Connect with us

Batam

Ekonomi Batam Bangkit, Ini Pemicunya

Published

on


Finroll.com, Batam — Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batam mencatat pertumbuhan ekonomi Batam hingga triwulan akhir 2019 mencapai 4,72 persen.

Angka tersebut naik jika dibandingkan pada periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya mencapai 4,5 persen.

Kepala BPS Kota Batam, Rahyuddin, menyampaikan hal ini membuktikan ekonomi Batam tidak terlalu terdampak resesi ekonomi global.

“Buktinya ekonomi Batam tumbuh,” ujar Rahyuddin, Rabu (13/11/2019).

Ia memaparkan, ekonomi Batam pernah terpuruk hingga di angka 2,19 persen pada 2017. Kemudian naik di 2018 hingga dua kali lipat yakni 4,5 persen.

“Secara nasional angkanya sekarang 5,01 persen. Kami berharap ekonomi Batam pertumbuhannya di atas nasional ini,” terangnya.

Lanjut Rahyuddin, Batam pernah mencatat sejarah manis dengan pertumbuhan ekonomi di atas nasional.

Sebut saja di 2014 sebesar 7,16 persen. Namun, turun menjadi 6,87 persen di 2015, lalu turun lagi menjadi 5,43 persen pada 2016. Kemudian merosot di 2017 dengan angka 2,19 persen.

“Memang tidak naik signifikan, namun yang terjadi sudah mulai merangkak naik,” ucapnya.

Ia menyebutkan, sektor pariwisata merupakan andalan baru perekonomian. Menurutnya, sumbangsih sektor tersebut sifatnya universal.

“Ini contohnya, kalau satu orang datang bawa uang ke Batam kan makan, minum, belanja juga bisa jadi uang untuk hiburan. Sektor transportasi juga dapat,” papar Rahyuddin.

Sementara Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Batam, Ardiwinata, mengaku pariwisata merupakan sektor andalan baru untuk mengerek naik pertumbuhan ekonomi nasional, tak terkecuali Batam.

Untuk itu, ke depan sektor pariwisata akan terus dikembangkan dengan meningkatkan desnitasi dan event.

“Tahun ini kita ada yang baru seperti Masjid Sultan Mahmud Riayat Syah. Kami optimis wisata kita akan terus meningkat,” katanya.

Sumber Berita : BatamPost.co.id

Advertisement

Batam

Pengacara Taher Ferdian Ragu Keaslian Surat Sakit Saksi Korban Ludijanto Taslim

Published

on

By

Pengacara terdakwa Taher Ferdian alias Lim Chong Peng, Supriyadi, SH, MH mempertanyakan alasan ketidakhadiran saksi korban Ludijanto Taslim. Sebab, berdasarkan Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) Pengadilan Negeri Batam sudah delapan kali persidangan tak pernah hadir.

Menurut Supriyadi, seharusnya sidang tersebut sesuai pasal 184 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) disebutkan bahwa alat bukti yang sah adalah Dalam Pasal 184 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (”KUHAP”) disebutkan bahwa alat bukti yang sah adalah: keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk dan keterangan terdakwa.

“Runutannya adalah keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk dan keterangan terdakwa. Nah sekarang sudah masuk ke keterangan ahli, Tapi saksi korban tak pernah nongol. Ini lompatan logika menurut kami,” ujar Supriyadi di hadapan persidangan Senin (28/10) siang.

Kemudian, oleh JPU Samsul Sitinjak, Rosmalina Sembiring, dan satu JPU dari Kajati Kepri mengatakan, saat ini saksi korban Ludijanto Taslim masih berada di negeri Paman Sam, Amerika Serikat berobat karena sakit.

“Jadi majelis, Pasal 162 ayat (1) KUHAP berbunyi, “Jika saksi sesudah memberi keterangan dalam penyidikan meninggal dunia atau karena halangan yang sah tidak dapat hadir di sidang atau tidak dipanggil karena jauh tempat kediaman atau tempat tinggalnya atau karena sebab lain yang berhubungan dengan kepentingan negara, maka keterangan yang telah diberikan itu dibacakan. Jadi kami rasa begitu,” ujar JPU itu.

