Connect with us

News

Fadli Zon Sebut Lembaga Survei yang Sering Salah Harus Bersikap Harakiri

Published

on


Fadli Zon

Finroll.com – Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon berpendapat, kebanyakan lembaga survei di Indonesia seharusnya melakukan harakiri (bunuh diri ala Jepang) lantaran sudah menanggung malu akibat banyak hasil survei mereka yang meleset jauh.

Di Jepang, harakiri diartikan sebagai tindakan mengakhiri hidup dengan cara menusukkan belati atau samurai ke perut atau jantung sendiri oleh orang-orang yang merasa kehilangan kehormatan akibat melakukan kejahatan, aib, dan atau mengalami kegagalan dalam menjalankan kewajiban.

Hal itu diungkapkan Fadli merujuk pada banyaknya lembaga survei yang meleset jauh dengan hasil sebenarnya. Sebagai contoh, kata dia, pada Pilkada DKI Jakarta 2017 hampir semua lembaga survei memprediksi jika pasangan petahana Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat (Ahok–Djarot) bakal memenangkan kompetisi demokrasi tersebut. Bahkan, ada pula lembaga survei yang memprediksi pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Salahuddin Uno (Anies–Sandi) bakal langsung tersisih di putaran pertama Pilkada DKI.

Faktanya, hasil survei yang mayoritas dirilis itu ternyata meleset, bahkan jauh melampaui angka margin of error (toleransi kesalahan ukur). “Yang namanya lembaga survei harus ada akuntabilitas. Kalau devisiasi (penyimpangan) kesalahannya terlalu besar. Kalau di Jepang itu harusnya kita kasih samurai, kita suruh harakiri lembaga survei itu,” kata Fadli di Jakarta, Selasa (12/2/2019).

Menurut dia, lembaga survei harusnya mempunyai rasa malu ketika hasil prediksi mereka meleset jauh. Apalagi, ada metodologi ilmiah dan aspek akademis yang harus dipertanggungjawabkan ketika mereka melakukan survei. Kendati demikian, Fadli menyadari bahwa belakangan ini lembaga survei justru dijadikan sebagai alat kampanye dari pihak tertentu dalam menghadapi kontestasi pemilu.

“Malu harusnya, karena mereka sudah memprediksi dan kesalahannya ratusan persen. Ya, tapi kita tahu lah lembaga survei di Indonesia sekarang jadi alat kampanye. Ada yang terang-terangan declare (deklarasi ke kandidat tertentu), ada juga yang sembunyi-sembunyi,” ujarnya.

Wakil ketua DPR itu berpendapat, harus ada regulasi yang tetap untuk mengatur lembaga-lembaga survei ke depan. “Misalnya, ada urusan pajak segala macam. Jadi, harus ada regulasi supaya ini tidak dijadikan alat kampanye,” tuturnya.(Inews)

Nasional

Usai Lebaran Transjakarta Tetap Batasi Operasional Bus

Published

on

Finroll – Jakarta, Corsec Transjakarta Nadia Disposanjoyo, menjelaskan tetap membatasi jadwal dan rute operasional bus usai Hari Raya Idulfitri atau Lebaran tahun ini di tengah pandemi virus corona (Covid-19).

Dari 240 rute, Nadia menjelaskan ada 24 rute yang dioperasikan untuk umum dan 24 rute yang dioperasikan khusus untuk tenaga rumah sakit (TRS).

“24 Rute 13 koridor, koridor 1-13 buka semua, 24 rute untuk umum dan 24 khusus untuk TRS,” ucapnya saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (25/5).

Untuk TRS disediakan bus khusus agar tidak berebut dengan penumpang lainnya. Tindakan ini juga dilakukan agar bisa menjalankan imbauan physical distancing atau jaga jarak fisik.

“Layanan medis kami siapkan bus khusus. Untuk petugas medis yang tidak menggunakan layanan khusus, bisa gabung umum,” ujar Nadia.

Sementara waktu operasional untuk umum mulai pukul 06.00 WIB – 18.00 WIB dan untuk petugas medis mulai pukul 05.00 WIB – 23.30 WIB. Sedangkan untuk petugas distribusi sembako pemerintah provinsi, layanan dibuka mulai pukul 07.00 WIB – 17.00 WIB.

Warga bisa mendapatkan informasi rute Transjakarta yang dibuka melalui laman resmi Transjakarta di tautan ini atau melalui akun Twitter resmi Transjakarta di @PT_Transjakarta.

