Senin, 23 September 2019

2020 Cukai Rokok Bakal Naik Sampai 25 Persen


Fintoll.com — Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi) Sofyano Zakaria, mengatakan publik mengeluhkan peningkatan jumlah perokok di Indonesia yang cukup fantastis.

Perokok bahkan menjangkau pasar baru termasuk kelompok pemula, anak anak di bawah umur, dan kelompok perempuan.

”Padahal  di masa lampau sangat sedikit perempuan merokok. Namun sekarang sudah terbiasa terlihat kaum hawa merokok,” ujar Sofyano, di Jakarta, Minggu (22/9/2019).

Meningkatnya jumlah perokok pada dasarnya bisa dinilai sebagai keuntungan tersendiri bagi pemerintah. Dengan meningkatnya jumlah perokok maka penerimaan negara dari cukai rokok juga meningkat.

Akibatnya, terjadi perbedaan kepentingan antara publik yang memandang rokok membahayakan kesehatan dengan pemerintah yang “menjadikan” rokok sebagai sumber penerimaan penting. Perbedaan ini tentu saja perlu dijembatani. Salah satunya adalah melalui kebijakan cukai.

”Secara teori, cukai adalah pungutan terhadap barang konsumsi yang menimbulkan eksternalitas atau dampak buruk. Sehingga ’barang’ ini perlu ditekan penggunaannya melalui instrumen perpajakan dan cukai,” cetusnya.

Dalam pengalaman di negara lain, kebijakan cukai tinggi sanggup menekan konsumsi tembakau dan rokok.

Namun pada pengalaman Indonesia, cukai rokok nyaris terbukti diterapkan sebagai instrumen fiskal semata. Kebijakan cukai hanya didasarkan pada inflasi dan target pertumbuhan ekonomi.

Selama ini cukai rokok hanya naik antara 5-10 persen setiap tahun. Baru pada 2020 nanti cukai rokok akan dinaikkan sampai angka 25 persen. ”Semoga Pemerintah tidak mundur dari kebijakan ini,” ungkapnya.

Kebijakan kenaikan cukai rokok pada 2020 tersebut tentu diharapkan dapat mendorong kenaikan harga rokok. Kenaikan harga ini diharapkan akan menekan perokok pemula dan kelompok rentan.

CIMB NIAGA

Sehingga dari sisi jumlah perokok akan berkurang. Apalagi jika pada 2021 angka kenaikan mengikuti kebijakan pada 2020. Maka harga rokok di Indonesia akan sama dengan di banyak negara di luar  negeri. Jumlah perokokpun dapat ditekan secara signifikan .

Arah kebijakan cukai pemerintah perlu didukung publik secara luas. Sementara atas kebijakan mengoreksi naik besaran cukai rokok , pemerintah harusnya tidak perlu khawatir.

Dengan penurunan jumlah perokok, penerimaan negara tidak akan berkurang. Kenaikan cukai meningkatkan pendapatan negara dan akan berbanding terbalik dengan penurunan jumlah perokok.(red)

BACAAN TERKAIT