Kemudian, Ketua Majelis Hakim Dwi Nuramanu yang didampingi Yona Lamerosa Ketaren dan Taufik Abdul Halim Nainggolan menyela perkataan JPU. Katanya, memang sesuai KUHAP runutan keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk dan keterangan terdakwa. “Tapi karena kemaren itu kita sepakat melahirkan asas sederhana, cepat, dan biaya ringan makanya kita lanjutkan. Tapi jangan juga tak dihadirkan. Alasannya apa,” tanya Dwi Nuramanu.

Dwi Nuramanu memerintahkan, agar JPU dapat menghadirkan saksi Ludijanto Taslim pada sidang Selasa 5 November 2019 mendatang. Pantauan, saat JPU memberikan salinan surat kepada hakim soal penguatan ketidakhadiran Ludija

“Ini kok tak ada stempelnya ini? Kalau sakit riwayat sakit karena apa? Apakah tak bisa berjalan atau tidak, Kalau surat itu berbahasa asing harus diterjemahkan oleh orang yang bersertfikat dan di bawah sumpah, KUHAP tak mengenal bahasa asing selain Bahasa Indonesia. Semua surat ini harus asli,” tegas Dwi.

Continue Reading

Batam

Sidang Taher Ferdian, Saksi : Tidak Ada Jual Beli Mesin

Published

on

By

Dakwaan pasal 374 KUHP yang dialamatkan kepada Taher Ferdian alias Lim Chong Peng semakin terang. Usai persidangan Kamis (24/10), sejumlah wartawan mencerca pengacara Supriyadi SH MH. Mesin yang merupakan objek dalam perkara ini tidak lah dijual. Hal tersebut terungkap saat saksi , Kia Sai alias Willian memberikan saksi di Pengadilan Negeri Batam.

“Tadi sama-sama kita sudah mendengarkan keterangan saksi Willian. Yang dalam dakwaan sebagai pembeli mesin itu.Dan kami sudah bongkar kebenaran materil di muka persidangan. Tinggal kebijaksanaan hakim. Kami yakin, klien kami bebas demi hukum,” katanya Kamis.

Lanjut Supriyadi, mesin plastik tersebut sudah berumur 30 tahun. Oleh kliennya Tahir pernah menguasakan kepada Willian. Untuk dicari calon pembeli. Hanya saja karena kondisi mesin rusak dan berkarat, maka otomatis mesin itu dipindahkan dari gudang.

“Mau diperbaiki makanya dipindahkan. Jadi tidak dijual oleh klien kami, itu yang benar. Selain itu, atap perusahaan yang ada di Sekupang itu sudah bocor-bocor. Nah untuk mengantisipasi agar tak rusak berkepanjangan maka dipindahkan. Jadi mohon ansumsi di luar sana yang mengatakan klien kami jual, sama sekali tidak lah benar,” ucap pengacara ternama asal Jakarta itu.

Selain itu, ketidakhadiran Ludijanto Taslim sebagai saksi korban tidak pernah hadir dalam persidangan. Menurut Supriyadi, jika merujuk pada pasal 184 ayat (1) KUHAP disebutkan bahwa alat bukti yang sah adalah keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk dan keterangan terdakwa.

“Jadi keterangan saksi yang menjadi korban dulu diperiksa.Tapi ini ada lompatan logika menurut kami. Bahwa saksi korban ini patut kami duga memberikan keterangan palsu sejak awal perkara ini,” katanya.

Sebelumnya,Tahir Ferdian alias Lim Chong Peng kembali menjalani persidangan di Pengadilan Negeri Batam, Kamis (24/10) pagi. Dengan agenda pemeriksaan saksi yang diajukan Jaksa Penuntut Umum (JPU). Empat saksi yang diajukan antara lain Andreas, Benny, Maman, Kia Sai alias Willian,Suarianto. Saksi Andreas merupakan calon pembeli aset PT Taindo Citratama, Benny perwakilan dari Bank BCA, Suarianto Direktur pelaksana PT. Taindo Citratama, Willian saksi calon pembeli. Sedangkan Maman saksi dari kantor jasa penilaian publik (KJPP).

