Senin, 8 Februari 2021

Pemerintah Ungkap Tawaran dari Tesla, LG Chem dan CATL


Pihak pemerintah Indonesia nampaknya tengah menanti dengan gairah yang berbeda. Pasalnya pada pertengahan Februari 2021 ini, tim khusus yang dijanjikan CEO Tesla, Elon Musk, akan datang ke Indonesia. Kedatangan mereka tentu saja menyoal investasi pabrik baterai lithium mobil listrik mereka.

Sepekan sebelum kedatangan tim khusus Elon Musk, ternyata pihak Tesla sudah mengirimkan proposal investasi kepada Indonesia.

‘’Proposal sudah saya terima kemarin pagi (Kamis, 3 Februari 2021). Kita sedang pelajari secara internal. Next week ketemu untuk dapat penjelasan secara resmi dan langsung soal proposal yang diajukan,’’ ungkap Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan Kementerian Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves), Septian Hario Seto, dalam konferensi pers virtual yang dikutip Suara.com (4/2/2021).

Kalau menurut Seto dihitung pekan depan, itu artinya tim khusus Elon Musk itu akan datang ke Indonesia sekitar tanggal 10 Februari 2021. Dikirimnya proposal resmi ke pemerintah Indonesia itu semakin memperlihatkan keseriusan Tesla untuk menggarap investasinya di Indonesia.

Salah satu isi proposal investasi yang diberikan Tesla kepada Indonesia adalah berupa hal-hal teknis. Bahkan sebelum proposal itu dikirimkan dan sejak penandatanganan Non Disclosure Agreement (NDA atau Perjanjian Kerahasiaan), pihak Indonesia ternyata sudah sampai enam kali melakukan video call dengan pihak Tesla.

Ditambah dengan perbincangan melalui telepon yang terjadi antara Presiden Joko Widodo dan Elon Musk sendiri pada 11 Desember 2020 lalu. Salah satu hasil dari hasil pembicaraan inilah yang pada akhirnya Elon Musk menjanjikan akan mendatangkan tim khusus ke Indonesia terkait investasi pabrik baterai lithium.

Meski proposal dan penandatanganan NDA sudah dilakukan, isi proposal tersebut belum bisa diceritakan secara rinci. Bahkan soal nominal angka yang akan digelontorkan oleh Tesla pun belum diketahui.

Meski begitu, ada satu hal yang akan diperjuangkan oleh pemerintah Indonesia, yaitu hilirisasi dari industri baterai di Indonesia. Ini adalah salah satu ‘’syarat wajib’’ yang sebelumnya juga sudah diungkapkan kepada dua perusahaan sejenis yang akan turut menanamkan investasi di Indonesia.

Dua perusahaan selain Tesla adalah LG Chem Ltd. dari Korea Selatan dan Contemporary Amperex Technology Co. Ltd (CATL) dari China.

‘’Salah satu hal yang kita minta dari mereka adalah ada transfer teknologi. Jadi ini adalah kesempatan yang baik di mana kita memiliki opportunity untuk bekerja sama dengan tiga perusahaan kelas dunia yang memiliki teknologi lithium baterai yang sangat advance,’’ ungkap Seno dikutip Detik.com (6/2/2021).

Penawaran Tesla Lebih ‘’Menggiurkan’’ Dibanding LG Chem dan CATL

Jababeka industrial Estate

Meski isi proposal belum ada yang bisa diungkapkan secara detil karena terikat perjanjian NDA, namun Seto memberikan sedikit bocoran soal apa yang akan didiskusikan saat tim Tesla datang ke Indonesia pertengahan Februari 2021 mendatang.

‘’Proposal yang mereka berikan ini agak berbeda dengan apa yang diberikan oleh CATL dan LG Chemical. Kenapa? Karena menurut saya memang kalau saya lihat semintas base technology yang akan mereka gunakan itu memang agak berbeda. Jadi kenapa sebenarnya kalau kami sangat excited kerja sama dengan Tesla,’’ beber Seto dikutip Detik.com (6/2/2021).

Lebih lanjut Seto mengakui bahwa teknologi lithium baterai untuk mobil listrik dari Tesla merupakan yang terbaik di dunia. Menurutnya, kedatangan Tesla setelah LG Chem Ltd. dan CATL akan semakin melengkapi produksi lithium baterai dan pengembangan teknologi terkait di Indonesia.

‘’Saya pikir nanti kita sebagai anak bangsa bisa banyak belajar nanti dari sini,’’ tambahnya.

Dua Proyek Investasi yang Akan di bahas Tesla di Indonesia

Selain hilirisasi dari industri baterai di Indonesia, Seto mengungkapkan ada dua proyek investasi yang akan dibahas tim Tesla saat mengunjungi Indonesia. Dua hal tersebut antara lain:

  • Produksi sistem penyimpanan energi atau Energy Storage System (ESS)

ESS ini nantinya akan seperti ‘power bank’ dengan giga baterai berskala besar. Nantinya sistem ini mampu menyimpan tenaga listri besar hingga puluhan bahkan ratusan mega watt untuk stabilisator atau untuk pengganti sebagai pembangkit peaker (penopang beban puncak).

Salah satu alasan Tesla akan mengembangkan ESS di Indonesia adalah mengingat bahwa Indonesia punya potensi besar akan sistem ini karena kondisi geografis kepulauan yang ada pada Indonesia. Meski sebenarnya dilihat dari sisi suplai, pihak Tesla tidak memiliki banyak suplai.

‘’Tapi karena melihat Indonesia yang negara kepulauan, memiliki potensi banyak renewable energy ini mereka bisa mengkombinasikan teknologi ESS mereka untuk di Indonesia dan memberikan manfaat yang maksimal,’’ jelas Seto dikutip Detik.com (6/2/2021).

  • Pembuatan Baterai

Seperti yang dikatakan Seto sebelumnya, tentang basis teknologi Tesla yang lebih maju, Seto juga mengungkapkan bahwa teknologi baterai Tesla adalah salah satu yang terbaik. Bahkan Seto juga membandingkan dengan teknologi baterai yang dimiliki LG Chem dan CATL.

‘’Tesla teknologi baterainya selangkah lebih maju dalam coverage distance. Sekitar 650 km sekali cas, full,’’ ungkapnya dikutip CNBCIndonesia.com (4/2/2021).

Disamping dua proyek yang akan dibahas tersebut, Seto juga menegaskan bahwa saat pertemuan nanti pemerintah Indonesia enggan menerima investasi Tesla jika perusahaannya hanya sekadar mengambil bahan baku saja. Sikap tegas ini juga sudah diungkapkan kepada LG Chem dan CATL.

‘’Yang kita sampaikan ke LG, CATL, dan ke Tesla bahwa paling tidak 70 persen dari nikel yang mereka peroleh di Indonesia itu harus diproduksi dalam bentuk battery pack. Jadi bukan hanya bentuk precursor atau katoda kemudian mereka ekspor,’’ ungkap Seto 

Sumber : goodnewsfromindonesia.id

BACAAN TERKAIT