Connect with us

Politik

Erick Thohir Prediksi Debat Capres Jilid 2 Bakal Seru, Ini Alasannya

Published

on


Finroll.com – Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf, Erick Thohir memprediksi debat capres jilid 2 akan berjalan seru dan menarik.

Ini dikarenakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) tidak akan lagi memberikan kisi-kisi pertanyaan pada debat kedua ini.

“Ya tentu agak berbeda pertanyaan tidak dibuka, tapi justru ini yang menarik,” ujar Erick Thohir di Jakarta, Selasa (12/2).

Selain itu Erick meminta masyarakat supaya tidak cuma menjadi penonton dalam debat nanti, tetapi ajang ini bisa sebagai edukasi bagi pemilih yang masih bimbang menentukan pilihan.

TKN menurut Erick sudah mempersiapkan materi debat bagi paslon 01. TKN juga telah memberikan materi kepada capres Jokowi untuk dipelajari. Sementara data-data yang didapatkan Jokowi berasal dari kementerian dan lembaga lainnya.

Di sisi lain TKN juga berencana akan mengadakan diskusi internal dengan Jokowi sebelum debat dilakukan. Ini dimaksudkan agar pagelaran debat kandidat calon kepala negara nanti tidak keluar dari tema yang sudah di tetapkan.

Baca Lainnya: Debat Pilpres 2019 Season II, KPU Siapkan Konsep Berbeda

Debat Pilpres jilid dua akan digelar pada Minggu (17/2) esok, di Hotel Sultan, Jakarta. Peserta debat yakni dua calon presiden (capres) yang akan membahas tema energi, pangan, infrastruktur, sumber daya alam, dan lingkungan hidup.

Sebelumnya KPU menegaskan seluruh panelis dan moderator pada debat kedua hingga debat terakhir pilpres, mesti berkomitmen untuk tidak membocorkan kisi-kisi soal. Komitmen tersebut ditegaskan dalam pakta integritas yang ditandatangani oleh semua panelis dan moderator.

Sumber: Republika

Politik

Arti Pertemuan Anies-AHY dan Peluang Berduet di Pilpres 2024

Published

on

By

Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) bertemu dengan Gubernur DKI Anies Baswedan. Dalam pertemuan itu, AHY sempat menyinggung terkait nostalgia keduanya. Lantas apa sebetulnya arti dari pertemuan keduanya?

Keduanya diketahui sempat maju memperebutkan kursi nomor 1 di DKI Jakarta dalam Pilgub DKI Jakarta 2017. Namun saat itu pasangan Anies-Sandiaga Uno unggul jauh dari pasangan AHY-Sylviana, yang kalah pada putaran pertama.

Pakar politik Universitas Paramadina Hendri Satrio mencoba mengartikan maksud pertemuan keduanya setelah persaingan 4 tahun silam. Hensat, panggilan akrab Hendri, menyebut pertemuan keduanya wajar diartikan untuk membahas Pilpres 2024.

“Kemarin menarik pembahasannya bisa macem-macem, karena dua-duanya tokoh politik dan sering disebut-sebut oleh banyak lembaga survei sebagai calon presiden, ya wajar kalau kemudian banyak pihak yang lagi-lagi menduga-duga bahwa perbincangannya salah satunya tiket capres-cawapres, gitu,” kata Hensat saat dihubungi, Jumat (7/5/2021).

Hensat menilai kemungkinan pembahasan Pilpres 2024 menguat antara Anies dan AHY lantaran keduanya memiliki elektabilitas dan popularitas di masyarakat. Terlebih lagi, kata dia, AHY bisa dipastikan di atas kertas memegang tiket Pilpres 2024.

“Apalagi kan Mas AHY di atas kertas ya, salah satu pemegang tiket yang sudah pasti gitu lo, kecuali ada perubahan-perubahan tentang koalisi di ujung. Tapi, sebagai Ketua Umum Demokrat, dia pegang tiket nih ketimbang dibandingkan dengan Mas Anies, yang memang menurut hasil survei kedaiKOPI hasil elektabilitasnya tertinggi di antara kepala daerah di wilayah barat Indonesia,” ucapnya.

Lantas mungkinkah keduanya bersanding di Pilpres 2024? Hensat menyebut kemungkinan tersebut terbuka untuk keduanya berpasangan. Pasalnya, keduanya bisa saling mendompleng popularitas dan elektabilitas.

“Kalau apakah mungkin bersanding, ya semuanya masih mungkin saat ini, apakah keduanya saling mendompleng popularitas dan elektabilitas ya dua-duanya populer walaupun elektabilitas Mas Anies lebih tinggi kan dibandingkan pemimpin wilayah barat lainnya. Tapi harus dipupuk terus supaya namanya berada di permukaan,” jelasnya.

