Rabu, 14 Oktober 2020

IMF Turunkan Proyeksi Ekonomi RI dari -0,3% Jadi -1,5%


Dana Moneter Internasional (IMF) telah merilis proyeksi ekonomi terbaru. Dalam laporan berjudul A Long and Difficult Ascent tersebut, IMF merevisi ‘ramalan’ pertumbuhan ekonomi global dan sejumlah negara.

FINROLL.COM – IMF kini memperkirakan ekonomi dunia pada 2020 mengalami kontraksi (pertumbuhan negatif) 4,4%. Membaik dibandingkan proyeksi yang dirilis pada April lalu yaitu -4,9%.

“Ekonomi dunia perlahan mulai keluar dari jurang terdalam. Namun dengan virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19) yang masih menyebar, beberapa negara mulai mengerem pembukaan kembali aktivitas publik (reopening) dan sebagian bahkan mulai menerapkan karantina wilayah (lockdown) skala lokal. Perjalanan pemulihan ekonomi dunia ke level pra-pandemi masih panjang dan rentan berbalik arah,” tulis laporan itu.

Saat ekonomi dunia diperkirakan membaik bagaimana dengan Indonesia? Apakah IMF juga menaikkan proyeksi ekonomi Tanah Air?

Sayangnya tidak. Lembaga yang berkantor pusat di Washington DC (Amerika Serikat/AS) itu malah memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Pada Juni lalu, IMF memperkirakan ekonomi Indonesia terkontraksi 0,3% pada tahun ini. Dalam laporan Oktober, proyeksinya memburuk menjadi kontraksi 1,5%.

“Hampir seluruh negara berkembang diperkirakan mencatat kontraksi ekonomi tahun ini. Sementara negara seperti India dan Indonesia tengah berjuang untuk membuat pandemi lebih terkendali,” tulis laporan IMF.

Sebelumnya, Bank Dunia juga melakukan revisi ke bawah terhadap proyeksi pertumbuhan ekonomi Ibu Pertiwi. Awalnya embaga yang dipimpin oleh David Malpass ini memperkirakan ekonomi Indonesia pada 2020 tidak tumbuh alias 0%.

Namun kemudian prakiraan ini direvisi menjadi kontraksi 1,6%. Bahkan dalam skenario terburuk, ekonomi Indonesia bisa terkontraksi sampai 2%.

Meski begitu, baik proyeksi IMF maupun Bank Dunia menyebutkan bahwa kontraksi ekonomi Indonesia adalah termasuk yang paling minim. Contoh, IMF memperkirakan ekonomi Filipina pada 2020 terkontraksi sampai lebih dari 8%.

Jababeka industrial Estate

“Indonesia belum memberlakukan lockdown yang ketat dan tampaknya mengandalkan tindakan yang lebih lunak. Sementara Filipina telah berulang kali melakukan lockdown dan pembukaan kembali yang ketat,” tulis laporan Bank Dunia.

Indonesia juga lebih sedikit terpapar resesi global melalui jalur perdagangan, pariwisata, dan pengiriman uang (remitansi). Ini karena Indonesia lebih mengandalkan faktor domestik untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, dengan konsumsi rumah tangga sebagai penyumbang terbesar.

“Indonesia, karena kondisi domestik, dan Filipina, baik karena kondisi domestik maupun eksternal, menghadapi prospek pemulihan ekonomi yang tidak merata dan tidak stabil.” tulis laporan Bank Dunia. (CNBC INDONESIA)

BACAAN TERKAIT