Sabtu, 25 September 2021

Saatnya jalankan bisnis di tengah pandemi


Melalui teknologi, maka bisnis senantiasa bisa berjalan bersisian dengan pandemi COVID-19

Jakarta (ANTARA) – Suatu sore akhir pekan lalu, ada dua wanita muda bersantai di salah satu kafe kawasan SCBD Jakarta Selatan.

Keduanya tampak mematuhi protokol kesehatan (prokes) dengan tetap bermasker dan menjaga jarak tempat duduk sesuai ketentuan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level tiga. 

Rupanya, mereka tengah berbincang seru mengenai peluang bisnis ke depan menghadapi pandemi yang sudah berjalan hampir dua tahun ini.

Mendengar diskusi keduanya, kelihatannya mereka tertarik untuk mengembangkan usaha makanan.

Beberapa analisa lantas dibuat dalam satu komputer jinjing. Di situ ada skenario akibat pandemi COVID-19 dituangkan dalam satu daftar berikut solusi mengatasinya.

“Kalau nanti ketat lagi (PPKM), masih nutup gak biaya untuk promosi,” kata salah satunya. Lantas keduanya menghitung lagi biaya-biayanya.

Risiko bisnis memang menjadi suatu hal yang akrab didengar pelaku usaha di tengah pandemi COVID-19.

Bahkan dalam menjalankan bisnis ke depan sepertinya masih berdampingan dengan virus yang menyerang pernafasan itu dalam jangka waktu lama.

Pembahasan pengembangan bisnis di saat seperti ini bukan lagi sekedar produk dan harga saja, tetapi juga perlu menghitung risiko kalau wabah kembali meledak.

Jababeka industrial Estate

Bagaimana menjaga agar pekerja tetap sehat dan selamat. Bagaimana kesinambungan bahan baku, apalagi kalau masih impor, serta banyak faktor lain yang patut dipertimbangkan dalam menjalankan bisnis.

Harus diakui, pandemi COVID-19 telah membawa dampak signifikan tidak hanya ekonomi di Indonesia tetapi juga dunia.

Baca juga: Bertahan pada masa pandemi dengan ide disruptif

Sejumlah negara telah memutuskan untuk tidak menunggu wabah ini mereda untuk memperbaiki ekonominya.

Para pemangku kebijakan di berbagai negara lebih memilih untuk sesegera mungkin mengambil keputusan untuk memperbaiki ekonomi serta hidup berdampingan dengan COVID-19.

Strategi itu juga sepertinya akan diambil pemerintah untuk melonggarkan perlahan-lahan berbagai pembatasan mulai sektor transportasi, hotel, mal, termasuk usaha di luar sektor kritikal dan esensial melalui PPKM Level 3 terhitung Selasa (21/9).

Pemanfaatan teknologi informasi menjadi salah satu kunci agar pelaku bisnis dapat hidup bersisian dengan pandemi COVID-19. ANTARA/HO-Bank DKI

Peluang
Pengamat ekonomi Aviliani mengungkapkan selain tantangan yang dihadapi di tengah pandemi COVID-19 pelaku usaha juga bisa memanfaatkan peluang-peluang untuk memperbaiki ekonomi.

Aviliani yang juga menjabat Senior Economist INDEF mengatakan ekonomi global semakin tidak pasti dengan fase krisis yang semakin pendek.

Namun hal itu menimbulkan peluang bagi pelaku ekonomi untuk bisa bertahan dan berkembang caranya dengan menjalankan strategi yang inovatif dan kreatif.

Berikutnya, sejumlah sektor industri akan tumbuh dan mengarah pada digitalisasi.

Hal ini memunculkan peluang bagi beberapa sektor industri yang perlu menjaga keberlangsungan bisnis dengan meningkatkan pemanfaatan Information and Communication Technology (ICT).

Jika tidak, sektor industri akan dilibas oleh perusahaan lain yang lebih inovatif.

Pandemi COVID-19 memunculkan tantangan permintaan yang rendah dan membutuhkan waktu cukup lama untuk pulih.

Baca juga: Kolaborasi Pemerintah-swasta bentuk ketangkasan bisnis di masa pandemi

Hal itu memberi peluang potensi pasar yang masih besar. Maka itu, pelaku ekonomi harus memanfaatkan peluang pasar domestik, terutama bagi kelas menengah.

Tantangan selanjutnya, pertumbuhan ekonomi dinilai masih akan rendah. Namun, masih ada sektor-sektor yang mempunyai prospek cukup baik sehingga ini bisa menjadi sasaran perusahaan ICT, seperti sektor keuangan yang saat ini sedang berbenah diri untuk memperbesar produk digital dan perusahaan lain yang berlomba-lomba memanfaatkan peran teknologi.

Pandemi berlangsung cukup lama telah mengubah perilaku masyarakat dalam bertransaksi, berinvestasi dan dalam perilaku hidup.

Hal itu juga memberi peluang perilaku masyarakat beralih ke arah digital akan semakin besar, sehingga perusahaan akan mengikuti kebutuhan pasar, kata Aviliani.

Aviliani memprediksi pertumbuhan ekonomi masih akan rendah pada 2021, sedangkan 2022 diprediksi lebih rendah dari 2021. Namun, hal ini membawa peluang masih ada sektor-sektor yang mempunyai prospek baik.

