Jumat, 6 September 2019

Harga Minyak Dunia Bergerak Positif Karena Cadangan Amerika Turun Tajam


Finroll.com — Dipicu turunnya cadangan minyak mentah Amerika, Harga minyak dunia sedikit berubah. Karena dukungan dari penurunan tajam dalam stok minyak mentah Amerika diimbangi oleh kekhawatiran perlambatan pertumbuhan permintaan global di tengah keraguan atas penyelesaian sengketa perdagangan AS-China.

Seperti dalam laporan Reuters. Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, menguat 25 sen untuk ditutup pada posisi USD60,95 per barel , di New York, Kamis (5/9/2019) atau Jumat (6/9/2019) pagi WIB.

Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), naik tipis 4 sen menjadi berakhir pada USD56,30 per barel.

Persediaan minyak mentah dan produk minyak AS turun pekan lalu, dengan minyak mentah merosot untuk minggu ketiga berturut-turut meski ada lonjakan impor, kata Badan Informasi Energi.

Stok minyak mentah turun 4,8 juta barel, hampir dua kali lipat dari ekspektasi analis, menjadi 423 juta barel, level terendah sejak Oktober 2018.

“Ini benar-benar laporan yang bullish ,” kata Bob Yawger, Direktur Mizuho di New York.

Minyak melonjak lebih dari 2% setelah laporan EIA tersebut, tetapi harga berangsur-angsur memangkas kenaikan karena skeptisisme merayap kembali atas prospek kesepakatan perdagangan yang akan terjadi antara dua ekonomi utama dunia, meski putaran perundingan lain dijadwalkan bulan depan.

“Saya pikir pasar di seluruh papan telah membangun harapan sebanyak mungkin tentang perang perdagangan AS-China,” kata John Kilduff, mitra di Again Capital, New York.

China dan Amerika Serikat, Kamis, sepakat untuk mengadakan pertemuan tingkat tinggi pada awal Oktober di Washington.

“Bahkan dengan pengumuman bahwa mereka akan memulai kembali perundingan perdagangan, masih ada ketidakpastian mengenai masalah itu dan kekhawatiran perlambatan pertumbuhan permintaan, yang pada dasarnya menahan pasar untuk bergerak lebih tinggi,” kata Gene McGillian, Vice President Tradition Energy, di Stamford, Connecticut.

Jababeka industrial Estate

Sengketa perdagangan yang berkepanjangan membebani harga minyak, tetapi Brent masih naik sekitar 12% tahun ini, dibantu oleh pengurangan produksi yang dipimpin Organisasi Negara Eksportir Minyak dan sekutunya, termasuk Rusia.

Meski demikian, OPEC dan Rusia meningkatkan produksi pada Agustus, menurut survei Reuters dan data Kementerian Energi Rusia.

Juga memberikan tekanan pada harga adalah meningkatnya bukti perlambatan pertumbuhan ekonomi di seluruh dunia, yang mendorong analis untuk menurunkan perkiraan pertumbuhan permintaan minyak.

Chief Financial Officer BP, Brian Gilvary, mengatakan permintaan minyak global diperkirakan tumbuh kurang dari 1 juta barel per hari pada 2019, penurunan dari tahun-tahun sebelumnya.(red)

BACAAN TERKAIT