Meski begitu, Hensat menilai peluang keduanya akan diduetkan pada Pilpres 2024 cenderung tipis. Dia beralasan Anies hingga kini belum masuk ke salah satu partai, sedangkan Demokrat masih butuh dukungan dari partai lain.

“Berpeluang berduet, tapi tetap butuh partai lain. Anies kan belum ada partainya, kalau Demokrat sendiri kan masih susah ya, jadi berpeluang tapi mungkin kecil kemungkinannya terjadi di 2024, karena Anies masih menimbang-nimbang, salah satu yang bisa didapat Anies kan mungkin konvensi NasDem. Makanya kecuali kan kalau PDIP, Gerindra, Golkar, mungkin cuma butuh 1 partai saja, kalau Demokrat dia butuh 2 partai tambahan. Jadi berpeluang tapi tipis peluangnya kemungkinan terjadinya,” ungkapnya.

Lebih lanjut Hensat mengatakan posisi Partai Demokrat saat ini tidak terlalu menguntungkan Anies jika maju pada Pilpres 2024. Skenario yang paling mungkin menurutnya adalah Demokrat mendorong Anies Baswedan maju Pilpres 2024 dengan pasangan lain.

“Ya posisi Demokrat yang tidak terlalu menguntungkan gitu ya, yang bisa terjadi menurut saya gini, kalau terjadi kerja sama atau ya kerja sama saling menguntungkan antara AHY dan Anies ya kemungkinan justru Demokrat ikut mendorong Anies sebagai capres, nah itu kan menguntungkan juga untuk Demokrat sehingga mempunyai calon presiden yang bisa dijual nantinya dan bisa menambah elektabilitas Demokrat juga nantinya, tapi kalau berpasangan saya rasa agak kecil kemungkinannya,” jelasnya.

Continue Reading

Politik

Buah Manis Kudeta, Elektabilitas Partai Demokrat Naik

Published

on

By

Elektabilitas Partai Demokrat terbesar kedua setelah PDIP berdasarkan hasil survei terbaru yang dirilis Lembaga Pendidikan, Penelitian, Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES). Menanggapinya, Deputi Bappilu DPP Partai Demokrat, Kamhar Lakumani, menyebut naiknya elektabilitas Partai Demokrat tersebut merupakan bentuk keberhasilan Partai Demokrat melewati upaya Gerakan Pengambilalihan Kepemimpinan Partai Demokrat (GPK PD) yang dilakukan Kepala Staf Presiden (KSP) Jenderal (Purn) Moeldoko.

“Ini sejalan dengan hasil survei LP3ES tentang isu sosial politik yang menguasai pemberitaan dan paling menarik perhatian publik dalam tiga bulan terakhir (Februari-April) adalah konflik Partai Demokrat sebesar 26,7 persen melampaui isu vaksinasi dan penanganan Covid-19 yang hanya sebesar 7,6 persen,” kata Kamhar dalam keterangan tertulisnya kepada Republika, Kamis (6/5).

Kamhar juga mengatakan keberhasilan Partai Demokrat melewati upaya kudeta  tersebut menunjukkan kualitas kepemimpinan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Ia menuturkan ada empat hal yang menjadi kunci sukses yang menunjukkan bobot kepemimpinan AHY.

Pertama, yaitu kecepatan dalam merespons persoalan dan mengambil keputusan. Kedua, ketepatan menerapkan strategi dengan mengajak publik dan kelompok strategis (civil society) termasuk media massa untuk melakukan kontrol demokrasi atas kekuasaan.

Kemudian keberanian, karena yang dihadapi adalah KSP Moeldoko purnawirawan Jenderal yang berada dikekuasaan, dan yang keempat yaitu kemampuan AHY dalam membangun dan menjaga soliditas kader.

Partai Demokrat juga merespons hasil survei yang menempatkan AHY di jajaran popularitas figur ketua umum partai politik. Dalam survei tersebut elektabilitas AHY sebesar 21,5 persen, di bawah Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto (27,6 persen), dan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri (23,3 persen).

“Ini menjadi capaian yang luar biasa, apalagi Mas Ketum baru satu tahun mengemban mandat sebagai ketua umum Partai Demokrat,” ungkapnya.

Kamhar menyebut hasil survei tersebut menjadi capaian dan modal penting bagi Partai Demokrat untuk semakin optimis menatap dan menuju 2024. Kamhar mengungkapkan, Kepala Bappilu DPP Partai Demokrat Andi Arief kerap berpesan kepada kader Partai Demokrat agar tidak terlena dan mengajak seluruh kader untuk bekerja keras, dan terus menjaga kekompakan dan soliditas. 

