Selasa, 23 Februari 2021

Tan Malaka dan Pemikiran Futuristik Seorang Bapak Republik


Semakin hari, ingatan sebagian orang tentangnya hanya semakin memburuk, tak peduli studi-studi semakin membuka berbagai misteri sejarah yang menyelubunginya.

Pada 1940-an, di antara orang-orang Sumatera, Tan Malaka adalah legenda. Ia diceritakan sebagai sosok yang bisa berpindah tempat ratusan kilometer dalam sekejap. Ia dapat mengubah wujudnya sekehendaknya. Satu hari Anda mengenalnya. Di keesokan hari, Anda tak mengenal lagi sosoknya maupun mengetahui di mana dirinya.

Mistis? Ya. Tetapi, mitos dan aura misterius menyelubunginya lantaran situasi yang sangat wajar. Tan Malaka dianggap seseorang yang berbahaya oleh rezim kolonial. Keberadaannya berbahaya—ia adalah sosok yang cakap meyakinkan orang, penggalang massa yang ulung, serta penggugah pergerakan yang efektif.

Tulisan-tulisannya lebih-lebih berbahaya. Sukarno dijatuhi hukuman yang lebih berat ketika diadili di Bandung hanya karena ketahuan menyimpan buku Massa Actie (Aksi Massa) yang terlarang karya Tan.

Tan Malaka pun, akibatnya, menghabiskan lebih dari separuh kehidupannya sebagai buron. Ia tak bisa berdiam di satu tempat lama serta harus mempergunakan identitas palsu dalam banyak kesempatan. Ia memiliki 23 nama samaran dan selalu berpindah dengan total perjalanan sepanjang 89 ribu kilometer.

Harry Poeze menulis, Tan Malaka tak mudah percaya kepada orang. Ketika ia meyakinkan Sukarni, tokoh pemuda sekaligus pengagumnya, untuk mendorong Sukarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan selekasnya, Sukarni hanya mengetahuinya sebagai Ilyas Hussein, seorang kerani di pertambangan batu bara di Bayah, Banten.

Aura misterius Tan ini pun merongrong elite yang lantas memperoleh tampuk kepemimpinan Indonesia pasca-penjajahan. Mereka sebelumnya hanya mengetahui Tan Malaka sekadar dari tulisan-tulisannya yang menginspirasi mereka bangkit melawan kekuatan kolonial.

Sekonyong-konyong saja, mereka menjumpainya secara langsung. Ini menyebabkan sosoknya menjadi momok ketika pada tahun-tahun terakhir kehidupannya ia kembali ke Indonesia. Ia kembali ditangkap pada bulan Maret 1946 dengan tuduhan yang tak bisa dibuktikan yakni hendak mengacau keadaan dan bertindak menggelisahkan.

Indonesia Dalam Mimpi Tan

Dalam Dialog Sejarah “Indonesia dalam Mimpi Tan Malaka” di saluran Facebook dan Youtube Historia, Hasan Nasbi, penulis buku Filosofi Negara menurut Tan Malaka, menyebut setidaknya ada tiga buku yang menggambarkan mengenai pemikiran Tan Malaka tentang Republik Indonesia.

Jababeka industrial Estate

Buku pertama berjudul Parlemen atau Soviet?, terbit pada 1921. Dalam buku ini, Tan menuliskan ketidaksetujuannya jika Indonesia meniru Barat yang menerapkan prinsip trias politika di mana kekuasaan dipegang oleh eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Menurutnya, pertentangan antara eksekutif dan legislatif akan membuat negara tidak stabil.

Negara di mana eksekutif dan legislatif selalu bertentangan akan melupakan tujuan utamanya untuk mengurus negara itu sendiri. Selain itu, parlemen juga hanya akan menjadi legitimasi kaum yang berkuasa.

“Hanya orang-orang kaya yang mengisi parlemen itu sehingga tidak mewakili masyarakat di bawah. Sebagian besar masyarakat di bawah yang bukan merupakan bagian dari kelasnya. Sehingga Tan Malaka tidak pengen ada negara yang berbentuk trias politika,” jelas Hasan.

