Connect with us

Ekonomi Global

ESDM Mencatat Nilai Impor Minyak Indonesia Menyusut Sekitar US$1,66 Miliar

Published

on


Finroll.com — Dari hasil catatan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) nilai impor minyak Indonesia menyusut sekitar US$1,66 miliar pada periode Januari-Juli 2019. Penurunan tersebut berkat pelaksanaan mandatori campuran biodiesel 20 persen ke minyak solar (B20) yang dilakukan sejak tahun lalu.

Penghematan nilai impor minyak berasal dari realisasi penggunaan biodiesel di dalam negeri yang mencapai 2,94 juta kiloliter (kl) selama Januari-Juli 2019.

“Kami evaluasi berapa penghematan dari penyerapan B20. Itu dari berkurangnya impor solar,” ujar Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar, seperti di lansir dari laman CNN Indonesia, di Jakarta, Rabu (13/8/2019).

Meski berhasil menghemat nilai impor minyak, kinerja penggunaan biodiesel di dalam negeri sejatinya masih belum mencapai setengah dari target. Padahal, sudah mencapai tujuh bulan. Tercatat, realisasi penyaluran biodiesel baru 47,41 persen dari target pemerintah sepanjang tahun yang mencapai 6,2 juta kl.

Kondisi itu tak lepas dari realisasi penyaluran biodiesel per bulan yang berada di kisaran 80-90 persen dari target bulanannya.

“Pencapaiannya 97 persen dari target (per Januari-Juli 2019), ya ini masih bisa ke 100 persen,” katanya.

Sebelumnya, Kementerian ESDM pernah menyatakan bahwa salah satu penyebab belum optimalnya penyaluran B20 adalah penyediaan kapal penampungan terapung (floating storage) yang belum rampung. Rencananya, floating storage akan disediakan di Balikpapan dan Tuban sebagai tempat penyimpanan B20 ke daerah-daerah industri.

Penyediaan floating storage itu biayanya ditanggung oleh produsen Bahan Bakar Nabati (BBN), penyalur Bahan Bakar Minyak (BBM), dan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Kelapa Sawit.

Namun, penyediaan floating storage di Tuban yang menjadi hub penyalur B20 di wilayah Jawa Timur dan sekitarnya masih belum berjalan. Pasalnya, kondisi perairan yang tidak memungkinkan.

Selain itu, penyaluran belum optimal karena penyesuaian titik serah penyaluran BBN pencampur B20 fatty acid methyl esters (fame) ke PT Pertamina (Persero) dari 112 titik menjadi 29 titik yang memerlukan waktu. Penyederhanaan ini dilakukan sejak Januari lalu.

Terkait uji coba B30, Arcandra masih enggan membagi hasil evaluasi sementaranya. Sebelumnya, uji coba penggunaan B30 dilakukan sejak pertengahan Juni lalu hingga Oktober mendatang. Ia hanya menekankan bahwa hasil evaluasi baru bisa dipaparkan ketika pelaksanaan program benar-benar selesai.

“B30 masih dalam uji coba, nanti terakhir di Oktober. Sekarang kami masih evaluasi sambil jalan,” pungkasnya.(red)

Advertisement Valbury

Business

Akal Licik Mencabut Status Indonesia Dari Daftar Negara Berkembang

Published

on

By

Finroll – Jakarta, Ekonom Indef Bhima Yudhistira Adinegara menilai langkah Presiden AS Donald Trump mencabut status Indonesia dari daftar negara berkembang sebagai muslihat menekan defisit neraca perdagangan AS dengan Indonesia.

Dengan demikian, fasilitas yang umumnya diberikan kepada negara-negara berkembang, seperti pemotongan bea masuk, ikut dicoret. “Barang ekspor Indonesia ke pasar AS nanti akan dikenakan bea masuk yang lebih mahal, ini akal liciknya Trump saja,” terang Bhima kepada CNNIndonesia.com, Senin (24/2).

Selama ini, sambung dia, RI menerima fasilitas pengurangan bea masuk Generalized System of Preferences (GSP). GSP atau fasilitas pengurangan insentif tarif preferensial umum adalah fasilitas bea masuk impor terhadap produk ekspor negara penerima yang diberikan oleh negara maju demi membantu ekonomi negara berkembang.

Pelaku usaha negara-negara berkembang kerap menikmati fasilitas bea masuk yang rendah untuk ekspor tujuan AS. “Kalau Indonesia tidak masuk GSP lagi, kita akan kehilangan daya saing pada ribuan jenis produk,” ujarnya.

Ia khawatir, ekspor tujuan AS terancam turun, khususnya sektor tekstil dan pakaian jadi. Ujung-ujungnya, akan memperlebar defisit neraca dagang. Indonesia sendiri mencatat defisit neraca dagang pada Januari 2020 sebesar US$864 juta.

“Tercatat dari Januari-November 2019 ada US$2,5 miliar nilai ekspor Indonesia dari pos tarif GSP, dengan total 3.572 produk indonesia yang menikmati GSP,” kata Bhima.

Sebelumnya, Ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal Hastiadi Indonesia berpotensi kehilangan fasilitas pengurangan bea masuk.