Willian merupakan saksi yang pertama diperiksa Ketua Majelis Hakim Dwi Nuramanu. Yang didampingi Yona Lamerosa Ketaren dan Taufik Abdul Halim Nainggolan. Di depan majelis hakim, Willian menceritakan tentang aset perusahaan sesuai dakwaan JPU. Dalam keterangannya, aset tersebut belum dibeli dari Tahir. Sebagaimana dakwaan JPU.

“Jadi mesin plastik dari PT Taindo Citratama itu tidak benar kalau saya itu membelinya. Benar mesin itu sudah dibawa ke gudang saya yang ada di Bukit Senyum (Batam). Tujuannya adalah, untuk mau disservice. Karena mesin pak Tahir itu sudah rusak karena lama tidak beroperasi,” kata Willian.

Atas kesaksi Willian, hakim dan pengunjung sidang kaget. Pasalnya, dalam BAP pemeriksaan polisi semula dan dilanjutkan dalam dakwaan, mesin yang menjadi objek perakara dijual Tahir kepada Willian.

“Wah, sebentar-sebentar. Tadi saudara bilang tidak ada penjualan mesin. Loh, sekarang kenapa sampai ke persidangan ini kalau tak ada penjualan mesin itu. Apakah saudara yakin atas keterangan ini?,” tanya Nuramanu.

Willian lagi-lagi menjawab, bahwa mesin dan aset lain yang dimaksud dalam perkara ini belum terjadi jual-beli antara dia dengan Tahir. “Tidak ada pak terjadi jual-beli. Sekali lagi saya tegaskan, mesin itu dipindahkan karena mau diperbaiki,” tegas Willian.

Continue Reading

Batam

Wing Air Terbang Perdana Dan Satu-satunya Layani Bandung Ke Banyuwangi  

Published

on

Finroll.com — Bandung menjadi salah satu tujuan favorit wisatawan saat mengunjungi kawasan ini dan sekitarnya, seperti MICE (Meeting, Incentive, Convention and Exhibition) dan pendidikan, juga menawarkan beragam objek wisata popular, antara lain keindahan alam, didukung iklim sejuk dan topografi daerahnya berlatar pegunungan, wisata sejarah, kuliner, petualangan, seni dan budaya.

Setelah menjelajahi Bandung, saatnya singgah ke ujung tenggara Pulau Jawa. Banyuwangi memang dikenal banyak wisata unggulan, menyimpan pesona begitu menakjubkan. Keunikannya ada fenomena api biru (blue fire) satu-satunya di dunia.

Khusus penggiat alam, di Baluran pemandangan bernuansa Afrika siap  memanjakan mata, apalagi ditambah safari saat pagi atau sore hari untuk melihat satwa liar keluar mencari makan menuju savana.

Tak heran, bila belakangan ini membuat penasaran pelancong (travelers) untuk segera berkunjung. Wings Air (kode penerbangan IW)member of Lion Air Group bersiap meluncurkan layanan domestik secara berjadwal dari Bandung ke Banyuwangi mulai 8 November 2019.

Wings Air di tahap awal menyediakan penerbangan tujuh kali dalam sepekan atau frekuensi satu kali setiap hari. Hal ini akan menjadikan Wings Air sebagai maskapai pertama dan satu-satunya melayani Bandung – Banyuwangi – Bandung.

Wings Air bernomor IW-1918 akan mengudara dari Bandar Udara Internasional Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat (BDO) pukul 12.20 WIB dan dijadwalkan mendarat di Bandar Udara Banyuwangi, Blimbingsari, Jawa Timur (BWX) pada 14.15 WIB. Rute kembali dilayani pada penerbangan di hari yang sama, Wings Air bernomor IW-1919 akan terbang dari Banyuwangi pada 14.35 WIB dan diperkirakan tiba di Bandung pukul 16.40 WIB.

