Trader Rebound, 5 Saham Blue Chip Ini Paling Cuan!

  • Bagikan
finroll trader mengudara, 5 saham blue chip ini paling cuan!
finroll trader mengudara, 5 saham blue chip ini paling cuan!
  1. Trader Rebound, 5 Saham Blue Chip Ini Paling Cuan!

Saham-saham unggulan (blue chip) dan berkapitalisasi pasar besar (big cap) penghuni indeks LQ45 mulai kembali menguat alias rebound.

Pada Rabu (6/10/2021), saham blue chip turut mendorong Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menembus level psikologis 6.400.

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup melejit 2,06% ke posisi 6.417,32, dengan nilai transaksi mencapai Rp 21,81 triliun dan volume perdagangan mencapai 33,29 miliar saham.

Secara sektoral, indeks consumer cyclical, keuangan dan energi menjadi pendorong utama penguatan IHSG dengan apresiasi masing-masing sebesar 3,55%, 3,00% dan 1,92%.

Seiring dengan kenaikan ini, IHSG sudah tumbuh 6,49% dalam sebulan terakhir dan melesat 7,33% sepanjang tahun ini.

Investor asing pasar saham berbondong-bondong masuk ke Indonesia dengan catatan beli bersih asing mencapai Rp 3,42 triliun di pasar reguler. Sementara, asing mencatatkan beli bersih di pasar negosiasi dan pasar tunai sebesar Rp 1,40 triliun.

Sementara, indeks LQ45 ditutup melesat 2,87% ke 928,07. Dalam sebulan indeks yang dihuni 45 saham kelas kakap ini naik 8,34%, tetapi secara year to date (ytd) masih minus 3,19%.

Lantas, saham LQ45 mana saja yang mencatatkan kenaikan tertinggi dalam sebulan terakhir?

Berikut daftar 5 besar saham LQ45 yang dimaksud.

5 Besar Saham LQ45 dengan Kenaikan Tertinggi dalam Sebulan

EmitenKode SahamHarga Terakhir (Rp)% 1 Bulan
Indo Tambangraya MegahITMG2565048.27
Adaro EnergyADRO186540.23
Perusahaan Gas NegaraPGAS144537.62
Medco Energi InternasionalMEDC61027.08
United TractorsUNTR2652526.91
Sumber: Bursa Efek Indonesia (BEI), Refinitiv | Harga terakhir per 6 Oktober 2021

Mengacu pada data di atas, ada 3 saham sektor energi dari subsektor bisnis batu bara yang berhasil masuk ke daftar 5 besar saham LQ45 paling ‘cuan’ dalam 30 hari belakangan. Ketiga saham tersebut adalah ITMG, ADRO, UNTR. Selain itu, saham sektor energi lainnya, yakni emiten migas milik Keluarga Panigoro MEDC.

Adapun saham perusahaan gas anak usaha PT Pertamina (Persero), PGAS, juga menghiasi daftar 5 besar tersebut.

Kenaikan kelima saham tersebut seiring dengan lonjakan harga komoditas batu bara, minyak bumi, hingga gas di tengah lonjakan permintaan dan krisis energi yang melanda sejumlah negara di dunia, termasuk Inggris dan China.

2. Simak Analisis Saham ITMG sampai PGAS!

finroll trader mengudara 5 saham blue chip ini paling cuan1
finroll trader mengudara 5 saham blue chip ini paling cuan1

Saham ITMG memimpin ‘klasemen’ dengan melesat 48,27% ke Rp 25.650/saham. Di bawah saham ITMG, ada saham emiten milik Garibaldi ‘Boy’ Thohir ADRO yang melonjak 40,23% ke Rp 1.865/saham.

Saham batu bara lainnya, yakni emiten Grup Astra UNTR berhasil menanjak 26,91%.

Kenaikan ketiga saham tersebut berbarengan dengan mayoritas saham batu bara lainnya seiring tren lonjakan harga komoditas batu bara akhir-akhir ini.

Harga komoditas batu bara sempat menyentuh level tertinggi sejak 2008, yakni US$ 280/ton pada Selasa (5/10). Namun, kemarin setelah reli kenaikan 10 hari beruntun, harga batu bara anjlok 15,71% ke US$ 236/ton. Hal ini wajar, lantaran dalam kurun 10 hari tersebut batu bara ‘meroket’ 57,04%.

Selama sebulan ke belakang, kenaikan batu bara mencapai 32,32%, sementara sejak akhir 2020 (year-to-date), harga komoditas ini meroket 188,68%. Rasanya tidak ada komoditas lain yang mengalami kenaikan harga setajam batu bara.

