Sabtu, 23 Oktober 2021

Pasokan Kamar Hotel Berbintang di Indonesia Mampu Tumbuh 11 Persen per Tahun


Financeroll, JAKARTA – Hotel Investment Strategic (HIS) melaporkan pertumbuhan pasokan hotel berbintang di Indonesia sebanyak 11 persen per tahun sejak 2015 hingga 2020.

CEO HIS Roos Woods mengatakan bahwa pasokan hotel berbintang di Indonesia terus tumbuh sepanjang 2015–2020.

Rinciannya, hotel bintang 1 naik 9 persen, hotel bintang 2 tumbuh 11 persen, hotel bintang 3 naik 14 persen, pasokan hotel bintang 4 naik sebesar 14 persen, dan hotel bintang 5  meningkat 5 persen.

“Secara umum, pertumbuhan pasokan kamar bintang 3 masih menjadi yang terbaik, mencatat tumbuh hingga 14 persen per tahunnya. Pertumbuhan pasokan kamar bintang 3 bisa mencapai angka 52 persen per tahunnya di Lampung, sedangkan di Sulawesi Barat, angka pertumbuhannya minus 24 persen,” katanya, Sabtu (23/10/2021).

Saat ini, lebih dari 90 persen tamu hotel berbintang di 27 dari 34 provinsi yang ada di Indonesia berasal dari kalangan milenial dan generasi Z.

“Kami berharap dapat melihat perkembangan produk hotel unik yang memenuhi kebutuhan pasar domestik yang berkembang pesat dalam 5 tahun ke depan. Apalagi, pemerintah Indonesia tengah berusaha keluar dari pandemi dan mengejar agenda ekonominya,” katanya.

Menurut Lodging Econometrics, Indonesia adalah negara dengan jaringan konstruksi hotel terbesar di kawasan Asia Pasifik, selain China dengan 318 proyek dan 51.197 kamar pada Juni 2021.

Pasar Asia Pasifik dengan jaringan konstruksi hotel terbesar dipimpin oleh Jakarta dengan 71 proyek dan 12.376 kamar, lalu Seoul dengan 63 proyek dan 12.300 kamar.

Selanjutnya, ditempati oleh Bangkok dengan 48 proyek dan 12.033 kamar. Disusul oleh Kuala Lumpur dengan 45 proyek dan 13.406 kamar, dan Phuket, Thailand dengan 30 proyek dan 6.637 kamar.

Dalam kesempatan lain, Director of Hospitality Services Colliers Indonesia Satria Wei berpendapat, hotel berbintang di kawasan resor pariwisata saat ini memiliki kesempatan untuk mendapatkan tamu lebih mudah seiring dengan penyesuaian tarif hotel.

CIMB NIAGA

Menurutnya, sebagian pelaku bisnis perhotelan kini fokus meningkatkan keterisian hotel ketimbang penetapan tarif yang sangat tinggi.

“Dari sisi harga, kita yang dulu tidak berpikir menginap di hotel mewah, sekarang bisa tinggal di hotel mewah. Penyesuaian tarif ini akan bertahan cukup lama. Ini menyebabkan hotel berbintang akan menikmati okupansi yang lebih tinggi dibandingkan dengan hotel bujet,” ucapnya.

Untuk hotel bujet, saat ini sedang menghadapi tantangan dalam menghadirkan standar Cleanliness, Health, Safety & Environment Sustainability (CHSE) di masa new normal.

Namun, di kawasan bisnis seperti Jakarta, Surabaya, dan Semarang, kebutuhan hotel bujet masih menjadi pilihan karena harga yang terjangkau.

“Di kawasan properti resor, hotel bujet akan mulai ditinggalkan, kecuali memiliki konsep yang  bisa mengakomodasi kebutuhan experience, health, and safety yang dibutuhkan konsumen di masa new normal,” tutur Satria.

Simak berita lainnya seputar topik
artikel ini, di sini :

hotel



Sumber / Bisnis.com

Komentar

mood_bad
  • Belum ada komentar.
  • Tambahkan komentar

    BACAAN TERKAIT