Connect with us

Ekonomi Global

Ekonomi China Melambat 6,4 % Pada Kuartal Akhir Tahun 2018

Published

on


Ekonomi China Melambat 6,4 % Pada Kuartal Akhir Tahun 2018

Finroll.com – Pertumbuhan ekonomi China mulai melambat. Ekonomi China hanya tumbuh 6,4 persen pada kuartal keempat pada tahun 2018, atau turun 6,5% pada kuartal sebelumnya.

Seperti dikutip sindo yang juga melansir BBC, Senin (21/1/2018) sepanjang satu tahun penuh, ekonomi China telah meningkat 6,6% namun raihan tersebut berada dalam tingkatan paling lambat sejak 1990. Data ini sejalan dengan perkiraan tetapi menggarisbawahi kekhawatiran baru-baru ini tentang melemahnya pertumbuhan ekonomi terbesar kedua di dunia. Tingkat ekspansi China telah meningkatkan kecemasan tentang dampak potensial pada ekonomi global.

Perang dagang dengan AS telah menambah prospek suram. Ditambah angka resmi yang dirilis hari Senin menunjukkan tingkat pertumbuhan kuartalan terlemah sejak krisis keuangan global. Sementara pengamat China menyarankan agar berhati-hati dengan angka PDB resmi Beijing, data tersebut dipandang sebagai indikator yang berguna untuk lintas pertumbuhan negara.

Peringatan Perlambatan

Pertumbuhan Negeri Tirai Bambu -julukan China- telah mereda selama bertahun-tahun, tetapi kekhawatiran atas laju perlambatan di China telah meningkat dalam beberapa bulan terakhir karena perusahaan membunyikan alarm atas kondisi pasar. Awal bulan ini Apple memperingatkan pelemahan tajam atas penjualan di China yang diyakini bakal menekan pendapatan.

Produsen mobil dan perusahaan lain juga telah berbicara tentang dampak perang dagang dengan AS. Pemerintah China telah mendorong pergeserab dari pertumbuhan yang didorong ekspor untuk lebih bergantung pada konsumsi domestik. Pembuat kebijakan di Beijing telah meningkatkan upaya dalam beberapa bulan terakhir untuk mendukung ekonomi.

Langkah-langkah untuk meningkatkan permintaan termasuk mempercepat proyek-proyek konstruksi, memotong beberapa pajak, dan mengurangi tingkat cadangan yang perlu dimiliki bank. Ekonom Capital Economics China yakni Julian Evans-Pritchard mengatakan ekonomi Tiongkok tetap lemah pada akhir 2018 “tetapi bertahan lebih baik daripada yang dikhawatirkan banyak orang”.

Advertisement Valbury

Ekonomi Global

Jelang Pertemuan OPEC Pekan Ini Harga Minyak Melambung

Published

on

Finroll – Jakarta, Harga minyak dunia melambung pada perdagangan Selasa (2/6), waktu Amerika Serikat (AS). Penguatan terjadi di tengah optimisme perpanjangan pemangkasan produksi oleh Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya melalui pertemuan video conference yang akan dilakukan pada Kamis (5/6) pekan ini.

Mengutip Antara, Rabu (3/6), minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Agustus naik US$1,25 atau 3,3 persen menjadi US$39,57 per barel di London ICE Futures Exchange.

Sedangkan, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli bertambah US$1,37 atau 3,9 persen menjadi US$36,81 per barel di New York Mercantile Exchange.

Kedua harga tersebut mendekati posisi tertinggi dalam tiga minggu terakhir.

“Ada antisipasi bahwa OPEC+ akan setuju untuk memperpanjang level mereka saat ini selama dua bulan lagi. Dan pada saat yang sama, pasar mengantisipasi bahwa pembukaan kembali ekonomi di seluruh dunia akan meningkatkan permintaan, sehingga pada Agustus, pasar minyak akan seimbang,” terang Presiden Konsultan Lipow Oil Associates Andy Lipow.

Diketahui, OPEC+ tengah mempertimbangkan memperpanjang pengurangan produksi sebesar 9,7 juta barel per hari (bph) atau sekitar 10 persen dari produksi global pada Juli dan Agustus.

Rencana awalnya, pemotongan hanya dilakukan untuk Mei dan Juni yang turun menjadi 7,7 juta bph.

Sementara, persediaan minyak mentah AS turun 483 ribu barel dalam sepekan hingga 29 Mei menjadi 531 juta barel. Namun, masih rendah jika dibandingkan dengan ekspektasi para analis untuk meningkatkan tiga juta barel.

Sumber : CNN Indonesia

 

Continue Reading

Ekonomi Global

Akibat Tarik Menarik Sentimen Harga Minyak Dunia Stabil

Published

on

Finroll – Jakarta, Harga minyak berjangka bergerak stabil pada akhir perdagangan Senin (1/6) waktu AS atau Selasa (2/6) pagi WIB akibat tarik menarik sentimen. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli turun tipis lima sen atau 0,1 persen ke US$35,44 per barel.

