Jumat, 19 Maret 2021

Glenmore, Bukti Shahih Jejak Eropa yang Terpincut Alam Banyuwangi


Jika mendengar kawasan bernama Glenmore, jangan buru-buru berasumsi bahwa itu berada di Amerika, Australia, maupun Eropa. Glenmore adalah nama salah satu kecamatan di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

Di Bumi Blambangan, Glenmore berada di antara kecamatan-kecamatan lain dengan nama yang lebih bernuansa Jawa. Misalnya Singojuruh, Bangorejo, Tegaldlimo, Blimbingsari, Giri, dan Wongsorejo. Sebagai daerah yang berada di Pulau Jawa, Glenmore barangkali satu-satunya kawasan dengan nama yang begitu unik, asing, bahkan kebarat-baratan.

Karena keunikannya, selama puluhan tahun masyarakat di Banyuwangi harus memendam rasa penasaran. Pasalnya, asal-usul serta sejarah kawasan itu bisa dinamai Glenmore, belum diungkap secara jelas. Jika ada informasi terkait, itu hanya cerita dari mulut ke mulut yang masih samar-samar. Glenmore semakin menjadi misteri karena belum ditemukan bukti otentik berupa dokumen tertulis.

Glenmore dalam bahasa Gaelic, berarti Big Glen atau daerah perbukitan yang sangat luas. Ketika orang Skotlandia mengembara keluar negerinya, maka nama Glenmore pun ada di beberapa sudut dunia. Menurut penelitian Arif Firmansyah dan M. Iqbal Fardian, penulis buku Glenmore, Sepetak Eropa di Tanah Jawa, setidaknya ada 15 kawasan di dunia yang memiliki nama Glenmore.

Di Irlandia ada di 4 tempat, yakni: Roscommon Town, Kilkenny Town, Kildare Town dan Clare Town. Satu di Inggris yaitu di Council Area Skotlandia. Ada juga di Australia tepatnya di area suburban Sydney. Di Indonesia, hanya ada satu yakni di Kabupaten Banyuwangi , Jawa Timur.

“Dan semua daerah yang namanya Glenmore itu punya kesamaan, kontur daerahnya berbukit-bukit,” katanya seperti dikutip dari detik.com.

Dalam bukunya, Arif dan Iqbal tak langsung tak menjelaskan asal muasal nama Glenmore. Keduanya memulai dengan memaparkan sejarah sejumlah daerah di Banyuwangi pada abad ke-7 yang dulunya merupakan daerah Kerajaan Blambangan. Pada bagian berikutnya, dipaparkan sejarah dari era Blambangan hingga masa Kolonial Belanda.

Di masa Kolonial Belanda inilah sejarah Glenmore dimulai. Semua bermula pada tahun 1906 saat pemerintah Belanda mengeluarkan kebijakan mengundang sejumlah investor Eropa untuk membuka perkebunan di wilayah Banyuwangi. Pengusaha Eropa pun datang ke Banyuwangi. Salah satunya adalah Ros Taylor dari Skotlandia.

Dia membeli lahan di sebelah selatan lereng Gunung Raung seluas 163.800 hektare dari pemerintah Belanda. Pada 2 Februari 1910, Ros Taylor memulai kegiatan usaha perkebunannya. Untuk menunjang kegiatan bisnisnya dia juga membangun, Glenmore Estate.

Meski namanya identik dengan Skotlandia, lingkungan di Kecamatan Glenmore Banyuwangi banyak bercokol bangunan peninggalan Belanda. Misalnya, markas tentara, stasiun kereta api, sistem irigasi, hingga gudang penimbunan hasil perkebunan. Semua infrastruktur peninggalan kolonial itu masih terawat dengan baik hingga sekarang.

Di era kolonial Belanda, Glenmore memang menjadi salah satu kawasan yang dikembangkan. Memiliki hamparan tanah yang subur, daerah ini sukses menarik minat enam investor asal Eropa. Selain Glenmore, ada pula Perkebunan Kali Sepanjang, Kali Telapak, dan Perkebunan kali Kempit yang dikelola Belanda, serta Perkebunan Trebasala milik orang Inggris dan Perkebunan Glen Falloch milik Skotlandia.

CIMB NIAGA

Dalam rancangan Pemerintah Kolonial Belanda saat itu, Glenmore diproyeksikan menjadi kota administratif. Bahkan, dijadikan sentra komoditas perkebunan yang berfungsi sebagai pusat pengiriman hasil bumi ke Rotterdam, Belanda. “Semua bangunan itu masih ada sampai sekarang,” kata Arif.

Kemajuan di Glenmore mengundang banyak orang-orang berbondong-bondong mendatanginya. Tak hanya dari Jawa Timur, tetapi juga dari Solo, Magelang, dan Yogyakarta.

Menariknya, sejak buku tersebut mulai diedarkan, sejumlah warga Banyuwangi terdorong untuk menyetorkan data terkait sejarah Glenmore kepada Arif dan Iqbal. Selain kisah tentang bangsa Skotlandia, rupanya masih banyak kisah-kisah menarik di balik Glenmore yang belum diungkap.

Salah satunya, cerita tentang KH Hasyim Asyari dan KH Wahab Chasbullah. Pada tahun 1930an, keduanya diketahui sering berkunjung ke musholla tua di dekat stasiun Glenmore. Peristiwa itu berasal dari surat-surat kuno yang ditulis menggunakan huruf arab pegon.

“Data tentang tokoh pendiri NU yang datang ke Glenmore dan kisah-kisah menarik lain rencananya akan dimasukkan dalam terbitan buku Glenmore berikutnya,” kata Arif.

Di daerah ini juga pada masa itu bertemu bangsawan Mangkunegaran dengan Konglomerat Eropa. Tercatat di Glenmore pernah tinggal, cucu Sentot Prawirodirjo si Panglima Perang Pangeran Diponegoro yang membuat kisah dalam buku ini kian menarik.

Dari Glenmore di Banyuwangi pada awal abad ke-20, Belanda berhasil mengantongi bergulden-gulden hasil perkebunan. Hingga saat ini jejak-jejak perkebunan peninggalan Belanda itu masih bisa dinikmati. Glenmore di Banyuwangi, menjadi tempat wisata sejarah yang menarik.

Komentar

mood_bad
  • Belum ada komentar.
  • Tambahkan komentar

    BACAAN TERKAIT