“Mudah-mudahan Partai Demokrat bisa menerobos dua besar atau minimal tiga  besar,” ucapnya.

Sebelumnya (LP3ES) merilis hasil survei terbaru terkait elektabilitas Parpol. Berdasarkan hasil survei, tiga posisi teratas ditempati oleh PDIP, Demokrat dan Gerindra.

PDIP masih menjadi parpol dengan elektabilitas tertinggi dengan 24 persen. Kemudian, Partai Demokrat berhasil menyalip Gerindra untuk berada di urutan kedua. 

Elektabilitas Demokrat berada pada angka 11,2 persen sementara Gerindra di posisi ketiga dengan 9 persen. Sementara Partai Golkar berada di posisi keempat dengan 7,4 persen. 

Continue Reading

Politik

Pilpres 3 Tahun Lagi, Tapi Bursa Capres Sudah Panas

Published

on

By

Pilpres 2024 masih tiga tahun lagi, tapi bursa capresnya sudah panas. Apalagi di tahun tersebut tidak ada nama Joko Widodo (Jokowi). Karena UUD 1945 membatasi jabatannya dua periode.

Meski Jokowi sudah tidak bisa mencalonkan diri lagi, tapi namanya masih menjadi pilihan bagi warga. Setidaknya dalam survei yang dilakukan oleh Litbang Kompas pada 13-26 April 2021.

Dari 1.200 responden yang dipilih secara acak, sebanyak 24 persen memilih Jokowi untuk menjadi presiden dalam Pilpres 2024.

Survei Litbang Kompas dilakukan dengan metode wawancara tatap muka. Tingkat kepercayaan survei sebesar 95 persen dengan margin eror kurang lebih 2,8 persen.

Dalam survei juga dilakukan simulasi bila nama Jokowi tidak ada. Peta kekuatan pun berubah.

Elektabilitas tertinggi jadi milik Prabowo Subianto dengan 21 persen. Di peringkat selanjutnya ada Gubernur Anies Baswedan dengan elektabilitas 12 persen dan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dengan 10 persen.

Selain itu juga ada Sandiaga dan Ahok yang memiliki elektabilitas 5 persen. Diikuti Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) 4 persen, Risma dan Gatot Nurmantyo 3 persen, dan Mahfud MD 1 persen.

Namun, rupanya suara pemilih Jokowi sebagaian besar tidak diberikan ke nama-nama tersebut. Kebanyakan justru belum menentukan pilihannya. Hal ini terbukti dari meningkatnya responden yang tak menjawab. Semula sebesar 17,4 persen, tanpa nama Jokowi menjadi 29,3 persen.

Ketua Jokowi Mania, Immanuel Ebenezer mengamini jika pendukung Jokowi belum menentukan pilihannya setelah jagoannya tidak bisa maju lagi dalam Pilpres 2024.

Ia mengatakan arah dukungan mereka di 2024 tergantung pada keputusan Jokowi sendiri. Sebagai pendukung Jokowi, mereka akan mendukung siapa pun yang didukung Jokowi.

“Gini, ya, karena kita pendukung Jokowi, kan, kemudian kita lihat hasil survei Litbang Kompas, kan, ada tiga. Jokowi, Prabowo, dan Anies.

Karena kita pendukung Jokowi, kita loyalitas ke Jokowi,” kata Immanuel dalam keterangannya, Selasa (4/5).

Dia yakin pilihan Jokowi akan menjadi yang terbaik, sehingga sudah selayaknya untuk didukung. Artinya, Jokowi pun diyakini akan mendukung calon yang bisa melanjutkan Nawacita.

“Kita yakin enggak mungkin Nawacita dikawal dengan dua periode, apalagi satu periode terakhir dihantam bencana COVID-19. Artinya dia butuh orang yang bisa mengawal program-program dia agar legacy-nya dia enggak hancur,” ujarnya.

Oleh karena itu, dia memastikan seluruh anggota Jokowi Mania akan mematuhi keputusan untuk mendukung calon yang dipilih Jokowi di 2024.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari menilai hasil survei ini harus menjadi bahan pertimbangan parpol untuk memilih capres yang diusung.

Qodari berharap parpol menghadirkan calon yang disukai masyarakat seperti Jokowi.

“Jadi menurut saya, parpol harus melihat dan mempertimbangkan ini. Jangan sampai parpol mengajukan calon yang tidak ada di hati masyarakat. Justru itu nanti akan menimbulkan sebuah situasi yang kontradiktif. Bagaimana pemimpin itu sesungguhnya tidak didukung dengan hati oleh masyarakat,” tutup dia.

Continue Reading

Trending