Jumat, 4 Juni 2021

4 Fakta Harimau Sumatera yang Lebih Pandai Berenang Ketimbang Memanjat


Harimau sumatera adalah satu-satunya subspesies harimau asli Indonesia yang masih hidup setelah harimau Bali punah pada 1930-an dan menyusul harimau Jawa pada 1980-an. Populasinya kini juga makin kritis, hanya sekitar 300 sampai 400 ekor saja di habitatnya. Jika tidak dilakukan konservasi secara serius, bukan tidak mungkin harimau Sumatera akan menyusul saudaranya menuju kepunahan.

Adek Hendra Nazar, salah seorang petugas di Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat mengatakan, keunikan utama harimau Sumatera adalah pada endemisitasnya: hanya ditemukan di Pulau Sumatera.
“Kekhasan harimau Sumatera yang utama karena dia merupakan satwa endemik Sumatera, dia tidak ditemukan di tempat lain,” kata Adek Hendra saat dihubungi, pekan ini.

Andal Berenang, Tapi Payah Memanjat

Sebagai salah satu jenis kucing, harimau memiliki perbedaan dengan jenis kucing lainnya. Ketika kebanyakan kucing takut dengan air, harimau adalah pemangsa yang sangat lihai berenang. Jadi kalau kamu dikejar harimau, jangan pikir bisa selamat dengan cara masuk ke dalam air.
“Harimau sumatera bisa berenang karena memiliki selaput di antara jari-jarinya, ini yang tidak dimiliki oleh kebanyakan kucing lainnya yang tidak suka air,” kata Adek.

Selain menjadi perenang yang andal, harimau juga suka sekali berendam berendam di dalam air untuk mendinginkan tubuhnya. Namun kelihaiannya di air tidak diimbangi dengan kemampuan memanjat. Itu kenapa dalam kasus konflik antara manusia dengan harimau di Solok yang terjadi beberapa hari kemarin, warga yang dikejar harimau bisa selamat setelah dia memanjat pohon.
“Jadi harimau sumatera memang tidak pandai memanjat ya, berbeda dengan macan dahan yang dia sangat pandai memanjat pohon,” lanjutnya.

Luas Wilayah Teritori sampai Ratusan Kilometer

Harimau sumatera adalah predator yang hidup secara soliter. Mereka hidup dan mencari makan serta menjelajah area teritorinya tidak berkelompok. Wilayah teritorinya juga sangat luas, untuk harimau sumatera betina bisa mencapai 50 kilometer persegi, sementara yang jantan bisa sampai tiga kali lipatnya.
“Mereka paling suka itu menjelajah di daerah punggungan-punggungan bukit,” ujar Adek.
Untuk menandai wilayah teritorinya, harimau Sumatera akan mengencingi daerah-daerah yang dia kuasai. Karena itu, untuk melakukan konservasi harimau Sumatera diperlukan wilayah yang sangat luas.

Tubuh yang Kecil Justru Membuatnya Makin Bahaya

Dibandingkan lima subspesies harimau lainnya yang belum punah, harimau Sumatera merupakan yang paling kecil. Harimau jantan dewasa memiliki tubuh setinggi 60 cm, panjang tubuh dari ekor sampai wajah sekitar 250 cm, dan bobot tubuhnya sekitar 140 kilogram. Sementara untuk harimau betina dewasa memiliki panjang tubuh sedikit lebih pendek sekitar 198 cm dan bobot tubuh sekitar 91 kilogram.
“Tapi karena tubuhnya yang relatif kecil ini, dia jadi lebih leluasa untuk menjelajah hutan dan mengejar mangsanya,” kata Adek Hendra.
Apalagi harimau sumatera dibekali juga dengan indera penciuman, pendengaran, dan penglihatan yang sangat bagus. Menjadikan dia sebagai predator yang sangat berbahaya bagi mangsanya. Maka tidak heran jika harimau dijuluki sebagai si raja rimba.

