Jumat, 15 Januari 2021

Bukan Jalur Sutra Tapi Jalur Rempah Nusantara yang Ubah Geopolitik Dunia Masa Silam


Ini tak cuma tentang legasi dari masa 4.500 tahun lalu. Ini juga soal peremajaan ladang, industri obat herbal, serta paket pariwisata. Inilah: Jalur Rempah.

Masyarakat dunia lebih mengenal rute perdagangan Jalur Sutra dibanding Jalur Rempah. Padahal, Jalur Rempah memberi pengaruh pada kehidupan Indonesia dan dunia di masa kini.

Rempah telah diperdagangkan berabad lamanya sebelum masehi. Perdagangan ini menempuh Asia Selatan hingga Timur tengah dan Eropa, dilakukan oleh pedagang Arab dan Cina. Di masa itu rempah-rempah miliki peranan penting bagi kehidupan, mulai dari urusan citarasa masakan, hingga mengawetkan mayat.

Menurut sejarawan JJ Rizal, dengan kemajuan teknologi, khususnya di bidang kartografi dan astronomi, pada abad ke 15 dan 16, penjelajah Eropa seperti Christopher Columbus dari Italia dan Portugis Vasco da Gama mencari jalan ke daerah asal rempah-rempah. Para pedagang Asia Selatan menyembunyikan peta ke daerah tersebut, hingga orang Eropa tak dapat menemukannya.

Agar dapat menguasai komoditas rempah, ekspedisi penjelajah Eropa sangat agresif. Di tengah kehidupan feodal masyarakat Eropa, penguasaan atas rempah dianggap penting agar pemiliknya dapat disejajarkan dengan golongan elit. Para penjelajah mengorbankan hidup mereka untuk menguasai rempah-rempah di Asia Tenggara. Ratusan awak da Gama, salah satu penjelajah paling obsesif, tewas dalam ekspedisi 1498.

Pedagang Eropa tiba di nusantara pada akhir abad 16. Trinitas rempah termahal di Eropa, yaitu pala, cengkeh dan lada menjadi komoditas dagang utama mereka. Rempah-rempah tersebut ditemukan di Kepulauan Banda Maluku. Sayangnya, 50 tahun setelah ditemukan dan dibudidayakan di Eropa, nilai jualnya menurun. Hal ini memaksa Belanda untuk memanfaatkan komoditas lain di nusantara, seperti gula dan teh.

Di sisi lain, selama berabad-abad kerajaan dan kesultanan nusantara mendidik orang-orangnya menjadi intelektual, untuk mencapai kejayaan. Kerajaan Sriwijaya, Banten dan Gowa termasuk diantaranya.

Budaya Ramah Tamah

Budaya ramah tamah atau hospitality bisa dibilang punya peran penting dalam perkembangan jalur perdagangan rempah. Terutama dalam hal monopoli yang dilakukan bangsa Eropa kala itu. Orang Indonesia khususnya sejak dahulu telah memiliki budaya ramah tamah yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan ada beberapa frasa yang menggambarkan hal itu.

Budaya ramah tamah jadi sesuatu yang penting dalam identitas dan budaya untuk banyak komunitas, salah satunya di Indonesia. Di saat yang bersamaan, budaya ramah tamah juga jadi bagian penting untuk keberadaan jaringan perdagangan dan pertukaran yang terjadi di dunia.

Tanpa budaya ramah tamah seperti yang dilakukan Sultan Ternate , maka jalur perdagangan rempah ke Eropa mungkin tak akan pernah terbuka. Walaupun pada akhirnya memicu monopoli perdagangan dan penderitaan bagi orang Nusantara.

Orang merasa bahwa hal itu terjadi karena orang-orang Nusantara begitu naif dan mudah percaya. Mereka juga tidak berpendidikan seperti halnya para penjajah. Inilah alasan kenapa mereka menderita,” jelas Marina. Namun ada juga pendapat yang mengatakan bahwa budaya ramah tamah adalah salah satu bagian paling penting untuk masyarakat yang ideal dan berpandangan terbuka.

CIMB NIAGA

Menuju Warisan Dunia Unesco

Sejarah rempah, sedikit atau banyak, telah memberi kontribusi pada sejarah panjang pembentukan nasionalisme Indonesia, kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI menyelenggarakan sejumlah program. Program itu berupaya merekonstruksi perdagangan rempah di Nusantara yang berlangsung 4,5 milenium silam. Harapannya, bisa turut mendorong perekonomian demi kesejahteraan masyarakat.

Pada November silam Indonesia mengusulkan Jalur Rempah ke UNESCO (badan PBB yang mengurusi pendidikan dan kebudayaan) sebagai world heritage atau warisan dunia. Diharapkan, keputusan UNESCO sudah diketok pada 2024 atau 2025.

Ada dua alasan menghidupkan kembali kehangatan cita rasa rempah melalui program Jalur Rempah. Pertama, dari rempahnya sendiri. Ananto mengatakan, Indonesia atau Nusantara adalah tempat satu-satunya di muka bumi ini yang dipilih Tuhan untuk tumbuhnya rempah-rempah. Khususnya pala di Banda dan cengkih di Ternate. ’’Pala dan cengkih yang aslinya dari Indonesia turut berkontribusi pada sejarah peradaban dunia,’’ katanya.

Kedua, jalur rempah saat itu menjadi cikal bakal perdagangan komoditas yang dilakukan nenek moyang bangsa Indonesia. Melintasi pulau dan melibatkan beragam suku.Rutenya dimulai dari timur ke barat. Di setiap titik persinggahannya, terjadi asimilasi budaya, kemudian membentuk Nusantara.

’’Tidak sampai di ujung Sumatera saja. Sampai ke Sri Lanka, India, Mesir, Afrika Selatan, juga Madagaskar,’’ katanya.Ananto menuturkan, program Jalur Rempah sejatinya digagas beberapa tahun lalu. Tetapi, tahun ini mulai digalakkan kembali.

Dia mengatakan, tiap tahun sudah ada tahapan atau timeline yang ditetapkan. Misalnya, tahun ini ditetapkan sebagai periode awareness atau membangun kesadaran masyarakat terhadap Jalur Rempah. Beragam kegiatan sosialisasi seperti seminar, pemutaran film, dan lainnya sudah dan akan dikerjakan Kemendikbud. Tujuannya, membangkitkan ingatan masyarakat Indonesia. ’’Terutama di kalangan anak-anak muda,’’ jelasnya.

Setelah dibangun kesadaran, lanjut Ananto, tahun depan diharapkan banyak pihak yang terlibat dengan porsi masing-masing. Misalnya, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menawarkan paket pariwisata Jalur Rempah. Kementerian Pertanian melakukan peremajaan ladang-ladang rempah

BACAAN TERKAIT