Rabu, 16 Juni 2021

Legenda Kyai Sengkelat, Keris yang Bisa Usir Wabah Penyakit dari Majapahit


Kerajaan Majapahit pada suatu ketika dilanda wabah penyakit atau pagebluk. Banyak kalangan rakyat jelata menjadi korban. Di lingkungan istana baik para sentana dan abdi dalem juga banyak yang menjadi korban.

Penyakit aneh tidak diketahui dari mana datangnya, juga penyebabnya dari kekuatan apa, tiba-tiba mewabah menelan banyak korban jiwa.

Dalam babad Demak dikisahkan, mereka yang pagi sakit sorenya meninggal, begitu juga sebaliknya sore hari terserang sakit paginya sudah membujur jadi jenazah.

“Mengapa ini terjadi? Karena adanya aura negatif keris Kiai Condong Campur yang konon dibuat dari besi yang dihuni oleh makhluk-makhluk halus dan makhluk hitam,” kata PNA. Masud Thoyib Adiningrat, Pengageng Kedaton Jayakarta, mengutip Okezone.

Pada masa itu sebenarnya keris ini dibuat untuk mengatasi perselisihan di antara golongan atas yang terdiri dari anggota kerajaan, bangsawan, dan orang kaya dengan golongan bawah yaitu rakyat jelata. Karena itulah dipanggil sekitar 100 orang empu (orang bijak, pembuat keris) untuk membuat satu keris pemersatu bangsa.

Keris istimewa tersebut dibuat dari bahan yang diambil dari berbagai daerah dan dinamai Kyai Condong Campur. Nama tersebut dipilih sesuai dengan tujuannya. “condong” yang berarti mengarah, sedangkan “campur” berarti “menjadi satu” atau “persatuan”.

Sebulan setelah keris itu disimpan di ruang pusaka keraton, di wilayah kerajaan Majapahit, di Jawa Tengah dan Jawa Timur, terjadi wabah penyakit sampar (pagebluk). Wabah kali ini jauh lebih ganas dan berbahaya daripada yang sebelumnya pernah terjadi.

Pada kejadian wabah pagebluk yang sebelumnya pernah terjadi, berbagai ritual gaib dan keagamaan diselenggarakan, namun wabah tersebut tidak juga mereda. Tetapi setelah keris Kyai Nogososro dikeluarkan dari sarungnya dan diarak keliling keraton, barulah wabah itu mereda. Kesaktian keris Nogososra berhasil mengatasi wabah yang terjadi.

Tetapi kali ini sekalipun berbagai ritual gaib dan keagamaan telah juga dilakukan dan keris-keris Nogososro telah dikeluarkan dari sarungnya dan diarak keliling keraton, wabah tersebut tetap saja tidak mereda. Bahkan semua pusaka keraton juga sudah dikeluarkan, tapi wabah tersebut tetap juga tidak mereda.

Pada wabah kali ini Putri Ayu Sekar Kedaton ikut jatuh sakit. Sudah banyak ahli tabib dari penjuru negeri dihadirkan untuk menyembuhkan sang putri, namun tidak ada yang menampakkan hasil. Bahkan setiap malam tiba sakit sang putri semakin menjadi-jadi. Sang prabu menugaskan segenap abdi dalem untuk bergiliran menjaga sang putri, khususnya di malam hari.

Jababeka industrial Estate

Dikisahkan, setiap malam keris Kyai Condong Campur keluar dari tempat penyimpanannya sehingga menimbulkan wabah penyakit di kerajaan Majapahit yang menyerang banyak orang, termasuk permaisuri Prabu Brawijaya, Dwarawati. Masyarakat Majapahit pun menjadi gempar.

“Pada saat terjadi seperti itu, Kerajaan Demak di bawah pimpinan Raden Fatah yang sesungguhnya masih keturunan Majapahit ini memberi bantuan dengan mengirim keris Kiai Sangkelat. Keris inilah yang bisa mengalahkan Kiai Condong Campur,” paparnya.

Keris Kyai Sengkelat taklukan Condong Campur

Keris Kyai Sengkelat dibuat oleh Empu Supo Madrangi alias Raden Joko Supo. Raden Joko Supo mewarisi kemampuan ayahnya yang dikenal sebagai empu hebat dari kerajaan Majapahit yang hidup di sekitar abad ke 15.

Sebelumnya Ia beragama Hindu dan setelah bertemu serta berdialog dengan Sunan Kalijaga, kemudian masuk Islam. Dirinya pun menjadi Empu kesayangan Sunan Kalijaga, bahkan dinikahkan dengan Dewi Rasawulan, adik dari anggota Wali Songo ini.

Semula Empu Supo yang bertugas membuat keris ini bingung, karena Sunan hanya memberi logam sebesar biji asem sebagai bahan mentah.

