Jumat, 12 Maret 2021

Menperin : Bebas Pajak Kerek Permintaan Mobil 50 Persen


Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkap kebijakan relaksasi Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang diterapkan sejak 1 Maret lalu berhasil mendongkrak permintaan (purchase order) lebih dari 50 persen.

Hal itu diketahui saat Agus melakukan pengecekan ke distributor dan pabrikan produk otomotif pada 4 Maret lalu.

“Kira-kira tiga hari setelah berlakunya relaksasi PPnBM, sekitar tanggal 4 Maret kami cek mereka melaporkan rata-rata peningkatan dari purchase order di atas 50 persen,” terangnya pada press briefing dalam kunjungan kerja dengan Kedutaan Besar Jepang, Rabu (10/3).

Agus menyebut pada kesempatan itu ia juga meminta pelaku otomotif untuk memberikan dorongan lebih dengan menawarkan diskon tambahan untuk menyukseskan program.

Diharapkan program diskon tersebut dapat menjadi momentum pendongkrak konsumsi masyarakat yang tergerus akibat pandemi covid-19.

Ia menyebut otomotif merupakan salah satu sektor yang menerima pukulan berat dari pandemi. Tercatat, utilisasi atau pemanfaatan produksi mobil yang merosot 60 persen-70 persen.

Agus menyebut selama pandemi utilisasi mobil hanya tersisa 600 ribu-800 ribu unit per tahun, anjlok dari kapasitas tahunan sebanyak 2 juta unit.

Ia menyebut utilisasi saat ini merupakan yang terendah, bahkan lebih parah dibandingkan krisis pada 2008 silam.

“Utilisasinya sekarang pada titik 30-40 persen, jadi terendah dibandingkan dari 2008 sebelumnya,” pungkasnya.

Demi mendorong pertumbuhan ekonomi melalui industri otomotif, pemerintah akhirnya mengesahkan insentif pajak yang dilakukan secara bertahap selama 9 bulan ke depan. Pembebasan PPnBM akan diberikan pada tahap pertama. Kemudian, tahap kedua diskon insentif PPnBM diberikan sebesar 50%. Lalu, insentif PPnBM 25% dari tarif akan diberikan pada tahap ketiga.

Catherina Vincentia Analis MNC Sekuritas mengatakan jumlah potongan harga mobil dari bebas pajak ini cukup signfikan bagi pembeli individual. “Secara rata-rata diskon pada mobil yang dibayar penuh setelah mendapat insentif pajak adalah 7,71%,” hitung Chaterina dalam risetnya.

Jababeka industrial Estate

Selanjutnya, diskon berkurang menjadi 3,85% saat insentif pajak berkurang ke 50% di tahap ke dua. Sementara, jika membeli mobil saat penerapan bebas pajak di 25% atau di tahap tiga, maka harga terdiskon 1,93%. 

Gaikindo memproyeksikan penjualan tumbuh 40%

Dengan harga jual mobil yang lebih rendah, Gaikindo memproyeksikan penjualan tumbuh 40% atau sekitar 60-70 juta unit per bulan pada tahap pertama implementasi insentif pajak. 

Senada, Catherina sepakat pertumbuhan penjualan mungkin tercapai karena jenis mobil yang mendapat insentif pajak memiliki pangsa pasar yang besar di 40,26% untuk sepanjang 2020.

Sementara, seiring dengan aktivitas ekonomi dan bisnis yang kembali normal, Catherina memproyeksikan penjualan mobil di bawah 1.500 cc juga akan meningkat seiring kenaikan daya beli masyarakat. Spefisik mobil tersebut memiliki pasar yang besar. 

“Kami mengestimasikan penjualan mobil akan meningkat kurang lebih 30% bahkan tanpa insentif pajak, melihat penjualan mobil di tahun lalu anjlok 50%, kami mengasumsikan kenaikan penjualan mobil akan lebih tinggi apalagi dengan adanya insentif pajak,” kata Catherina. 

Catherina memasang rekomendasi buy untuk PT Astra International (ASII) di target harga Rp 7.480 per saham. 

Sumber Berita : Kontan.co.id dan CNN Indonesia

Komentar

mood_bad
  • Belum ada komentar.
  • Tambahkan komentar

    BACAAN TERKAIT