Kamis, 24 Oktober 2019

Finmas : Geliat Sektor Fintech di Indonesia Telah Merambah ke Berbagai Sektor


Finroll.com — Sinar Mas dan PT Oriente Mas Sejahtera (Finmas) menggelar FGD tentang ‘Digital Economy Talent Gap and Workforce Challenges’ yang diselenggarakan di Sinar Mas land Plaza, Rabu (23/10/2019).

Kegiatan ini dihadiri oleh Rainer Emanuel, Head of PR Finmas, serta menghadirkan beberapa narasumber dari beberapa perusahaan yang membahas dampak dan peluang digitalisasi, seperti, Sylvano damanik, Vice Chairman Korn Ferry Hay Group Indonesia., Doni Priliandi CEO Happy5., Mh. Edi Isdwiarto, Direktur SDM dan Hukum PT Pegadaian.

Rainer Emanuel, Head of PR Finmas menjelaskan, Finmas adalah perusahaan fintech yang fokus pada kaum menengah ke bawah dan milenial dimana tahun ini Finmas memfokuskan peningkatan literasi keuangan di seluruh Indonesia,” jelasnya.

Menurutnya, geliat sektor fintech di Indonesia telah merambah ke berbagai sektor, seperti startup pembayaran, peminjaman (lending), perencanaan keuangan (personal finance), investasi ritel, pembiayaan (crowdfunding), uang elektronik, dan lain-lain,” tuturnya.

Era digital telah menggiring masyarakat kepada berbagai hal yang praktis dan tanpa batas, semua transaksi keuangan dilakukan melalui gadget seperti melakukan transfer dana, berinvestasi hingga memperoleh pembiayaan. Hal ini yang kita kenal dengan sebutan Financial Technologi atau FinTech.

Fintech sendiri berarti teknologi dan inovasi baru yang dikembangkan untuk memperluas dan mempermudah akses masyarakat dengan layanan jasa keuangan.

Fintech di Indonesia tercatat tumbuh signifikan hingga pertengahan tahun ini. Dari data Otoritas Jasa Keuangan, hingga Juli 2019, perusahaan fintech yang sudah terdaftar atau berizin mencapai 127, 8 diantaranya merupakan fintech syariah. Sebanyak 88 perusahaan didanai oleh perusahaan dalam negeri dan 39 didanai oleh asing,” pungkasnya.

Dalam paparannya Sylvano damanik, Vice Chairman Korn Ferry Hay Group Indonesia mengatakan, jika hal ini tidak dilakukan, maka akan terdampak kepada 18 juta pekerja atau USD 442,6 miliar di Indonesia pada tahun 2030. “Ini hampir semua terjadi di seluruh negara,” katanya.

Doni Priliandi CEO Happy5 mengatakan, kesalahan transformasi digital, bukan karena digital, tapi transformasi perilaku. Ini peran pemimpin atau CEO sangat diperlukan di perusahaannya, bukan hanya peran human resources. “Jadi kegagalan transformasi digital bukan karena digitalnya, tetapi orang-orangnya yang tidak bisa beradaptasi,” katanya.

Dalam acara tersebut, juga dibahas tentang perusahaan yang beralih ke dunia digital. Hal ini karena digitalisasi bisa dipandang sebagai peluang. Dua diantara perusahaan yang menyadari hal tersebut adalah PT Pegadaian dan Sinar Mas.

Jababeka industrial Estate

BUMN PT Pegadaian tersebut akan mengeluarkan produk-produk secara digital. Produk-produk akan dikeluarkan lewat aplikasi dan website.

“Kami akan masuk ke bisnis mikro untuk pinjaman Rp25 juta ke bawah. Kami akan masuk ke digitall lending. Ini merupakan cara kami menghadapi atau memanfaatkan digitalisasi,” kata Mh. Edi Isdwiarto, Direktur SDM dan Hukum PT Pegadaian.(red)

BACAAN TERKAIT