Jumat, 18 Juni 2021

Duh! Baru Mau Bangkit, Ekonomi RI Sudah Ketiban Sana-Sini


Di tengah pemerintah giat membangkitkan ekonomi, pandemi virus corona di Indonesia justru semakin menggila. Ditambah kondisi perekonomian Amerika Serikat (AS) dan China, serta terbaru adalah ledakan kredit macet dari dalam negeri.

Tambahan pasien kasus positif Covid-19 di tanah air kembali menyentuh 10.000 orang setiap harinya. Hal tersebut akhirnya membuat pemerintah untuk kembali memberlakukan pembatasan aktivitas dan mobilitas masyarakat. Padahal mobilitas manusia adalah kunci pertumbuhan ekonomi.

Hal ini juga yang membuat kekhawatiran Menteri Keuangan Sri Mulyani dan perlu diwaspadai. Dia mulai meragukan proyeksi pertumbuhan ekonomi Kuartal II-2021 yang ditargetkan bisa menyentuh 7,1% – 8,3% bisa tercapai.

“Pertumbuhan ekonomi kita kuartal II antara 7,1 – 8,3%. Ini seiring kenaikan Covid harus hati-hati terutama proyeksi upper bound di 8,3%,” ujarnya saat rapat bersama Komisi XI DPR, beberapa waktu lalu.

“Kuartal II kita berharap terjadi pemulihan kuat, namun Covid-19 pada minggu kedua Juni akan mempengaruhi koreksi ini. Kalau Covid-19 bisa menurun, masih bisa berharap. Kalau menurunkan Covid-19 harus melakukan pembatasan, maka proyeksi ekonomi akan terkoreksi. Ini trade off yang akan dihadapi pada bulan-bulan ini,” terang Sri Mulyani.

Ledakan Kredit Macet

kredit
kredit

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, bersama Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) berencana mengintervensi sektor-sektor yang sulit bangkit di masa pandemi Covid-19.

Sri Mulyani menjelaskan, kelompok slow starter mengalami kontraksi penjualan paling dalam, jauh di bawah industri. Kelompok ini mengalami dampak terdalam akibat Covid-19 dan sangat bergantung pada pulihnya aktivitas masyarakat.

Kelompok slow starter yang dimaksud adalah perdagangan, konstruksi, transportasi, dan jasa-jasa.

“Ini kelompok mengalami knock down effect yang sangat dalam karena covid, korelasinya negatif. Ketika covid naik mereka turun, ketika covid turun mereka pulih tapi slow. Nah ini jadinya tidak simetris,” jelas Sri Mulyani, saat rapat kerja dengan Komisi XI, Senin (14/6/2021).

Sementara sektor ekonomi yang menjadi growth driver, kata Sri Mulyani, berasal dari sektor manufaktur. Meskipun terpukul, tapi sektor tersebut saat ini sudah mulai tumbuh. Return of asset-nya pun sudah mulai pulih, tercermin pada kuartal IV-2021 sudah mulai menyentuh 3,67%.

CIMB NIAGA

Kendati demikian, profitabilitas baik kelompok slow starter dan growth driver masih sangat rendah.

“Kemampuan membayar kelompok resilience berada di atas threshold 1,5 sementara kelompok slow starter dan growth driver di bawah threshold atau rendah,” jelas Sri Mulyani.

Hal itu, lanjut Sri Mulyani, akan membuat interest coverage ratio (ICR) atau kemampuan membayar, baik itu bagi kelompok slow starter dan growth driver perlu diintervensi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

“ICR atau kemampuan untuk membayar pinjaman. Ini persoalan di OJK, untuk memberikan pinjaman. Untuk sektor yang semakin terpukul makin tidak mau (bayar), ini kita perlu intervensi,” tuturnya.

“Kalau yang terpukul pulih dan langsung dapat kredit baru. Tapi yang terpukul dan tidak pulih, bank akan menghindari untuk meminjamkan di sektor ini. Ini tantangan pemulihan ekonomi dan akan terus membahasnya di KSSK,” kata Sri Mulyani melanjutkan.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun meminta agar perbankan untuk mulai menambah pencadangan secara gradual.

“Perbankan tolong mulai mencadangkan, secara gradual,” ungkap Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso.

“Kita tidak tahu apa yang terjadi sehingga apabila ada nasabah yang tidak bisa recover, kita sudah punya cadangan yang cukup. Sehingga perbankan dan lembaga keuangan agar secara gradual membuat cadangan lebih preemptive,” jelasnya.

Sumber : cnbcindonesia.com

Komentar

mood_bad
  • Belum ada komentar.
  • Tambahkan komentar

    BACAAN TERKAIT