Sebelumnya PT Transportasi Jakarta hanya mengoperasikan 15 rute waktu operasional pada Hari Raya Lebaran, Minggu (24/5).

Layanan Transjakarta dibatasi hanya beroperasi di 15 rute koridor utama BRT dengan interval 15-30 menit per kedatangan.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

International

Tanpa Kebijakan Ketat Jepang Berhasil Tekan Corona

Published

on

Finroll – Jakarta, Jepang resmi mencabut status darurat nasional pandemi Covid-19 setelah berhasil meratakan kurva penyebaran virus corona, Senin (25/5).

Jepang berhasil meraih capaian tersebut meski tidak menerapkan kebijakan ketat yang umumnya dilakukan untuk memutus rantai penyebaran virus corona. Hanya pembatasan tanpa hukuman atau sanksi tegas bagi setiap pelanggar.

Pada April lalu, Perdana Menteri Shinzo Abe memutuskan memperluas status darurat nasional setelah melihat kasus Covid-19 kembali melonjak signifikan. Dengan status darurat itu, warga hanya diimbau melakukan karantina mandiri dan berdiam di rumah.

Status darurat di Jepang juga tidak mengikat warga sehingga masih memungkinkan melakukan perjalanan, termasuk bekerja di kantor meski jam kerjanya dikurangi.

Banyak pihak menyangsikan kemampuan Jepang melawan virus karena jumlah populasi manula yang tinggi serta kepadatan penduduk di Tokyo. Selain itu ada pula gambaran pekerja-pekerja yang berjejal di kereta komuter.

Jepang tidak melakukan pengujian virus secara massal layaknya negara lain yang sukses menekan penularan seperti China dan Korea Selatan. Rumah sakit di Jepang hanya akan memeriksa orang yang bergejala.

Jepang disorot karena terhitung negara dengan angka pengecekan Covid-19 yang rendah, sekitar 270 ribu. Angka itu menjadi tingkat per kapita terendah dalam kelompok tujuh negara maju menurut Worldometer.

Pemerintah Jepang bersikeras bahwa pengujian massal tidak pernah menjadi bagian dalam rencana penanganan pandemi mereka.

Namun pengujian ditingkatkan dalam beberapa pekan terakhir karena kekhawatiran akan peluang terjadinya gelombang baru yang bisa membuyarkan rencana sebelumnya.

Dengan kondisi itu, Jepang rupanya mampu menekan penyebaran dengan 16.581 kasus corona dan 830 kematian.

PM Abe memuji keberhasilan Jepang dalam melandaikan kurva kasus virus corona Covid-19. Menurut dia negara tersebut mampu menunjukkan kekuatan dari yang disebut gaya Jepang.

Namun dia memperingatkan masyarakat harus mengadaptasi diri ke kehidupan “new normal” dan tetap menghindari “3 C” yaitu closed space atau ruang tertutup, crowded place atau ruang ramai, dan close contact atau kontak jarak dekat.

“Bila kita melonggarkan perlindungan kita, infeksi akan menyebar amat cepat. Kita perlu waspada,” kata Abe dikutip dari AFP.

“Kita perlu menciptakan gaya hidup baru, dari saat ini kita perlu mengganti cara pikir kita.”

Belum ada da alasan pasti mengapa virus corona tidak menghantam parah Jepang, tidak seperti negara selevel dengannya di dunia.

Sejumlah dugaan seperti kebiasaan masyarakat Jepang disebut menguntungkan dalam mencegah penyebaran pandemi, seperti kebiasaan higienis seperti melepas sepatu kala masuk ruangan, dan menundukkan badan sebagai bentuk salam daripada berjabat tangan atau berciuman. Selain itu, Jepang dinilai memiliki sistem kesehatan yang amat baik.

Namun para analis sepakat kebiasaan tersebut tidak bisa dijadikan patokan parameter keberhasilan Jepang.

Jepang juga dinilai mampu menekan laju penyebaran berkat perilaku warga yang memang jauh dari kebiasaan berjabatan tangan, berpelukan dan berciuman. Selain itu, berjabat tangan bukan bagian dari salam tradisional Jepang.

Profesor Kebijakan Publik di Universitas Hokkaido Kazuto Suzuki mengungkapkan Jepang melakukan pendekatan berbasis klaster yang ternyata dinilai berhasil.

Menurut dia, pendekatan berbasis klaster ini dikondisikan pada lingkungan di mana hanya ada beberapa orang yang terinfeksi dan klaster terdeteksi pada tahap awal.