Seakan tahu keraguan sang empu, ketika mau ditempa tiba-tiba bahan mentah itu menjelma menjadi bukit. Toh, akhirnya jadi juga sebilah keris berluk 13 dengan tangguh Majapahit.

Sebenarnya Majapahit saat itu sudah memiliki satu keris yang dianggap sakti mandraguna. Keris itu bernama Nogososro/Sabuk Inten, merupakan salah satu keris legendaris yang dibuat oleh seorang mpu sakti mandraguna bernama Mpu Kinom.

Keris Nogososro merupakan keris tersakti yang bisa membantu melanggengkan kekuasaan seseorang. Kekuatan yang dimiliki keris ini digadang-gadang mampu menaklukan jagat kayangan apabila mengamuk.

Namun, kemampuan Nogososro ternyata tidak dapat mengalahkan Condong Campur yang tengah mengamuk. Saat itu keris Condong Campur sedang melintasi langit Majapahit. Melihat itu maka tampillah Keris Nogososro. Mereka bertarung di udara pada malam hari dan akhirnya Nogososro kalah.

Akhirnya Empu Supo Madrangi mengeluarkan Keris Kyai Sengkelat dari sarungnya. Dengan secepat kilat, keris Kiai Sangkelat menerjang Kiai Condong Campur sehingga patah menjadi dua.

Setelah kejadian itu wabah pagebluk yang menyerang Majapahit mereda dan sang putri pun berangsur-angsur pulih kesehatannya. Sementara itu, saat ingin dihancurkan dengan cara dibakar hingga warnanya menjadi merah membara.

Tiba-tiba Keris Condong Campur melesat ke angkasa dan menjelma menjadi lintang kemukus yang disaksikan banyak orang. Dari situlah, lintang kemukus dianggap sebagian masyarakat Jawa sebagai pertanda akan datangnya suatu bencana, kerusuhan, kekacauan, perang, kelaparan, kematian, atau wabah penyakit.

Cerita keris sebagai pelambang

Tentunya bagi masyarakat modern, cerita tentang keris yang saling terbang dan bertarung menjadi sulit masuk logika. Bagaimana mungkin keris-keris itu keluar sendiri dari warangka/sarung, terbang di malam hari, dan bertarung satu sama lain?

Memang cerita Keris Kyai Sengkelat bisa menjadi sebuah pelambang kejadian yang saat itu terjadi. Sehingga kita bisa mengetahui kondisi yang dialami sebuah generasi.

Keris Condong Campur (cenderung pada padu) dimaknai sebagai golongan bangsawan yang di tengah kian bobroknya kerajaan masih hendak menjaga kekuasaannya di Majapahit yang kian majemuk. Pemaksaan kehendak yang mereka lakukan mendapat perlawanan.

Apalagi saat itu diupayakan adanya persatuan dan pembauran (condong campur) antar golongan. Tetapi yang kemudian terjadi hanyalah pembauran semu di permukaan saja. Padahal sesungguhnya tidak terjadi pembauran dalam kehidupan masyarakat.

Kaum saudagar dan golongan kaya baru di kota-kota pelabuhan, dilambangkan oleh Nogososro/Sabuk Inten (bersabuk permata) terus mendorong berbagai tata nilai baru yang terbuka. Secara politik mereka masih kalah.

Tidak berhasilnya upaya pembauran ini sesungguhnya disebabkan ketidakinginan para pemilik modal untuk melakukan pembauran tersebut dan khawatir akan terganggunya kepentingan mereka.

Desakan golongan ketiga-lah, yakni rakyat banyak yang jengkel hatinya melihat karut-marut negara, dilambangkan oleh Sengkelat (Sengkeling Ati) mengakhiri kerajaan ini. Dukungan rakyat dialihkan pada Trah Brawijaya cabang Raden Patah yang telah memeluk Islam di Demak.

Ketika Kerajaan Majapahit sudah menjapai masa kejayaannya, memang terjadi banyak sekali perbedaan (heterogenitas di negeri itu. Heteroginitas ini menyebabkan terjadinya perpecahan di masyarakat,baik dari aspek agama, budaya, kasta, dsb. Paling tidak ada 2 golongan yang memiliki perbedaan pandangan sangat tajam pada masa itu.

Golongan pertama, yaitu golongan pemilik modal, pedagang dan pejabat. Golongan kedua, yaitu golongan masyarakat bawah yang kecewa dengan kondisi yang mereka alami, seperti keterpurukan nasib, tekanan hidup dan penindasan.

Kisah antara Keris Kyai Sengkelat dan Condong Campur memang bisa dimaknai berbeda-beda oleh setiap orang. Tapi pada faktanya Kerajaan Majapahit yang pernah begitu jaya akhirnya harus runtuh.

Sumber : goodnewsfromindonesia.id

Komentar

mood_bad
  • Belum ada komentar.
  • Tambahkan komentar

    BACAAN TERKAIT