Tetapi saya juga mengagumi guru power swing saya, dia bisa cantik dan pintar. Saya juga suka mengagumi anak-anak saya sendiri, karena mereka sangat kreatif, kemudian mereka memberikan support ketika saya sedang down. Jadi role model saya banyak sekali dan bisa dari mana saja.

Dari pengemudi perempuan kami, karena sebagian besar pengemudi perempuan itu adalah single mother jadi mereka harus menghidupi anak-anaknya itu juga seorang role model untuk kami pelajari. Jadi yang ingin saya dapatkan dari role model ada dua hal pertama kami harus bersyukur dengan apa yang kami punya begitu juga harus banyak belajar dari role model tersebut.

Bagaimana strategi sebagai Direktur Utama Blue Bird menghadapi tantangan transportasi ke depan?
Saya beranggapan mau jenis teknologi seperti apapun akan menunjang bisnis kami, karena manusia itu perlu bergerak. Dan bisnis kami adalah bisnis layanan transportasi. Menurut saya tinggal kami mencoba untuk lebih sensitif dan juga lebih mengenal needs (kebutuhan) dari pelanggan kami.

Kami sekarang mempunya slogan baru, adalah dari rumah ke rumah dengan aman. Tujuan kami adalah menjadi bagian besar dari perjalanan satu orang tersebut, mulai dari rumah hingga pulang ke rumah.

Nah caranya ke sana tentu saja kami harus lebih cepat beradaptasi dengan teknologi terutama untuk Blue Bird karena asetnya itu adalah milik kami, maka kami yang harus bisa menggunakan teknologi sehingga kita bisa bekerja lebih efisien dan produktif.

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

Asco Global

Trending