Lonjakan batu bara akhir-akhir ini ditopang oleh persediaan yang menipis di tengah permintaan yang meningkat karena pembukaan aktivitas ekonomi. Naiknya harga minyak dan gas juga mempengaruhi kinerja batu bara yang terus mencatatkan rekor harga tertinggi sepanjang masa.

Kemudian, saham MEDC berhasil melesat 27,08% seiring kenaikan harga minyak dunia yang sempat menyentuh rekor terbaru.

Pada Rabu (6/10/2021) pukul 06:35 WIB, harga minyak jenis brent berada di US$ 82,56/barel. Melonjak 1,6% dari hari sebelumnya dan menjadi rekor tertinggi sejak 10 Oktober 2018. Sementara, pada Kamis (7/10), pukul 07.39 WIB, harga brent terkoreksi 0,17% ke US$ 80,94/barel.

Sementara pada Rabu pagi, minyak jenis light sweet harganya US$ 79,04/barel. Naik tipis 0,14% tetapi menjadi yang tertinggi sejak 28 Oktober 2014. Seperti harga brent, hari ini, Kamis pagi, minyak light sweet turun 0,39% ke US$ 77,13/barel.

Well, sepertinya aksi ambil untung (profit taking) jadi penyebab koreksi tersebut. Dalam sepekan terakhir, harga brent dan light sweet melesat masing-masing 3,8% dan 3,17%. Selama sebulan ke belakang, kenaikannya adalah 13,07% dan 12,95%.

Tidak ketinggalan, saham PGAS juga terkerek naik 37,62% ke Rp 1.445/saham. Harga gas pun turun melesat di tengah krisis energi di Eropa.

Harga gas alam di Eropa kembali melonjak ke level tertinggi barunya pada Selasa (5/10/2021) waktu setempat, di mana melonjaknya harga gas alam kembali menekan sektor energi di kawasan Eropa jelang musim dingin.

Harga gas alam kontrak November di hub TTF Belanda yang merupakan harga gas alam acuan Eropa diperdagangkan sekitar € 118 per megawatt hour (MWH) atau setara Rp 1,9 juta/MWH (kurs Rp 16.500/euro), pada Selasa tengah hari waktu Eropa, melesat hampir 19% dan membuat rekor tertinggi baru.

TTF Belanda (Dutch) atau Title Transfer Facility adalah titik perdagangan virtual untuk gas alam di Belanda, secara virtual menjadi fasilitas bagi sejumlah pedagang di Belanda untuk melakukan perdagangan berjangka, fisik atas gas.

Dilansir CNBC International, dalam setahun berjalan (year-to-date/YTD), harga gas alam tersebut telah melesat hingga 400%.

Sementara di Inggris, harga gas alam untuk November melonjak 14% menjadi £ 2,79 per termal atau setara Rp 54.000 (Rp 19.300/poundsterling) pada Selasa siang waktu setempat. Sementara itu, gas grosir Inggris untuk pengiriman bulan berikutnya meroket 23% menjadi £ 2,50 per termal.


2. Simak Analisis Saham ITMG sampai PGAS!
2 dari 2 HalamanKapal tongkang Batu Bara (CNBC Indonesia/Tri Susilo) Foto: Karyawan melintas di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (6/10/2021). Indeks Harga Saham Gabungan berhasil mempertahankan reli dan ditutup terapresiasi 2,06% di level 6.417 pada perdagangan Rabu (06/10/2021). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Saham ITMG memimpin ‘klasemen’ dengan melesat 48,27% ke Rp 25.650/saham. Di bawah saham ITMG, ada saham emiten milik Garibaldi ‘Boy’ Thohir ADRO yang melonjak 40,23% ke Rp 1.865/saham.

Saham batu bara lainnya, yakni emiten Grup Astra UNTR berhasil menanjak 26,91%.

Kenaikan ketiga saham tersebut berbarengan dengan mayoritas saham batu bara lainnya seiring tren lonjakan harga komoditas batu bara akhir-akhir ini.https://724d39c29c09b25bb3e86365066a16a4.safeframe.googlesyndication.com/safeframe/1-0-38/html/container.html

Harga komoditas batu bara sempat menyentuh level tertinggi sejak 2008, yakni US$ 280/ton pada Selasa (5/10). Namun, kemarin setelah reli kenaikan 10 hari beruntun, harga batu bara anjlok 15,71% ke US$ 236/ton. Hal ini wajar, lantaran dalam kurun 10 hari tersebut batu bara ‘meroket’ 57,04%.

Selama sebulan ke belakang, kenaikan batu bara mencapai 32,32%, sementara sejak akhir 2020 (year-to-date), harga komoditas ini meroket 188,68%. Rasanya tidak ada komoditas lain yang mengalami kenaikan harga setajam batu bara.