Sementara negara yang diidam-idamkan Tan Malaka adalah soviet yang dalam bahasa Rusia bermakna government council atau dewan pemerintahan. Dewan pemerintahan ini merupakan organisasi politik tunggal dengan partai politik tunggal pula.

Menurut Hasan, sistem pemerintahan semacam inilah yang diterapkan di Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dan Vietnam hari ini. Hanya ada partai tunggal yang mengelola negara tanpa kekuatan politik di luar itu.

“Tan Malaka itu sangat terpesona dengan disiplin organisasi. Jadi dia mau itu orang berorganisasi dan punya disiplin organisasi,” terang Hasan.
Tahapan Revolusi

Buku kedua adalah Menuju Republik Indonesia yang terbit pada 1924. Buku ini berisi rancangan dasar bernegara atau semacam draft konstitusi versi Tan Malaka. Buku ini juga menjelaskan mengenai tahapan-tahapan revolusi Indonesia.

Pada saat itu, menurut Tan jumlah kaum proletar di Indonesia masih belum cukup untuk revolusi. Maka dari itu, kaum pedagang kecil dan petani kecil harus dirangkul dan diberi hak kepemilikan pribadi sementara.

“Jadi bentuklah semacam majelis permusyawaratan nasional Indonesia dulu supaya sebagai organisasi tunggal, supaya semua kekuatan ini baik proletar maupun non-proletar bersatu dulu,” sambung Hasan.

Jika itu sudah tercapai, tahapan revolusi selanjutnya adalah menghancurkan kapitalisme. Menurut Tan, meruntuhkan imperialisme untuk mencapai kemerdekaan adalah satu hal. Namun, merdeka 100 persen adalah ketika berhasil menghancurkan kapitalisme.

Selain itu, ada pemikiran-pemikiran Tan yang menurut Hasan bersifat futuristik. Antara lain, bentuk negara federasi, pendidikan gratis hingga usia 17 tahun, pemerataan sumber daya manusia hingga jam kerja buruh maksimal tujuh jam sehari.

Tan Malaka dan pemikirian futuristiknya ini sampai saat ini masih relevan dan layak untuk didiskusikan.

Buku ketiga adalah Aslia Bergabung yang terbit tahun 1943. Aslia merupakan singkatan dari Asia dan Australia. Dalam buku ini Tan menawarkan sebuah konsep blok sosial, ekonomi, dan politik yang luas meliputi Asia dan Australia.

Pemikiran Tan amat dipengaruhi oleh konteks politik saat itu di mana tengah terjadi pertentangan ideologi. Di mana gerakan sayap-sayap marxis tengah bangkit di seluruh dunia, terutama di negara-negara yang tengah berupaya menumbangkan imperialisme Barat. Tan sendiri terinspirasi oleh revousi Rusia.

Republik Sosialis

Sejarawan Harry A Poeze, yang telah meneliti Tan Malaka hampir setengah abad, menyebut buku penting yang tak boleh dilewatkan untuk melihat pemikiran Tan tentang Indonesia adalah Madilog (Materialisme, Dialektika dan Logika).

“Ini buku yang menurut saya sangat penting karena tidak ditulis karena ada kejadian yang spesifik, misalnya pemberontakan tahun 26-27, tapi ini buku filsafat yang Tan Malaka tulis, salah satu filsafat yang bisa beri petunjuk kepada orang Indonesia. Dan ini buku filsafat yang didasarkan atas pemikiran marxis tapi ditambah dengan keadaan Indonesia,” terang Harry.

Bab terakhir dalam Madilog menurut Harry sangat penting untuk mengerti pemikiran Tan Malaka tentang Indonesia beserta latar belakangnya. Dalam bab inilah selain filsafat politik dengan pemikiran marxis yang telah ditulis dalam bab-bab sebelumnya, Tan menulis tentang impian Indonesia yang baru.

“Bukan filsafat (dalam bab terakhir -red) tapi ini impian Republik Indonesia yang merdeka dan sosialis,” jelas Harry.

BACAAN TERKAIT