Kamis, 11 Februari 2021

Upacara Kawalu, Tradisi Ucap Syukur Masyarakat Adat Baduy


Suku Baduy atau biasa disebut sebagai Urang Kanekes merupakan sebuah kelompok masyarakat adat asli Sunda yang menempati wilayah pegunungan Kendeng di Provinsi Banten. Suku Baduy terdiri dari dua kelompok, yaitu adalah Baduy Dalam dan Baduy Luar.

Perbedaan mendasar dari keduanya adalah dari sisi pemahaman. Bagi masyarakat Baduy Dalam teknologi merupakan sebuah pantangan. Sebaliknya masyarakat Baduy Luar kini sudah memanfaatkan teknologi dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Masyarakat adat Baduy memiliki sejumlah tradisi unik. Salah satunya adalah upacara Kawalu atau penyucian diri. Upacara kawalu ini biasa diikuti oleh Baduy Dalam maupun Baduy Luar dan disebut sebagai Bulan Sucinya Suku Baduy.

Upacara Kawalu di Baduy merupakan bentuk ungkapan rasa terimakasih terhadap Sang Hyang Karesa atas berhasilnya panen padi huma Orang Kanekes setiap tahunnya. Upacara Kawalu merupakan salah satu tradisi adat yang diselenggarakan sebelum Upacara Seba. Adapun tahapannya yaitu, upacara ngalanjakan, upacara Kawalu, upacara ngalaksa, dan terakhir Seba, sebagai puncak dari upacara-upacara adat yang dilakukan Orang Kanekes

Sebagaimana upacara-upacara lainnya yang mengiringi Seba, pelaksanaan Kawalu tidak dapat dilepaskan dari sanksi adat apabila dalam pelaksanaannya terdapat hal-hal yang diluar kebiasaan masyarakat setempat.

Kawalu berasal dari kata walu yang artinya balik (pulang). Jadi, arti dari kata Kawalu adalah kembali. Upacara ini juga biasa disebut sebagai ngukus Kawalu atau membakar dupa untuk mengiringi sesajen pemujaan. Biasanya disetiap acara Kawalu selalu dilakukan pembakaran dupa sebagai bentuk pemujaan terhadap leluhur.

Upacara kawalu dilaksanakan setelah kegiatan panen padi dari huma (ladang) dan menyimpan atau mengembalikannya ke leuit. Maksud dan tujuan penyelenggaraan upacara Kawalu adalah sebagai bentuk ungkapan syukur atas keberhasilan panen padi yang telah didapatkan oleh seluruh masyarakat Kanekes.

Perwujudan rasa syukur ini kemudian diaplikasikan dalam bentuk puasa selama 3 bulan berturut-turut menurut penanggalan Orang Kanekes yang disebut sebagai bulan Kawalu.

upacara kawalu,masyarakat adat baduy,baduy dalam,baduy luar

Adapun makna dibalik pelaksanaan puasa di bulan Kawalu ini ialah untuk menyucikan diri dari nafsu jahat. Oleh karena itu, tanggal 15 bulan Kasa, sebelum berpuasa, seluruh Orang Kanekes wajib membersihkan lingkungan berupa halaman, kampung, jalan, dan sebagainya. Barang-barang yang datang dari luar pun harus dikeluarkan dari wilayah Kanekes.

Terdapat 3 bulan suci dalam penanggalan Kanekes setiap tahunnya yang disebut bulan suci Kawalu. Bulan suci Kawalu ini diselenggarakan selama 3 bulan berturut-turut pada bulan Kasa, bulan Karo dan Bulan Katilu setiap tahunnya. Puasa yang dilaksanakan Orang Kanekes hanya berlangsung satu hari saja dalam satu bulan, tepatnya terjadi pada tanggal 17 bulan Kasa yang disebut Kawalu Tembey atau Kawalu pertama, tanggal 18 bulan Karo disebut sebagai Kawalu Tengah dan tanggal 17 bulan Katilu disebut sebagai Kawalu Tutug.

Pelaksanaan puasa Kawalu Orang Kanekes dimulai pada pukul 5 sore hari sebelum hari H, dan berakhir pada pukul 5 sore hari keesokan harinya. Selama melaksanakan puasa mereka tidak diperkenankan untuk makan dan minum dari awal pelaksanaan puasa hingga menjelang buka puasa.

Jababeka industrial Estate

Terdapat 3 Kampung Tangtu atau kampung adat yang menjadi kiblat adat dari masyarakat Kanekes yaitu Kampung Cibeo, Cikertawana dan Cikeusik. Disana terdapat 3 Puun yang bertugas sebagai tetua adat. Kampung Tangtu ini disebut juga Baduy dalam. Ketiga kampung Tangtu ini menjadi pusat pelaksanaan ritual adat dan upacara-upacara tradisional Orang Kanekes.

Adapun Orang Kanekes yang tinggal di luar ketiga Kampung Tangtu, atau biasa disebut Kampung Panamping atau baduy luar, dalam pelaksanaan prosesi upacara adat mereka akan mengikuti salah satu Kampung Tangtu yang ada tergantung asal keturunan mereka.

Dari sekian banyak jumlah masyarakat baduy luar, biasanya Cibeo dan Cikeusik yang menjadi tempat ritual utama dalam pelaksanaan Upacara Kawalu, sedangkang kapuunan Cikertawana sendiri menggabungkan diri dengan kapuunan Cibeo. Di kampung Cibeo dan Cikeusik upacara adat kawalu dilangsungkan di Bale yang tempatnya berdekatan dengan kediaman Puun.

sumber : kebudayaan.kemendikbud.go.id

BACAAN TERKAIT