Baca: Batu Bara Ambrol! Harga Anjlok 15% dalam Sehari…

Lonjakan batu bara akhir-akhir ini ditopang oleh persediaan yang menipis di tengah permintaan yang meningkat karena pembukaan aktivitas ekonomi. Naiknya harga minyak dan gas juga mempengaruhi kinerja batu bara yang terus mencatatkan rekor harga tertinggi sepanjang masa.

Kemudian, saham MEDC berhasil melesat 27,08% seiring kenaikan harga minyak dunia yang sempat menyentuh rekor terbaru.

Pada Rabu (6/10/2021) pukul 06:35 WIB, harga minyak jenis brent berada di US$ 82,56/barel. Melonjak 1,6% dari hari sebelumnya dan menjadi rekor tertinggi sejak 10 Oktober 2018. Sementara, pada Kamis (7/10), pukul 07.39 WIB, harga brent terkoreksi 0,17% ke US$ 80,94/barel.

Sementara pada Rabu pagi, minyak jenis light sweet harganya US$ 79,04/barel. Naik tipis 0,14% tetapi menjadi yang tertinggi sejak 28 Oktober 2014. Seperti harga brent, hari ini, Kamis pagi, minyak light sweet turun 0,39% ke US$ 77,13/barel.

Well, sepertinya aksi ambil untung (profit taking) jadi penyebab koreksi tersebut. Dalam sepekan terakhir, harga brent dan light sweet melesat masing-masing 3,8% dan 3,17%. Selama sebulan ke belakang, kenaikannya adalah 13,07% dan 12,95%.

Tidak ketinggalan, saham PGAS juga terkerek naik 37,62% ke Rp 1.445/saham. Harga gas pun turun melesat di tengah krisis energi di Eropa.

Harga gas alam di Eropa kembali melonjak ke level tertinggi barunya pada Selasa (5/10/2021) waktu setempat, di mana melonjaknya harga gas alam kembali menekan sektor energi di kawasan Eropa jelang musim dingin.

Harga gas alam kontrak November di hub TTF Belanda yang merupakan harga gas alam acuan Eropa diperdagangkan sekitar € 118 per megawatt hour (MWH) atau setara Rp 1,9 juta/MWH (kurs Rp 16.500/euro), pada Selasa tengah hari waktu Eropa, melesat hampir 19% dan membuat rekor tertinggi baru.

TTF Belanda (Dutch) atau Title Transfer Facility adalah titik perdagangan virtual untuk gas alam di Belanda, secara virtual menjadi fasilitas bagi sejumlah pedagang di Belanda untuk melakukan perdagangan berjangka, fisik atas gas.

Dilansir CNBC International, dalam setahun berjalan (year-to-date/YTD), harga gas alam tersebut telah melesat hingga 400%.

Sementara di Inggris, harga gas alam untuk November melonjak 14% menjadi £ 2,79 per termal atau setara Rp 54.000 (Rp 19.300/poundsterling) pada Selasa siang waktu setempat. Sementara itu, gas grosir Inggris untuk pengiriman bulan berikutnya meroket 23% menjadi £ 2,50 per termal.

Masih melonjaknya harga gas alam sebagian disebabkan oleh lonjakan permintaan, terutama dari Asia, karena bangkitnya kembali perekonomian beberapa negara, setelah adanya penguncian wilayah (lockdown) yang disebabkan oleh virus corona (Covid-19).

Musim dingin yang akan datang di Eropa membuat persediaan gas alam dari musim panas lalu makin menipis.

Sementara itu, penurunan produksi gas di Eropa, kondisi cuaca di AS yang memburuk, dan adanya pemeliharaan telah menciptakan pasar gas yang lebih ketat dan mempersulit pengisian kembali pasokan gas menjelang musim dingin mendatang di seluruh wilayah.

Asal tahu saja, indeks LQ45 adalah indeks pasar saham di BEI yang terdiri dari 45 perusahaan yang memenuhi kriteria tertentu di antaranya termasuk dalam 60 perusahaan teratas dengan kapitalisasi pasar tertinggi dalam 12 bulan terakhir, nilai transaksi tertinggi di pasar reguler dalam 12 bulan terakhir.

Selain itu, emiten tersebut telah tercatat di BEI selama minimal 3 bulan, memiliki kondisi keuangan, prospek pertumbuhan, dan nilai transaksi yang tinggi, serta mengalami penambahan bobot free float (saham publik) menjadi 100% yang sebelumnya hanya 60% dalam porsi penilaian. Indeks LQ45 dihitung setiap 6 bulan oleh Divisi Riset BEI.

Sumber : cnbcindonesia.com

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

-->