Wall Street turun karena aksi jual berlanjut, Nasdaq jatuh 1,30 persen

  • Bagikan
wall street turun karena aksi jual berlanjut, nasdaq jatuh 1,30 persen 61ea0a1a53b91.jpeg
wall street turun karena aksi jual berlanjut, nasdaq jatuh 1,30 persen 61ea0a1a53b91.jpeg
New York (ANTARA) – Wall Street kembali melemah tajam pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), karena aksi jual berlanjut di akhir sesi setelah investor mempertimbangkan apakah ekuitas sudah relatif rendah untuk kembali masuk pasar setelah Nasdaq jatuh ke wilayah koreksi.

Indeks Dow Jones Industrial Average terpuruk 313,26 poin atau 0,89 persen, menjadi menetap di 34.715,39 poin. Indeks S&P 500 berkurang 50,03 poin atau 1,10 persen, menjadi berakhir di 4.482,73 poin. Indeks Komposit Nasdaq jatuh 186,23 poin atau 1,30 persen, menjadi ditutup pada 14.154,02 poin.

Sepuluh dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona warna merah, dengan sektor consumer discretionary dan material masing-masing merosot 1,94 persen dan 1,43 persen, memimpin kerugian. Sementara itu, sektor utilitas menguat 0,14 persen, merupakan satu-satunya kelompok yang memperoleh keuntungan.

Nasdaq pada Rabu (19/1/2022) ditutup lebih dari 10 persen di bawah tertinggi sepanjang masa pada November, membenarkannya keadaannya dalam wilayah koreksi. Indeks yang sarat teknologi-berat itu sekarang telah jatuh hampir 12 persen dari rekor tertinggi dan pada Kamis (20/1/2022) ditutup pada level terendah sejak Juni.

“Tampaknya ada kurang kepercayaan,” kata Randy Frederick, wakil presiden perdagangan dan derivatif untuk Charles Schwab. “Para pembeli turun masuk, tetapi kemudian mereka kehabisan momentum.”

Menekan lebih lanjut pada saham pertumbuhan, saham Peloton Interactive anjlok hampir 24 persen setelah CNBC melaporkan bahwa pembuat sepeda olahraga itu menghentikan produksi produk kebugaran terkoneksinya karena permintaan berkurang dan perusahaan berupaya mengendalikan biaya.

Peloton adalah salah satu andalan perdagangan ketika orang harus tetap di rumah pada 2020.

Setelah bel, saham Netflix turun tajam setelah perusahaan gagal memenuhi perkiraan Wall Street untuk pelanggan baru pada akhir tahun lalu dan menawarkan proyeksi yang lebih lemah dari perkiraan untuk awal 2022.

Saham-saham telah memulai dengan awal yang sulit pada tahun ini, karena kenaikan cepat dalam imbal hasil obligasi pemerintah di tengah kekhawatiran Federal Reserve akan menjadi agresif dalam mengendalikan inflasi terutama memukul saham teknologi dan pertumbuhan. Indeks S&P 500 telah turun hampir 6,0 persen sepanjang tahun ini.

“Saya hanya berpikir kita berada di semacam periode sulit di sini untuk bulan Januari,” kata Peter Tuz, presiden Chase Investment Counsel di Charlottesville, Virginia. “Valuasi tinggi, suku bunga naik, prospeknya suram – ada lebih banyak yang perlu dikhawatirkan sekarang daripada beberapa bulan lalu.”

Investor juga beralih ke laporan keuangan kuartal keempat yang mulai dirilis.

Saham Travelers Cos terangkat 3,2 persen setelah perusahaan asuransi properti dan kecelakaan itu melaporkan rekor laba kuartalan.

Saham Baker Hughes naik 1,6 persen setelah perusahaan melaporkan laba kuartalan yang disesuaikan dan melampaui ekspektasi laba analis karena harga energi yang lebih tinggi memicu permintaan untuk peralatan dan layanannya.

Data pada Kamis (20/1/2022) menunjukkan jumlah orang Amerika yang mengajukan klaim baru untuk tunjangan pengangguran secara tak terduga naik minggu lalu, kemungkinan karena gelombang musim dingin infeksi COVID-19 mengganggu aktivitas bisnis.

Sekitar 11,9 miliar saham berpindah tangan di bursa AS, dibandingkan dengan rata-rata harian 10,1 miliar selama 20 sesi terakhir.

Baca juga: Wall Street berakhir turun tajam, Nasdaq mengkonfirmasi koreksi
Baca juga: Wall Street terpuruk dipicu kenaikan imbal hasil obligasi AS

Pewarta: Apep Suhendar
Editor: M Razi Rahman
COPYRIGHT © ANTARA 2022

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

-->