Senin, 15 Februari 2021

Atlantis, Sebuah Peradaban Maju di Laut Jawa


Film superhero, Aquaman mengisahkan kampung leluhurnya di negeri bawah laut, Atlantis. Sutradara film mencoba menciptakan dunia fantasi peradaban bawah laut yang elok secara visual dan ditampilkan juga. Kawasan bercita rasa baru dan sekaligus kuno sekaligus. Budaya Atlantis sangat maju.

Film ini menginspirasi ITS, untuk membalik sejarah masa lalu terkait negeri Atlantis yang ditulis oleh filosof Plato lebih 2000 tahun yang lalu. Plato menyebutkan sebuah negeri yang peradabannya sudah sangat tinggi dan kaya raya. Menurut kita negara yang gemah ripah loh jinawi dan baldatun toyyibatun warabun ghofur.

Tulisan Plato itu merupakan satu-satunya sumber dari zaman Yunani kuno yang menyebut tentang Atlantis. Cendekia Yunani kuno lain seperti Strabo, Diodorus, Siculus dan Plutarch juga pernah menyebutnya, tetapi semuanya merujuk kembali kepada Plato. Plato menuliskan kisah turun-temurun dalam keluarganya. Oleh karenanya keberadaannya sebagai negara atau pulau diragukan. Ahli dan komentator mengaku hal itu kisah karangan Plato. Atlantis dihadirkan Plato sebagai antitesis masyarakat Athena yang ideal.

atlantis,laut jawa,plato,dhani irwanto,atlantis di laut jawa
Sundaland

Hipotesis keberadaan Atalntis di Sundalandia mulai dibangun oleh para ahli diantaranya Prof. Arysio Nunes dos Santos, Ph.D seorang fisikawan nuklir dan ahli geologi yang menempatkan secara definitif bahwa Atlantis tersebut berada di wilayah Indonesia, Malaysia, Thailand dan Brunei (The Lost Continent Finally Found,2010).

Danny Hilman dalam bukunya “Plato Tidak Bohong Soal Atlantis Adalah Bagian Sejarah Indonesia (2014)”, lebih banyak mengutip Timiaeus-Critias dan kaitannya dengan Bencana Katastrofi Purba Nusantara

Dhani Irwanto dalam bukunya “Atlantis Kota Yang Hilang Ada Di Laut Jawa, 2015” menyebutkan bahwa berdasarkan temuan data di lapangan, menggunakan pendekatan gambar geografi, iklim, tata letak dataran dan kota, hidrolika sungai, dan saluran, hasil bumi, struktur sosial, adat istiadat, mitologi, dan kehancurannya terinci, termasuk dimensi dan orientasinya. Maka Atlantis, kota dengan peradaban yang maju itu berada di Laut Jawa.

Kisah Atlantis di Indonesia telah ditulis sejumlah penulis dan peneliti antara lain Eden In The East: Drowned Continent of Southeast Asia karya Stephen Oppenheimer terbit 1998, buku berjudul The History of Java karya Thomas Stamford Raffles terbit 1817, Plato Never Lied Atlantis is in Indonesia karya Danny Hilman terbit 2013, dan Atlantis : The Final Solution karya Zia Abbas terbit 2003.

“Kisah yang ditulis Plato jika dipindah dalam kertas setebal 22 halaman,” kata Dhani. Untuk menelitinya, Dhani harus mempelajari bahasa Yunani selama lima tahun. Ia mengartikan kata per kata untuk mengidentifikasi. Penelitian dilakukan dengan metode Potsherds model anastylosis atau model pecahan tembikar.

“Pecahan tembikar disambungkan dengan tepat. Tembikar ini narasi yang ditulis Plato. Diteliti untuk menemukan lokasi Atlantis,” katanya dalam diskusi daring “Menyingkap Jejak Peradaban Atlantis di Laut Jawa,” yang diselenggarakan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya,beberapa waktu lalu.

Pusat Pemerintahan atau Ibu Kota Atlantis

atlantis,laut jawa,plato,dhani irwanto,atlantis di laut jawa
Titik pusat kota Atlantis dalam Peta dunia 11.600 tahun, di kawasan Sundalandia. Sumber : Dhani Irwanto

Plato menulis pulau ibukota Atlantis ada di laut yang dikelilingi benua tak terbatas, yang lainnya adalah samudera yang sebenarnya. Bekas kotanya sekarang berada di bawah laut. Tak dapat dilayari dan ditembus karena tertutup terumbu karang.

Jababeka industrial Estate

Dhani memperkiraan lokasi di laut Jawa, di lepas pantai Kalimantan. Ibu kota Atlantis identik dengan terumbu karang Gosong Gia atau Annie Florence Reef. Gosong Gia terletak 150 kilometer timur laut Pulau Bawean, Gresik, Jawa Timur.

Teks Plato berikutnya, ciri-ciri kota terdapat mata air panas dan dingin. Batu berwarna putih, hitam dan merah. Bebatuannya dilubangi untuk atap galangan (kapal) ganda.

Catatan plato ini mirip dengan Pulau Bawean, Gresik. Ada mata air panas dan dingin. Terdapat bebatuan beku berwarna merah, putih dan hitam. Di bawah bebatuan ini bisa untuk simpan kapal (galangan).

Untuk menggambarkan Kota Atlantis, Plato menulis kota terdiri dari cincin-cincin konsentris zona perairan dan dataran. Terdapat kuil kecil di atas bukit. Terdapat istana raja dan rumah pejabat. bangunan kuil dilapisi orichalcum, emas dan perak.

Dhani menunjukkan peta terumbu karang Gosong Gia berbentuk lingkaran. Dinding orichalcum masih kelihatan, tertutup terumbu karang, tapi masih kelihatan polanya. Masyarakat Bawean, menyebutnya pulau gaib di utara Bawean. Pulau berbahaya bagi pelayaran, kadang muncul kadang tak terlihat. Ia mencocokkan dengan data pelayan Amerika jika terumbu karang Gosong Gia, kadang muncul saat air surut dan tenggelam saat laut pasang. “Berbahaya bagi pelayaran,” ujarnya.

Plato mencatat Atlantis hancur sembilan ribu tahun sebelum Solon. Hancur karena gempa bumi dan “banjir” dari laut. Tenggelam tanpa henti setelahnya. “Banjir laut itu tsunami. Gempa dan tsunami saling terkait,” kata Dhani.

Dhani menyimpulkan terjadi tsunami yang diawali dengan gempa bumi. Kemudian puing kota tenggelam karena kenaikan permukaan air laut secara perlahan-lahan. Bertepatan dengan bencana alam pada akhir periode dryas muda, sekitar 11.600 tahun lalu. Berat es bergeser ke lautan memicu retakan di kerak bumi untuk bergerak menyebabkan bencana hebat. Menyebabkan gempa, letusan gunung api, gelombang pasang dan banjir. Menghancurkan populasi manusia.

Dalam catatan Plato, kata Dhani, sejumlah nama diubah. Termasuk Atlantis, ia menyimpulkan nama aslinya Nusasura. Dari kata sanksekerta Nusa dan Asura. Nusa artinya pulau, Asura diterjemahkan kelompok asura. Nusasura bermakna pulaunya kaum Asura.

sumber : mongabay.co.id

BACAAN TERKAIT