Kejar Momentum Harga Minyak, SKK Migas Pacu Produksi KKKS Besar

  • Bagikan

Financeroll, JAKARTA — Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) tengah mendorong sejumlah Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) besar untuk meningkatkan kinerja lifting Migas setelah revisi asumsi harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) ke level US$100 per barel.

Seperti diketahui, pemerintah telah mengubah ICP dalam asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2022.

Deputi Operasi SKK Migas Julius Wiratno mengatakan lembaganya tengah mendorong sejumlah KKKS skala besar untuk meningkatkan produksi dan investasi mereka di sektor hulu Migas di tengah momentum harga minyak mentah dunia yang masih berlanjut hingga triwulan kedua tahun ini.

Langkah itu diambil, kata Julius, untuk mengoptimalkan penerimaan negara yang diharapkan berlipat ganda lewat manuver kenaikan asumsi ICP tersebut.

“Kami berusaha keras untuk bisa menaikkan produksi dan lifting Migas,” kata Julius melalui pesan WhatsApp, Jumat (20/5/2022).

Kendati demikian, dia mengatakan, target penerimaan negara dari sektor hulu migas relatif masih mengalami kendala terkait dengan realisasi lifting dan investasi Migas yang masih rendah hingga April 2022. Dia mengatakan lembaganya belakangan meninjau kembali kontrak lifting agar lebih efisien dan optimal dari sisi penjualan.

“Untuk menaikan lifting memang tidak bisa dalam waktu yang sekejap ya dengan menambah program kerja terus bisa berhasil, tetapi melalui review teknis ekonomis,” kata dia.

Sementara itu, SKK Migas melaporkan terdapat lima proyek hulu Migas yang dapat onstream pada triwulan kedua tahun ini. Kelima proyek itu di antaranya Proyek Bukit Tua Phase 2B milik Petronas Carilagi Ketapang II Ltd, Hiu Phase 2 yang dikerjakan Medco E&P Natuna, Jumelai Pertamina Hulu Mahakam, Baru Gas Plant Modif.to Tenayan Plant EMP Bentu Ltd dan proyek OPL South Sembakung JOB PMEP Simenggaris.

“Tambahan kapasitas fasilitas produksi dari lima proyek tersebut sebesar sekitar 14.000 barel minyak per hari (BOPD) dan 179 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) dengan nilai investasi sebesar US$250,3 juta,” tuturnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani menargetkan penerimaan negara dapat naik sebesar Rp420 triliun pada tahun ini.

Kenaikan itu, menurut Sri Mulyani, berpegang pada naiknya asumsi harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) di level US$100 per barel lewat perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2022.

“Nanti kita lihat ya seperti yang saya katakan kemarin penerimaan negara akan naik Rp420 triliun kalau harga ICP tetap terjaga di atas US$100 per barel,” kata Sri Mulyani di Gedung DPR, Jumat (20/5/2022).

Perinciannya, Sri Mulyani menuturkan potensi penerimaan itu diperoleh dari pajak minyak dan gas (Migas), Non Migas, bea cukai, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sektor hulu hingga hilir.

“Setiap bulan saya akan jelaskan mengenai kondisi APBN,” tutur Sri Mulyani.



Sumber / Bisnis.com
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

-->