Selasa, 19 Januari 2021

Kota Barus Penghasil Bahan Pengawet Mumi Firaun


Wilayah Barus disebutnya memiliki kedudukan yang penting sebagai bandar internasional yang memperdagangkan barus dan kemenyan. Kedua jenis komoditi ini nilainya sangat tinggi pada zaman purba dan hanya dapat ditemui di pelabuhan Barus.

Mumi menjadi warisan peradaban Mesir kuno yang sangat populer. Meski bukan satu-satunya, nyatanya teknik pengawetan mayat ini identik dengan jasad raja-raja Mesir masa lampau atau biasa disebut Firaun.

Tapi tahukah kamu bahwa orang-orang Mesir kuno menggunakan bahan baku asal nusantara untuk mengawetkan mumi?

Adalah kapur barus atau yang lebih kita kenal dengan nama kamper, bahan pengawet yang ditemukan pada mumi-mumi Raja Mesir kuno atau Firaun.

Nama barus pada kapur barus berasal dari sebuah daerah Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.

Kapur barus berasal dari cairan yang dikeringkan hasil ekstraksi pohon kamper (Cinnamomum camphora). Di Sumatera selain disebut barus, dikenal juga dengan nama haburuan atau kaberun.

J. Fachruddin Daulay, staf pengajar Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara, dalam artikelnya yang berjudul ‘Bandar Barus dalam Catatan Sejarah’ menyatakan, Barus pernah termasyhur ke seluruh dunia sebagai bandar dagang yang mengekspor hasil kapur barus yang sangat diminati pasar dunia.

Letaknya yang berada di tepi pantai barat Sumatera bagian utara ini, membuat wilayah Barus banyak dikunjungi saudagar-saudagar dari luar nusantara.

Fachrudin menyatakan terdapat keterangan yang menyebut bahwa kapur barus dari Indonesia pernah digunakan untuk pengawet mumi raja-raja Mesir atau Fir’aun.

Keterangan paling tua mengenai Barus berasal dari abad ke-2 Masehi, berdasar pada kitab ilmu bumi karangan Ptolomeus yang berjudul Geographike Hyphegesis (tahun 160 Masehi) yang menyebutkan bahwa jauh sebelum bangsa Eropa tiba, pedagang-pedagang China, India, dan Arab telah memiliki hubungan dagang dengan pelabuhan Barus.

CIMB NIAGA

Wilayah Barus disebutnya memiliki kedudukan yang penting sebagai bandar internasional yang memperdagangkan barus dan kemenyan. Kedua jenis komoditi ini nilainya sangat tinggi pada zaman purba dan hanya dapat ditemui di pelabuhan Barus.

Bukti lain yang menunjukkan wilayah Barus sebagai salah satu pusat dagang di masa lalu adalah keberadaan situs pemakaman Mahligai dan Papan Tinggi yang bertuliskan Arab Kuno (Persia) yang diperkirakan pada abad ke-8 Masehi.

Sementara, sejarawan Indonesia, Mohammad Yamin, memperkirakan perdagangan rempah-rempah, termasuk diantaranya kapur barus dan kemenyan, sudah diperdagangkan di nusantara sejak 6000 tahun yang lalu.

Riwayat lain menyatakan, di Barus pernah berdiri sebuah kerajaan kuno yang bernama Lobu Tua. Kerajaan ini diperkirakan sudah ada sejak 3000-5000 tahun sebelum masehi. Perkiraan ini muncul setelah ditemukan kandungan kapur barus pada berbagai mumi Mesir kuno.

Kejayaan perdagangan Barus mulai terkikis akibat ekspansi Kerajaan Aceh ke pesisir timur dan barat Sumatera pada abad ke-16 Masehi yang disusul dengan monopoli dagang oleh VOC.

Komoditas Mahal yang Langka

Sejak ribuan tahun lalu, getah yang mengkristal dari pohon kapur itu sudah menjadi komoditas yang paling banyak dicari. Hal ini tercatat dalam buku tertua ilmu kedokteran yang ditulis dalam bahasa Persia pada abad ke-19 M.

