Rabu, 8 Januari 2020

Zaman Berubah, Apakah Peruri Kena Disrupsi Era Digital?


Jakarta,  – Perum Peruri melekat dengan bisnis layanan jasa kertas khususnya cetak uang dan dokumen berharga. Namun, perkembangan digital membuat mereka terus berbenah agar tak terdisrupsi perkembangan teknologi.

Direktur Pengembangan Usaha Perum Peruri Fajar Rizki mengakui digitalisasi telah memengaruhi pendapatan perusahaan. Utamanya dalam jasa printing kertas sebagai salah satu sektor yang digarap Peruri.

Fajar menjelaskan dampak digitalisasi ini yang paling terasa kala pergantian tren tiket kertas ke digital dari maskapai pesawat. Termasuk maskapai Garuda Airlanes yang merubah polanya. Dia mengaku perusahaannya belum siap kala gempuran digitalisasi itu datang.

“Lima tahun atau tujuh tahun yang lalu, baik Garuda maupun domestik lainnya itu, (untuk) tiket, Peruri yang service. Pesannya ke Peruri. Sekarang pesan tiket pesawat paperless. Pundi-pundi percetakan domestik mulai hilang, kita saat itu belum siap sehingga terdisrupsi salah satu pendapatan yang captive juga, walau nggak terlalu besar,” sebutnya.

Tidak ketinggalan, proyek printing dokumen dari ujian seleksi masuk Perguruan Tinggi juga digarap Perum Peruri. Salah satu yang dikerjakan adalah seleksi masuk Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN),

“Peruri selalu ditunjuk untuk memberi service atau melayani untuk ujian seleksi bagi (calon) mahasiswa ke STAN. Rutin setiap tahun. Lumayan juga omzetnya memberi service itu. (Namun) dua tahun terakhir ujian mulai komputer, sehingga pendapatan yang mungkin fix pendapatan, Peruri ada dan menjadi pundi-pundi walau nggak terlalu besar, mulai disrup karena tekno. Jadi sekarang udah nggak ada pake paper lagi,” ungkap Fajar.

Namun, Fajar menyebut kini sudah mulai bisa mengatasi tren tersebut dengan menyasar sektor digital security serta sektor digital lainnya. Apalagi, meskipun proyek rutin, namun angka dari digitalisasi ini tidak terlalu besar.

“Kalau dibandingkan total revenue kita ya nggak banyak sih. Kan kita sekitar Rp 3 triliun. Kalau itu kan kalau dijumlah-jumlah jumlah sekitar Rp 10 miliar. Jadi nggak ngefek juga,” sebutnya.

Pendapatan Peruri selama tahun 2019 sebesar Rp 3,9 triliun, meningkat 23% dari tahun 2018 yang hanya Rp 3,1 triliun. Laba pun ikut meningkat, yakni dari Rp 456 miliar di tahun 2018 menjadi Rp 595 miliar di tahun 2019 lalu.

Pendapatan 2020 Bakal Turun

Peruri memperkirakan adanya penurunan pendapatan pada 2020. “Tahun ini memang untuk target 2020 untuk pendapatan kita di RKAP (Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan) Rp 3,7 triliun di 2020,” kata Fajar Rizki.

CIMB NIAGA

Namun, Fajar menolak bahwa penurunan tersebut dikarenakan kebiasaan masyarakat, utamanya di kota besar yang lebih banyak beralih ke cashless. Penurunan itu sudah diprediksi karena penurunan pesanan dari Bank Indonesia (BI) yang turun dari tahun sebelumnya. BI memang memberlakukan pesanan multi years atau dua tahun sekali.

“Nah dua tahun tersebut dibagi pesanannya, itu per tahunnya untuk 2020 sebesar 6 miliar bilyet. Untuk 2021 itu 8 miliar bilyet. Jadi memang sebenarnya dia order ke kita itu dua tahunan,” lanjut Fajar.

Sehingga ada peluang pada 2021 mendatang pendapatan Peruri kembali bisa meningkat, bahkan lebih tinggi dari 2019 lalu, yaitu mencapai Rp. 4 triliun. “Pada 2020 tahun ke satu. 2021 tahun kedua. Pendapatan tahun pertama turun. Tahun kedua naik, multi years,” ungkapnya.

Besarnya fluktuasi pendapatan Peruri dari BI dikarenakan permintaan dari Bank Sentral ini menjadi yang terbesar bagi bisnis Peruri. Yakni 60-70%, sehingga perkembangannya mengikuti jumlah pesanan cetak uang rupiah. (CNBC/GPH)

BACAAN TERKAIT