Jumat, 18 Juni 2021

Permainan Hompimpa, Ternyata Cara Leluhur Dekatkan Anak-Anak dengan Tuhan


Bagi Anda yang lahir dan besar pada era 90-an, tentunya sangat akrab dengan kalimat, “hompimpa alaium gambreng”. Kalimat ini digunakan oleh anak-anak untuk mengundi siapa yang menang atau kalah menggunakan telapak tangan.

Permainan ini biasanya dilakukan dengan minimal tiga orang peserta. Biasanya permainan hompimpa digunakan oleh anak-anak untuk menentukan giliran dalam sebuah permainan. Sewaktu bermain petak umpet misalnya, anak yang kalah mendapat giliran sebagai penjaga pos. Tetapi aturan ini dapat berubah sesuai kesepakatan dari para pemain.

Memang hampir di setiap permainan tradisional macam petak umpet, petak jongkok, galasin hingga main bentengan, pasti diawali dengan “ritual” pengundian dulu ini. Ritual yang sering diiringi lagu dan lirik: “Hompimpa alaium gambreng!”

Bersamaan dengan itu, masing-masing tangan peserta diayunkan ke atas-bawah dan ke kanan-kiri secara bersama-sama pula. Ketika sudah mencapai kata terakhir ‘gambreng’ maka setiap peserta memperlihatkan salah satu sisi tangannya.

Bisa berupa telapak tangan, dapat pula bagian punggung tangan. Pemenang ialah peserta yang memperlihatkan sisi tangan yang berbeda dari yang lainnya.

Misalnya dari tiga orang, dua telapak tangan peserta menghadap ke atas sedangkan sisanya mengeluarkan punggung tangan. Maka peserta yang menunjukkan punggung tangan dianggap sebagai pemenang.

Tentunya menjadi pertanyaan, mengapa pada setiap permainan selalu menggunakan ritual undian ini. Hal yang menunjukan bahwa ritual ini memiliki nilai khusus yang cukup dalam.

Makna ”Hompimpa alaium gambreng”

Kalimat unik ternyata sudah turun-temurun dilakukan oleh anak-anak di Indonesia sebelum bermain. Beberapa daerah menyebut kegiatan ini dengan nama gambreng.

“Hompimpa alaium gambreng” sendiri biasanya digunakan oleh anak-anak yang tinggal di daerah Jawa, sedangkan untuk anak-anak Betawi penggunaan kalimat hompimpa menjadi lebih panjang yakni “Hompimpa alaium gambreng. Mpok Ipah pakai baju rombeng”.

Hompimpa alaium gambreng sebagai versi lengkap dari istilah hompimpa konon berasal dari bahasa Sanskerta. Hompimpa alaium bermakna ‘dari Tuhan kembali ke Tuhan’, di mana kata Hom-lah yang memiliki pengertian zat yang Maha Kekal.

CIMB NIAGA

Adapun gambreng menjadi kidung penutup yang menandakan ajakan pada permainan yang akan segera dimulai. Dari sini kita dipahamkan bahwa permainan memang tidak pernah benar-benar sederhana. Simbolisasi ketuhanan senantiasa dilekatkan pada dada-dada makhluk kecil yang seyogyanya belum begitu paham kata-kata yang mereka lontarkan.

Arti dari kalimat tersebut serupa dengan kata ”Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Kemudian kata gambreng, artinya adalah ayo bermain. Kata gambreng juga dapat diartikan sebagai aba-aba seperti kata “grak” dalam baris berbaris dan sebagainya.

Walau begitu, menurut Mohammad Zaini Alif, pakar permainan tradisional Indonesia yang menyebutkan arti dari kalimat “hompimpa alaium gambreng” belum diketahui secara pasti. Ia mengatakan, bahwa memang agak sulit untuk menelusuri asal mula kalimat hompimpa tersebut.

Karena belum ada literatur sejarah yang menjelaskan sejak kapan kalimat “hompimpa alaium gambreng” muncul dan mulai digunakan. Sampai saat ini, ia juga belum menemukan jurnal atau karya tulis ilmiah lainnya yang membahas secara sepsifik dan detail tentang kalimat tersebut.

Apabila kita mencari makna kalimat hompimpa alaium gambreng di internet, artikel-artikel yang berkaitan dengan permainan tersebut kebanyakan merujuk pada pendapat Mohammad Zaini Alif, sang bapak permainan tradisonal Indonesia tersebut.

