Jumat, 22 Januari 2021

Cendrawasih, Burung Surga yang Hanya ada di Papua


Umumnya, burung cenderawasih dijuluki sebagai burung surga (bird of paradise), disebabkan oleh kombinasi antara keanggungan bulu serta keindahan alam habitatnya.

Bulu burung cenderawasih yang menawan serta alam Papua yang indah membuat banyak orang menjuluki burung ini sebagai burung surga. Tetapi, dulu burung cenderawasih memiliki julukan yang lain, yaitu birds of God atau burung Dewata.

Ceritanya bermula pada saat Ferdinand Magellan, seorang penjelajah asal Spanyol, bersama krunya datang ke wilayah Bacan, Maluku Utara. Di sana Magellan diberi sepasang burung cenderawasih yang telah diawetkan sebagai cenderamata. Burung tersebut dilihat sebagai burung yang sangat cantik oleh Magellan, yang kemudian dipersembahkan sebagai hadiah kepada raja Spanyol.

Dikutip dari sebuah buku, beberapa masyarakat Eropa yang lalu mengenal burung cenderawasih menganggap burung cenderawasih sebagai burung yang indah, setebal merpati dengan kepala yang mungil, serta paruh yang cukup panjang dan kaki setipis bulu. Mereka diberitahu bahwa burung tersebut berasal dari sebuah tempat bak surga di bumi (earthly paradise) dan diberi nama Bolon diuata (burung dewata) atau birds of God.

Mitos Burung Cendrawasih

Menjelang akhir abad ke-16, burung cenderawasih mulai dikenal di beberapa negara di Eropa dan memiliki banyak julukan; orang Portugis menjuluki burung cenderawasih sebagai passaros de sol atau burung matahari, dikarenakan warna bulunya sama seperti warna kilauan cahaya matahari. Sedangkan, dalam bahasa Latin, burung cenderawasih dijuluki sebagai Avis paradiseus atau birds of paradise. Anehnya, pedagang-pedagang Melayu menjuluki burung cenderawasih sebagai ‘burung mati’ dikarenakan mereka tidak pernah melihat burung yang hidup secara langsung.

Lalu, berkembanglah mitos bahwa burung cenderawasih tidak pernah bertengger ke tanah melainkan selalu terbang hingga mereka mati dan jatuh ke daratan. Mitos ini pun menjadi inspirasi Carl Linnaeus, seorang ahil botani asal Swedia, untuk memberi nama Paradisaea apoda (the Feetless Bird of Paradise) sebagai nama ilmiah cenderawasih kuning-besar.

Makna paradise pada julukan birds of paradise pun lebih diperkuat pada saat Peter Paul Rubens dan Jan Brueghel the Elder memasukkan lukisan burung cenderawasih ke dalam lukisan mereka, The Earthly Paradise with the Fall of Adam and Eve.

Cenderawasih adalah burung kebanggaan Indonesia. Mereka dapat ditemukan di wilayah Indonesia Timur khususnya Papua. Fauna endemis Papua ini termasuk ke dalam Famili Paradisaedae dan Ordo Passeriformes yang dapat ditemukan di pulau-pulau di Selat Torres, Papua Nugini sampai Australia bagian timur. Burung ini juga dapat ditemui di Kepulauan Aru, Maluku.

Ini kenapa Papua dikenal sebagai bumi cenderawasih. Karena banyaknya jenis burung cenderawasih yang ditemukan di sana. Jelaskan mengapa burung cenderawasih menjadi salah satu sumber alam yang menjadi kebanggaan rakyat Papua dan di lestarikan. Burung cenderawasih merupakan spesies endemik yang hanya terdapat di pulau Papua, dan memiliki peran penting dalam adat budaya suku-suku di Papua.

Jababeka industrial Estate

Dalam buku Cenderawasih Burung dari Surga (2011) karya Endah H.S, kecantikan burung cenderawasih telah dikenal dunia. Burung cenderawasih jantan memiliki bulu yang lebih indah untuk memikat cenderawasih betina sebagai pasangannya. Burung yang menjadi maskot Papua ini memiliki warna bulu yang indah. Karena keindahannya itu burung cenderawasih konon jarang turun ke tanah dan lebih sering terbang hinggap di pohon. Bulu tersebut tumbuh di area paruh, sayap, dan kepalanya. Warna bulu tersebut biasanya sangat cerah dengan kombinasi hitam, cokelat kemerahan, oranye, kuning, putih, biru, hijau dan ungu.

Identitas rakyat Papua

Burung cenderawasih mati kawat adalah jenis yang menjadi identitas provinsi Papua. Masyarakat di Papua sering menggunakan bulu cenderawasih sebagai pelengkap atau hiasan dalam pakaian adat mereka. Keberadaan burung cenderawasih kian lama kian terancam. Perburuan dan penangkapan liar serta kerusakan habitat menjadi beberapa penyebab utama. Banyak bulu cenderawasih diperdagangkan yang digunakan sebagai penghias, seperti topi wanita di Eropa.

Dikutip buku Ekologi Papua (2012) karya Sri Nurani Kartikasari dan kawan-kawan, buurng cenderawasih merupakan salah satu kelompok burung yang paling dikenal di Papua dengan 24 jenis.

Bulu burung kadang dalam jumlah besar sering digunakan untuk hiasan dalam upacara-upacara, pernikahan dan ritual. Kelompok yang paling sering digunakan untuk hiasan adalah burung cenderawasih yang pernah dieksploitasi besar-besaran untuk ekspor.

Penggunaan bulu secara tradisional berdampak pada jenis-jenis yang umumnya populer. Sekarang, burung cenderawasi menjadi jenis satwa yang dilindungi. Beberapa jenis cenderawasih yangmasuk dalam daftar dilindungi antara lain, cenderawasih kuning kecil, cenderawasih botak, cenderawasih raja, cenderawasih meran dan toowa.

BACAAN TERKAIT