Loreng Harimau Sumatera Adalah Sidik Jari Mereka

Dibandingkan jenis lainnya, harimau sumatera memiliki warna bulu yang relatif lebih gelap dengan warna kuning kemerahan atau oranye tua. Tubuh harimau sumatera juga memiliki motif loreng yang relatif lebih tipis ketimbang jenis harimau lainnya.
Selain berfungsi sebagai alat penyamaran atau melakukan kamuflase, motif loreng-loreng ini juga berfungsi sebagai identitas harimau satu dengan yang lainnya. Jika dilihat sekilas, motif loreng pada harimau satu dengan yang lainnya akan tampak sama. Tapi jika diamati lebih cermat lagi, harimau memiliki motif yang unik antara satu individu dengan individu lainnya.
“Pola loreng pada harimau ini bisa digunakan untuk mengidentifikasi harimau satu dengan yang lainnya. Kalau manusia kan punya sidik jari, nah harimau punya loreng yang fungsinya mirip dengan sidik jari pada manusia,” kata Adek Hendra menjelaskan.
Pola loreng pada tubuh harimau juga tidak simetris, berbeda pola pada tubuh bagian kanan dengan tubuh bagian kiri. Harimau memiliki dua tipe rambut pelindung, yakni rambut pelindung luar dan dalam. Rambut pelindung luar memiliki ukuran lebih panjang yang berfungsi sebagai pelindung. Sementara rambut dalam yang lebih pendek berfungsi untuk menangkap udara dan menjaga tubuhnya tetap hangat.
Selain melalui pola pada tubuhnya, identifikasi individu harimau juga bisa melalui pola wajah, pola di kaki, serta loreng yang melingkar seperti cincin di ekornya.

Kendala Konservasi Harimau

Karena daerah jelajahnya yang sangat luas, membuat harimau sumatera sangat cocok menjadi ikon konservasi. Dalam konservasi, harimau menyandang reputasi sebagai flagship species, yakni hewan yang dapat menarik kepedulian masyarakat untuk mendukung upaya pelestarian alam. Artinya, melestarikan harimau juga akan memayungi dan melindungi flora dan fauna lain di wilayah jelajahnya.
Sayangnya upaya konservasi terhadap harimau masih kerap terkendala beberapa hal. Salah satunya adalah banyaknya masyarakat yang memasang jerat di tengah hutan. Awalnya jerat itu memang dipasang untuk menjebak babi hutan, namun tidak jarang jerat tersebut justru menjerat harimau.
“Ada juga perburuan harimau yang disengaja, karena di pasar ilegal harimau ini harganya lumayan menjanjikan. Jadi diperjualbelikan, kulitnya, taringnya, dan lain-lain,” kata Adek Hendra.
Aktivitas pertanian masyarakat juga kerap memicu konflik dengan harimau. Praktik-praktik pembukaan lahan di kawasan yang merupakan teritori harimau tidak jarang memakan korban, baik dari pihak manusia maupun harimau.
“Alih fungsi kawasan, yang dulunya hutan sekarang jadi kebun sawit, kan membuat posisi harimau semakin tersudut dari habitatnya,” lanjutnya.
Selai itu, ketersediaan mangsa juga menjadi persoalan tambahan. Karena mangsanya seperti babi hutan dan rusa juga banyak diburu oleh manusia, membuat jumlahnya kian menipis. Ketika dia kehilangan mangsanya, maka jelajahnya akan makin luas, kadang sampai ke pemukiman warga yang kemudian akan memicu konflik antara keduanya.
“Sebenarnya di beberapa kasus tidak bisa disebut konflik juga. Sebab kerap ditemukan warga yang membuka lahan di dalam kawasan harimau, jadi yang salah jelas, kan itu rumahnya harimau,” ujar Adek. (Widi Erha Pradana / YK-1).

Sumber : kumparan.com

Komentar

mood_bad
  • Belum ada komentar.
  • Tambahkan komentar

    BACAAN TERKAIT