Sementara itu, minyak mentah Brent untuk pengiriman Agustus naik tipis US$0,48 atau 1,3 persen ke US$38,32 dolar AS per barel.

Minyak pada awal pekan mendapatkan tekanan dari peningkatan ketegangan hubungan antara AS dengan China. Tekanan meningkat setelah China memperingatkan akan melakukan pembalasan atas langkah AS di Hong Kong.

China telah meminta perusahaan milik negara untuk menghentikan pembelian kedelai dan babi dari Amerika Serikat. Langkah itu mereka lakukan setelah Washington mengatakan akan menghilangkan perlakuan khusus AS bagi Hong Kong demi menghukum Beijing.

“Kemungkinan meningkatnya ketegangan memang menimbulkan risiko bagi kenaikan harga minyak baru-baru ini,” kata Harry Tchilinguirian, kepala penelitian komoditas di BNP Paribas seperti dikutip dari Antara, Selasa (2/6).

Namun, di tengah tekanan tersebut, minyak mendapatkan angin segar dari kabar bahwa OPEC dan Rusia hampir mencapai kesepakatan memperpanjang pemangkasan produksi.

Harga minyak mendapat dukungan setelah berita bahwa Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan Rusia, yang dikenal sebagai OPEC+, bergerak lebih dekat ke kompromi pada perpanjangan pemotongan produksi minyak dan sedang membahas perpanjangan pembatasan satu hingga dua bulan.

Aljazair, yang memegang jabatan presiden OPEC telah mengusulkan agar OPEC+ memajukan pertemuan dari yang awalnya akan dilaksanakan pada 9-10 Juni menjadi 4 Juni.

OPEC+ sepakat pada April untuk memangkas produksi sebesar 9,7 juta barel per hari untuk Mei dan Juni karena pandemi COVID-19 merusak permintaan. Cadangan di Cushing, Oklahoma, turun menjadi 54,3 juta barel dalam seminggu yang berakhir 29 Mei, kata para pedagang, mengutip laporan Genscape pada Senin (1/6) kemarin.

Bank of America mengatakan pada Senin (1/6/2020) bahwa mereka percaya bahwa penutupan minyak Amerika Utara memuncak pada Mei. “Harga minyak telah menguat ke tingkat di mana penutupan tidak lagi masuk akal dan seharusnya benar-benar mendorong produsen untuk segera mengembalikan produksi,” menurut laporan BofA Global Research.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

Ekonomi Global

Akibat Konflik AS-China Soal Hong Kong Minyak Dunia Anjlok

Published

on

Finroll – Jakarta, Minyak berjangka jatuh pada akhir perdagangan Rabu (27/5) waktu AS atau Kamis pagi waktu Indonesia. Kejatuhan terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan sedang memikirkan respons kuat terhadap undang-undang keamanan yang diusulkan China di Hong Kong.

Kejatuhan juga dipicu keraguan pasar atas komitmen Rusia memangkas produksi minyak. Dikutip dari Antara, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli turun US$1,54 atau 4,5 persen jadi US$32,81 per barel.

Sementara itu minyak mentah Brent untuk pengiriman Juli turun US$1,43 atau 4,6 persen ke level US$34,74 dolar AS per barel.

Kelompok yang dikenal sebagai OPEC+ ini memangkas produksi hampir 10 juta barel per hari (bph) pada Mei dan Juni. Presiden Rusia Vladimir Putin dan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman setuju melanjutkan koordinasi lebih erat dan lanjut dalam membatasi produksi minyak.

Namun banyak yang merasa Rusia mengirimkan sinyal beragam menjelang pertemuan antara Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya dalam waktu kurang dari dua minggu mendatang.

“Kedengarannya hebat di atas kertas, tetapi pasar menahan kegembiraan sampai kami mendapatkan rincian lebih lanjut tentang apakah akan ada pemotongan, berapa banyak barel akan dipotong dan lamanya pemotongan,” kata Analis Senior Price Futures Group, Phil Flynn.

Sementara itu ketegangan antara Amerika Serikat dan China terus meningkat. Peningkatan terjadi setelah China mengumumkan rencana untuk memberlakukan undang-undang keamanan nasional baru di Hong Kong.

Pengumuman itu memicu protes di jalan-jalan. Tak hanya itu, dari AS, Menteri Luar Negeri Negeri Paman Sam Mike Pompeo mengatakan Hong Kong tidak lagi memerlukan perlakuan khusus berdasarkan hukum AS.

Pernyataan itu memberikan pukulan terhadap Hong Kong terkait status mereka sebagai pusat keuangan utama. Selain dua faktor tersebut, penurunan harga minyak juga terjadi akibat dampak ekonomi pandemi virus corona.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading
Advertisement

Advertisement

Trending