Top 5 News BisnisIndonesia.id: Gelombang Kenaikan Suku Bunga Global hingga Prospek Saham Bank Digital

  • Bagikan

Financeroll, JAKARTA — Sejumlah bank sentral di Asia akan berupaya melepaskan diri dari tekanan inflasi yang mengancam perekonomian masing-masing negara. Ancang-ancang pengetatan kebijakan suku bunga acuan pun mulai terlihat di banyak negara.

Berita tentang potensi kenaikan suku bunga negara-negara di dunia menjadi salah satu berita pilihan editor BisnisIndonesia.id. Selain berita tersebut, beragam kabar ekonomi dan bisnis yang dikemas secara mendalam dan analitik juga tersaji dari meja redaksi BisnisIndonesia.id

Berikut ini highlight Bisnisindonesia.id, Sabtu (4/6/2022):

  1. Gelombang Kenaikan Suku Bunga, Asia Siaga Bagaimana Indonesia?

Gelombang kenaikan suku bunga diperkirakan akan mulai terjadi di kawasan Asia. Sejumlah bank sentral di Asia akan berupaya melepaskan diri dari tekanan inflasi yang mengancam perekonomian masing-masing negara.

Kenaikan harga komoditas dan gangguan rantai pasok yang dirasakan secara global menjadi masalah yang mengganggu perekonomian di semua kawasan.

Bank sentral di Inggris dan Amerika Serikat tercatat sebagai pihak yang lebih dulu menaikkan suku bunga. Bahkan, kenaikan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve atau The Fed, mendapat perhatian hamper semua negara.

  1. Sinyal Kebangkitan Pembiayaan Kendaraan Seken

Laju permintaan pembiayaan untuk kendaraan ‘tangan kedua’ atau seken telah menunjukan tren pemulihan meskipun belum pulih sepenuhnya.  Hanya saja, tren kendaraan terutama kelompok roda dua mulai membaik.

Kondisi tersebut tercermin dari data  Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sampai dengan Maret 2022. Tercatat piutang pembiayaan untuk roda dua bekas sebesar Rp18,5 triliun atau tumbuh 10,15 persen year-on-year (YoY). Sementara untuk piutang untuk mobil bekas masih mengalami kontraksi.

Adapun total piutang pembiayaan mobil seken senilai Rp53,68 triliun atau minus 4,08 persen jika dibandingkan dengan posisi Maret 2021 senilai Rp55,97 triliun. Meski begitu, perusahaan multifinance telah melihat sinyal perbaikan permintaan dari bisnis kendaraan seken.

  1. Pemulihan Ekonomi Indonesia, Berharap dari Ketegaraan Manufaktur

Pemulihan ekonomi nasional sangat tergantung dari berbagai kinerja positif banyak sektor, manufaktur adalah salah satunya. Sejauh ini pemerintah menilai bahwa kinerja sektor manufaktur masih tergolong ekspansif.Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur pun masih menunjukkan keberlanjutan pemulihan.

PMI Manufaktur pada Mei berada di level 50,8, melambat dibandingkan bulan lalu yang mencapai 51,9. Meski begitu, menurut Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu Febrio Kacaribu, pelambatan dirasakan cukup merata baik di negara maju maupun berkembang.

Kinerja manufaktur di Filipina tercatat sebesar 54,1, sedangkan Malaysia 50,1. Sementara itu, India 54,6, Eurozone 54,6, dan Amerika Serikat 57. PMI Manufaktur China masih mengalami peningkatan dan tercatat berada di level 48,1 meski masih dalam zona kontraksi.

Febrio menambahkan, disrupsi rantai pasok dan kebijakan restriksi Covid-19 di China berdampak pada kinerja manufaktur di banyak Negara. Hal itu terjadi karena besarnya kontribusi China dalam rantai pasok global.

  1. Inflasi Masih Terkendali, Indonesia Harus Waspadai Stok Pangan

Seperti diperkirakan sebelumnya, tingkat inflasi Mei 2022 melandai dibandingkan inflasi April 2022. Di sisi lain, ancaman kerawanan pangan merupakan hal yang patut diperhatikan. Inflasi Mei 2022 tercatat sebesar 0,40 persen secara bulanan (month-to-month/mtm). Capaian tersebut melambat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 0,95 persen mtm.

Secara tahunan, inflasi pada Mei 2022 tercatat sebesar 3,55 persen (year-on-year/yoy), lebih tinggi dari inflasi bulan sebelumnya sebesar 3,47 persen yoy.

Inflasi inti pada Mei 2022 tercatat sebesar 0,23 persen mtm, lebih rendah dibandingkan dengan inflasi April 2022 yang sebesar 0,36 persen mtm. Perkembangan inflasi inti terutama dipengaruhi penurunan harga komoditas emas perhiasan seiring dengan pergerakan harga emas global.

Terlepas dari capaian angka inflasi yang masih di rentang perkiraan, ke depan masih ada sejumlah risiko yang dapat mendorong meningkatnya inflasi.

  1. Prospek Saham ARTO hingga BBYB, di Tengah Ujian Bank Digital

Persaingan di industri bank digital yang kian masif diramal akan menghasilkan segelintir bank saja yang dapat memimpin pasar, sedangkan sisanya bakal tertinggal. Lantas, apakah sentimen tersebut dapat menghambat prospek saham bank digital mendatang?

Saham bank digital dinilai memiliki risiko yang besar karena tidak didukung dengan fundamental atau dengan laba yang besar. Belum lagi, sektor digital terbilang masih dalam momentum yang kurang menguntungkan, karena berada dalam bayang-bayang  pengetatan moneter global.

Misalnya saja, saham bank digital PT Bank Jago Tbk. (ARTO) sudah mengalami pelemahan 43,44 persen sejak awal tahun. Saham bank digital lainnya, PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB), selama satu tahun berjalan juga telah mengalami pelemahan harga saham hingga 50,76 persen YtD.

Konten Premium

Sumber / Bisnis.com
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

-->