[gtranslate]

Ketika Sontoloyo Menggema dari Lisan Jokowi

  • Share

Finroll.com – Manusia adalah ciptaan Tuhan yang sempurna, dilengkapi berbagai perangkat untuk menjalani hidup dan mengemban tugasnya di dunia yang fana. Secara singkat, sesosok manusia berisikan jiwa, akal pikiran dan tubuh dan selanjutnya manusia itu sendiri yang harus merawat dan mengembangkan potensi yang sudah dikaruniakan Tuhan kepadanya.

Di dalam jiwa dan pikiran manusia ada berbagai aspirasi, respon dan emosi yang mungkin butuh ekspresi yang meskipun tidak seluruhnya harus atau ingin disampaikan ke dunia di luar dirinya. Ada berbagai bentuk ekspresi hati, pikiran, perasaan dan emosi manusia, mulai dari mimik wajah, gestur tubuh hingga satu atau rangkaian kata dan intonasi yang menyertainya.

Baik disadari atau tidak, seringkali ekspresi itu terbaca secara eksplisit oleh orang lain, acapkali pula terjadi secara spontan. Mungkin pula terjadi seorang manusia berusaha menyembunyikan apa yang ada di dalam hati dan pikirannya namun kenyataannya gestur tubuhnya tidak dapat menyangkal apa yang tersirat.

Salah satu bentuk ekspresi yang paling umum adalah kata atau rangkaian dari beberapa kata (frasa) atau juga berbentuk kalimat singkat bahkan juga hanya sekadar interjeksi seperti duh, ah, cuih, idih, ehem, wah, wow dan sebagainya.

Kata-kata yang mengungkapkan aspirasi dan ekspresi manusia seringkali disampaikan dalam bentuk verbal maupun tulisan, terlebih di era digital saat ini yang mungkin sejak lebih dari satu dekade terakhir ada begitu banyak manusia yang menghabiskan banyak waktu untuk menyampaikan apa yang ada di dalam benaknya karena setiap hari selalu ditanya, “What’s on your mind?” oleh Facebook. Hal serupa juga menggelitik seseorang untuk mau dan berani mengungkapkan ekspresinya pada berbagai media sosial populer dan aplikasi pesan (messenger).

Kata adalah sebuah nikmat sekaligus juga ujian karena dari kata yang disampaikan oleh seseorang akan menerima reaksi dari manusia lain yang mendengar atau melihatnya, bisa positif atau negatif, tergantung makna kata tersebut dan tentunya dipengaruhi pula oleh intonasi atau tanda baca yang digunakannya. Karena itulah sebagai manusia kita dituntut untuk bijaksana dan cerdas dalam menyampaikan kata-kata meskipun kita memiliki hak asasi untuk menyampaikan kata apapun yang kita suka.

Sontoloyo, Umpatan yang Populer Lagi karena Jokowi

Dari banyak kata yang bisa digunakan untuk berekspresi, umpatan atau makian adalah salah satu format yang seringkali kita dengar di sekeliling kita. Bahkan kita sendiripun acapkali melontarkan umpatan mulai yang dari tingkat rendah seperti sindiran hingga yang benar-benar kasar. Lihatlah di jalan raya, karena kondisi lelah dan emosional di tengah lalu lintas yang macet dan semrawut, seringkali terdengar kata-kata yang tidak senonoh atau setidaknya kurang sopan.

Salah satu umpatan yang mungkin tidak begitu dikenal oleh generasi millenial adalah sontoloyo. Beberapa hari terakhir umpatan ini menggema lagi karena Presiden Jokowi menyebutnya dalam sebuah forum resmi. Mungkin tokoh nasional lain juga pernah menyampaikannya namun karena kali ini yang mengungkapkannya adalah seorang kepala negara, dampaknya pun berbeda.

Laman Kamus Besar Bahasa Indonesia Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyebut kata sontoloyo berarti konyol, tidak beres, bodoh (dipakai sebagai kata makian). Ada juga seorang teman yang berasal dari Jawa Timur menyebut sontoloyo berarti gila.