Namun, jika mengambil fakta peran Sunan Kalijaga yang berupaya memasukkan unsur Islam dalam permainan wayang dengan mengisahkan kepemilikan jimat Kalimasada (kalimat syahadat) atas tokoh Yudishtira, agaknya tidak berlebihan kalau kata ”hompimpa alaium gambreng” dicurigai sebagai gubahan kalimat syahadat.

Namun terlepas dari asal mula dan makna kalimat dari permainan tersebut, Hompimpa alaium gambreng telah merentang dari generasi ke tiap generasi. Sebuah tradisi yang tentunya perlu dipertahankan oleh para generasi penerus.

Permainan yang penuh makna tapi tergerus zaman

Permainan tradisional ini memang sudah melekat dan tidak bisa dipisahkan dengan anak-anak Indonesia sampai saat ini. Indonesia mempunyai permainan tardisional yang berjumlah sekitar 2.500 permainan.

Namun, 40 persen permainan tradisonal Indonesia telah dinyatakan punah tergerus zaman. Mirisnya lagi, sekitar 65 persen anak-anak Indonesia sudah tidak lagi mengenal permainan tradisonal, karena dampak dari perkembangan zaman dan teknologi.

Maraknya permainan modern, seperti video game rupanya telah membuat anak-anak kita beralih dari permainan tradisional. Belum lagi sekarang game-game tersebut telah semakin dekat ke dalam genggaman dan semakin terjangkau, lewat ragam permainan di layar ponsel.

Lantas, bisakah permainan hompimpa yang sangat populer itu bahkan hingga saat ini bisa bertahan dari kepunahan di masa depan ?

Selama masa pandemi, ternyata ada perkembangan di masyarakat. Mereka mulai menggali permainan tradisional berbasis rumahan, sehingga permainan tradisional naik daun di masa pandemi Covid-19 dan banyak dimainkan lagi oleh anak-anak di dalam rumah.

“Saya excited sekali, ternyata banyak permainan tradisional Indonesia justru naik daun dan banyak dimainkan oleh anak-anak, seperti bola bekel, congklak, bermain gambar, bobonekaan, bermain karet gelang, sondah, dan banyak lagi,” ujar Zaini, di Bandung (27/10/2020).

Menurut Zaini, hal ini terjadi karena banyak anak yang mulai bosan dengan permainan game online. Pasalnya mereka selama berbulan-bulan harus menetap di rumah dan tidak berinteraksi dengan orang lain.

“Tapi prediksi itu meleset. Mungkin anak merasa bosan ya, selama tujuh bulan diam di rumah dan belajar secara daring. Keinginan untuk berinteraksi dengan orang lain menuntun mereka untuk memainkan permainan tradisional,” ujarnya.

Sementara itu Sjamsul Hadi. SH.MM, Direktur Kepercayaaan Kepada Tuhan YME dan Masyarakat Adat Kemendikbud RI, mengatakan bahwa naik daunnya permainan tradisional mendorong pihaknya untuk memasukannya ke kurikulum pendidikan.

Menurut Sjamsul, pihak Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) bersama pusat kurikulum, tengah menyusun modul permainan tradisional untuk masuk kurikulum.

“Pihak puskur tengah menyusun modul kurikulum pembelajaran yang memudahkan anak untuk belajar yang berbasis dengan kebudayaan tradisional mereka, seperti pendidikan sains, pendidikan jasmani (penjas), dan pendidikan seni budaya yang semuanya berbasis dari permainan tradisional (budaya mereka),” jelasnya.

Bila memang hal ini terjadi, tentunya akan sangat positif bagi perkembangan karakter anak. Karena seperti diketahui permainan tradisional memiliki makna filosofis yang cukup dalam.

Selain ajaran tentang Sang Pencipta, gambreng juga mengandung nilai kehidupan lainnya, seperti hidup rukun meskipun berbeda pilihan, sportif dalam menerima keputusan bersama, berani mengungkapkan pilihan, memupuk rasa persaudaraan, dan bersikap adil.

Gambreng ini juga merupakan representasi atau simbol permulaan dari segala kehidupan. Lebih dalamnya lagi, hompimpa juga bermakna sebagai cerminan sikap musyawarah yang tinggi, siap menerima kesepakatan, lalu mampu menumbuhkan kebersamaan antar-individu.

Selain itu anak-anak akan diajarkan untuk menerima konsekuensi dari setiap keputusan yang diambil. Simbolisasi hitam dan putih juga mengajarkan bahwa dalam kehidupan ada dua sisi yang berlawanan.

Sumber : goodnewsfromindonesia.id

Komentar

mood_bad
  • Belum ada komentar.
  • Tambahkan komentar

    BACAAN TERKAIT