Wings Air optimis, tersedia penerbangan langsung Bandung ke Banyuwangi bisa mempermudah akses bagi travelers dalam mewujudkan impian berkunjung ke berbagai destinasi spotmengagumkan dapat terwujud. Wings Air optimis akan tercipta interkonektivitas terbaik antardestinasi, menarik kunjungan wisatawan serta pemerataan pusat pertumbuhan ekonomi baru.

Jaringan Wings Air tersebut memberikan nilai lebih kepada travelers, karena waktu tempuh antardestinasi relatif singkat, efektif dan efisien. Dengan demikian diharapkan menjadi alternatif baru ketika beperigan serta akan melengkapi pilihan penerbangan yang saat ini sudah beroperasi secara transit Bandung – Surabaya – Banyuwangi pergi pulang.

Travelers juga memiliki kesempatan luas berkunjung ke destinasi berikutnya secara terkoneksi (connecting flight) sesuai konsep Wings Air sebagai feeder atau penghubung melalui Bandar Udara Husein Sastranegara bersama Lion Air Group antara lain Jakarta Halim Perdanakusuma, Bandar Lampung, Jambi, Bengkulu, Tanjung Pandan, Pangkalpinang, Semarang, Yogyakarta serta kota favorit lainnya.

Sedangkan dari Banyuwangi langsung ke Surabaya, kemudian terhubung ke Sumenep, Jakarta, Palembang, Batam, Palembang, Padang, Medan, Pontianak, Balikpapan, Banjarmasin, Tarakan, Makassar, Palu, Manado, Ambon dan lainnya.

Wings Air memproyeksikan permintaan pasar Bandung – Banyuwangi – Bandung tumbuh positif. Kehadiran akses jalur udara di koridor Pulau Jawa ini menjadi salah satu keseriusan Wings Air dalam menjembatani antarwilayah, dengan tetap mengutamakan faktor keselamatan, keamanan dan kenyamanan penerbangan.

Upaya meningkatkan minat traveling, Wings Air mengoperasikan pesawat turboprop tipe ATR 72-500 atau ATR 72-600.  Wings Air menawarkan pengalaman terbang menggunakan armada terdiri 72 kursi kelas ekonomi, paling nyaman dan canggih di kelasnya yang mampu menerbangi rute jarak pendek secara point to point.

Penerbangan akan semakin berkesan, interior pesawat didesain modern dan futuristik, sehingga bisa lebih santai saat berada di kabin. Travelers serasa menikmati jet pribadi karena konfigurasi kursi 2-2, dapat bersantai ketika di kabin atau hanya sekadar menikmati pemandangan memukau dari ketinggian, daya tarik bahwa pesawat mampu terbang rendah. Selain itu, bisa menikmati dan melihat pemandangan luar yang akan memanjakan mata karena pesawat mampu terbang dengan rendah.

Dalam mempersiapkan perjalanan semakin menyenangkan, travelersdapat memulai rencana penerbangan lebih awal. Wings Air menghadirkan layanan menurut kebutuhan, apabila akan membawa bagasi maka dapat membeli. Sebaliknya, jika bepergian tanpa bagasi, maka tidak perlu membayar bagasi.

Bagi travelers yang akan membawa bagasi bisa membeli voucher bagasi (pre-paid baggage) melalui agen perjalanan (agent travel), www.lionair.co.id dan kantor penjualan tiket Lion Air Group. Travelers juga bisa membeli dengan harga lebih hemat pada saat dan setelah pembelian tiket (issued ticket), dengan batas waktu maksimum enam jam sebelum keberangkatan.

Ketentuan barang bawaan ke kabin (hand carry), aturan yang berlaku yaitu setiap pelanggan (kecuali bayi), diperbolehkan membawa satu bagasi kabin (cabin baggage) dengan maksimum berat 7 kg dan satu barang pribadi (personal item) seperti tas laptop/ perlengkapan bayi/ bahan membaca/ kamera/ tas jinjing wanita (hand luggage) sesuai ketentuan maksimum ukuran dimensi bagasi kabin.(red)

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

Asco Global

Trending