“Pada bulan Februari, ketika penyebaran infeksi diamati di Hokkaido, pendekatan berbasis klaster diadopsi. Akibatnya, Hokkaido berhasil menahan wabah,” kata dia melalui kolom yang ditulis di Japan Times, (28/4) lalu.

Suzuki menyatakan model Jepang didasarkan pada kondisi geografis dan sosial di negara tersebut dan tidak selalu berhasil diterapkan di negara lain.

“Pendekatan serupa diambil oleh Korea Selatan dan Singapura dengan sistem pelacakan pribadi yang lebih canggih, yang meningkatkan masalah privasi. Tapi Jepang memperkenalkan sistemnya sendiri,” ujarnya.

Tokyo tercatat mengalami penurunan kasus infeksi dalam beberapa pekan terakhir. Tokyo melaporkan 14 kasus baru pada hari Minggu (24/5), tertinggi sejak 16 Mei, setelah hanya dua kasus yang dikonfirmasi pada Sabtu sebelumnya. Total untuk tujuh hari terakhir adalah 50 kasus baru.

Landainya penambahan kasus membuat Menteri Ekonomi Yasutoshi Nishimura membuka mobilitas warga di Jepang.

Namun, Nishimura menegaskan pemerintah masih terus memperketat pengawasan dan penanganan penularan covid-19 sembari menyeimbangkan upaya pencegahan dan dampak covid-19 terhadap kegiatan ekonomi.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

International

Positif Corona Global Tembus 5,5 Juta Orang

Published

on

Jumlah kasus positif virus corona atau Covid-19 secara global telah menyentuh angka 5.584.209 kasus per Selasa (26/5) pukul 09.00 WIB. Tercatat ada penambahan sebanyak 90.126 kasus positif Covid-19 di 213 negara.

FINROLL.COM — Mengutip laman Worldometer, dari total kasus positif Covid-19 sebanyak 2.875.504 kasus masih aktif, dengan 2.822.337 orang dalam kondisi sedang atau ringan. Sementara, 53.167 orang dilaporkan dalam kondisi kritis.

Adapun, sebanyak 2.708.705 kasus dinyatakan ditutup, dengan jumlah kasus meninggal dunia sebanyak 347.613 orang. Sementara, jumlah orang yang telah dinyatakan sembuh positif corona mencapai 2.2.361.092 orang.

Amerika Serikat (AS) masih menjadi episentrum pandemi corona dengan total kasus mencapai 1.706.224, dengan tambahan kasus baru sebanyak 90.126 dalam sehari. Posisi kedua ditempati oleh Brazil, dengan total kasus mencapai 376.669. Diikuti oleh Rusia, dengan total kasus Covid-19 sebanyak 353.427.

Brazil dan Rusia menggeser posisi Spanyol dan Italia, yang tadinya merupakan dua negara dengan jumlah kasus positif virus corona terbanyak di dunia setelah AS.

Spanyol secara mengejutkan tidak mencatatkan penambahan kasus baru positif Covid-19, sehingga jumlah kasus bertahan di angka 282.480 orang. Negeri matador ini juga tidak mencatatkan penambahan jumlah orang meninggal dunia akibat Covid-19, sehingga angka kematian masih 26.837 orang.

Spanyol juga mencatatkan progress yang positif terkait kesembuhan pasien positif virus corona, dengan total pasien sembuh sebanyak 198.958. Hal ini membuat kasus positif corona yang aktif hanya sebanyak 58.685 orang.

Sementara, Italia mencatatkan pertumbuhan kasus baru yang melandai, dengan penambahan hanya 300 kasus baru. Total kasus positif Covid-19 Italia tercatat sebanyak 230.158 dengan jumlah kesembuhan mencapai 141.981, atau lebih dari setengah total kasus.

Dari AS, bahaya virus corona agaknya tidak lagi menjadi perhatian serius masyarakatnya. Hal ini terlihat dari laporan sejumlah media terkait aktivitas masyarakat di ruang publik yang melonjak saat liburan Memorial Day.

Mengutip CNN, Senin (25/5), kerumunan orang merebak di tempat-tempat publik di Florida, Maryland, Georgia, Virginia, dan Indiana karena liburan Memorial Day. Beberapa orang yang diwawancara mengaku lelah dengan status lockdown dan ingin menikmati waktu liburan.

Perhelatan acara Speedway di North Carolina juga terlihat padat dengan pengunjung yang tidak menggunakan masker, dan pihak penyelenggara acara tidak menerapkan metode social distancing.

Continue Reading
Advertisement

Advertisement

Trending