Jumat, 16 April 2021

Anak Milenial Wajib Tahu, Menu Sahur dan Buka Saat Proklamasi Kemerdekaan


Ramadan bukan hanya menjadi bulan istimewa bagi umat Islam. Bangsa Indonesia juga merasakan keistimewaan itu. Pada 17 Agustus 1945, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dibacakan oleh Ir Soekarno dan tersiar ke seluruh dunia. Hari itu bertepatan dengan tanggal 9 Ramadan 1364 Hijriah.

Dalam buku Kilas Balik Revolusi karya Abu Bakar Loebis disebutkan jatuhnya pilihan pada rumah Laksamana Maeda karena rumah tersebut punya hak imunitas terhadap Angkatan Darat Jepang, sehingga kedua pemimpin itu tetap aman.

Di ruang makan Laksamana Maeda dirumuskan naskah proklamasi kemerdekaan yang merupakan pemikiran tiga tokoh, yaitu Soekarno, M Hatta, dan Achmad Soebardjo. Proses penyusunan naskah ini juga disaksikan golongan muda yang diwakili oleh Sukarni, Sudiro, dan BM Diah. Sementara, dari pihak Jepang ada S. Miyoshi dan S. Nishijima.

Menu sahur

Ruang makan itu menjadi saksi bisu penyusunan teks proklamasi. Setelah semalaman berembuk, akhirnya pada dini hari 9 Ramadan 1364, tepat 76 tahun lalu dalam perhitungan Hijriah, teks itu selesai dan segera diketik. Karena bertepatan dengan hadirnya bulan suci Ramadan, para tokoh bangsa tetap melaksanakan ibadah puasa. Karena itulah mereka juga menyantap makanan saat sahur.

Mengutip buku “Sekitar Proklamasi” (1981), Muhammad Hatta mengisahkan bahwa sebelum pulang ke kediamannya, beliau sempat menyantap roti, telur, dan ikan sarden yang dimasak di rumah Maeda sebagai menu sahur.

“Waktu itu bulan puasa. Sebelum pulang saja masih dapat makan sahur di rumah Admiral Mayeda. Karena nasi tidak ada, jang saja makan ialah roti, telur, dan ikan sardines. Tetapi tjukup mengenyangkan,” tulisnya dalam buku tersebut.

Para tokoh ini menyantap hidangan sahur yang dimasak oleh Maeda, yakni Satsuki Mishima. Tak hanya itu, orang-orang yang masih berkumpul di kediaman Tadashi Maaeda juga disuguhi berbagai makanan dan minuman.

“Sebelum pulang, Soekarno dan Hatta makan sahur dengan roti, telur, dan sarden. Setelah pamit dan mengucapkan terima kasih kepada Laksamana Maeda, mereka pulang. Soekarno menurunkan Hatta di Oranje Boulevard. Orang-orang lain yang ada di tempat itu makan apa yang disajikan oleh Ny, Misima yang menyediakan makan dan minum untuk hadirin,” tulis Prof. Suhartono sebagaimana dikutip dalam bukunya “Kaigun, Angkatan Laut Jepang, Penentu Krisis Proklamasi” (2007).

Sahur saat itu tampaknya menjadi bersejarah, karena keesokan harinya Indonesia menjadi bangsa yang bebas dari penjajahan.

Jababeka industrial Estate

Usai santap sahur, kedua proklamator itu pulang dengan Hatta diantar mobil Soekarno. Hampir tidak ada percakapan yang keluar dari mulut mereka, karena lelah dan terkurasnya tenaga keduanya dalam beberapa hari terakhir.

50 Tusuk Sate Ayam

Berdirinya negara Indonesia merdeka, seperti dinyatakan Sukarno dan Hatta dalam pengumuman sesudahnya, merupakan keinginan seluruh rakyat. Harapan orang-orang seperti Sutan Sjahrir agar proklamasi berisi celaan keras terhadap fasisme, maupun harapan sebagian gerakan pemuda agar proklamasi menyiratkan pengambilalihan alat-alat pemerintahan saat itu juga, tak terpenuhi. Kolaborasi dan penerimaan tersirat Jepang atas proklamasi membereskan itu semua, begitu pula kehati-hatian para proklamator dan golongan kamitua.

Kelompok itu, dipimpin oleh Sukarno dan Hatta, telah mencapai tujuan sebagai pemimpin negara baru. Selanjutnya, sebagaimana diisyaratkan dalam pernyataan takluk, Jepang melarang lambang-lambang proklamasi, bendera, dan lagu kebangsaan, dan juga mencabut dukungan yang sudah tidak berarti kepada Badan Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Menurut D. Rini Yunarti dalam bukunya, BPUPKI, PPKI, Proklamasi Kemerdekaan RI (2003), BPUPKI merupakan “permainan” demi tercapainya skenario Jepang. “Permainan” itu pun dilengkapi dengan pembentukan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang akan memperoleh mandat untuk mempersiapkan pemerintahan rakyat Indonesia yang merdeka.

Berbeda dengan saat berdirinya BPUPKI di mana Jepang masih memenangkan berbagai perang melawan Sekutu, saat berdirinya PPKI, Jepang sudah berada di ambang kehancuran. Pasukan-pasukan Jepang dikalahkan di mana-mana (hlm. 59).

Proklamasi kemerdekaan RI yang terjadi pada 9 Ramadan 1334 Hijriah itu adalah titik kulminasi gagasan, tekad, dan perjuangan. Proklamasi memang diikuti dengan pecahnya revolusi di berbagai daerah dalam upaya mempertahankan kemerdekaan.

Sehari setelah kemerdekaan, Sukarno dilantik menjadi presiden dan Mohammad Hatta sebagai wakilnya. Lantas, apa perintah pertama sang presiden Republik Indonesia ini? Dalam autobiografinya, Bung Karno berkisah.

Dia berjalan pulang pada petang hari. Bung Karno melihat pedagang sate tak berbaju. Kemudian dia memesan, “Sate ayam lima puluh tusuk.” Setelah itu, Sukarno jongkok dengan lahap dekat selokan, menyantap menu berbuka puasanya. Baginya, inilah pesta pengangkatannya sebagai kepala negara. Sebuah acara perayaan a la kadarnya, dalam bulan yang suci (hlm. 225).

Komentar

mood_bad
  • Belum ada komentar.
  • Tambahkan komentar

    BACAAN TERKAIT