Secara etimologi tidak diketahui pasti dari mana kata sontoloyo berasal. Namun berbagai sumber di internet yang entah dapat dipercaya atau tidak, termasuk Wikipedia, menyebut bahwa sontoloyo sebenarnya adalah sebutan untuk sebuah profesi di Jawa, entah Jawa bagian mana tidak disebutkan dan mungkin para pembaca yang berasal dari Jawa lebih memahaminya.

Konon sontoloyo adalah sebutan untuk seorang tukang angon bebek atau itik.

Sontoloyo adalah sebutan untuk tukang angon atau gembala bebek atau itik yang bertugas menggiring ratusan binatang ternak itu berpindah-pindah tempat mengikuti musim panen padi untuk mencari pakan segar atau mungkin juga menjadi wahana bermain para hewan itu. Tukang angon bebek ini biasanya bertopi caping dan membawa semacam tongkat khas penggembala ternak.

Dengan jumlah ratusan bebek yang berbaris layaknya tentara yang melakukan parade atau long march, bebek-bebek ini seringkali melintasi jalan dan mengganggu para pengguna jalan tersebut sehingga muncullah makian dari mereka, “Ah, dasar sontoloyo!” yang ditujukan kepada si tukang angon bebek. Mungkin di benak para pengguna jalan itu adalah “Kenapa sih bebek-bebek itu harus lewat sini? Apa ndak bisa cari jalan lain yang sepi?”.

Benar atau tidak semua itu yang jelas umpatan atau makian ini merebak setelah Jokowi mengungkapkan kekesalannya terhadap para politikus yang dalam pandangannya memainkan cara-cara politik yang tidak baik sehingga beliau menyebutnya istilah “politikus sontoloyo” dan “politik sontoloyo”.

Berbagai media nasional mewartakan bahwa Jokowi menyebut soal politikus sontoloyo setelah menyerahkan sertifikat tanah di Lapangan Bola Ahmad Yani, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Selasa (23/10/2018). Menurutnya istilah politikus sontoloyo ditujukan kepada yang meributkan soal program dana kelurahan.

“Itulah kepandaian para politikus, mempengaruhi masyarakat, hati-hati saya titip ini, hati-hati banyak politikus yang baik-baik tapi juga banyak politikus yang sontoloyo,” ujar Jokowi.

Selanjutnya pada Rabu (24/10/2018), kombinasi dua kata itu disampaikan Jokowi saat Peresmian Pembukaan Pertemuan Pimpinan Gereja dan Rektor/Ketua Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Seluruh Indonesia di Istana Negara, Jakarta, Rabu (24/10/2018).

Tak lama berselang, Jokowi mengakui bahwa kekesalannya terhadap cara politik kotor seperti memfitnah, mengadu domba dan memecah belah demi memenangkan tampuk kekuasaan, membuatnya jengkel dan kelepasan menggunakan umpatan sontoloyo.

Presiden juga manusia, punya rasa, punya hati. Wajar jika Jokowi merasa jengkel dan beliau memiliki hak untuk menggunakan kata apapun. Namun alangkah eloknya jika seorang pemimpin tertinggi di sebuah negara senantiasa mampu untuk mengendalikan diri, kata-kata dan bentuk ekspresi lainnya karena mayoritas rakyat, baik yang pro, kontra atau netral terhadapnya, senantiasa menyoroti setiap sepak terjang dan gerak-geriknya.  Demikian pula yang diharapkan dari para pemimpin, pejabat dan pemuka masyarakat di negeri ini.

Namun setidaknya ada satu hikmah dibalik semua ini yaitu publik kini semakin paham apa itu sontoloyo, terlepas benar atau tidaknya bahwa istilah tersebut berasal dari sebutan untuk sebuah profesi.  Bukan tidak mungkin jika istilah lama ini terus trending di kalangan lidah non Jawa dan kaum millenial akan menjadi hal yang biasa di tengah masyarakat sehingga bisa mengganti nama salah satu menu makanan populer yaitu Nasi Goreng Gila menjadi Nasi Goreng Sontoloyo.

 

  • Share

Leave a Reply

-->