Berikutnya, ungkap Aviliani, digitalisasi ekonomi akan terjadi di berbagai sektor dan membutuhkan perubahan dalam berbagai hal.

Hal itu membutuhkan kemampuan untuk membangun aplikasi yang sesuai, serta kecanggihan infrastruktur teknologi.

Maka itu, diperlukan infrastruktur yang memadai dan sumber daya manusia (SDM) yang mampu adaptif. Untuk mendukung digitalisasi yang semakin besar peluang pekerjaan baru dan investasi di sektor teknologi, ungkap Aviliani.

Menurut Aviliani, sepanjang 2008-2019, terjadi gejolak ekonomi dunia yang bersumber dari sektor keuangan, energi, maupun perdagangan.

Krisis tersebut tidak begitu nyata menekan sisi permintaan dan penawaran. Namun, jika tidak disikapi oleh para pengusaha dan regulator, maka krisis ekonomi akan terjadi berkepanjangan.

Baca juga: Memanfaatkan YouTube dan Google Trends untuk bertahan di masa pandemi

Aviliani menyebutkan sejumlah sektor yang mengalami pemulihan dalam waktu yang cepat antara lain, sektor informasi dan telekomunikasi, industri makanan dan minuman, jasa kesehatan, pendidikan, agrikultur dan peternakan, serta air bersih.

Sementara itu, sektor yang pemulihannya sedang yakni, sektor perdagangan besar dan retail, industri pengolahan, sektor keuangan, konstruksi, minyak dan gas, transportasi dan pergudangan, serta pertambangan. Sedangkan, sektor yang pemulihannya lambat di antaranya, sektor hotel dan restoran, transportasi udara, dan real estate.

Menurut Aviliani, pandemi COVID-19 mempercepat peralihan sektor industri ke penggunaan teknologi. Beberapa di antaranya, sektor-sektor yang dapat dijalankan dengan berbasis teknologi adalah sektor kesehatan, pariwisata, industri, pendidikan, transportasi, agrikultur, perdagangan, perbankan dan asuransi.

Pelaku usaha harus mampu berinovasi agar mampu bersaing. Pengunjung salah satu mal dengan konsep terbuka. ANTARA/HO-Bank DKI

Harapan
Bagi pelaku usaha, menghadapi pandemi COVID-19 dilakukan dengan penyesuaian di berbagai lini. Bagaimana perusahaan harus bisa meraih target pendapatan meski menghadapi daya beli konsumen yang kian turun.

Presiden Direktur Lintasarta Arya Damar mengakui pandemi COVID-19 telah memporak-porandakan sektor ekonomi dan sektor kesehatan. Hampir seluruh negara mengalami pelemahan ekonomi.

Kendati demikian, Arya menilai pada 2022 masih ada secercah harapan, seiring pelaksanaan vaksinasi secara masif, diikuti perbaikan kebijakan ekonomi di sejumlah negara.

Pandemi tidak hanya sekadar memporak-porandakan seluruh lini, tetapi juga menjadi pembelajaran agar hal ini dapat mendorong penggunaan teknologi lebih cepat lagi, kata Arya.

Pada dasarnya, teknologi merupakan pendorong pertumbuhan ekonomi. Pandemi COVID-19 juga membuat para pekerja menjadi terbiasa bekerja secara “mobile” di luar kantor dan sebagian orang tetap akan bekerja secara bergantian, bekerja di rumah dan di kantor.

Digitalisasi tidak hanya dinikmati oleh masyarakat, tetapi juga oleh perusahaan. Korporasi yang menerapkan digitalisasi mengalami peningkatan penjualan 21 persen lebih tinggi daripada perusahaan konvensional.

Bahkan, keuntungan perusahaan melonjak 16 persen lebih tinggi dari perusahaan yang tidak menerapkan digitalisasi, sebut Arya.

Baca juga: Aprindo sebut satu sampai dua toko tutup setiap hari akibat pandemi

Berdasarkan data itu maka perusahaan perlu mempersiapkan teknologi tepat guna untuk mendukung keberhasilan bisnisnya.

Hal itu dapat dilakukan dengan menyerahkan strategi teknologi kepada pihak lain, baik dalam hal pengadaan infrastruktur berteknologi, server, aplikasi, maupun sistem keamanan.

Penguasaan teknologi digital pada akhirnya akan mendorong perusahaan untuk turut mendukung pertumbuhan ekonomi nasional, papar Arya.

Hanya saja sejauh ini masih banyak perusahaan yang belum mengoptimalkan teknologi digital untuk menjalankan bisnisnya terutama dari sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

Akhirnya, pemerintah pusat dan daerah serta pemangku kepentingan lain, berkewajiban untuk memberikan edukasi mengenai pemanfaatan teknologi digital ini.

Melalui teknologi, maka bisnis senantiasa bisa berjalan bersisian dengan pandemi COVID-19. Semoga.

Oleh Ganet Dirgantara
Editor: Edy Sujatmiko
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar

mood_bad
  • Belum ada komentar.
  • Tambahkan komentar

    BACAAN TERKAIT