Minggu, 8 Agustus 2021

Alih Kelola Blok Rokan: Sayonara Chevron, Selamat Datang Pertamina


Financeroll, JAKARTA – Hampir satu abad silam upaya untuk mengucurkan minyak mentah di Sumatra Tengah dimulai oleh tim geolog Standar Oil of California.

Pada 1924, geolog Socal yang dipimpin oleh E. M. Butterworth memulai menapakkan kakinya di Hindia Belanda. Upaya eksplorasi tidak berjalan mudah, satu dekade setelah eksplorasi dimulai, usaha tersebut pun belum membuahkan hasil.

Kegiatan eksplorasi yang dilakukan melalui perusahaan Netherlandsche Pacific Petroleum Maatschappij (NPPM) itu juga kerap mendapatkan sindiran dari kompetitor dengan julukan Non Producing Petroleum Maatschappij atau perusahaan minyak tanpa produksi.

Tidak hanya itu, pada 1930 para geolog Belanda membuat laporan yang memprediksi tak ada minyak di Sumatra Tengah. Geolog Belanda itu menyatakan kawasan tersebut banyak mengandung lapisan endapan batuan granit yang tidak mungkin mengandun hidrokarbon.

Namun, kondisi itu tak membuat geolog Socal patah arang untuk menemukan kandungan minyak mentah. Setelah hampir mengebor 3.000 lubang, akhirnya potensi minyak ditemukan di Lapangan Duri, Bengkalis.

Mulai April 1952 Lapangan Minas mulai berproduksi untuk pertama kalinya dan Februari 1954 Lapangan Duri mulai berproduksi. Minyak yang dihasilkan dari kedua lapangan itu adalah 42.800 barel per hari.

Sejak barel minyak pertama kali diangkat pada 1952 sampai dengan masa berakhirnya production sharing contract Chevron di Blok Rokan pada 8 Agustus 2021, total minyak mentah yang diproduksi dari Blok Rokan dan tiga blok lainnya telah menembus 12 miliar barel.

Selama masa beroperasi, Chevron telah meninggalkan berbagai warisan yang telah membangun perdaban di Riau, berbagai infrastruktur dan pengembangan sumber daya manusia telah dilakukan.

Infrastruktur pertama yang dibangun oleh Chevron adalah pembangunan Jalan Duri-Dumai pada 1958. Satu tahun kemudian, Jembatan Ponton Sungai Siak dan jalan Pekanbaru-Dumai sepanjang 180 kilometer selesai dibangun dan diresmikan.

Jalan aspal Pekanbaru-Dumai yang 89 km di antaranya dari total panjang 180 km dikerjakan oleh Chevron diresmikan oleh Presiden Soeharto.

Jababeka industrial Estate

Chevron turut membangun SMA 1 Pekanbaru yang merupakan sekolah menengah atas pertama di Riau kala itu. Chevron juga mewariskan SMA 1 Minas, SMA 1 Dumai, Politeknik Caltex Riau, Darmasiswa Chevron Riau, hingga Energy Corner yang merupakan perpustakaan di Riau.

Peninggalan itu akan menjadi warisan abadi Chevron di Indonesia setelah berakhirnya masa pengelolaan Blok Rokan oleh Chevron pada 8 Agustus pada pukul 24.00 WIB.

Hal itu sesuai dengan keputusan pemerintah Indonesia pada Juli 2018 yang telah memutuskan Blok Rokan akan dikelola oleh Pertamina setelah kontrak PT Chevron Pacific Indonesia berakhir.

Dalam perjalannya alih kelola Blok Rokan pun telah melewati banyak dinamika di dalamnya. Mulai dari perjanjian investasi pada masa transisi guna menahan penurunan laju produksi, formula EOR, sampai dengan pengalihan pembangkit listrik dan uap yang ada di Blok Rokan.

September 2020, Chevron secara resmi meneken perjanjian untuk mengakselerasi investasi di WK Rokan dengan nilai investasi US$115 juta untuk mengebor 118 sumur selama 2 tahun.

Sementara itu, PT PLN (Persero) resmi menandatangani sales and purchase agreement (SPA) atau perjanjian jual beli saham PT Mandau Cipta Tenaga Nusantara (MCTN) yang dimiliki oleh Chevron Standard Limited (CSL), Selasa (6/7/2021).

Di tangan Pertamina, asa besar bertumpu pada perusahaan energi pelat merah tersebut. Produksi di Blok Rokan bahkan ditargetkan mencapai 175.000-180.000 barel per hari.

Target itu lebih tinggi dari target produksi yang dipatok dalam APBN 2021 sebesar 165.000 barel per hari. Peningkatan produksi tersebut akan dihasil dari meningkatnya jumlah pengeboran yang akan dilakukan Pertamina.

Untuk program pengeboran, Pertamina akan melakukan pengeboran sebanyak 84 sumur dan rencana program CPI yang akan di-carry over ke Pertamina sebanyak 77 sumur, sehingga total 161 sumur selama Agustus-Desember 2021.

Praktis Migas Tumbur Parlindungan mengatakan terpada sejumlah hal penting yang perlu diperhatikan oleh Pertamina saat mengelola Blok Rokan di antaranya adalah menjaga kapasitas produksi dan pengalihan teknologi.

Dengan Sumbernya Pertamina diharapkan adanya sumber-sumber baru di Blok Rokan. Pasalnya, dengan kondisi lapangan yang sudah tua, Pertamina tidak bisa hanya mengandalkan lapangan eksisting.

“Kita tidak bisa lagi mengharapkan dari yang sudah ada kecuali ada temuan baru itu orang suka lupa begitu lapangan decline untuk menaikan produksinya harus ada temuan baru, kalau tidak ada temuan baru tidak bakal bisa naik,” kata Tumbur kepada Bisnis baru-baru ini.

Sementara itu, untuk masalah teknologi, Pertamina mau tidak mau harus menggandeng mitra strategis untuk bisa mendapatkan teknologi yang lebih baik dan dibutuhkan untuk mengelola Blok Rokan.

“Kalau mau mengadopsi teknologinya ya kita beli teknologinya dengan cara berpartner, dengan company yang punya teknologi,” ungkapnya.

Direktur Eksekutif ReforMiner Komaidi Notonegoro berpendapat bahwa dalam bisnis migas tidak bisa hanya mengacu pada kenaikan volume target tertentu, namun perlu juga diperhatikan biaya produksi yang lebih ekonomis.

Dia menambahkan, apabila produksi di Blok Rokan ditingkatkan pada level tertentu, biaya produksi yang dihasilkan harus tetap Sumber dalam skala keekonomian bisnis.

“Tidak hanya volume tapi juga secara bisnisnya, jadi katakalah Rokan bisa nambah 100.000 tapi kalau untuk nambahnya lebih mahal dari pada impor oil kan tidak ketemu kemudian,” ujarnya.

Dengan segala dinamika yang ada sejak hampir 7 dekade ke belakang, Blok Rokan terus mencatatkan banyak sejarah bagi industri migas Tanah Air. Sampai akhirnya, kepergian Chevron harus ditutup dengan kalimat ‘terima kasih Chevron dan selamat datang Pertamina‘.



Sumber / Bisnis.com

Komentar

mood_bad
  • Belum ada komentar.
  • Tambahkan komentar

    BACAAN TERKAIT