Jumat, 19 Maret 2021

OECD Kerek Proyeksi Ekonomi RI Jadi 4,9 Persen Tahun Ini


Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini sebesar 4,9 persen setelah kontraksi 2,07 persen pada 2020. Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan kembali meningkat menjadi 5,4 persen pada 2022.

“Indonesia sedang menghadapi tantangan terberatnya sejak krisis 1997. Dengan reformasi yang tepat, Indonesia dapat memanfaatkan energi dan bakat dari populasi mudanya dan membuat ekonomi bergerak maju lagi,” tutur Sekretaris Jenderal OECD Angel Gurría, Kamis (18/3).

Menurut OECD pemulihan ekonomi Indonesia dari guncangan pandemi covid-19 akan terjadi secara bertahap dan bergantung pada penanganan krisis kesehatan yang dilakukan pemerintah.

Ketidakpastian yang terus melanda Indonesia akan membebani investasi dan pariwisata, sehingga kemungkinan besar kinerja dua motor pertumbuhan ekonomi tersebut tetap tertekan untuk beberapa waktu.

Karena itu, OECD menilai dukungan untuk rumah tangga dan perusahaan harus terus berlanjut selama diperlukan.

Setelah itu, upaya harus difokuskan pada membawa lebih banyak pekerja ke dalam sektor formal, meningkatkan keterampilan, dan meningkatkan iklim bisnis dan investasi.

“OECD ada di sini untuk membantu, dengan Program Kerja Bersama keempat untuk tahun 2022-24 yang kami harap juga akan mendukung Kepresidenan G20 Indonesia 2022,” lanjut Angel.

– OECD memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh lebih tinggi dari prediksi sebelumnya seiring kebangkitan perdagangan global –

Menteri Keuangan Sri Mulyani menilai proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional dari OECD lebih tinggi dari laporan sebelumnya yang berada di level 4,0 persen.Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengaku senang dengan peningkatan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini. “Kami telah mengambil banyak kebijakan sebaga upaya penanganan pandemi,” kata Sri Mulyani dalam kesempatan yang sama.

“OECD baru saja mempublikasikan proyeksi 2021 yang diupgrade termasuk Indonesia dari 4 persen menjadi mendekati 5 persen di 2021,” kata Sri Mulyani.

Ia juga menyatakan bahwa pemerintah Indonesia telah mengambil banyak kebijakan sebagai upaya penyelamatan ekonomi dari tekanan pandemi. Salah satunya dengan pelebaran defisit anggaran dari yang sebelumnya 1,7 persen terhadap PDB menjadi 6 persen pada 2020.

“Saya pikir ini relatif rendah bila dibandingkan dengan negara OECD, dengan defisit kita di kisaran 6 persen saat yang sama hasilnya relatif baik dan kontraksi di kisaran 2 persen dan itu salah satu achievement yang kita gunakan untuk bisa respon situasi 2020,” tegasnya.

CIMB NIAGA

Lebih lanjut, salah satu kebijakan tersebut terlihat dari pelebaran defisit anggaran dari 1,7% menjadi 6% pada 2020. Ia menilai bahwa defisit tersebut relatif lebih rendah jika dibandingkan negara OECD. Di sisi lain, Bendahara Negara berkomitmen akan menaikkan rasio pajak alias tax ratio dan melakukan konsolidasi fiskal seiring meredanya pandemi. “Semuanya agar tax base bisa diperlebar dan diperdalam,” ujar dia. 

Dengan perbaikan tax ratio, dirinya berharap langkah konsolidasi fiskal bisa berjalan dengan baik. Adapun pemerintah berkomitmen mengembalikan defiist APBN ke level di bawah 3% secara bertahap. (IHD)

Sumber Berita : CNN INDONESIA

Komentar

mood_bad
  • Belum ada komentar.
  • Tambahkan komentar

    BACAAN TERKAIT