Selasa, 9 Maret 2021

Indef : Digitalisasi Dagang RI Picu Deindustrialisasi


Peneliti Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Ahmad Heri Firdaus mengatakan digitalisasi perdagangan di Indonesia dapat menyebabkan deindustrialisasi. Pasalnya, di saat yang bersamaan, daya saing produk-produk lokal dalam negeri tidak ditingkatkan.

Hal ini juga terlihat dari lonjakan volume impor barang konsumsi sejak terjadinya booming e-commerce pada 2015 yang tak sebanding dengan kenaikan impor bahan baku untuk produksi manufaktur.

“Makanya saya ambil kesimpulan bahwa jika kita tidak mempersiapkan daya saing produk lokal digitalisasi ini bisa menyebabkan deindustrialisasi. Kecuali kalau kita mempersiapkan produk kita dengan baik digitalisasi akan meningkatkan ekonomi dan industrialisasi kita,” tuturnya dalam webinar yang digelar Indef, Senin (8/3).

Mengutip data Badan Pusat Statistik, kata Heri, ketika impor barang konsumsi naik 13,54 persen dari US$10,87 miliar menjadi US$12,34 miliar pada 2016, impor bahan baku justru turun 5,73 persen dari US$107,08 miliar menjadi US$100,94 miliar.

Memang, pada 2017, kenaikan impor barang baku naik lebih tinggi yakni 16,56 persen dari US$100,9 miliar menjadi US$117,6 miliar, sementara kenaikan bahan konsumsi hanya 14,68 persen dari US$12,34 miliar menjadi US$14,16 miliar.

Namun, pada 2018, impor barang konsumsi kembali naik lebih tinggi yakni 22,03 persen dari US$14,08 miliar menjadi US$17,18 miliar sedangkan impor bahan baku hanya naik 20,06 persen dari US$117,85 miliar menjadi US$141,49 miliar.

Sebaliknya, pada 2019, ketika impor bahan baku turun 11,7 persen dari US$141,58 miliar menjadi US$125,90 miliar, barang konsumsi hanya 4,51 persen dari US$17,18 miliar menjadi US$16,41 miliar.

Di samping itu, menurutnya, besarnya impor yang membuat Presiden Joko Widodo geram dan mengajak masyarakat membenci produk asing juga tak lepas dari ratifikasi perjanjian dagang yang dilakukan oleh pemerintah.

“Kerja sama perdagangan bebas tanpa penyiapan cukup matang akan berdampak pada meningkatnya defisit perdagangan dan peluang peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia akan lebih rendah dibandingkan negara mitra,” tegasnya.

3 Perusahaan Domestik Pendorong Digitalisasi UMKM Selama 2020

Berdasarkan data yang dirilis Kemenkop UKM pada awal tahun ini, telah ada 11,7 juta UMKM yang go digital. Jumlah tersebut bertambah sebanyak 3,7 juta dari tahun 2019 yang masih di angka 8 juta UMKM.

Perubahan perilaku konsumen dengan membatasi interaksi fisik dan mengurangi aktivitas di luar rumah terbukti dapat memberi peluang lebih besar kepada UMKM yang terhubung dengan ekosistem digital. Namun, peluang tersebut belum dimanfaatkan secara optimal sebab dari sekitar 64 juta populasi UMKM di Indonesia, baru 13 persen yang telah go digital.

Jababeka industrial Estate

Pemerintah sendiri menargetkan 30 juta dari 64 juta pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) bisa go digital atau terintegrasi dalam sistem elektronik pada 2023 mendatang. Untuk itu, pemerintah akan menggelontorkan Rp123,46 triliun melalui Program Pemulihan Ekonomi Nasional untuk membantu UMKM.

Data menunjukkan, UMKM telah menyumbang 60 persen dari total PDB dan 97 persen pekerja di tanah air menggantungkan hidup kepada UMKM. Untuk itu, pemerintah menggandeng sejumlah perusahaan swasta dalam negeri sebagai bagian upaya digitalisasi UMKM.

Sepanjang 2020, tiga perusahaan yang berfokus mendukung UMKM untuk bersaing dan bertahan adalah Jenius, Bukalapak dan Grab Indonesia. Ketiga perusahaan yang menyadari betul bahwa pemulihan ekonomi bangsa sangat bergantung pada UMKM itu memiliki inisiatif masing-masing dengan memprioritaskan UMKM.

Jika Jenius memiliki layanan yang menyediakan fasilitas pengaturan keuangan bagi para pelaku usaha, maka Bukalapak meluncurkan program satu tarif untuk layanan Super Seller sebesar 0,5 persen dan berbagai keuntungan lain. Sementara, selain berbenah untuk menciptakan platform digital yang inklusif, Grab Indonesia juga berfokus pada pelatihan literasi digital.

“Jika dapat meningkatkan ketangguhan UMKM, kita dapat mencegah terjadinya pengurangan tenaga kerja yang lebih besar dan membangkitkan kembali ekonomi negeri. Sayangnya kesenjangan literasi digital khususnya bagi UMKM masih terjadi. Hal ini mendorong Grab untuk tidak saja menciptakan teknologi yang bisa mempercepat digitalisasi, namun juga membantu peningkatan kapasitas digital UMKM,” jelas Country Managing Director Grab Indonesia, Neneng Goenadi saat dihubungi CNNIndonesia.com.

Dalam upayanya, Grab telah meluncurkan aplikasi GrabMerchant sebagai solusi untuk digitalisasi bisnis UMKM kuliner dan toko kelontong.

“Dalam aplikasi yang sama, selain bisa mendaftar menjadi merchant, UMKM juga bisa beli kebutuhan dapur, buat iklan untuk meningkatkan visibilitas mereka dalam aplikasi, ada profil dengan pengaturan berbeda untuk kasir serta pemilik toko, dan pesan berbagai keperluan termasuk kemasan, pembersihan dapur, dan lainnya,” jelas Neneng.

Merchant juga bisa mengakses laporan penjualan dari aplikasi ini. Selain itu, ada juga aplikasi GrabKios yang kini bisa digunakan siapa saja untuk menjadi agen individu GrabKios, dan menawarkan produk layanan finansial dan digital yang tersedia 24 jam, seperti pengiriman uang, bayar BPJS dan masih banyak lagi. Hal ini tentunya membantu mereka yang kehilangan pekerjaan selama pandemi.

Meski demikian, lanjut Neneng, UMKM yang sudah bertransisi ke digital tetap masih membutuhkan banyak bantuan dan pendampingan.

“Masih dibutuhkan transisi penunjang agar UMKM bisa benar-benar masuk dalam digitalisasi, seperti pelatihan. Sejak 2020, Grab menghadirkan program ‘#TerusUsaha Akselerator’ bagi ratusan UMKM Indonesia,” kata Neneng.

Pelatihan ini merupakan bagian dari program digitalisasi UMKM #TerusUsaha. Ratusan UMKM terpilih mengikuti pembinaan intensif selama 2 bulan bersama para pakar agar dapat meningkatkan kompetensi dan bisa beradaptasi dalam dunia digital.

“Kami sadar bahwa literasi digital masih menjadi hambatan bagi banyak orang untuk masuk dalam digitalisasi. Kami mau juga fokus untuk mengembangkan keterampilan digital mereka, agar semua dapat bersaing dengan maksimal di era digital,” ujarnya.

Sumber Berita : CNN INdonesia

Komentar

mood_bad
  • Belum ada komentar.
  • Tambahkan komentar

    BACAAN TERKAIT