“Dalam konteks ini, saya rasa pertimbangannya lebih ke politis daripada teknis, yaitu ingin mengeluarkan Indonesia dari fasilitas yang biasa diterima oleh negara berkembang. Kita sekarang menerima fasilitas GSP. Pasti ini juga akan berakhir dengan perubahan status RI,” imbuh dia.

lewat Kantor Perwakilan Perdagangan atau USTR. Selain Indonesia, China dan India juga dicoret dari daftar tersebut.

Trump mengkritisi mengenai negara-negara ekonomi besar, seperti China dan India, yang dikategorikan sebagai negara berkembang, sehingga mendapat preferensi khusus.

Menurut Trump, hal itu tidak adil, mengingat negara-negara yang menyandang status negara berkembang memperoleh pemotongan bea masuk dan bantuan lainnya dalam aktivitas ekspor dan impor.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

Ekonomi Global

AS Coret RI Sebagai Negara Berkembang, Kini Jadi Negara Maju!

Published

on

By

Beberapa negara yang semula ada di daftar negara berkembang seperti China, Brazil, India kini naik kelas jadi negara maju. Termasuk juga Indonesia dan Afrika Selatan, sebagaimana pengumuman USTR yang dikutip dari The Star, Minggu (23/3/2020).

FINROLL.COM —Amerika Serikat lewat US Trade Representative (USTR) merevisi daftar kategori negara berkembang mereka untuk urusan perdagangan internasional.

Beberapa negara yang semula ada di daftar negara berkembang seperti China, Brazil, India kini naik kelas jadi negara maju. Termasuk juga Indonesia dan Afrika Selatan, sebagaimana pengumuman USTR yang dikutip dari The Star, Minggu (23/3/2020).

Revisi daftar ini sebenarnya untuk mempermudah Amerika Serikat melakukan investigasi ke negara-negara tersebut, mencari tahu apakah terdapat praktik ekspor yang tidak fair, seperti pemberian subsidi untuk komoditas tertentu.

Wakil Direktur Perwakilan China untuk WTO di Beijing, Xue Rongjiu, malah keberatan dengan pengumuman USTR tersebut. Menurutnya, dengan status ini dan upaya investigasi yang akan dilakukan AS adalah bukti bahwa negara adidaya tersebut meremehkan sistem perdagangan multilateral negara-negara lain.

“Aksi uniliteralis dan proteksionis mereka justru akan mengganggu kepentingan China dan anggota WTO lainnya,” kata Xue Rengjiu.

China, kata dia, sudah membuktikan sistem dagangnya yang multiletaral dengan beberapa rekan negara berkembang maupun negara maju, selama ini cukup efektif dengan negosiasi yang terjalin.

USTR sendiri mengumumkan revisi daftar ini pada 10 Februari lalu, mengatakan landasannya memasukkan Indonesia dan China ke negara maju karena patokan mereka yang berlaku pada 1998 sudah tak sesuai zaman lagi.

Untuk memperbaharui datanya, USTR mengaku mempertimbangkan beberapa faktor mulai dari pertumbuhan ekonomi dan tentu saja aktivitas perdagangan secara global.

Continue Reading

Business

AS Angkat Harga Minyak Dunia

Published

on

By

Harga minyak naik tipis pada penutupan perdagangan Kamis (20/2), waktu AS. (Realita Rakyat)

Finroll – Jakarta, Harga minyak mentah dunia menguat tipis pada perdagangan Kamis (20/2), waktu Amerika Serikat (AS). Penguatan minyak ditopang perlambatan pertumbuhan pasokan AS.

Mengutip Antara, minyak mentah berjangka Brent naik 19 sen atau 0,32 persen menjadi US$59,31 per barel. Sementara, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) bertambah 49 sen atau 0,90 persen di level US$59,31 per barel.

Badan Informasi Energi AS (EIA) menuturkan persediaan minyak mentah AS hanya naik 414 ribu barel pekan lalu. Angka itu jauh lebih rendah dari prediksi analis yakni 2,5 juta barel.

Data juga menunjukkan tingkat pemanfaatan kilang pantai timur AS turun menjadi 59,2 persen pekan lalu. Angka itu adalah yang terendah sejak November 2012. Namun, tingkat pemanfaatan kilang AS secara keseluruhan naik 1,4 persen.

“Sentimen fundamental hari ini terutama melesetnya rilis data EIA mingguan dari prediksi,” kata Presiden Ritterbusch and Associates Jim Ritterbusch.

Namun, virus corona masih membayangi pasar sehingga membatasi kenaikan harga minyak. Kematian pertama di Korea Selatan memicu ketakutan terhadap pandemi global karena penelitian menunjukkan bahwa virus itu lebih menular daripada prediksi.

Korban meninggal akibat terinfeksi Virus Corona terus melonjak hingga mencapai 2.120 orang di seluruh dunia hingga Kamis (20/2). Virus itu menginfeksi 76.262 orang di sejumlah negara.

China telah menurunkan suku bunga guna menopang perekonomian. Langkah China itu mengurangi kekhawatiran melambatnya permintaan.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading
Advertisement

Advertisement

Trending