Rasio Utang Luar Negeri RI Turun ke 33,7 Persen di Kuartal I, BI Pastikan Levelnya Sehat

  • Bagikan

Financeroll, JAKARTA – Bank Indonesia (BI) menyampaikan bahwa struktur utang luar negeri (ULN) Indonesia pada kuartal I/2022 tetap sehat, terutama didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya.

Tercatat, posisi ULN Indonesia pada akhir kuartal I/2022 adalah sebesar US$411,5 miliar, turun dibandingkan dengan posisi kuartal sebelumnya sebesar US$415,7 miliar.

Jumlah ULN tersebut terkontraksi 1,1 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), lebih dalam dibandingkan dengan kontraksi pada kuartal sebelumnya yang sebesar 0,3 persen yoy.

Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono menyampaikan bahwa ULN yang tetap terkendali tersebut tercermin dari rasio ULN Indonesia terhadap PDB yang terjaga di kisaran 33,7 persen.

Rasio ULN pada kuartal I/2022 ini menurun dibandingkan dengan rasio pada kuartal sebelumnya sebesar 35,0 persen.

“Selain itu, struktur ULN Indonesia tetap sehat, ditunjukkan oleh ULN Indonesia yang tetap didominasi oleh ULN berjangka panjang, dengan pangsa mencapai 87,9 persen dari total ULN,” kata Erwin dalam siaran pers, Kamis (19/5/2022).

Adapun, penurunan ULN pada kuartal I/2022 disebabkan oleh penurunan posisi ULN sektor publik (pemerintah dan bank sentral) dan sektor swasta.

Posisi ULN Pemerintah pada kuartal I/2022 sebesar US$196,2 miliar, menurun dari posisi kuartal sebelumnya sebesar US$200,2 miliar atau terkontraksi sebesar 3,4 persen yoy.

Sementara itu, posisi ULN swasta pada kuartal I/2022 tercatat sebesar US$206,4 miliar, terkontraksi 1,8 persen yoy, lebih dalam dibandingkan dengan kontraksi pada kuartal sebelumnya sebesar 0,6 persen yoy.

Erwin menyampaikan, dalam rangka menjaga agar struktur ULN tetap sehat, BI dan Pemerintah akan terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan perkembangan ULN, didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya.

“Peran ULN juga akan terus dioptimalkan dalam menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pemulihan ekonomi nasional, dengan meminimalisasi risiko yang dapat mempengaruhi stabilitas perekonomian,” tuturnya.

Konten Premium

Sumber / Bisnis.com
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

-->