Salah satu khasiatnya adalah untuk menghentikan mimisan dengan dicampur air kurma hijau dan kemangi. Dalam kadar tertentu, kapur barus juga dapat diminum untuk mengobati gangguan asam lambung, usus halus, dan usus besar.

Sayangnya, komoditas berharga ini sudah mulai langka bahkan diambang kepunahan. Ini karena penebangan yang tidak terkendali sehingga pohon-pohon yang mengandung kristal kapur mati. Padahal tidak semua pohon memiliki kadar kristal yang sama.

Mengutip detikX, di Singapura, satu botol kecil berisi 6 milimeter cairan aroma terapi dengan kandungan kamper alami bisa dijual sampai Rp500 ribu. Di pasar internasional, bentuk kristal dengan konsentrasi 98 persen bisa dijual sampai Rp100 juta.

Sebenarnya China punya jenis pohon kapur sendiri. Namun mereka mengaku bahwa kapur asli Sumatera memiliki kualitas yang lebih baik dengan aroma yang lebih kuat. Mengetahui kualitas tersebut, tercatat China sudah mengimpor kamper dari Sumatera sedikitnya 400 kilogram. Catatan ini hanya untuk transaksi dari 1839 sampai 1844.

Produk kapur barus dan kamper yang diketahui oleh Kawan GNFI sekarang ini bukanlah kapur barus alami, melainkan produk sintesis yang diolah secara modern dan hanya mengandung bahan-bahan kimia dengan mengadopsi sifat alami dari kapur barus.

Marco Polo Terkesima dengan Kapur Barus

Usianya baru beranjak 17 tahun ketika ia pertama kali mengikuti ayah dan pamannya menjelajah ke seluruh dunia. Setelah perjalanan panjang, sekitar tahun 1271, ia menghentakan kakinya pertama kali ke China dan tinggal di sana selama kurang lebih 20 tahun.

Baru pada tahun 1292, Marco Polo dewasa beserta ayah dan pamannya menumpang armada kapal Mongol untuk menuju ke wilayah Levant yang merupakan wilayah Mediterania Timur atau wilayah besar di Asia Barat. Kini wilayah Levant meliputi Lebanon, Suriah, Yordania, Israel, dan Palestina.

Dalam perjalanannya itulah Marco Polo sempat singgah di bagian utara Sumatera. Hanya lima bulan memang ia di wilayah kekuasan Kerajaan Samudera Pasai itu. Selama di sana, Marco Polo sempat singgah di beberapa daerah, salah satunya Barus.

Tak ada yang percaya memang jikalau Marco Polo tak pernah menuliskan pengalaman perjalanan panjangnya. Ia tetap produktif menceritakan perjalanannya meski saat dia di penjara karena Venesia di bawah kepemimpinannya kalah telak dari serdadu Genoa.

Rustichello of Pisa adalah kawan sekaligus orang yang juga membantu Marco Polo menuliskan dan menerjemahkan kisahnya ke dalam Bahasa Perancis Tua.

Pada saat itulah ia mengungkapkan hal-hal luar biasa yang ia temui di Sumatera, yang kala itu ia menyebutnya dengan ‘’Jawa Kecil’’. Dimulai dari ritual kanibalisme, orang kerdil, sampai kapur yang ia temukan di daerah Barus.

Marco Polo akhirnya menyadari betapa beruntungnya dia mengetahui salah salah satu komoditas berharga di dunia. Ia tahu bahwa kapur itu sangat terkenal dan merupakan yang terbaik di dunia. Dia menaksir bahwa komoditas kristal putih itu harganya bisa setara dengan menjual sebuah logam mulia yang mahal dan berharga.

referensi:
Bandar Barus dalam Catatan Sejarah (J. Fachruddin Daulay, 2015) | Merdeka.com | Phinemo.com | Kumparan.com | detikX | Bobo | Wikipedia | Goodnewsfromindonesia

BACAAN TERKAIT